Monthly Archives: May 2018

P80201-123056Riva Lailatul Maqhfiroh Jurusan Ekonomi Syariah Mahasiswa PPL / Magang FEBI IAIN Tulungagung bertempat di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Tulungagung.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) merupakan pilar kegiatan ekonomi di desa yang berfungsi sebagai lembaga sosial dan komersial, yang didirikan atas dasar komitmen masyarakat bawah yaitu masyarakat desa, untuk saling kerja sama, gotong royong  dan menggalang kekuatan ekonomi rakyat demi mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat desa. Betapa pentingnya membangun Indonesia dari desa dan daerah pinggiran dan BUMDES adalah salah satu kuncinya, pada perkembangannya dikeluarkan UU No.6 Tahun 2014, tentang Desa menyebutkan bahwa BUMDES adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan desa yang dipisajkan guna mengelola aset, jasa pelayanan dan usaha lainnya untuk menyejahterakan masyarakat desa. Hal tersebut sesuai dengan tujuan pendirian sebuah BUMDES pada umumnya, yaitu:

  1. Meningkatkan perekonomian desa
  2. Meningkatkan pendapatan asli desa
  3. Meningkatkan pengelolaan potensi desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat
  4. Menjadi tulang punggung pertumbuhan dan pemerataan ekonomi desa.

IMG-20180205-WA0000Di Tulungagung sendiri menurut data dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa telah berdiri 197 BUMDES  dan sekitar 128 BUMDES yang masih aktif, diantara beberapa BUMDES yang aktif dan terbaik, salah satunya yaitu BUMDES “Wahana Lestari” yang berada di desa Babadan Kecamatan Karangrejo Kabupaten Tulungagung. Merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Karangrejo Kabupaten Tulungagung dengan batas-batas wilayah yaitu : Sebelah Utara Berbatasan Desa Talang Sendang,  Sebelah Timur Berbatasan Desa Sukowidodo, Sebelah SelatanBerbatasan Desa Bungur, Sebelah Barat Berbatasan Desa Kates Kauman. BUMDES “Wahana Lestari” resmi didirikan pada tanggal 10 Mei 2014, di mana embrio dari lembaga ini adalah Unit Pengelola Keuangan dan Usaha / UPKu Lancar Jaya yang merupakan lembaga yang dibentuk dari progran Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan /GERDU TASKIN yang diterima Desa Babadan di tahun 2009, sesuai dasar hukum dari BUMDES adalah di terbitkannya PERDES tentang BUMDES dan SK Kepala Desa tentang susunan kepengurusan BUMDES.Struktur Organisasi “Wahana Lestari”sebagai berikut:

bagan

    Dalam melaksanakan tugas pokoknya, Pengurus mengacu pada ketentuan yang telah di tetapkan dalam AD/ART BUMDES “Wahana Lestari”.

Jenis Unit Usaha :

  1. Simpan Pinjam

Unit Usaha Simpan Pinjam merupakan Unit Usaha yang pertama kali didirikan oleh BUMDES “Wahana Lestari” dengan modal awal Rp. 40.470.000,-Merupakan salah satu pemberdayaan usaha digunakan untuk unit simpan pinjam, dengan memberikan pinjaman permodalan kepada masyarakat miskin sebagai prioritas utama, menerima simpanan / tabungan dari masyarakat dalam bentuk simpanan sukarela, pengembangan kredit : Sekarang melayani kredit pembelian sepeda motor baru maupun bekas terhadap masyarakat sekitar Babadan yang membutuhkan dan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dari masyarakat, untuk modal usaha, memperbesar usaha dan kemudian kita kembangkan unit sektor simpan pinjam tersebut dimana, dengan modal asset sekarang Rp. 278.704.300,-

  1. Sektor Riil

Dalam sektor riil unit usaha BUMDES “Wahana Lestari” terdiri dari 4 sektor :

  1. Unit Pertokoan

Unit pertokoan adalah salah satu usaha yang dikelola BUMDES “Wahana Lestari”, yang berada di depan balaidesa Babadan yaitu di kantor sekertariatan BUMDesa. Dengan modal awalnya yang dibutuhkan Rp. 59.000.000,-.  Dengan adanya unit pertokoan ini menyediakan sembako dan alat tulis kantor dengan harga yang murah diharapkan tujuan utamanya yaitu meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian usaha ekonomi yang dapat  memberikan fasilitas masyarakatnya terpenuhi serta tempat pemasaran hasil produksi usaha kecil masyarakat desa.

  1. Unit Pengelolaan lahan tebu

Rendahnya pendidikan, tersedianya lahan pertanian yang pengaiarannya cukup sulit dan adanya jenis tanaman yang cukup menjanjikan tetapi masih kurang diminati yaitu tebu dan kaya akan SDM maka, perlu dikembangkannya pengolahan lahan tebu, sehingga BUMDesa mengembangkannya dengan menyewa lahan bengkok desa untuk ditanami tebu, dan memanfaatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Dari sinilah diharapkan nantinya akan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar dan menciptakan kreasi usaha baru demi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

IMG-20180109-WA0028

  1. Unit PPOB / BRI LINK

Seiring kebutuhan masyarakat yang meningkat dan membutuhkan fasilitas, BUMDesa Wahana Lestari menyediakan fasilitas jasa: (1). Pembayaran rekening listrik, pulsa, angsuran  kredit sepeda motor dan asuransi. (2). Melakukan kegiatan transaksi perbankan. Dengan adanya fasilitas dari BUMDesa dimana masyarakat sekitar dapat membayar  rekening listrik, pulsa, angsuran  kredit sepeda motor dan asuransi serta dapat melakukan transaksi perbankan di sekertariatan BUMDesa pada waktu jam kerja dan tidak harus pergi keluar daerah, karena BUMDesa telah bekerja sama dengan Bank BRI. Dengan modal awal BUMDesa Wahana Lestari yang dibutuhkan Rp. 10.000.000,-

  1. Unit pengolahan gula merah

Adanya potensi lahan tebu yang cukup melimpah di desa Babadan dan sekitarnya maka, BUMDesa Wahana Lestari menciptakan unit usaha pengolahan gula merah dengan modal awal yang dibutuhkan Rp. 340.000.000,-Yang diharapkan kedepanya dapat menjaga stabilitas harga tebu hasil produksi masyarakat dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Berdasarkan unit usaha yang telah dijalankan BUMDES “Wahana Lestari” ,perkembangan modal s/d 31 Desember 2016:

  1. Simpanan pokok & wajib                    = Rp.      4.905.000,-

2.  Simpanan masyarakat                         = Rp.  173.287.728,-

3.  Modal  tetap                                        = Rp.  141.420.000,-

4.  Dana kas desa                                     = Rp.      3.378.054,-

5.  Dana cadangan umum                                    = Rp.    16.568.337,-

6.  SHU tahun berjalan                            = Rp.    23.262.712,75

__________________  +

                                                 T O T A L                =  Rp.  378.650.790,-

Dalam Alokasi Sisa Hasil Usaha, Pembagian SHU sebagai berikut :

1. Dana cadangan umum                                     = 25 %

2. Dana Pokmas                                                   = 15 %

3. Dana insentif Pengurus                                    = 25 %

4. Dana insentif Komisaris & Pengawas              = 10 %

5. Dana Pendapatan asli desa                              = 10 %

6. Dana sosial                                                       = 10 %

7. Dana pendidikan                                              =   5 %

 IMG-20180201-WA0010Dengan inilah adanya BUMDES dapat meningkakan, memperkuat, membangun, dan memberi peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat dan harapan kedepannya selalu dapat memberikan  nilai plus bagi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan perekonomian masyarakat.

PPL merupakan serngkaian kegiatan yang diprogamkan mahasiswa dimana mahasiswa mengenal dengan baik lapangan yang kelak dapat menjadi tempat tugasnya, yang dimaksud untuk memberikan dan membekali mahasiswa dengan kemampuan yang beragam, dan melaksanakan dengan baik di dunia kerja.

Melalui karya esai ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

  1. Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku rektor IAIN Tulungagung.
  2. Bapak Dr. H. Dede Nurrohman M.Ag selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung sekaligus selaku Dosen Pebimbing Lapangan yang telah memberikan bimbingan, arahan kepada mahasiswa selama menjalani PPL .
  3. Bapak Siswahyudianto,MM selaku Kepala Laboratorium Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk bisa membuat karya esai.
  4. Bapak Drs.Eko Asistono,M.Si selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Tulungagung.
  5. Bapak Iswahjudi,SIP,M.Si , Selaku Dosen Pamong yang telah memberikan arahan dan bimbingannya selama mahasiswa melaksanakan PPL.
  6. Bapak AHMAD MUHAIMIN,S.Sos , Selaku Kabid Pemberdayaan Usaha Ekonomi Desa yang telah memberi arahan dan bimbingan terkait ekonomi desa salama mahasiswa melaksanakan PPL.
  7. Orang tua dan keluarga yang selalu mendoakan dan mendukung dan teman – teman PPL IAIN Tulungagung di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Tulungagung.
  8. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu,.Penyusun mengucapkan terimakasih.

Exif_JPEG_420Penulis Ginanjar Marina Sari Mahasiswa PPL/Magang KSU Malindo Artha Kalidawir Jurusan Perbankan Syariah FEBI IAIN Tulungagung

Secara umum, koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Kegiatan usaha simpan pinjam di koperasi serba usaha adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun dan menyalurkan dana melalui kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk anggota, calon anggota, dan anggota lain yang bersangkutan.

Koperasi Serba Usaha (KSU) Malindo Artha didirikan oleh para pengusaha kecil dan menengah pada 1 Juli 2003 yang memberikan solusi dalam mengatasi kesulitan untuk mendapatkan permodalan. Salah satu kegiatan koperasi simpan pinjam untuk memenuhi tujuannya adalah dengan cara memberikan pinjaman modal kerja kepada masyarakat yang sebagian besar merupakan pengusaha ekonomi golongan menengah ke bawah. Pemberian pinjaman ini lebih diutamakan pada upaya untuk memperbaiki ekonomi rakyat di sekitar koperasi dan menunjang pembangunan nasional.

Pada awal berdirinya, Malindo Artha hanya melayani pemberangkatan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang akan berangkat ke luar negeri dengan tujuan ke negara, seperti negara-negara di Asia, Timur Tengah, Amerika, dan lain-lain. Namun, seiring dengan perkembangannya, saat ini Malindo Artha juga banyak melayani calon anggota yang mempunyai usaha di berbagai sektor, seperti sektor simpan-pinjam yang diperuntukkan bagi anggota yang mempunyai usaha di bidang, seperti pertanian, perdagangan, pertambangan, dan peternakan. Selain itu, Koperasi Serba Usaha (KSU) Malindo Artha saat ini juga melayani dalam hal travelling, pembayaran listrik dan angsuran BPJS, penitipan HER kendaraan sepeda motor, serta pembelian pulsa telepon dan listrik.

Exif_JPEG_420Dengan melihat kebutuhan ekonomi masyarakat sekitar Kalidawir, Tulungagung tersebut, maka dengan adanya produk Simpan Pinjam di KSU Malindo Artha Kalidawir sangatlah bagus bagi anggota dan calon anggota untuk menabung pada produk simpanan dan mengajukan permohonan pinjaman pada produk pinjaman/kredit, dibandingkan dengan badan perkreditan lainnya, seperti perbankan. Mekanisme pengelolaan simpanan yang ditawarkan kepada anggota cukup menarik karena koperasi memberikan imbalan jasa pada simpanannya. Begitu pula dengan pemberian pinjaman, imbalan jasa yang dikenakan kepada calon anggota juga tidak lumayan besar presentasinya, dikarenakan hal tersebut disesuaikan dengan ketetapan suku bunga Bank Indonesia. Selain itu, pencairan dana yang diajukan bagi calon anggota sangatlah cepat tanpa melakukan survey di lokasi peminjam terlebih dahulu, sehingga banyak masyarakat sekitar yang lebih tertarik mengajukan pinjaman ke KSU Malindo Artha Kalidawir Tulungagung.

Permasalahan yang sering terjadi di Koperasi Serba Usaha (KSU) Malindo Artha Kalidawir Tulungagung adalah pada produk pinjaman, di antaranya adalah mengenai kredit macet pada penyaluran dana. Banyak anggota peminjam dana yang seringkali terlambat dalam membayar angsurannya setiap bulan sesuai jangka waktu pinjaman yang telah disepakati di awal. Selain itu, permasalahan yang sering terjadi adalah ketidaksesuaian jaminan yang diberikan pada saat akan meminjam dana dengan permintaan dana yang dibutuhkan oleh calon anggota. Pada saat akan meminjam dana, ada pula calon anggota yang tidak membawa persyaratan secara lengkap dalam pengajuan pinjaman.

Sebagai Koperasi Serba Usaha, KSU Malindo Artha Kalidaiwr selalu berupaya untuk memberikan kemudahan pada saat meminjamkan dana pada produk pinjaman, dengan alasan bahwa pihak koperasi sendiri tidak mau mempersulit calon anggota yang sedang membutuhkan dana, terutama pada waktu yang mendesak. Namun, dengan dipermudahkannya prosedur pemberian pinjaman kepada calon anggota, sering kali terjadi pengembalian pinjaman/kredit macet. Dengan kata lain, calon anggota tersebut terlena dengan fasilitas dan kemudahan yang diberikan oleh pihak koperasi sendiri.

GINANJAR MARINA SARI_17401153149_PERBANKAN SYARIAH_Dokumentasi 1Biasanya, pengembalian pinjaman/kredit macet tersebut terjadi karena pihak peminjam mengalami masalah perekonomian, gagal panen atau tidak mendapatkan keuntungan dalam usahanya. Apabila pada pengembalian pinjaman/kredit macet tersebut terjadi dalam waktu 1-2 bulan, maka pihak koperasi akan menghubungi anggota tersebut dan meminta untuk segera melunasi tanggungannya. Namun, apabila sampai beberapa hari anggota tersebut tidak datang ke koperasi, maka akan diberikan surat tagihan yang akan disampaikan oleh bagian Marketing ke rumah anggota tersebut, yang berisikan jumlah pinjaman, jasa, dan denda keterlambatan yang harus dibayarkan oleh anggota.

 

Sedangkan, permasalahan yang sering terjadi pada produk simpanan itu biasanya berkaitan dengan presentasi imbalan jasa (bunga) yang diterima di saldo rekening simpanan milik anggota. Anggota tersebut ada yang berpendapat bahwa imbalan jasa yang diberikan koperasi itu masih rendah, maka pihak koperasi akan menjelaskan kepada calon anggota tersebut yang akan mengajukan simpanan di lembaga keuangan tersebut. Biasanya apabila dijelaskan secara baik-baik, maka anggota tersebut mau menerima ketetapan tersebut. Biasanya, calon anggota yang akan mengajukan simpanan meminta suku bunga untuk diturunkan. Sedangkan, apabila pengelola koperasi sendiri juga tidak dapat memberikan kemudahan dengan cara menurunkan suku bunga, karena hal tersebut sudah menjadi kebijakan kantor KSU Malindo Artha Tulungagung. Namun, hal tersebut jarang terjadi, karena biasanya terdapat anggota yang tidak terlalu memikirkan hal tersebut.

Penerapan produk simpan-pinjam di Koperasi Serba Usaha Malindo Artha Kalidawir Tulungagung ini selalu berupaya memberikan kenyamanan dan kepuasan kepada para anggota yang telah menjadi bagian dari koperasi yang senantiasa menyimpan dananya pada Koperasi Serba Usaha ini. Selain itu, anggota koperasi ini juga dapat memanfaatkan produk pinjaman untuk memenuhi kebutuhannya.

GINANJAR MARINA SARI_17401153149_PERBANKAN SYARIAH_Dokumentasi 4Bentuk fasilitas dan perhatian dari koperasi sendiri itu biasanya memberikan souvenir berupa kalender tahun baru di awal tahun. Selain itu, bagi anggota yang dianggap loyal oleh pihak koperasi, maka akan diberikan souvenir berupa payung atau kaos. Sehingga, hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk menarik calon anggota/penyimpan untuk terus memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh koperasi tersebut. Selain itu, untuk menjaga kelangsungan usaha di Koperasi Serba Usaha (KSU) Malindo Artha Kalidawir, tetap melakukan prosedur pemberian kredit dengan melakukan survey secara berkala terhadap usaha yang dimiliki anggota dalam upaya untuk mencegah terjadinya pengembalian pinjaman/kredit macet.

 

Melalui karya esai ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Bapak Prof. Dr. H. Maftukhin, M.Ag., selaku Rektor IAIN Tulungagung.
  2. Bapak Dr. H. Dede Nurohman, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung.
  3. Bapak Siswahyudianto, M.M., selaku Kepala Laboratorium Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk bisa memuat karya esainya.
  4. Bapak Jusuf Bachtiar, S.S., M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Lapangan yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama menjalankan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), termasuk juga bimbingan dalam pembuatan esai ini.
  5. Bapak Drs. H. Sudja’i, M.M., selaku pemimpin KSU Malindo Artha yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada mahasiswa selama menjalankan Praktik Pengalaman Lapangan di Koperasi Malindo Artha Kalidawir Tulungagung.
  6. Ibu Anik Entriani, S.E., M.Sy., selaku Dosen Pamong KSU Malindo Artha yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan kepada mahasiswa selama melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan di Koperasi Malindo Artha Kalidawir Tulungagung.
  7. Bapak Ahmad Shodiq, M.Sy., selaku Koordinator dan Kepala Unit I KSU Malindo Artha Kalidawir Tulungagung yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan perhatian penuh kepada mahasiswa selama melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan.
  8. Kedua orang tua yang selalu memberikan semangat, bimbingan, dan doa kepada penulis dalam mendukung penulisan esai ini.
  9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu terselesaikannya penyusunan esai ini sebagai tugas tambahan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

Vina Alfiatul Munawaroh mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah FEBI IAIN Tulungagung yang sedang menyelesaikan tugas Magang/PPL di Badan Pusat Statistik Kabupaten Blitar

Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sebelumnya, BPS merupakan Biro Pusat Statistik, yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 1960 tentang Sensus dan UU Nomer 7 Tahun 1960 tentang Statistik. Sebagai pengganti kedua UU tersebut ditetapkan UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik. Berdasarkan UU ini yang ditindaklanjuti dengan peraturan perundangan dibawahnya, secara formal nama Biro Pusat Statistik diganti menjadi Badan Pusat Statistik. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2007 tentang Badan Pusat Statistik dan Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pusat Statistik. Susunan organisasi BPS terdiri dari:

  • Kepala;
  • Sekretariat Utama;
  • Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik;
  • Deputi Bidang Statistik Sosial;
  • Deputi Bidang Statistik Produksi;
  • Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa;
  • Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik;
  • Inspektorat Utama;
  • Pusat Pendidikan dan Pelatihan;
  • Instansi Vertikal

Ketika saya praktek pengalaman lapangan di badan pusat statistic saya berada di bagian pengolahan data statistic yang mana data tersebut berasal dari bidang distribusi. Pada bagian distribusi adapun data yang diolah yaitu tentang indeks harga petani dan juga konsumsi pengeluaran rumah tangga. Dalam menginput data secara online ada beberapa kendala yang kami hadapi.

Untuk mengoptimalkan kinerja, dalam hal kegiatan survey untuk memperoleh data  maka BPS menggunakan mitra petugas lapangan atau petugas survey ang disebut sebagai mitra statistic yang akan membantu melakukan tugas-tugas pendataan. Mitra statistic yang direkrut dari masyarakat dengan kualifikasi tertentu dan dikontrak dalam jangka waktu tertentu untuk satu jenis kegiatan. Mitra statistic memiliki peran yang sangat penting dalam rangka mencapai visi BPS “Penyedia Data Berkualitas Untuk Semua”, dan untuk mewujudkan visi tersebut, diperlukan kinerja yang baik dari setiap instansi BPS termasuk mitra statistic.  Tentui saja dengan kualitas petugas terbaik juga belum tentu menjamin data yang akan dihasilkan akan bagus juga. Ada factor lain yang perlu diperhatikan juga, yaitu kurangnya kesadaran masyarakat pemberi data untuk jujur dan menjawab setiap pertanyaan dengan apa adanya. Saat ini doktrin yanag ada di benak masyarakat kita adalah “setiap ada pendataan pasti ada bantuan yang bakal mereka terima” sehingga mereka akan menjawab cenderung mengarah agar mereka di anggap tidak berkecukupan. Di era modern seperti ini masyarakat kita masih banyak yang berfikiran dangkal dan tidak faham akan pentingnya data yang nantinya akan dijadikan tolak ukur pemerintah dalam mengevaluasi dan merencanakan program-program pemerintah dalam usaha mensejahterakan masyarakat.

Kinerja karyawan mempengaruhi keberlangsungan instansi tersebut dalam mencapai tujuannya. Kinerja karyawan yang baik dapat memberikan keuntungan bagi instansi, sedangkan kinerja yang buruk dapat menghasilkan kerugian bagi perusahaan. Kinerja yang buruk dapat disebabkan oleh penurunan kinerja karyawan, dan hal ini dapat terlihat ketika karyawan tidak menyelesaikan pekerjaan dengan target dan waktu yang ditentukan oleh perusahaan. Kinerja mitra statistic dapat diukur melalui pencapaian terhadap target pekerjaan. Dalam menjalankan tugas pencapaian kerja dilihat dari sisi kecepatan kerja sesuai dengan tenggat waktu dan metode kerja yang telah ditetapkan. Selain itu kinerja juga dapat dilihat dari kemampuan menyelesaiakan pekerjaan sesuai standar operasional. Mitra juga harus disiplin dalam menjalankan standar operasional yang telah ditentukan dan menghasilkan pekerjaan dengan kesalahan minimum.

Ukuran kinerja juga dapat dilihat dari perilaku mitra statistic tersebut. Dalam hal ini mitra diharuskan teliti dan bertanggungjawab terhadap hasil pekerjaannya. Lebih dari itu mitra juga harus memiliki pemikiran positif serta selalu menjalin hubungan kerja baik itu dengan rekan kerja maupun dengan pengawas. Untuk mendapatkan mitra statistic dengan kinerja yang baik, BPS menempuh cara misalnya melalui pelatihan, pengawasan dan pemberian kompensasi yang layak.

Dalam bidang sosial kependudukan, data yang dihasilkan BPS dikumpulkan antara lain melalui Sensus Penduduk (SP), Survei Penduduk Antar Sensus (Supas), Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Susenas merupakan survei yang dirancang untuk mengumpulkan data sosial kependudukan yang relatif sangat luas. Data yang dikumpulkan antara lain menyangkut bidang-bidang pendidikan, kesehatan/gizi, perumahan, sosial ekonomi lainnya, kegiatan sosial budaya, konsumsi/pengeluaran dan pendapatan rumah tangga, perjalanan, dan pendapat masyarakat mengenai kesejahteraan rumah tangganya. Pada tahun 1992, sistim pengumpulan data Susenas diperbaharui, yaitu informasi yang digunakan untuk menyusun indikator kesejahteraan rakyat (Kesra) yang terdapat dalam modul (keterangan yang dikumpulkan tiga tahun sekali) ditarik ke dalam kor (kelompok keterangan yang dikumpulkan tiap tahun). Sejak itu, setiap tahun dalam Susenas tersedia perangkat data yang dapat digunakan untuk memantau taraf kesejahteraan masyarakat, merumuskan program pemerintah yang khusus ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sektor-sektor tertentu dalam masyarakat, dan menganalisis dampak berbagai program peningkatan kesejahteraan penduduk.

Sensus merupakan kegiatan pendataan yang dilakukan secara menyeluruh terhadap seluruh populasi, sedangkan survey adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pendataan sample dari sesuatu populasi untuk memperkirakan karakteristik (ciri ) suatu objek pada saat tertentu. Dengan melihat cakupan populasi yang harus didata, jelas bahwa sensus akan menyajikan hasil sampai wilayah administrasi terkecil. Jika survey dapat diakukan secara berkala dalam waktu berdekatan, misal SUSENAS dan SAKERNAS dilakukan setiap tahun, sedangkan sensus umumnya dilakukan setiap 10 tahun sekali. Dengan survei dapat dilakukan penghematan atas biaya, tenaga, dan waktu, karena hanya pengumpulan data dari sebagian populasi, pertanyaan yang diajukan kepada responden dapat memuat jenis atau item yang amat rinci dan khusus. Meskipun sebuah sampel terdiri dari sebagian populasi, tetapi perlu diperhatikan bahwa sebagian populasi tidak selalu dapat disebut sebuah sampel. Agar dapat dianalisis secara statistik, sampel harus mewakili populasi, harus mempunyai tingkat kebenaran (reliability) yang dapat diukur, harus sesuai dengan keadaan, dan harus efisien.

Petugas (pencacah) yang digunakan dalam SAKERNAS, umumnya adalah pegawai Badan Pusat Statistik yang ada di kecamatan (Mantri Statistik) dan BPS Kabupaten/Kota setempat. Sebagian besar dari mereka umumnya telah mempunyai pengalaman dalam berbagai survei maupun sensus serta lebih menguasai medan/lapangan. Sedangkan dalam kegiatan Sensus Penduduk maupun SUSENAS sebagian besar pencacah adalah bukan pegawai Badan Pusat Statistik, tetapi tenaga bantuan dari luar BPS yang disebut Mitra Statistik, seperti guru SD, pegawai Pemerintah Daerah dan ada pula dari Karang Taruna tamatan SMTA yang tinggal di daerah penelitian.

Untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan lapangan serta mengurangi kesalahan yang mungkin terjadi, maka harus dilakukan pengawasan lapangan. Tugas pokok dalam pengawasan lapangan ini meliputi pengawasan pelaksanaan pencacahan dan pemeriksaan hasil-hasilnya. Secara umum rangkaian tugas pengawas/pemeriksa adalah sebagai berikut:

1. Mengikuti pelatihan yang telah ditentukan.

2. Membuat jadwal pengawasan lapangan untuk setiap pencacah.

3. Mendampingi setiap pencacah paling sedikit satu hari selama periode pencacahan. Pengawasan dimulai dari pencacah yang dinilai paling lemah dan dilakukan sedini mungkin, sehingga kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dapat dikurangi/dihindari.

4. Membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ditemui pencacah: jika menemukan masalah yang meragukan tentang konsep dan definisi, pengawas harus mengacu pada buku pedoman pencacah atau catatan yang diberikan selama pelatihan.

5. Mendistribusikan dokumen yang diperlukan sesuai dengan jenis maupun jumlahnya kepada pencacah dan mengumpulkan kembali daftar isian yang telah diisi pencacah.

6. Bersama pencacah mengenali dan mengelilingi daerah tugas pencacah dalam blok sensus/sub blok sensus terpilih sehingga pencacah dapat melakukan pencacahan di daerah tugasnya pada batas-batas blok sensus/sub blok sensus yang benar.

7. Melakukan pemilihan sampel rumah tangga dari Daftar VSEN2005.L sebanyak 16 rt dan memindahkan rt terpilih ke dalam Daftar VSEN2005.DSRT.

8. Memberikan Daftar VSEN2005.DSRT yang telah diisi kepada pencacah sehingga pencacah dapat segera melaksanakan tugasnya.

9. Memeriksa ketertiban dan kebenaran pengisian daftar-daftar yang digunakan, terutama konsistensi atau kelengkapannya. Bila isian tidak lengkap, tidak konsisten atau tidak wajar tanyakan kembali kepada pencacah.

10. Membuat rekapitulasi blok sensus hasil pendaftaran bangunan dan rumah tangga dengan menggunakan Daftar VSEN2005.RBL.

11. Menyerahkan daftar yang telah diisi dan diperiksa kepada BPS kabupaten/kota.

12. Melaksanakan seluruh tugas sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Di dalam wawancara diperlukan kesediaan responden untuk memberikan keterangan. Kesediaan responden tersebut dapat dikondisikan dan biasanya sangat bergantung kepada sikap pewawancara pertama kali bertemu. Sikap duduk, kecerahan wajah, tutur kata, keramahan, kesabaran, dan keseluruhan penampilan pewawancara sangat mempengaruhi kelanjutan/kelancaran wawancara. Penampilan yang sopan dan ramah dengan sendirinya akan dapat mengurangi bahkan menghilangkan perasaan dan sikap penerimaan responden yang negatif, yang dapat merugikan pencacahan, seperti: rasa curiga, rasa takut, rasa enggan, atau malu. Beberapa hal penting yang harus dilakukan untuk menciptakan hubungan baik dengan responden, antara lain:

a. Dalam membuat janji wawancara dengan calon responden, sebaiknya memperhatikan waktu senggang dari responden tersebut, dan berusaha jangan sampai mengganggunya dalam kesibukan sehari-hari.

b. Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh responden.

c. Sebelum memulai wawancara jangan lupa memperkenalkan diri, menunjukkan kartu pengenal jika perlu, serta menyebutkan lembaga atau badan yang menugaskannya

d. Dalam “obrolan” awal yang merupakan “intro” untuk membangun suasana yang kondusif ini jangan keluar dari konteks isi kuesioner.

e. Berilah perhatian terhadap hal-hal yang sedang dibicarakan oleh responden selama berlangsungnya wawancara.

f. Bila pewawancara kurang memahami jawaban responden, maka dapat meminta responden tersebut untuk mengulangi jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

g. Menjalankan tugasnya dengan penuh kepercayaan. Namun tidak dengan rasa percaya diri yang berlebihan, sehingga dirinya merasa lebih tinggi.

h. Di dalam mengajukan pertanyaan yang bersifat sensitif, misalnya menanyakan nilai pembelian dan penjualan, usahakan agar pertanyaannya tidak menyinggung perasaan responden

i. Gunakanlah waktu untuk wawancara dengan efektif, artinya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dapat diperoleh data yang sebanyak-banyaknya dan sejelasjelasnya.

j. Ucapkanlah terima kasih, bila wawancara tersebut telah selesai.

Standar kinerja tersebut ditetapkan berdasarkan kriteria pekerjaan yaitu menjelaskan apa-apa saja yang sudah diberikan organisasi untuk dikerjakan oleh karyawan atau pegawainya, oleh karena itu kinerja individual dalam pekerjaan haruslah diukur, dibandingkan dengan standar yang ada dan hasilnya harus dikomunikasikan kepada seluruh karyawan.

IMG-20180209-WA0004Penulis Inda Ni’matun Nada Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung yang sedang menyelesaikan Magang/PPL di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Tulungagung

Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) merupakan pilar kesejahteraan bangsa karena BUMDesa tidak lain adalah usaha yang didirikan atas dasar komitmen bersama masyarakat bawah, masyarakat akar rumput, yaitu masyarakat desa, untuk saling bekerja sama, bergotong royong, dan menggalang kekuatan ekonomi rakyat demi mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat desa.

Undang-undang nomor 6 tahun 2014 ,tentang desa menyebutkan bahwa Badan Usaha Milik Desa ( BUMDesa) adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh desa melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan desa yang dipisahka guna mengelola aset , jasa pelayanan , dan usaha lainnya untuk sebesar-besarnya kesejahterakan masyarakat desa. Berdasarkan Peraturan Menteri Desa,Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia nomer 4 tahun 2015 menjelaskan tentang tujuan dari pendirian BUMDesa adalah :

  1. Meningkatkan perekonomian desa;
  2. Mengoptimalkan aset desa agar bermanfaat untuk kesejahteraan desa;
  3. Meningkatkan usaha masyarakat dalam pengelolaan potensi ekonomi desa;
  4. Mengembangkan rencana kerja sama antar desa dan/atau dengan pihak ketiga;
  5. Menciptakan peluang dan jaringan pasar yang mendukung kebutuhan layanan umum warga;
  6. membuka lapangan pekerjaan;
  7. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan pelayanan umum,pertumbuhan dan pemerataan ekonomi desa;
  8. Meningkatkan pendapatan masyarakat desa dan pendapatan asli desa

IMG-20180209-WA0000Sebagai satuan politik terkecil pemerintah desa memiliki posisi strategi sebagai pilar pembangunan nasional. Desa memiliki banyak potensi tidak hanya di jumlah penduduk, tetapi juga ketersediaan sumberdaya alam yang melimpah, jika kedua potensi ini bisa di kelola dengan maksimal maka akan memberikan kesejahteraan bagi penduduk desa. Akan tetapi, di sadari bahwa selama ini pembangunan pada tingkat desa masih memiliki banyak kelemahan. Kelemahan pembangunan pada tingkat desa antara lain disebabkan tidak hanya karena persalan sumberdaya manusia yang kurang berkualitas tetapi juga disebabkan karena persoalan keuangan. Berbagai upaya telah dlakukan pemerintah dengan menggelontorkan berbagai dana untuk program pembangunan desa yang salah satunya adalah melalui BUMDesa

Ada 4 tahapan pembentukan BUMDesa, pertama musayawarah untuk menghasilkan kesepakatan. Kedua, perumusan kesepakatan bersama BUMDesa. Ketiga, pengusulan materi kesepakatan sebagai rancangan (Draft) peraturan desa. Keempat, penerbitan peraturan desa, jenis usaha yang dapat dikembangkan melalui BUMDesa diantaranya, pertama bidang usaha bisnis social melalui usaha air minum desa, usaha listrik desa dan lumbung pangan. Kedua, bidang usaha bisnis penyewaan melalui usaha alat transportasi perkakas pesta, gedung pertemuan, ruko, dan tanah milik BUMDesa. Dan yang ketiga bidang usaha perantara (Brokering) melalui jasa pembayaran seperti BRI link, jasa keuangan melalui akses kredit dan peminjaman, usaha bersama seperti desa wisata.

IMG-20180201-WA0001Di Tulungagung sudah sendiri menurut data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa telah berdiri 197 BUMDesa dan sekitar 128 BUMDesa yang masih aktif, diantara bebrapa BUMDesa tersebut ada bebrapa BUMDesa terbaik yang jumlah kurang lebih ada 10 dikarenakan mempunyai asset yang banyak dan pengelolaan yang cukup baik. Salah satunya yaitu desa Gondang

Tentang gambaran kondisi desa ini, luas wilayah Desa Gondang untuk pemukiman seluas 19,035 ha dan pertanian/sawah seluas 59,640 ha. Desa Gondang termasuk desa dengan jumlah penduduk relatif kecil, yaitu 3.277 jiwa, dengan perincian 1.659 laki dan 1.618 perempuan, yang terbagi

dalam 1.134 KK (Kepala Keluarga). Usia penduduk desa yang temasuk dalam angkatan kerja berjumlah 1.868 orang, sedangkan yang masih dalam status pengangguran mencapai 83 orang. Mata pencaharian penduduk cukup beragam, namun dapat dikla sifi kasikan ke dalam sejumlah sektor berikut ini : petani 371 orang (24,92%), peternak 443 orang (29,75%), pedagang 107 orang (7,19%), pengrajin 258 orang (17,33%), PNS/TNI/POLRI 152 orang (10,21%) dan sektor informal 158 orang (10,61%). Dari jumlah itu, struktur mata pencaharian didominasi oleh peternak yang mencapai 29,75% diikuti pe tani (24,92%). Tingkat pendidikan penduduk sudah cukup merata, walaupun sebagian besar hanya berpendidikan SD yakni sebanyak 1.012 orang (44,08%), sedangkan SMP 719 orang (31,32%), SMA 442 orang (19,25%) dan Perguruan Tinggi 123 orang (5,35%). Sementara penduduk yang tidak bersekolah teridentifi kasi hanya 1 orang. SaEdisi November 2014 Profifi l BUMDes 15 rana pendidikan juga telah tersedia, khususnya untuk pendidikan dasar, mulai TK, SD/sederajat dan SLTP/sederajat. Dari total 1.134 KK, di terdapat 172 KK miskin (keluarga pra sejahtera), sedangkan 618 KK masuk kategori Keluarga Sejahtera I, 189 KK kategori Keluarga Sejahtera II, 19 KK kategori Keluarga Sejahtera III dan 16 KK merupakan Keluarga Sejahtera III Plus.

Alasan dibentuknya BUMDesa Al-Hidayah ini yaitu dulu sebelum adanya BUMDesa namanya UPK (Unit Pengelola Keuangan) dan selanjutnya di kembangkan menjadi BUMDesa (Bada Usaha Milik Desa) untuk menyamakan asset desa, yang mendapat dana dari Gerdutaskin (Gerakan Terbaru Masyarakat Miskin)

IMG-20180131-WA0008Selain itu salah satu penyebab berdirinya BUMDesa Al-hidayah ini yakni pada waktu Tahun 2006 karena kebanyakan masyarakat di Desa Gondang ini kebanyakan home industry maka membutuhkan biaya untuk produksi, biaya produksi ini kebanyakan berhutang ke bank titil, dan bunga dari bank titil ini besar, oleh karena itu perangkat desa setiap perkumpulan itu membahas tentang perekonomian warga masyarakat,padahal di desa Gondang sendiri banyak sekali home industry seharusnya perekonomiannya harus lebih baik.

Perlu diketahui, BUMDes pada awalnya bernama Unit Pengelola Keuangan (UPK) adalah merupakan sebuah lembaga keuangan di desa yang dibentuk berdasarkan Musyawarah Desa pada pengelolaan Program Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (Gerdu- Taskin) yang diluncurkan oleh Provinsi Jawa Timur sejak tahun 2002, khususnya untuk desa-desa/ kelurahan yang memiliki kategori merah dan kategori kuning. Kebijakan pengembangam Pro gram Gerdu-Taskin didasarkan pada pendekatan Tridaya, yakni Pemberdayaan Manusia, Pemberdayaan Usaha dan Pemberdayaan Lingkungan yang diimplementasikan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai pelaku kegiatan. Dalam pendekatan ini kelompok masyarakat miskin diberi peluang

Pengurus melakukan tugasnya sesuai dengan tupoksinya masing-masing. Pengurus bertugas sebagai pelaksana dan penanggung jawab utama atas semua kegiatan yang dikelola oleh BUMDesa. Setiap keputusan yang di ambil harus di musyawarahkan terlebih dahulu dan setelah ditemukan kata sepakat baru di sosialisasikan ke anggota dan dilaksanakan oleh Pengurus

Sumber Dana Modal BUMDesa Al-Hidayah

Pada Oktober tahun 2007 desa Gondang memperoleh hadiah lomba sebesar Rp. 36.000.000 yang pengelolaannya dipercayakan kepada UPKu, Oktober tahun 2008 mendapat program CCB dengan dana sebesar Rp. 15.435.000, PWTAD dilaksanakan pada bulan November tahun 2008 dengan dana Rp. 15.000.000 Program desa mandiri dan program desa pinggiran hutan. Program-pragram yang dana nya berasal dari kabupaten se perti PPK, UED-SP juga dikelola oleh UPK. Dengan mengacu pada pola manajemen dan pengelolaan keuangan desa yang satu atap, maka pada tahun 2010 UPKu dipercaya untuk menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)

Unit Usaha BUMDesa Al-Hidayah

  • Pande Besi
  • Industri Kue
  • Anyaman Bambu
  • Simpan Pinjam
  • Tas Kue dan Kemucing

Prestasi BUMDesa Al-Hidayah

IMG-20180123-WA0001Dulu sebelum dibentuknya BUMDesa namanya adalah UPK itu pernah menorehkan prestasi Dalam perkembangannya, UPK Al-Hidayah dalam setiap tahunnya terenumeratori masuk sebagai UPK kategori SEHAT dan di dukung desa yang memenangkan lomba desa tingkat propinsi sehingga beberapa program masuk ke wilayah gondang. Pada Oktober tahun 2007 desa Gondang memperoleh hadiah lomba sebesar Rp. 36.000.000,  selain itu BUMDesa Al-Hidayah ini sering di kunjungi untuk study banding dari luar kota, ada dari Sulawesi, Sumatra, Jombang dan lain sebaginya.

Kendala BUMDesa Al-Hidayah

Kendala dari BUMDesa Al-Hidayah ini yaitu pada unit simpan pinjamnya yang terkadang ada kredit macet, dalam setiap lembaga keuangan namanya kredit macet ini selalu ada. Cara mengatasi kredit macet tersebut yakni direksi keuangan meminta izin ke direksi utama untuk dilakukan pengecekan ke rumah-rumah warga yang mengalami kredit macet. Setelah itu ketika direksi utama mengizinkan maka direksi keuangan segera bergerak cepat, kendala dari masyarakat itu kebanyakan untuk biaya sekolah anak.

Dengan Potensi perekonomian yang dimiliki oleh desa Gondang diharapkan perekonomian desa Gondang khususnya BUMDesa nya semakin maju dengan unit-unit usaha yang dimilik. Hanya perlu peningkatan, mengingat bahwa desa Gondang ini sudah dijadikan sebagi desa yang disoroti oleh DPMD untuk dilakukan study banding dari berbagi kota tetangga, bahkan dari luar pulau.

IMG-20180109-WA0018Penulis Efi Sulistiyani Mahasiswa Jurusan Akuntansi Syariah FEBI IAIN Tulungagung yang sedang menyelesaikan Magang/PPL di Badan Narkotika Nasional Kabupaten Tulungagung

Badan Narkotika Nasional (BNN) adalah sebuah Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) yang mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan dibidang Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), psikotropika, precursor, dan bahan adiktif lainnya kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol. Badan Narkotika Nasional (BNN) dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggungjawab langsung kepada Presiden melalui koordinasi Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Sebagai salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga sesuai dengan PMK 2005/PMK.011/2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal. Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung berkedudukan di Jalan Sultan Agung III/IA, Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung bertujuan untuk memberikan bimbingan dan dukungan implementasi akuntansi pemerintah pada Kementerian Negara/Lembaga. Melalui peran Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung diharapkan kualitas laporan K/L dapat ditingkatkan kualitasnya yang pada akhirnya Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dapat disajikan dengan akuntabel, akurat dan transparan.

IMG-20180130-WA0014Pada waktu pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung tentunya banyak ditemukan berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi. Di dalam essai ini penulis akan mengangkat salah satu permasalahan yaitu analisis revaluasi barang milik negara di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung. Alasan kami memilih permasalahan ini yaitu pada aplikasi SIMAK BMN semua asset yang dimasukkan ke dalam aplikasi tersebut semuanya disusutkan. Padahal kenyataannya di lapangan, untuk asset gedung dan bangunan serta pagar nilainya dari tahun ke tahun selelu bertambah. Sehingga permasalahan ini sangat menarik untuk diangkat dan dibahas.

IMG-20180130-WA0020Permasalahan yang kami temui ketika melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung dan hasil wawancara kami dengan pembimbing yaitu Bara Firdaus, A.Md. Permasalahannya yaitu pada aplikasi SIMAK BMN semua asset yang dimasukkan ke dalam aplikasi tersebut semuanya disusutkan. Padahal kenyataannya di lapangan, untuk asset gedung dan bangunan serta pagar nilainya dari tahun ke tahun selalu bertambah. Oleh karena itu,  Bara Firdaus A.Md., selaku Penata Usaha Barang Milik / Kekayaan Negara bekerjasama dengan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang membuat revaluasi asset (penilaian kembali). Revaluasi ini dilakukan di BNN Kabupaten Tulungagung agar nilai gedung dan bangunan serta pagar mencerminkan nilai yang sebenarnya sesuai dengan kondisi di lapangan.

Tanggapan dari pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung terhadap mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) IAIN Tulungagung sangat baik. Ketika memasuki masa PPL di BNN Kabupaten Tulungagung kami disambut dengan hangat oleh para pegawai terutama oleh kepala BNN Kabupaten Tulungagung yaitu Djoko Purnomo, S.H., M.H. Selama melaksanakan PPL di sana, kami selalu dibimbing dan diberi arahan terkait pekerjaan-pekerjaan yang terdapat di BNN Kabupaten Tulungagung.

IMG-20180131-WA0028Sedangkan tanggapan mengenai permasalahan yang kami hadapi di BNN Kabupaten Tulungagung adalah bahwa BNN Kabupaten Tulungagung harus membuat revaluasi asset untuk mencerminkan nilai yang sebenarnya dan tidak terjadi pencatatan dua kali. Kegiatan revaluasi ini bekerjasama dengan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang untuk dilakukan penilaian dan observasi lapangan terhadap ukuran luas gedung dan pagar. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan pada bulan Februari s.d. April. Kemudian hasilnya akan diberikan ke pihak BNN Kabupaten Tulungagung untuk diinputkan nilainya pada aplikasi SIMAK BMN dan disinkronkan di aplikasi SIMAN BMN. Setelah itu, hasilnya akan dilaporkan di Catatan Atas Laporan Keuangan BNN Kabupaten Tulungagung.

Menurut Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN), obyek revaluasi terdiri dari aset tetap. Aset tetap yang akan direvaluasi meliputi (1) tanah, (2) gedung dan bangunan, (3) Jalan, irigasi dan jaringan  yang diperoleh sampai dengan 31 Desember 2015.

Di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung tidak dilakukan revaluasi (penilaian kembali) atas tanah. Karena tanah yang menjadi tempat berdirinya bangunan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung bukan milik sendiri, melainkan milik Pemerintah Daerah (Pemda). Sebagai bentuk dukungan Pemerintah Daerah Tulungagung telah menyediakan lahan dengan luas 756 M2 yang terletak di Jalan Sultan Agung, Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru dengan status kepemilikan hak atas tanah. Sertifikat Hak Pakai No. 11, Surat Ukur Tgl. 25-11-1998 No.50/12/1998 Luas 31.160 M2, Nama Pemegang Hak Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Tulungagung berkedudukan di Tulungagung, Tanggal 21-12-1998. Adapun tanah dimaksud dipinjampakaikan kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung selama digunakan untuk melaksanakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

IMG-20180213-WA0059Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung memiliki kontrak atas tanah dengan Pemda. BNN Kabupaten Tulungagung harus memperpanjang kontrak tersebut setiap 5 (lima) tahun sekali. Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung tidak membayar sewa atas tanah tersebut, melainkan harus memberikan imbal balik berupa kegiatan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Dengan adanya kegiatan ini akan sangat menguntungkan bagi semua pihak. Salah satu manfaat bagi masyarakat Kabupaten Tulungagung adalah angka penyalahgunaan narkoba dapat ditekan.

Aset yang dilakukan revaluasi di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung adalah gedung dan bangunan serta pagar permanen. Awalnya gedung dan bangunan serta pagar permanen digabung saat dilakukan revaluasi. Kemudian dipisah, karena tahun pembangunan (tahun perolehan) gedung dan bangunan serta pagar permanen berbeda. Serta antara bangunan dan gedung serta pagar permanen memiliki kode SIMAK tersendiri.

Gedung dan bangungan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung dalam form revaluasi memiliki kode barang 4010101001 dengan nama barang Bangunan Gedung Kantor Permanen. Tanggal perolehan Bangunan Gedung Kantor Permanen  adalah 31 Desember 2011. Adapun kondisi bangunan saat ini yaitu baik. Luas bangunannya 485,54 m2. Bangunan Gedung Kantor permanen dibangun diatas tanah milik Pemda, memiliki kode satker 12.13.13.1.20.12.1.20.12, dan Kode Barang 01.11.04.01. Posisi Gedung berada di komplek Perkantoran Jl. Sultan Agung, Luas awal = 481 m2 , luas pengembangan untuk pembangunan toilet klinik BNN Kabupaten Tulungagung = 4,54 m2, sehingga total luasnya = 485,54 m2. Bangunan gedung BNN Kabupaten Tulungagung terdiri dari 2 lantai. Di BNN Kabupaten Tulungagung tidak memiliki rumah dinas. Pos satpam yang ada di BNN Kabupeten Tulungagung sudah include dengan pembangunan gedung.

IMG-20180213-WA0061Pagar yang ada di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung dalam form revaluasi memiliki kode barang 4040104001 dengan nama barang pagar permanen. Tanggal perolehan pagar permanen adalah 22 November 2013. Adapun kosisi pagar saat ini adalah baik. Luas pagar yaitu 556,55 m2. Pagar permanen dibangun diatas tanah milik Pemda, memiliki kode satker 12.13.13.1.20.12.1.20.12, dan Kode Barang 01.11.04.01. Posisi pagar berada di kompleks Perkantoran menghadap Jl. Sultan Agung III. Pembangunan dan luas pagar sudah include dengan parkiran dan perkerasan, dan jika dirinci luas per item adalah pagar = 133 m2, parkir = 63,24 m2, perkerasan paping = 359,99 m2, sehingga total luasnya adalah 556,55 m2. Khusus untuk pagar samping kanan dan belakang dimiliki oleh Pemkab Tulungagung.

Revaluasi asset tetap yang dilaksanakan di BNN Kabupaten Tulungagung didasarkan pada PSAK 16 tentang asset tetap dan PSAK 48 tentang penurunan nilai asset tetap. Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung perlu melalukan revaluasi asset (penilaian kembali), alasannya karena pada aplikasi SIMAK BMN semua asset yang dimasukkan ke dalam aplikasi semuanya disusutkan, padahal kenyataannya di lapangan untuk nilai asset gedung dan bangunan serta pagar permanen nilainya semakin bertambah. Revaluasi dilakukan dengan tujuan agar nilai asset mencerminkan nilai yang sebenarnya.

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung dalam melakukan revaluasi (penilaian kembali) bekerjasama dengan (Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang.  Adapun sebelum dilakukan penilaian dan observasi lapangan terhadap ukuran luas gedung dan pagar oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang, Badan  Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung harus mengajukan berkas-berkas kepada Kepala KPKNL Malang. Adapun berkas-berkasnya meliputi:

  1.  Surat pengantar dari BNN Kabupaten Tulunggung;
  2. Kertas kerja inventarisasi kuasa pengguna barang  (bangunan dan gedung);
  3. Formulir pendataan objek penilaian kembali (Form – 02.a bangunan);
  4. Dokumentasi gedung BNN Kabupaten Tulungagung;
  5. Kartu Identitas Barang (KIB);
  6. Dokumentasi tanah kosong timur kantor camat kedungwaru;
  7. Surat Ijin Mendirikan Bangunan (IMB);
  8. Surat perjanjian kerjasama antara BNN dengan Pemerintah Kabupaten Tulungagung;
  9. Surat laporan peresmian gedung BNNK Tulungagung;
  10. Dokumentasi pagar BNN Kabupaten Tulungagung;
  11. Berita acara peemeriksaan dan serah terima pekerjaan;
  12. Laporan kondisi barang.

IMG-20180213-WA0066Dokumen dikirimkan kepada kepala KPKNL Malang pada tanggal 21 Desember 2017. Kemudian untuk dilakukan revaluasi pada bulan Februari s.d April 2018.

Tujuan aplikasi revaluasi BMN:

  1. Membantu proses pelaksanaan Penilaian Kembali, mulai dari persiapan data awal, pelaksanaan, pelaporan, dan tindaklanjut sehingga Penilaian Kembali BMN menjadi lebih mudah, cepat, efektif dan efisien.
  2. Digitalisasi seluruh dokumen Penilaian Kembali BMN.
  3. Terbentuk database nasional hasil Penilaian Kembali BMN.
  4. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan Penilaian Kembali BMN seluruh unit secara online dan realtime.

Dari uraian pembahasan  ini maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan di BNN Kabupaten Tulungagung adalah pada aplikasi SIMAK BMN semua asset yang dimasukkan ke dalam aplikasi tersebut semuanya disusutkan. Padahal kenyataannya di lapangan, untuk asset gedung dan bangunan serta pagar nilainya dari tahun ke tahun selalu bertambah. Oleh karena itu, BNN Kabupaten Tulungagung bekerjasama KPKNL Malang membuat revaluasi asset (penilaian kembali). Tujuan revaluasi dilakukan adalah agar nilai aset gedung dan bangunan serta pagar nilaiya mecerminkan keadaan yang sebenarnya.

6Penulis Shella Nurhadiatin Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung yang sedang menyelesaikan Magang/PPL di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Tulungagung

Kabupaten Tulungagung berada di ujung Selatan Provinsi Jawa Timur, di ujung Selatan berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, di ujung Timur berbatasan dengan Kabupaten Blitar, di ujing Utara berbatasan dengan Kabupaten Kediri, di ujung Barat berbatasan dengan Kabupaten Trenggalek dan memiliki semboyan “Ayem Tentrem Mulyo Lan Tinoto”. Luas wilayahnya mencapai 1055, 65 km2 , meliputi 19 Kecamatan, 257 Desa, dan 14 Kelurahan. Dinas – dinas yang ada di Tulungagung banyak sekali dan salah satunya adalah Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa yang terletak di Jln.Sultan Agung No.20, Dinas ini termasuk badan yang terbentuk sesuai Peraturan Daerah No.40 Tahun 2011.

Kabupaten Tulungagung memiliki 197 BUMDesa se- Kabupaten Tulungagung. Dari sekian banyak BUMDesa terdapat 10 BUMDEsa terbaik, dan salah satunya yaitu BUMDesa “AMANAH” Desa Jarakan Kecamatan Gondang, dengan memiliki 4 sektor unit yaitu peminjaman sound sistem, peminjaman mesin jahit, pengangkutan sampah, dan simpan pinjam. Desa Jarakan merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung dengan batas-batas wilayah yaitu Sebelah Utara Desa Bolorejo,  Sebelah Timur Tiudan, Sebelah Selatan Desa Ngrendeng, dan Sebelah Barat Desa Mojoarum

1Desa Jarakan Kecamatan Gondang memiliki luas wilayah 76.135Ha yang terbagi dalam 2 ( dusun ) dusun yaitu dusun bakalan, dusun Krajan, Terdiri dari 4 RW dan 18RT. Adapun jumlah penduduk Jarakan sebanyak 2638 jiwa atau 830 KK, terdiri dari 1288 laki laki dan 1350 perempuan. Mata pencaharian masyarakat desa Jarakan bervariasi seperti (contoh ) : tani, buruh tani, PNS dan sebagian besar adalah swasta. Potensi wiraswasta yang masih sangat mungkin untuk dikembangkan di desa ini adalah usaha industri kerajinan teralis, usaha bordir, bubut kayu, ternak sapi dan unggas. Di mana usaha ini banyak menyerap tenaga kerja dan keuntungan yang sangat menjanjikan. Selain itu potensi lahan pekarangan dan pertanian yang begitu luas belum bisa dimaksimalkan fungsinya, diharapkan nanti akan dikembangkan usaha pemanfaatan lahan kosong dengan budidaya tanaman holtikultura, di mana hasilnya nanti akan diusahakan diolah kembali sehingga bisa dipasarkan dalam bentuk barang jadi / setengah jadi. Disinilah nantinya dibutuhkan ahli – ahli / orang-orang yang mau dan mampu berfikir untuk menciptakan kreasi usaha baru demi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Di desa Jarakan ada beberapa LKM (Lembaga Keuangan Mikro) antara lain : Kopwan “ Seruni Dan Gapoktan “Maju Jaya

2Sejarah BUMDesa Amanah yaitu diambil dari hasil identifikasi yang dilakukan oleh Bapemas Provinsi Jawa Timur dan BPMPD Kabupaten Tulungagung, pada tahun 2015, desa Jarakan Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung telah memperoleh Program BUMDesa (Badan Usaha Milik Desa ) dengan kebijakan pengembangan didasarkan pada Pemberdayaan Usaha yang diwujudkan dalam usaha simpan pinjam serta Usaha Sektor Riil dan Pemberdayaan Lingkungan yang diimplementasikan secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai pelaku kegiatan. Pengelolaan program dipercayakan kepada masyarakat melalui pembentukan institusi lembaga ekonomi berupa  BUMDesa yang diharapkan mampu menjadi lembaga pelaksana program dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam rangka pengentasan kemiskinan dengan fungsinya sebagai Lembaga Keuangan Mikro Pedesaan melalui penyediaan permodalan bagi rumah tangga miskin secara mudah, murah dan cepat. Dalam perkembangannya, BUMDesa Amanah Desa Jarakan Kecamatan Gondang dalam setiap tahunnya sejak berdiri pada tahun 2015 s/d tahun 2017terenumeratori masuk sebagai BUMDesa kategori sehat dan keberadaannya sangat membantu masyarakat dalam pelayanan permodalan bagi Rumah Tangga Miskin Berpotensi (RTMB). Sejalan dengan hal tersebut,serta sesuai dengan bimbingan dari BPMPD. BUMDesa Amanah didirikan atas musyawarah warga dengan mendatangkan dari tokoh warga masyarakat. Ketuanya yaitu Yuda Bayu Kusuma, Sekretarisnya  Suriyanti dan Bendaharanya Yamyunah. Sejarah pendirian BUMDesa dilatar belakangi untuk bagaimana Desa itu bisa mandiri dan bisa menyopong ekonomi atau perekonomian Desa. Usahnya yang sedang dikembangkan BUMDesa Amanah sebagai berikut:

3Usaha Persewaan Sound Sistem

Keinginan keberadaan BUMDesa di desa harus sangatlah bermanfaat dan berguna untuk masyarakat. Salah satunya usahanya adalah Persewaan Sound Sistem. BUMDesa ingin ketika masyarakat desa mempunyai hajat yang menggunakan jasa sound sistem sebagai Usaha yang dimiliki desa, BUMDesa  bisa melayani, dan tentunya memasang tarif murah bagi masyarakat yang membutuhkan.

 

4Usaha Jasa Pengambilan Sampah

Usaha lain yang dijalankan oleh BUMDesa Amanah untuk menunjang perkembangan BUMDesa adalah usaha sektor riil,  kegiatan ini diwujudkan dalam  bentuk jasa pengambilan sampah. Dengan usaha ini selain mayoritas dari konsumen jasa BUMDesa adalah dari desa Jarakan sendiri, konsumen juga merambah di lain desa yang ada di kec Gondang. Dengan usaha ini BUMDesa berusaha menciptakan peluang lapangan pekerjaan bagi anggotanya, meskipun sekarang  belum mempunyai tempat pembuangan sampah sementara atau tempat pengolahan sampah mandiri BUMDesa tetap berjalan ,karena kesulitan mencari lahan untuk di sewa sebagai tempat pengolahan ataupun pembuangan sampah sementara, namun kedepannya usaha ini sangat perlu untuk di tingkatkan lagi karena sampah nantinya kalau tidak cepat ditangani akan menjadikan masalah besar bagi masyarakat, dan agar tenaga kerja yang terserap semakin banyak juga. Secara tidak langsung BUMDesa telah berusaha meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat dan membantu program dari pemerintah dalam hal kelestarian lingkungan.

7Usaha Perkriditan Mesin Jahit

Perkreditan Mesin Jahit adalah salah satu usaha yang dikelola BUMDesa Amanah, karena dari usaha perkriditan mesin jahit ini diharapkan tujuan utama dengan didirikannya BUMDesa yaitu meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian usaha ekonomi produktif di pedesaan bisa di wujudkan. Bentuknya adalah dengan pemberian bantuan pinjaman modal sarana/ barang dengan bunga ringan, proses mudah dan cepat.

Simpan Pinjam

5BUMDesa mendapatkan kepercayaan mendapatkan program Jalin Matra. Yang memperoleh program Jalin Matra adalah warga masyarakat yang masuk data PGTT Tahun 2015, dan di klarivikasi termasuk orang yang kurang mampu. BUMDesa memberikan pinjaman diharapkan untuk modal usaha dan memperbesar usahanya. Syarat untuk peminjaman adalah fotocopy ktp ,mengisi administrasi, dan minta tanda tangan Bu Kades. Untuk peminjaman sementara maksimal 3 juta, karena keterbatasan dana dan agar dana bisa Kegiatan PPL yang diadakan di DPMD Tulungagung merupakan Secara umum praktik yang bertujuan untuk meningkatkan keahlian dan profesionalitas sesuai dengan kompetensi yang ada dalam prodi ekonomi syariah serta mengembangkan ilmu dengan praktik langsung di lapangan. Secara khusus untuk bagaimana peran dalam memberdayakan usaha ekonomi desa, peran dalam pendayagunaan sumber daya alam dan teknologi, peran dalam partisipasi dan lembaga masyarakat, peran dalam menata pemerintahan desa. Atas nama saya sendiri, semoga dengan adanya pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan di DPMD akan memberikan ilmu dan pengalaman bagi saya. Semoga ilmu yang saya dapatkan menjadi berkah hidup saya. Dari PPL ini, saya menyajikan karya esai disesuaikan dengan pengetahuan serta pengalaman di DPMD Tulungagung.

Penulis Muhammad Miftahul Khoir Rahmatullah Mahasiswa PPL/Magang di Dinas Pertanian Tulungagung Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung

 UntitledIndonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam dan sebagian besar dimanfaatkan sebagai lahan pertanian yang umumnya berada di pedesaan. Dengan demikian, sudah sewajarnya masyarakat desa sebagai petani menjadi sasaran utama dalam upaya meningkatkan kemajuan pertanian. Tingkat kemajuan pertanian dapat diwujudkan mulai dari pembangunan pertanian, yang dijalankan melalui program-program daerah. Pembangunan pertanian ditujukan dalam rangka peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat terutama petani dan pelaku usaha pertanian. Dalam pencapaian tujuan tersebut, kegiatan pembangunan pertanian menuntut termanfaatkannya seluruh potensi yang ada di masyarakat, baik potensi sumber daya alam, manusia, teknologi, dan juga sumber daya institusi secara optimal, menguntungkan dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Pengembangan sektor pertanian diharapkan tidak hanya dapat menyediakan sumber pangan dan bahan baku industri, melainkan juga akan menyokong pembangunan nasional dalam hal pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB), Penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, pemicu pertumbuhan ekonomi di pedesaan, perolehan devisa, maupun sumbangan tidak langsung melalui penciptaan kondisi kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan sektor lain.

DOKUMENTASI-1Masalah paling dasar bagi sebagian besar petani Indonesia adalah masalah keterbatasan modal yang dimiliki oleh para petani. Permasalahan yang dihadapi dalam permodalan pertanian berkaitan langsung dengan kelembagaan selama ini, yaitu lemahnya organisasi tani, sistem dan prosedur penyaluran kredit yang rumit, birokratis dan kurang memperhatikan kondisi lingkungan sosial budaya perdesaan, sehingga sulit menyentuh kepentingan petani yang sebenarnya.

Dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja di pedesaan, bapak Presiden RI pada tanggal 30 April 2007 di Palu, Sulawesi Tengah telah mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-M), Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang dilaksanakan oleh Departemen Pertanian pada tahun 2008 dilakukan secara terintegrasi dengan program PNPM-M. Untuk pelaksanaan PUAP di Departemen Pertanian, Menteri Pertanian membentuk tim Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan melalui Keputusan Menteri Pertanian (KEPMENTAN) Nomor 545/Kpts/OT.160/9/2007.

DOKUMENTASI-2PUAP merupakan bentuk fasilitas bantuan modal usaha untuk petani anggota, baik petani pemilik, petani penggarap, buruh tani maupun rumah tangga tani yang dikoordinasikan oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Dana tersebut digunakan untuk membiayai kegiatan produktif budidaya (On-farm) dan kegiatan non budidaya (Off-farm) yang terkait dengan komoditas pertanian yaitu industri rumah tangga pertanian, pemasaran hasil pertanian dan usaha lain berbasis pertanian.

Kementerian Pertanian sejak Tahun 2008-2014 telah melaksanakan Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dibawah koordinasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) dan berada dalam kelompok program pemberdayaan masyarakat. Dan pada selanjutnya anggaran dana Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan di cairkan lagi pada tahun 2015. Pelaksanaan Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Tahun 2015 yang mengacu kepada pola dasar yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 06/Permentan/OT.140/2/2015 tentang Pedoman Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Tahun 2015, untuk meningkatkan keberhasilan penyaluran dana BLM-PUAP kepada Gapoktan dalam mengembangkan usaha produktif petani. Strategi dasar yang dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat, optimalisasi potensi agribisnis, fasilitasi modal usaha petani kecil, penguatan dan pemberdayaan kelembagaan.

DOKUMENTASI-3Di Kabupaten Tulungagung, program PUAP juga sudah terlaksana dari tahun 2008 melalui Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung. Masyarakat anggota gapoktan yang menggunakan modal pinjaman PUAP tersebut masih belum tersosialisasi dan masih mempunyai kesadaran yang kecil, mereka meminjam dana tersebut tanpa mengembalikannya dan kebanyakan anggota gapoktan meminjam dana tersebut bukan untuk permasalahan petaniannya tetapi untuk hal-hal yang lain seperti kebutuhan rumah tangga dan lain-lain, sehingga dana PUAP tersebut tidak berjalan maksimal.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Dinas Pertanian Kabupeten Tulungagung berupaya semaksimal mungkin untuk mensosialisasikan mekanisme dan tata cara pengelolaan dana BLM-PUAP kepada para petani di masing-masing gapoktan, supaya masalah permodalan yang dihadapi para petani bisa teratasi dengan adanya program tersebut sehingga dapat memaksimalkan hasil produksi pertanian di kabupaten Tulungagung, dan pendapatan para petani di Tulungagung dapat meningkat.

DOKUMENTASI-4Dana BLM-PUAP yang disalurkan dari Kementerian Pertanian kepada Gapoktan dimanfaatkan sebagai modal usaha, diharapkan dikelola dengan baik dan berkelanjutan oleh pengurus Gapoktan sesuai dengan Rencana Usaha Bersama (RUB) yang telah disusun Gapoktan. Prosedur penarikan dana BLM-PUAP dari Gapoktan kepada kelompok tani dan petani anggota serta pemanfaatannya adalah sebagai berikut.

  1. Pengurus Gapoktan PUAP menginformasikan kepada seluruh petani anggota melalui Kelompoktani bahwa dana BLM-PUAP telah masuk ke rekening Gapoktan.
  2. Pembekalan pengetahuan PUAP dilakukan  oleh Tim Teknis Kabupaten/Kota dan atau PMT, sebelum dana dicairkan kepada Kelompoktani atau petani anggota.
  3. Pengurus Gapoktan meminta kepada seluruh Kelompok tani untuk menentukan jadwal penarikan sesuai dengan Rencana Usaha Kelompok (RUK).
  4. Pengurus Kelompok tani meminta kepada seluruh petani anggota untuk menentukan jadwal penarikan sesuai dengan Rencana Usaha Anggota (RUA).
  5. Penarikan/Pencairan dana BLM PUAP dari Bank diketahui oleh Tim Teknis PUAP Kabupaten/Kota, dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan jadwal pemanfaatan yang disepakati pada Rapat Anggota.

DOKUMENTASI-6Sedangkan prosedur pemanfaatan dana BLM-PUAP adalah sebagai berikut.

  1. Dana BLM-PUAP dimanfaatkan sebagai modal usaha   produktif agribisnis sesuai dengan RUB/RUK/RUA yang telah disepakati.
  2. Setiap transaksi dilaksanakan secara transparan dan dibukukan serta bukti transaksi harus disimpan secara tertib oleh Bendahara Gapoktan.
  3. Pemanfaatan Dana BLM-PUAP yang tidak sesuai dengan siklus dan peluang usaha yang terdapat dalam RUB, maka Gapoktan PUAP dapat melakukan perubahan/revisi RUB yang telah diputuskan melalui musyawarah/Rapat Anggota (RA) dengan Berita Acara yang ditandatangani oleh Ketua Gapoktan, diketahui oleh Penyelia Mitra Tani (PMT) dan Tim Teknis Kabupaten/Kota.
  4. Dana BLM PUAP merupakan modal dasar bagi Gapoktan yang dapat dimanfaatkan oleh petani, dan harus ditumbuhkembangkan secara berkelanjutan menjadi LKM-A.
  5. Apabila terjadi penyimpangan terhadap penyaluran dan pemanfaatan dana BLM-PUAP, maka Tim Teknis agar melakukan pemeriksaan, dan hasil pemeriksaan yang dinyatakan dengan Berita Acara penyelesaian Permasalahan (BAP).

Dengan adanya sosialisasi atau penyuluhan dari pihak dinas pertanian kabupaten Tulungagung mengenai pencairan dan pemanfaatan program dana Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) tersebut, diharapkan hasil produksi para petani juga akan semakin meningkat, dan tentunya hasil dari produk pertanian tersebut bisa meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani, serta dapat dimanfaatkan sebagai penyediaan pangan dalam negeri. Hal tersebut juga akan berdampak baik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan otomatis pendapatan nasional juga akan terdongkrak naik.

DOKUMENTASI-5Pendapatan adalah seluruh penerimaan baik berupa uang maupun berupa barang yang berasal dari pihak lain maupun hasil industri yang dinilai atas dasar sejumlah uang dari harta yang berlaku saat itu. Pendapatan merupakan sumber penghasilan seseorang untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari dan sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup dan penghidupan seseorang secara langsung mau pun tidak lagsung. Jadi jika pendapatan petani itu adalah seluruh penerimaan petani baik berupa uang maupun barang yang berasal dari usaha taninya di setiap komoditas pertaniannya yang digunakan sebagai sumber penghasilan untuk kehidupan sehari – hari.

Dalam istilah umum, sejahtera menunjuk ke keadaan yang baik, kondisi manusia di mana orang-orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat dan damai. Dalam ekonomi, sejahtera dihubungkan dengan keuntungan benda. Di dalam konteks sektor pertanian, kesejahteraan petani dapat dilihat dengan jumlah pendapatannya. Komoditas tanaman pangan juga sangat berpengaruh bagi kesejahteraan petani.

Pangan merupakan komoditas penting dan strategis karena pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia sebagaimana yang dinyatakan dalam UU No.7 Tahun 1996 tentang Pangan. Kecukupan pangan menentukan kualitas sumber daya manusia dan ketahanan bangsa. Lebih jauh ketahanan pangan akan memberikan gambaran terbentuknya stabilitas kesejahteraan rakyat yang didambakan. Masyarakat yang sejahtera cenderung memiliki produktivitas yang tinggi, dan begitu pula sebaliknya. Negara yang memiliki masyarakat yang sejahtera maka tingkat kreativitas yang dihasilkan oleh bangsa tersebut akan tergolong tinggi.

Dengan adanya program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) tersebut dengan pelaksanaan yang maksimal, maka akan meningkatkan produktifitas para petani, sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani juga akan meningkat pula. Data Nilai Tukar Petani (NTP) yang di rilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dari bulan Januari 2013 sampai Januari 2018 menunjukkan sebagai berikut:

 

Bulan

NTP

2013

2014

2015

2016

2017

2018

Januari

103.4

104.8

105.2

105.9

103.1

106.7

Februari

102.5

104.7

106.2

105.3

101.8

-

Maret

101.5

104.1

104.3

103.8

101.7

-

April

101.9

104.2

102.8

103.8

101.8

-

Mei

102.6

104.3

102.5

104.3

102.2

-

Juni

103

104.3

103.1

104.6

103

-

Juli

103

104.3

103.9

104.6

103.9

-

Agustus

103

104.6

105.1

104.7

105.4

-

September

103.2

105.3

106.4

105.8

106.4

-

Oktober

104.3

106.1

105.8

105

106.9

-

November

103.5

105.9

106.6

103.8

106.5

-

Desember

104.9

104.4

106.1

104

106.4

-

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur.

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase. Nilai tukar petani merupakan salah satu indikator dalam menentukan tingkat kesejahteraan petani. Pengumpulan data dan perhitungan NTP di Indonesia dilakukan oleh Biro Pusat Statistik.

Arti Angka NTP :

  • NTP > 100, berarti petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya.
  • NTP = 100, berarti petani mengalami impas. Kenaikan / penurunan harga produksinya sama dengan persentase kenaikan / penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani sama dengan pengeluarannya.
  • NTP < 100, berarti petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani turun, lebih kecil dari pengeluarannya.

Berdasarkan data tabel NTP Provinsi Jawa Timur diatas, dapat diketahui bahwa petani Jawa Timur dari bulan Januari 2013 sampai Januari 2018 mendapatkan surplus atas produksinya sehingga pendapatan dan kesejahteraan petani pasca diadakannya program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) dapat meningkat. Dan menurut dari data dinas pertanian kabupaten Tulungagung, kabupaten Tulungagung juga merupakan salah satu daerah di provinsi jawa timur yang mempunyai surplus atas produksi pertaniannya.

Kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang telah saya laksanakan di Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung merupakan bentuk implementasi dari sekian banyak teori yang telah di berikan bapak/ibu dosen dan juga merupakan pengamatan serta pengalaman keilmuan terutama mengenai upaya dari Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung dalam meningkatkan hasil produksi sektor pertanian daerah, sehingga perekonomian masyarakat kabupaten Tulungagung terutama petaninya dapat meningkat dan sejahtera.

Melalui karya essai ini, saya mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Bapak Dr. Maftuhin, M.Ag., selaku rektor IAIN Tulungagung.
  2. Bapak Dr. H. Dede Nurrohman, M.Ag., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung.
  3. Bapak Siswahyudianto, M.M., selaku Kepala Laboratorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk membuat karya essai.
  4. Ibu Hj. Amalia Nuril Hidayati, M.Sy. selaku Dosen Pembimbing Lapangan yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta perhatian penuh kepada mahasiswa selama menjalani PPL di Dinas Pertanian Tulungagung.
  5. Ibu Hanjar Purwaningsih, S.Sos. selaku Dosen Pamong yang telah memberikan arahan dan bimbingannya selama mahasiswa melaksanakan PPL di Dinas Pertanian Tulungagung.

Collateral Untuk Menanggulangi Pembiayaan Bermasalah Pada BMT Tulungagung

Penulis  Isfan Riskiantono Mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas Praktik Pengalaman Lapangan/ Magang Program Studi Perbankan Syariah IAIN Tulungagung

Baitul Mal Wa Tamwil merupakan suatu lembaga yang dibentuk atas prakarsa dan swadaya masyarakat dengan segala kelebihan dan kelemahannya terbukti sangat efektif untuk menolong pengusaha kecil dalam mengakes sumber dana pembiayaan. Dalam hal pembiayaan macet pihak bank perlu melakukan penyelamatan, sehingga tidak akan menyebabkan kerugian.

Dalam UU Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan disebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan-pembiayaan yang tidak lancar,pembiayaan dimana anggotanya tidak memenuhi persyaratan atau tidak menepati jadwal angsuran, pembiayaan yang memiliki potensi merugikan BMT dan memiliki potensi menunggak dalam satu waktu tertentu. Akibat terjadinya pembiayaan bermasalah, pihak BMT akan melakukan penyelesaian permasalahan tersebut. Secara garis besar upaya penyelesaian pembiayaan bermasalah dikelompokkan menjadi 2 (dua) tahapan yaitu upaya penyelamatan dan upaya penyelesaian. Upaya penyelamatan dilakukan BMT dengan melihat masih adanya kemungkinan memperbaiki kondisi usaha dan keuangan anggota.

Keberadaan BMT dapat dipandang memilliki dua fungsi utama,yaitu sebagai media penyalur pendayagunaan harta ibadah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf,serta dapat pula berfungsi sebagai institusi yang bergerak dibidang investasi yang bersifat produktif sebagaimana layaknya bank. Pada fungsi yang kedua ini dapat dipahami bahwa selain berfungsi sebagai lembaga keuangan BMT juga berfungsi sebagai lembaga ekonomidan bertugas menghimpun dana dari masyarakat (anggota BMT) yang mempercayakan dananya disimpan di BMT dan menyalurkanya dana kepada masyarakat (anggota BMT) yang diberikan pinjamaman oleh BMT.

Baitul mal wat tamwil adalah yang isinya berintikan bayt al-mal wa al-tamwil dengan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan ekonomi pengusaha kecil antara lain dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. Selain itu BMT juga menerima titipan zakat, infak, dan sedekah serta menyalurkanya sesuai dengan peraturan dan amanatnya.

Kegiatan BMT adalah mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha makro dan kecil, antara lain mendorong kegiatan menabung dan pembiayaan kegiatan ekonominya.Sedangkan kegiatan bait al-mal menerima titipan dari dana zakat,infaq, dan shodaqah dan menjalankannya sesuai dengan peraturan dan amanah yang dititipkan. Berdasarkan dua pengertiaan diatas BMT dapat disimpulkan sebagai lembaga keuangan mikro yang didirikan untuk membiayai dan membantu perkembangan usaha mikro berdasarkan prinsip syariah.

Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan / kredit yang :

  1. Memiliki kesulitan di dalam penyelesaian kewajiban baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya dan atau pembayaran keuntungan.
  2. Di dalam pelaksanaannya belum mencapai atau memenuhi target yang diinginkan pihak BMT.
  3. Memiliki kemungkinan timbulnya resiko dikemudian hari bagi BMT dalam arti luas.

 

Pembiayaan yang memiliki potensi menunggak dalam satu waktu tertentu pun ada tunggakan angsuran pokok tetapi tidak melampaui satu bulan tetapi belum melampaui dua bulan. Ada juga pembiayaan macet maksudnya belum ada pelunasan dan penyelesaiannya diserahkan kepada pihak lain. Gejala-gejala pembiayaan bermasalah antara lain:

  • Sering meminta penundaan pembayaran
  • Mengajukan penambahan pembiayaan
  • Pembayaran angsuran tersendat-sendat
  • Terjadi penyimpangan penggunaan pembiayaan
  • Mengajukan perpanjangan pembiayaan

Landasan Hukum Indonesia

Dalam memberikan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah BMT wajib mempunyai kayakinan analisa yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan dari anggota untuk melunasi atau mengembalikan utangnya atau mengembalikan pembiayaan yang sesuai dengan yang diperjanjikan (Pasal 8 UU no. 10 Tahun 1998).

  1. Tindakan Preverentif

Tindakan yang bersifat pencegahan. Tindakan ini bersifat intern. Untuk itu keberhasilan dari tindakan ini sangat tergantung dari kualitas SDM, system dan prosedur, mekanisme monitoring dan evaluasi. Secara garis besar tindakan preverentif dapat dilakukan melalui :

  1. Analisa Pembiayaan
  2. Mekanisme Monitoring dan Evaluasi yang meliputi :
  • On Site Monitoring

Kegiatan pengawasan pembiayaan yang bersifat langsung atau kunjungan langsung kepada anggota.

  • Auditing

Kegiatan pengawasan pembiayaan yang bersifat langsung atau kunjungan langsung kepada anggota.

  • On Desk Monitoring

Kegiatan pengawasan pembiayaan yang dilakukan secara administrative, yakni melalui instrument administrasi, seperti : laporan, catatan-catatan, dokumen dan informasi pihak ketiga.

Secara umum terdapat 3 faktor penyebab terjadinya pembiayaan bermasalah :

  1. Faktor ekstern
  • Anggota kurang mampu mengelola usahanya.
  • Kondisi ekonomi yang tidak kondusif yang menyebabkan turunnya pendapatan usaha sehingga mempengaruhi kemampuan anggota untuk membayar kewajibannya kepada Koperasi Syariah.
  • Anggota beritikad tidak baik.
  • Anggota menyalah gunakan kredit yang diperolehnya.
  1. Faktor intern
  • Lemahnya pengawasan dan monitoring.
  • Pembiayaan yang diberikan secara terkonsentrasi baik jumlah maupun penerimaannya.
  • Analisa pembiayaan / kredit dan jaminan tidak sempurna.
  • Lemahnya SDM.
  • Pengikatan perjanjian pembiayaan / kredit dan jaminan tidak sempurna.
  1. Keadaan yang bersifat Force Majeour.

Faktor ini disebabkan karena suatu peristiwa atau kondisi yang diluar kemampuan Koperasi Syariah dan anggota untuk mengontrol dan menanggulanginya. Penyebabnya antara lain : bencana alam, pemogokan, kebakaran, dan perang huru-hara.

Melalui karya esai ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

  1. Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku rektor IAIN Tulungagung.
  2. Bapak Dr. H. Dede Nurohman M.Ag selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung.
  3. Bapak Siswahyudianto ,MM selaku Kepala Laborartorium Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk bisa memuat karya esainya.
  4. Ibu Dyah Prafitasari S.E.,M.S.A Selaku Dosen Pembimbing Lapangan yang telah memberikan bimbingan, arahan kepada mahasiswa selama menjalani PPL termasuk juga bimbingan dalam pembuatan esai ini.
  5. Bapak Zainul Fuad, SE. Selaku Manajer BMT. Istiqomah Plosokandang.
  6. Ibu Lisa Murnisari, SE. Selaku Dosen Pamong yang telah memberikan arahan dan bimbingannya selama mahasiswa melaksanakan PPL.
  7. Orang tua dan keluarga yang selalu mendoakan dan mendukung.
  8. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penyusun mengucapkan banyak terimakasih.

 

 

 

 

 

IMG_6992Penulis Rahayu Ratnasari Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung sedang Magang/PPL di Kantor Kementerian Agama Kota Blitar

Istilah motivasi berasal dari bahasa latin, yakni movere yang berarti “menggerakkan”. Motivasi merupakan hasil sejumlah proses yang bersifat internal atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap entuatisme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Motivasi juga didefinisikan sebagai dorongan dari dalam diri individu berdasarkan mana dari berperilaku dengan cara tertentu untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya seseorang tersebut.

Seseorang yang termotivasi  yaitu orang yang melaksanakan upaya subtansial guna menunjang atau mencapai tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya dan organisasi di mana ia bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi hanya memberikann upaya minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi merupakan sebuah konsep penting dalam studi tentang kinerja individual. Dengan kata lain, motivasi merupakan sebuah determinan penting bagi kinerja individual maupun kelompok.

Saull Gellerman menunjukkan aspek motivasi yang sangat penting bahwa semua orang umumnya memiliki kebutuhan untuk diperlakukan sebagai individu yang berharga dan menjadi orang yang ia rasa mampu. Setiap orang termotivasi untuk dapat memenuhi kebutuhannya dan kunci keberhasilan pemimpin terletak pada kemampuan memotivasi anggota dalam suatu organisasi usaha memenuhi dan mendukung kebutuhan tersebut.

Imamah atau kepemimpinan Islam adalah konsep yang tercantum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, yang meliputi kehidupan manusia dari pribadi, berdua, keluarga bahkan sampai umat manusia atau kelompok. Konsep ini mencakup baik cara-cara memimpin maupun dipimpin demi terlaksananya ajaran Islam untuk menjamin kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat sebagai tujuannya.

IMG_6985Kepemimpinan Islam, sudah merupakan fitrah bagian setiap manusia yang sekaligus memotivasi kepemimpinan yang Islami. Manusia diamanahi Allah untuk menjadi khalifah Allah (wakil Allah) di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Khalifah bertugas merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Sekaligus sebagai abdullah (hamba Allah) yang senantiasa patuh dan terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah. Sabda Rasulullah: “Setiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap pemimpin dimintai pertanggungjawabannya”. Manusia yang diberi amanah dapat memelihara amanah tersebut dan Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan konsepsional, sehingga bisa memanfaatkan sebaik mungkin.

Prinsip-prinsip dalam motivasi yaitu sebagai berikut:

  1. Prinsip partisipasi

Dalam upaya memotivasi kerja, pegawai perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin.

  1. Prinsip komunikasi

Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas dengan infromasi yang jelas, sehingga pegawai akan lebih mudah termotivasi.

  1. Prinsip mengakui andil bawahan

Pemimpin mengakui bahwa bawahan mempunyai andil di dalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, maka pegawai akan lebih termotivasi dalam melaksanakan  pekerjaannya.

  1. Prinsip pendelegasian wewenang

Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada pegawai untuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang dilakukannya, akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi termotivasi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin.

  1. Prinsip memberi harapan

Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai akan memotivasi pegawai bekerja seperti apa yang diharapkan

Setiap kegiatan berlangsung karena didorong oleh kehendak, keinginan atau kemauan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Kebutuhan merupakan pendorong atau motif terjadinya kegiatan. Sedang kondisi yang menyebakan seseorang menyadari kebutuhannya dan mendorongnya melakukan suatu kegiatan disebut motivasi.

IMG_4085Demikian pula dalam kegiatan kepemimpinan, baik pemimpin maupun orang yang dipimpin masing-masing memiliki motivasi dalam berbuat sesuatu, yang mungkin berbeda atau sama. Apabila terdapat keserasian motivasi antara kedua belah pihak, berarti telah terbuka peluang bagi terwujudnya penyesuaian antara pemimpin dengan orang yang dipimpinnya.

Fungsi motivasi dalam kepemimpinan yaitu diantaranya:

  1. Motivasi merupakan motor penggerak atau sebagai energi yang menggerakkan. Sedang kepribadian merupakan pengatur arah dan penentu kualitas kegiatan yang dilakukan dalam upaya memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Apabila kebutuhan pemimpin dan orang yang dipimpin sama, maka timbullah motivasi yang sama sebagai energi yang menggerakan dengan kegiatan yang disebut bekerja.dan intensif atau tidak dan berkualitas atau tidak pekerjaan yang dilakukan, tergantung pada berbagai aspek dalam kepribadian masing-masing. Di antara aspek-aspek kepribadian itu adalah minat dan perhatian, pengetahuan dan ketrampilan mengenai pekerjaannya.
  2. Motivasi merupakan penentu tujuan dari kegiatan yang dilakukan. Sedang kepribadian menjadi pembatas atau pengatur keseimbangan anatar kebutuhan dan tujuan, yang berpengarh pada intensitas dan kualitas kegiatan yang motivasinya merupakan daya pendorong yang kuat. Aspek kepribadian berupa pengetahuan, ketrampilan, bakat dan perhatian akan dikerahkan dalam bekerja sebaik-baiknya, agar berprestasi secara maksimal. Akan tetapi perwujudannya tetap terbatas sesuai dengan besar kecilnnya potensi aspek-aspek kepribadian tersebut. Namun tujuan berprestasi tetap berperan sebagai motivasi, sehingga semua kegiatan lain yang menghalangi pencapaian tujuan, akan dikurangi atau dihinndari seluruhnya.
  3. Motivasi merupakan penyeleksi jenis kegiatan yang akan dilakukan. Sedang kepribadian dengan berbagai aspeknya akan menjadi penguat dalamm melakukan kegiatan yang terpilih berdasarkan motivasi tersebut. Motivasi yang diperkuat itu biasanya dipengaruhi oleh pertimbangan aspek kepribadian yang dimiliki, dengan asumsi kegiatan yang motivasinya diperkuat itu akan dapat dilaksanakan secara intensif dalam memenuhi kebutuhannya atau kebutuhan bersama. Aspek kepribadian itu mungkin karena kegiatan motivasinya diperkuat itu sesuai dengan minnat dan perhatian, bakat serta ketrampilan/keahlian orang-orang yang akan melaksanakannya dan sebagainya. Sebaliknya jika tanpa pertimbangan aspek-aspek kepribadian yang mendukungnya, motivasinya mungkin kuat, namun pelaksanaannya menjadi tida intensif dan pemenuhan kebutuhhan pun tidak berlangsungm maksimal. Dalam kepemimpinan persoalannya tidak sekedar menyentuh kepribadian, kebutuhan dan motivasi para pemimpin. Untuk menggerakkan atau mempengaruhi orang lain agar melakukan suatu kegiatan, maka kepemimpinan tidak dapat mengabaikan masalah motivasi, kepribadian dan kebutuhannya.

Sehubungan dengan itu pemimpin setidak-tidaknya perlu mengetahui dua jenis motivasi yang bersifat umum, dan dapat dimanfaatkan dalam menggerakkan dan mempengaruhi anggota kelompok atau organisasinya. Kedua jenis motivassi itu adalah:

  1. Motivasi Instrinsik

Motivasi ini adalah kondisi yang mendorong terjadinya suatu perbuatan/kegiatan yang berada di dalam kegiatan itu sendiri. Kondisi itu berbentuk kesadaran mengenai arti dan manfaaat suatu perbuatan atau kegiatan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan masyarakat luas. Beberapa bentuk motivasi ini adalah motivasi mengabdi, beramal dan berbuat kebaikan, berprestsi karena tanggung jawab dan lain sebagainya. Kepemimpinan yang efektif harus berusaha mengunggah dan mengembangkan motivasi tersebut secara maksimal, baik bagi dirinya sendiri maupun pada anggota kelompok atau organisasinya. Misalnya, pemimpin pada kantor Kemeterian Agama Krakkan anggoota Blitar dapat menggerakkan anggotanya melakukan kerja lembur, apabila semuanya didorong oleh motivasi bertanggung jawab dalam menyelesaikan beban kerjanya, secara baik dan tuntas.

  1. Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ini adalah kondisi yang mendorong suatu perbuatan atau perbuatan atau kegiatan yang berada di luar kegiatan itu sendiri. Kondisi itu merupakan factor luar yang sudah ada atau yang sengaja diadakan dalam kaitannya dengan kebutuhan dan kepribadian, yang mendasari keyakinan dan menimbulkan kemauan untuk melakukan kegiatan yang dipandang paling tepat dan efektif. Faktor luar yang menjadi motivassi ini anatar lain berbentuk pujian, paksaan (sanksi atau hukuman), situsi kerja yang menyenangkan

IMG_4083 Setiap karyawan dituntut untuk memberikan kontribusi positif melalui kinerja yang baik, mengingat kinerja organisasi tergantung pada kinerja karyawannya. Menurut Dessler, kinerja karyawan merupakan prestasi kerja, yakni perbandingan anatra hasil kerja yang dilihat secara nyata dengan standar kerja yang telah ditetapkan organisasi. Kemudian Robbins, mendefinisikan kinerja yaitu suatu hasil yang dicapai oleh karyawan dalam pekerjaannya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pkerjaan.

Berdasarkan pengertian-pengertian kinerja dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja baik itu secara kualitas maupun kuantitas yang telah dicapai karyawan, dalam menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan organisasi, hasil kerja tersebut disesuaikan dengan yang diharapkan organisasi, melalui kriteria atau standar yang berlaku dalam organisasi.

Berhasil tidaknya kinerja yang dicapai organisasi tersebut di pengaruhi kinerja karyawan secara individual maupun kelompok. Dengan asumsi semakin baik kinerja karyawan maka semakin baik kinerja organisasi

Adapun indikator dari kinerja karyawan yaitu:

  1. Kualitas

Tingkat di mana hasil aktifitas yang dilakukan mendekati sempurna, dalam arti menyesuaikan beberapa cara ideal daripenampilan aktifitas ataupun memenuhi tujuan yang diharapkan dari suatu aktifitas.

2. Kuantitas

Jumlah yang dihasilkan dalam istilah jumlah unit, jumlah siklus aktifitas yang diselesaikan.

  1. Ketepatan Waktu

Tingkat suatu aktifitas diselesaikan pada waktu awal yang diinginkan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktifitas lain.

  1. Efektifitas

Tingkat penggunaan sumber daya manusia organisasi dimaksimalkan dengan maksud menaikkan keuntunngan atau menguarangi kerugian setiap unit dalam penggunaa sumber daya.

  1. Kemandirian

Tingkat di mana seorang karyawan dapat melakukan fungsi kerjanya tanpa minta bantuan bimbingan dari pengawas atau meminta turut campurnya pengawas untuk menghindari hasil yang merugikan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja yaitu:

a)      Kemampuan, kepribadian dan minat kerja

b)      Kejelasan dan penerimaan atau penjelasan peran seorang pekerja yang merupakan taraf pengertian dan penerimaan seseorang atas tugas yang diberikan kepadanya.

c)      Tingkat motivasi pekerja yaitu daya energi yang mendorong mengerahkan dan mempertahankan perilaku.

 

Hubungan Motivasi dengan Kinerja Karyawan

Motivasi terbentuk dari sikap pegawai dlam menghadapi situasi kerja di perusahaan. Motivassi merupakan kondisi atau energy yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencaoai tuhuan perusahaan. Sikap mental pegawai yang positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk dapat mencapai kinerja semaksimal mungkin.

Di samping itu terdapat bebearapa aspek yang berpengaruh terhadap motivasi kerja karyawan, yaiti rasa aman dalam bekerja, mendapatkan gaji yang adil dan kompetetif, lingkungan kerja menyenangkan.

Motivasi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kinerja yang dihasilkan oleh karyawan Kantor Kementerian Agama di Kota Blitar, jadi memotivasi orang lain bukan sekedar mendorong atau memerintah seorang melakukan susuatu, melainkan sebuah seni yang melibatkan berbagai kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. Paling tidak kita mengetahui bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong oleh motivasinya. Sehingga mereka melaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.

dgf

Penulis Miftah Isnarini Mahasiswa Perbankan Syariah FEBI IAIN Tulungagungyang sedang Magang/PPL di BTM Surya Madinah Tulungagung.

Perbankan SyariahLembaga keuangan syariah memiliki tugas menghimpun dana dari masyarakat serta menyalurkannya dengan mekanisme syariah. Penghimpunan dana dilakukan melalui simpanan dan investasi seperti giro, wadiah, tabungan dan deposito berjangka. Sedangkan penyaluran dana dilakukan dengan beberapa macam akad seperti murabahah, istishna, mudharabah, musyarakah, ijarah, dan salam.

Salah satu akad yang sering dijumpai pada lembaga keuangan syariah adalah pembiayaan murabahah yang menggunakan prinsip jual beli. Murabahah menjadi produk utama lembaga keuangan syariah yang paling mendominasi dalam kegiatan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

Terdapat beberapa alasan murabahah lebih menarik dibandingkan jenis pembiayaan lainnya dalam kegiatan operasional lembaga keuangan syariah, yaitu :

  1. Murabahah merupakan investasi jangka pendek dan lebih mudah jika dibandingkan dengan mudharabah dan musyarakah.
  2. Besaran margin dalam murabahah bisa diatur sedemikian rupa sehingga dari segi profitabilitas juga mampu bersaing dengan lembaga keuangan konvensional.
  3. Keuntungan dalam pembiayaan murabahah sudah pasti sehingga risiko yang ditanggung lebih kecil dibanding pada pembiayaan profit and loss sharing.
  4. Lembaga keuangan syariah tidak perlu ikut terlibat dalam manajemen bisnis nasabahnya sehingga hubungannya hanya sebatas kreditur dan debitur.

Murabahah merupakan pembiayaan lembaga keuangan syariah melalui sistem jual beli barang dengan kesepakatan keuntungan dan jangka waktu tertentu. Murabahah dapat diartikan sebagai akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli. Dalam akad murabahah, pembayaran bisa dilakukan dengan dua cara yaitu pembayaran tunai dan pembayaran yang ditangguhkan. Bisa ditangguhkan dengan cara mencicil setelah menerima barang ataupun ditangguhkan dengan pembayaran sekaligus dikemudian hari.

Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Pembiayaan merupakan aktifitas bank syariah dalam menyalurkan dana kepada pihak lain selain bank berdasarkan prinsip syariah. Pembiayaan sangat bermanfaat bagi bank syariah, nasabah, dan pemerintah. Pembiayaan memberikan hasil yang sangat besar diantara penyaluran dana lainnya yang dilakukan oleh bank syariah ( Ismail : 2011)

Murabahah adalah salah satu konsep Islam dalam melakukan perjanjian jual beli. Konsep ini telah banyak digunakan oleh bank-bank dan lembaga-lembaga keuangan syariah untuk pembiayaan modal kerja dan pembiayaan perdagangan lainnya terhadap nasabah. Murabahah juga merupakan satu bentuk perjanjian jual beli yang harus tunduk pada kaidah dan hukum umum jual beli yang berlaku dalam muamalah islamiyah (Muhammad : 2000).

Menurut (Andrian Sutedi : 2009) syarat dan rukun Murabahah adalah sebagai berikut:

Rukun yang membentuk akad murabahah  ada empat:

  1. Adanya penjual (Ba’i)
  2. Adanya pembeli (Musytari)
  3. Objek atau barang yang diperjualbelikan (Mabi’)
  4. Harga nilai jual barang berdasarkan mata uang (Tsaman).

Sementara itu syarat murabahah adalah:

  1. Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah
  2. Kontrak pertama harus sesuai dengan rukun yang ditetapkan
  3. Kontrak harus bebas riba.

Pembiayaan murabahah menurut (Muhammad :2005), adalah Pembiayaan Murabahah (dari kata ribhu= keuntungan); Bank sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Barang diserahkan segera dan pembayaran dilakukan secara tangguh.

Pembiayaan murabahah menurut (Adiwarman Karim : 2006) adalah transaksi jual beli, yaitu pihak bank syari’ah bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli dengan harga jual dari bank adalah harga beli dari pemasok ditambah keuntungan dalam presentase tertentu bagi bank syari’ah sesuai kesepakatan.

Dapat disimpulkan bahwa pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan dengan sistem jual beli yang harga jualnya di tambah keuntungan dan pembayarannya dilakukan dengan tangguh.

PSAK 102 menjelaskan mengenai karakteristik transaksi murabahah yang berlaku di Indonesia. Menurut PSAK 102 paragraf 5 – 17 (IAI : 2009) transaksi murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa pesanan. Murabahah berdasarkan pesanan adalah di mana penjual melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari pihak pembeli. Murabahah berdasarkan pesanan ini dapat bersifat mengikat atau tidak mengikat pembeli untuk membeli barang yang telah dipesannya. Dalam murabahah pesanan mengikat, pembeli tentunya tidak dapat membatalkan pesanannya. Apabila aset murabahah yang telah dibeli penjual dalam pesanan mengikat mengalami penurunan nilai sebelum barang tersebut diserahkan kepada pembeli, maka penurunan nilai tersebut akan menjadi beban penjual dan akan mengurangi nilai akad murabahah. Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau tangguh. Pembayaran tangguh atau yang lebih dikenal sebagai pembayaran kredit adalah pembayaran yang dilakukan tidak pada saat barang diserahkan kepada pembeli, tetapi pembayarannya dilakukan dalam bentuk angsuran atau sekaligus pada waktu tertentu ( Nurul Qomariyah : 2014).

Dalam transaksi yang menggunakan akad murabahah terdapat keuntungan atau margin yang telah disepakati oleh pemilik dana dengan penerima dana. Pada jenis akad ini penerima dana telah menyepakati besaran margin sampai akhir periode dan akan dibayarkan setiap bulannya bersamaan dengan porsi pembayaran pokok pinjamannya. Pendapatan margin murabahah merupakan keuntungan yang diperoleh dari hasil kegiatan jual beli yang besarnya telah ditentukan pada awal akad sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Margin berbeda dengan bunga karena margin tidak mengikuti fluktuasi tingkat suku bunga, melainkan tarifnya sudah ditentukan sesuai dengan keputusan setiap lembaga keuangan.

Margin adalah kenaikan bersih dari aset bersih sebagai akibat dari memegang aset yang mengalami peningkatan nilai selama periode yang dipilih oleh penyertaan pendapatan. Keuntungan juga bisa diperoleh dari pemindahan saling tergantung insidental yang sah dan yang tidak saling tegantung dengan pemegang saham, atau pemegang-pemegang rekening investasi tak terbatas dan yang setara dengannya (Sri Dewi Anggadini : Vol. 9, No. 2)

Adiwarman Karim dalam bukunya Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan memberikan definisi terkait margin keuntungan yang diterapkan di bank syariah, yakni persentasi tertentu yang ditetapkan per tahun perhitungan margin keuntungan secara harian, maka jumlah hari dalam setahun ditetapkan 360 hari; perhitungan margin keuntungan secara bulanan, maka setahun ditetapkan 12 bulan.

Lebih lanjut, Adiwarman Karim menjelaskan bahwa margin bank syariah berdasarkan rekomendasi, usulan dan saran dari rapat Tim ALCO (Asset/Liability Management Committee) bank syariah dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Direct Competitot’s Market Rate (DCMR)
  2. Indirect Competitor’s Market Rate (ICMR)
  3. External Competitive Return For Investors (ECRI)
  4.  Acquiring Cost
  5. Overhead cost

Metode Penentuan Margin menurut (Muhammad : 2005) adalah sebagai berikut:

  1. Mark-up Pricing
  2. Target-Return Pricing
  3. Perceived-Value Pricing
  4. Value Pricing

Adapun penjelasan dari metode penentuan margin diatas sebagai berikut:

  1. Mark-up Pricing Mark-up pricing adalah penentuan tingkat harga dengan me-markup biaya produksi komoditas yang bersangkutan.
  2. Target-Return Pricing Target-Return Pricing adalah harga jual produk yang bertujuan mendapatkan tingkat return atas besarnya modal yang diinvestasikan. Dalam bahasan keuangan dikenal dengan return on investment (ROI). Dalam hal ini perusahaan akan menentukan berapa return yang akan diharapkan atas modal yang diinvestasikan.
  3. Received-Value Pricing Received-Value Pricing adalah penentuan harga dengan tidak menggunakan variabel harga sebagai harga jual. Harga jual didasarkan pada harga produk pesaing dimana perusahaan melakukan penambahan atau perbaikan unit untuk meningkatkan kepuasan pembeli.
  4. Value Pricing Value Pricing adalah kebijakan harga yang kompetitif atas barang yang berkualitas tinggi. Dengan ungkapan ono rego ono rupo, artinya: barang yang baik pasti harganya mahal.

Dengan penetapan margin keuntungan diawal yang dilakukan oleh pihak lembaga keuangan syariah, maka para calon nasabah yang akan mengajukan pembiayaan harus menyetujui besaran yang telah ditetapkan dan tidak terdapat negosiasi terkait besaran margin keuntungan tersebut. Kalaupun ada negosiasi antara kedua belah pihak yaitu nasabah dan pihak lembaga keuangan syariah itu hanya sebatas negosiasi perihal periode angsuran. Ketetapan margin yang ditentukan oleh pihak lembaga keuangan syariah memiliki kelebihan yaitu dengan penetapan keuntungan diawal akan mempermudah nasabah pembiayaan dalam membayar angsuran per bulannya. Angsuran yang akan dibayarkan oleh nasabah pembiayaan perbulannya adalah tetap.

Penetapan margin keuntungan di lembaga keuangan syariah bertujuan untuk antisipasi timbulnya wanprestasi atau kemacetan dari nasabah dan guna menghindari kerugian. Maka dari itu penetapan margin keuntungan ditetapkan diawal oleh pihak lembaga keuangan syariah.

Dalam bukunya Adiwarman Karim (2014), bahwa DSN MUI telah menerbitkan fatwa mengenai penetapan margin keuntungan dalam pembiayaan murabahah di bank syariah. Dalam fatwa DSN MUI Nomor 84 diketahui bahwa ada dua jenis metode perhitungan margin keuntungan pembiayaan murabahah yang dilakukan dengan mengangsur. Berikut bunyi fatwanya: “Pengakuan keuntungan al-tamwil bi al-murabahah (pembiayaan murabahah) dalam bisnis yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah, boleh dilakukan secara proposional dan secara anuitas selama sesuai dengan urf (kebiasaan) yang berlaku di kalangan lembaga keuangan syariah.”

Metode pengakuan keuntungan dalam akad murabahah tidak diatur dalam dalil khusus baik berupa ayat al-Quran maupun sunnah; karenanya metode pengakuan keuntungan murabahah termasuk maskut anha (tidak diatur dalam fiqih), sehingga dalilnya dikembalikan pada prinsip/pokok sebagai hukum aslah dalam muamalat, yaitu boleh (mubah) sepanjang ada dalil syari’i yang melarang, serta sejalan dengan maslahat dan urf (kebiasaan) yang sah (Adiwarman Kariem : 2014).

Hal tersebut berlaku pula untuk penetapan tingkat margin keuntungan, dalam artian bahwa penjual atau pihak lembaga keuangan syariah boleh menetapkan berapapun tingkat margin keuntungannya asalkan tidak bertentangan dengan yang biasa ditetapkan oleh pedagang lain atau lembaga keuangan syariah lain. Semua lembaga keuangan syariah boleh  menetapkan berapapun tingkat margin keuntungan dari hasil penjualan murabahah asalkan sesuai dengan yang biasa berlaku di kalangan lembaga keuangan syariah pada umumnya. Dengan kata lain, tidak ada batasan dalam mengambil keuntungan penjualan (murabahah).

Jadi, tidak ada ukuran khusus mengenai tingkat atau besaran margin keuntungan yang bisa dijadikan referensi bagi para penjual atau lembaga keuangan syariah. Selama tingkat margin keuntungan sesuai dengan urf (kebiasaan) dan tidak mendzalimi salah satu pihak atau tidak menimbulkan madharat (kerusakan) maka tingkat margin keuntungan tersebut masih dianggap sah menurut syariah.

 

 

Melalui karya esai ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku rektor IAIN Tulungagung.
  1. Bapak Dr. H. Dede Nurohman, M.Ag. selaku Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung.
  2. Bapak Siswahyudianto, MM selaku Kepala Laboratorium Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung.
  3. Bapak Nur Aziz Muslim, M.HI selaku Dosen Pembimbing Lapangan PPL IAIN Tulungagung.
  4. Bapak Nur Syamsu SE selaku Manager KSPPS BTM Surya Madinah Tulungagung
  5. Bapak Onang Guncahyo selaku Pembimbing (Dosen Pamong) di Lokasi PPL KSPPS BTM Surya Madinah.
  6. Bapak dan Ibu karyawan dan karyawati KSPPS BTM Surya Madinah Kantor Pusat Tulungagung dan Kantor Kas Gondang Tulungagung yang senantiasa membimbing dan memberikan wawasannya kepada kita.
  7. Seluruh pihak yang telah memberikan semangat dan partisipasinya selama kegiatan PPL.