PEMBIAYAAN MURABAHAH DAN PENETAPAN MARGIN KSPPS BTM SURYA MADINAH TULUNGAGUNG

dgf

Penulis Miftah Isnarini Mahasiswa Perbankan Syariah FEBI IAIN Tulungagungyang sedang Magang/PPL di BTM Surya Madinah Tulungagung.

Perbankan SyariahLembaga keuangan syariah memiliki tugas menghimpun dana dari masyarakat serta menyalurkannya dengan mekanisme syariah. Penghimpunan dana dilakukan melalui simpanan dan investasi seperti giro, wadiah, tabungan dan deposito berjangka. Sedangkan penyaluran dana dilakukan dengan beberapa macam akad seperti murabahah, istishna, mudharabah, musyarakah, ijarah, dan salam.

Salah satu akad yang sering dijumpai pada lembaga keuangan syariah adalah pembiayaan murabahah yang menggunakan prinsip jual beli. Murabahah menjadi produk utama lembaga keuangan syariah yang paling mendominasi dalam kegiatan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.

Terdapat beberapa alasan murabahah lebih menarik dibandingkan jenis pembiayaan lainnya dalam kegiatan operasional lembaga keuangan syariah, yaitu :

  1. Murabahah merupakan investasi jangka pendek dan lebih mudah jika dibandingkan dengan mudharabah dan musyarakah.
  2. Besaran margin dalam murabahah bisa diatur sedemikian rupa sehingga dari segi profitabilitas juga mampu bersaing dengan lembaga keuangan konvensional.
  3. Keuntungan dalam pembiayaan murabahah sudah pasti sehingga risiko yang ditanggung lebih kecil dibanding pada pembiayaan profit and loss sharing.
  4. Lembaga keuangan syariah tidak perlu ikut terlibat dalam manajemen bisnis nasabahnya sehingga hubungannya hanya sebatas kreditur dan debitur.

Murabahah merupakan pembiayaan lembaga keuangan syariah melalui sistem jual beli barang dengan kesepakatan keuntungan dan jangka waktu tertentu. Murabahah dapat diartikan sebagai akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli. Dalam akad murabahah, pembayaran bisa dilakukan dengan dua cara yaitu pembayaran tunai dan pembayaran yang ditangguhkan. Bisa ditangguhkan dengan cara mencicil setelah menerima barang ataupun ditangguhkan dengan pembayaran sekaligus dikemudian hari.

Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. Pembiayaan merupakan aktifitas bank syariah dalam menyalurkan dana kepada pihak lain selain bank berdasarkan prinsip syariah. Pembiayaan sangat bermanfaat bagi bank syariah, nasabah, dan pemerintah. Pembiayaan memberikan hasil yang sangat besar diantara penyaluran dana lainnya yang dilakukan oleh bank syariah ( Ismail : 2011)

Murabahah adalah salah satu konsep Islam dalam melakukan perjanjian jual beli. Konsep ini telah banyak digunakan oleh bank-bank dan lembaga-lembaga keuangan syariah untuk pembiayaan modal kerja dan pembiayaan perdagangan lainnya terhadap nasabah. Murabahah juga merupakan satu bentuk perjanjian jual beli yang harus tunduk pada kaidah dan hukum umum jual beli yang berlaku dalam muamalah islamiyah (Muhammad : 2000).

Menurut (Andrian Sutedi : 2009) syarat dan rukun Murabahah adalah sebagai berikut:

Rukun yang membentuk akad murabahah  ada empat:

  1. Adanya penjual (Ba’i)
  2. Adanya pembeli (Musytari)
  3. Objek atau barang yang diperjualbelikan (Mabi’)
  4. Harga nilai jual barang berdasarkan mata uang (Tsaman).

Sementara itu syarat murabahah adalah:

  1. Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah
  2. Kontrak pertama harus sesuai dengan rukun yang ditetapkan
  3. Kontrak harus bebas riba.

Pembiayaan murabahah menurut (Muhammad :2005), adalah Pembiayaan Murabahah (dari kata ribhu= keuntungan); Bank sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. Barang diserahkan segera dan pembayaran dilakukan secara tangguh.

Pembiayaan murabahah menurut (Adiwarman Karim : 2006) adalah transaksi jual beli, yaitu pihak bank syari’ah bertindak sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli dengan harga jual dari bank adalah harga beli dari pemasok ditambah keuntungan dalam presentase tertentu bagi bank syari’ah sesuai kesepakatan.

Dapat disimpulkan bahwa pembiayaan murabahah merupakan pembiayaan dengan sistem jual beli yang harga jualnya di tambah keuntungan dan pembayarannya dilakukan dengan tangguh.

PSAK 102 menjelaskan mengenai karakteristik transaksi murabahah yang berlaku di Indonesia. Menurut PSAK 102 paragraf 5 – 17 (IAI : 2009) transaksi murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa pesanan. Murabahah berdasarkan pesanan adalah di mana penjual melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari pihak pembeli. Murabahah berdasarkan pesanan ini dapat bersifat mengikat atau tidak mengikat pembeli untuk membeli barang yang telah dipesannya. Dalam murabahah pesanan mengikat, pembeli tentunya tidak dapat membatalkan pesanannya. Apabila aset murabahah yang telah dibeli penjual dalam pesanan mengikat mengalami penurunan nilai sebelum barang tersebut diserahkan kepada pembeli, maka penurunan nilai tersebut akan menjadi beban penjual dan akan mengurangi nilai akad murabahah. Pembayaran murabahah dapat dilakukan secara tunai atau tangguh. Pembayaran tangguh atau yang lebih dikenal sebagai pembayaran kredit adalah pembayaran yang dilakukan tidak pada saat barang diserahkan kepada pembeli, tetapi pembayarannya dilakukan dalam bentuk angsuran atau sekaligus pada waktu tertentu ( Nurul Qomariyah : 2014).

Dalam transaksi yang menggunakan akad murabahah terdapat keuntungan atau margin yang telah disepakati oleh pemilik dana dengan penerima dana. Pada jenis akad ini penerima dana telah menyepakati besaran margin sampai akhir periode dan akan dibayarkan setiap bulannya bersamaan dengan porsi pembayaran pokok pinjamannya. Pendapatan margin murabahah merupakan keuntungan yang diperoleh dari hasil kegiatan jual beli yang besarnya telah ditentukan pada awal akad sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati. Margin berbeda dengan bunga karena margin tidak mengikuti fluktuasi tingkat suku bunga, melainkan tarifnya sudah ditentukan sesuai dengan keputusan setiap lembaga keuangan.

Margin adalah kenaikan bersih dari aset bersih sebagai akibat dari memegang aset yang mengalami peningkatan nilai selama periode yang dipilih oleh penyertaan pendapatan. Keuntungan juga bisa diperoleh dari pemindahan saling tergantung insidental yang sah dan yang tidak saling tegantung dengan pemegang saham, atau pemegang-pemegang rekening investasi tak terbatas dan yang setara dengannya (Sri Dewi Anggadini : Vol. 9, No. 2)

Adiwarman Karim dalam bukunya Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan memberikan definisi terkait margin keuntungan yang diterapkan di bank syariah, yakni persentasi tertentu yang ditetapkan per tahun perhitungan margin keuntungan secara harian, maka jumlah hari dalam setahun ditetapkan 360 hari; perhitungan margin keuntungan secara bulanan, maka setahun ditetapkan 12 bulan.

Lebih lanjut, Adiwarman Karim menjelaskan bahwa margin bank syariah berdasarkan rekomendasi, usulan dan saran dari rapat Tim ALCO (Asset/Liability Management Committee) bank syariah dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Direct Competitot’s Market Rate (DCMR)
  2. Indirect Competitor’s Market Rate (ICMR)
  3. External Competitive Return For Investors (ECRI)
  4.  Acquiring Cost
  5. Overhead cost

Metode Penentuan Margin menurut (Muhammad : 2005) adalah sebagai berikut:

  1. Mark-up Pricing
  2. Target-Return Pricing
  3. Perceived-Value Pricing
  4. Value Pricing

Adapun penjelasan dari metode penentuan margin diatas sebagai berikut:

  1. Mark-up Pricing Mark-up pricing adalah penentuan tingkat harga dengan me-markup biaya produksi komoditas yang bersangkutan.
  2. Target-Return Pricing Target-Return Pricing adalah harga jual produk yang bertujuan mendapatkan tingkat return atas besarnya modal yang diinvestasikan. Dalam bahasan keuangan dikenal dengan return on investment (ROI). Dalam hal ini perusahaan akan menentukan berapa return yang akan diharapkan atas modal yang diinvestasikan.
  3. Received-Value Pricing Received-Value Pricing adalah penentuan harga dengan tidak menggunakan variabel harga sebagai harga jual. Harga jual didasarkan pada harga produk pesaing dimana perusahaan melakukan penambahan atau perbaikan unit untuk meningkatkan kepuasan pembeli.
  4. Value Pricing Value Pricing adalah kebijakan harga yang kompetitif atas barang yang berkualitas tinggi. Dengan ungkapan ono rego ono rupo, artinya: barang yang baik pasti harganya mahal.

Dengan penetapan margin keuntungan diawal yang dilakukan oleh pihak lembaga keuangan syariah, maka para calon nasabah yang akan mengajukan pembiayaan harus menyetujui besaran yang telah ditetapkan dan tidak terdapat negosiasi terkait besaran margin keuntungan tersebut. Kalaupun ada negosiasi antara kedua belah pihak yaitu nasabah dan pihak lembaga keuangan syariah itu hanya sebatas negosiasi perihal periode angsuran. Ketetapan margin yang ditentukan oleh pihak lembaga keuangan syariah memiliki kelebihan yaitu dengan penetapan keuntungan diawal akan mempermudah nasabah pembiayaan dalam membayar angsuran per bulannya. Angsuran yang akan dibayarkan oleh nasabah pembiayaan perbulannya adalah tetap.

Penetapan margin keuntungan di lembaga keuangan syariah bertujuan untuk antisipasi timbulnya wanprestasi atau kemacetan dari nasabah dan guna menghindari kerugian. Maka dari itu penetapan margin keuntungan ditetapkan diawal oleh pihak lembaga keuangan syariah.

Dalam bukunya Adiwarman Karim (2014), bahwa DSN MUI telah menerbitkan fatwa mengenai penetapan margin keuntungan dalam pembiayaan murabahah di bank syariah. Dalam fatwa DSN MUI Nomor 84 diketahui bahwa ada dua jenis metode perhitungan margin keuntungan pembiayaan murabahah yang dilakukan dengan mengangsur. Berikut bunyi fatwanya: “Pengakuan keuntungan al-tamwil bi al-murabahah (pembiayaan murabahah) dalam bisnis yang dilakukan oleh Lembaga Keuangan Syariah, boleh dilakukan secara proposional dan secara anuitas selama sesuai dengan urf (kebiasaan) yang berlaku di kalangan lembaga keuangan syariah.”

Metode pengakuan keuntungan dalam akad murabahah tidak diatur dalam dalil khusus baik berupa ayat al-Quran maupun sunnah; karenanya metode pengakuan keuntungan murabahah termasuk maskut anha (tidak diatur dalam fiqih), sehingga dalilnya dikembalikan pada prinsip/pokok sebagai hukum aslah dalam muamalat, yaitu boleh (mubah) sepanjang ada dalil syari’i yang melarang, serta sejalan dengan maslahat dan urf (kebiasaan) yang sah (Adiwarman Kariem : 2014).

Hal tersebut berlaku pula untuk penetapan tingkat margin keuntungan, dalam artian bahwa penjual atau pihak lembaga keuangan syariah boleh menetapkan berapapun tingkat margin keuntungannya asalkan tidak bertentangan dengan yang biasa ditetapkan oleh pedagang lain atau lembaga keuangan syariah lain. Semua lembaga keuangan syariah boleh  menetapkan berapapun tingkat margin keuntungan dari hasil penjualan murabahah asalkan sesuai dengan yang biasa berlaku di kalangan lembaga keuangan syariah pada umumnya. Dengan kata lain, tidak ada batasan dalam mengambil keuntungan penjualan (murabahah).

Jadi, tidak ada ukuran khusus mengenai tingkat atau besaran margin keuntungan yang bisa dijadikan referensi bagi para penjual atau lembaga keuangan syariah. Selama tingkat margin keuntungan sesuai dengan urf (kebiasaan) dan tidak mendzalimi salah satu pihak atau tidak menimbulkan madharat (kerusakan) maka tingkat margin keuntungan tersebut masih dianggap sah menurut syariah.

 

 

Melalui karya esai ini penulis mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku rektor IAIN Tulungagung.
  1. Bapak Dr. H. Dede Nurohman, M.Ag. selaku Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung.
  2. Bapak Siswahyudianto, MM selaku Kepala Laboratorium Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung.
  3. Bapak Nur Aziz Muslim, M.HI selaku Dosen Pembimbing Lapangan PPL IAIN Tulungagung.
  4. Bapak Nur Syamsu SE selaku Manager KSPPS BTM Surya Madinah Tulungagung
  5. Bapak Onang Guncahyo selaku Pembimbing (Dosen Pamong) di Lokasi PPL KSPPS BTM Surya Madinah.
  6. Bapak dan Ibu karyawan dan karyawati KSPPS BTM Surya Madinah Kantor Pusat Tulungagung dan Kantor Kas Gondang Tulungagung yang senantiasa membimbing dan memberikan wawasannya kepada kita.
  7. Seluruh pihak yang telah memberikan semangat dan partisipasinya selama kegiatan PPL.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>