Pengaruh Motivasi Pimpinan Terhadap Kinerja Karyawan Kantor Kementerian Agama Kota Blitar

IMG_6992Penulis Rahayu Ratnasari Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung sedang Magang/PPL di Kantor Kementerian Agama Kota Blitar

Istilah motivasi berasal dari bahasa latin, yakni movere yang berarti “menggerakkan”. Motivasi merupakan hasil sejumlah proses yang bersifat internal atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap entuatisme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu. Motivasi juga didefinisikan sebagai dorongan dari dalam diri individu berdasarkan mana dari berperilaku dengan cara tertentu untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya seseorang tersebut.

Seseorang yang termotivasi  yaitu orang yang melaksanakan upaya subtansial guna menunjang atau mencapai tujuan-tujuan produksi kesatuan kerjanya dan organisasi di mana ia bekerja. Seseorang yang tidak termotivasi hanya memberikann upaya minimum dalam hal bekerja. Konsep motivasi merupakan sebuah konsep penting dalam studi tentang kinerja individual. Dengan kata lain, motivasi merupakan sebuah determinan penting bagi kinerja individual maupun kelompok.

Saull Gellerman menunjukkan aspek motivasi yang sangat penting bahwa semua orang umumnya memiliki kebutuhan untuk diperlakukan sebagai individu yang berharga dan menjadi orang yang ia rasa mampu. Setiap orang termotivasi untuk dapat memenuhi kebutuhannya dan kunci keberhasilan pemimpin terletak pada kemampuan memotivasi anggota dalam suatu organisasi usaha memenuhi dan mendukung kebutuhan tersebut.

Imamah atau kepemimpinan Islam adalah konsep yang tercantum dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, yang meliputi kehidupan manusia dari pribadi, berdua, keluarga bahkan sampai umat manusia atau kelompok. Konsep ini mencakup baik cara-cara memimpin maupun dipimpin demi terlaksananya ajaran Islam untuk menjamin kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat sebagai tujuannya.

IMG_6985Kepemimpinan Islam, sudah merupakan fitrah bagian setiap manusia yang sekaligus memotivasi kepemimpinan yang Islami. Manusia diamanahi Allah untuk menjadi khalifah Allah (wakil Allah) di muka bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Khalifah bertugas merealisasikan misi sucinya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta. Sekaligus sebagai abdullah (hamba Allah) yang senantiasa patuh dan terpanggil untuk mengabdikan segenap dedikasinya di jalan Allah. Sabda Rasulullah: “Setiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap pemimpin dimintai pertanggungjawabannya”. Manusia yang diberi amanah dapat memelihara amanah tersebut dan Allah telah melengkapi manusia dengan kemampuan konsepsional, sehingga bisa memanfaatkan sebaik mungkin.

Prinsip-prinsip dalam motivasi yaitu sebagai berikut:

  1. Prinsip partisipasi

Dalam upaya memotivasi kerja, pegawai perlu diberikan kesempatan ikut berpartisipasi dalam menentukan tujuan yang akan dicapai oleh pemimpin.

  1. Prinsip komunikasi

Pemimpin mengkomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha pencapaian tugas dengan infromasi yang jelas, sehingga pegawai akan lebih mudah termotivasi.

  1. Prinsip mengakui andil bawahan

Pemimpin mengakui bahwa bawahan mempunyai andil di dalam usaha pencapaian tujuan. Dengan pengakuan tersebut, maka pegawai akan lebih termotivasi dalam melaksanakan  pekerjaannya.

  1. Prinsip pendelegasian wewenang

Pemimpin yang memberikan otoritas atau wewenang kepada pegawai untuk sewaktu-waktu dapat mengambil keputusan terhadap pekerjaan yang dilakukannya, akan membuat pegawai yang bersangkutan menjadi termotivasi termotivasi untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin.

  1. Prinsip memberi harapan

Pemimpin memberikan perhatian terhadap apa yang diinginkan pegawai akan memotivasi pegawai bekerja seperti apa yang diharapkan

Setiap kegiatan berlangsung karena didorong oleh kehendak, keinginan atau kemauan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Kebutuhan merupakan pendorong atau motif terjadinya kegiatan. Sedang kondisi yang menyebakan seseorang menyadari kebutuhannya dan mendorongnya melakukan suatu kegiatan disebut motivasi.

IMG_4085Demikian pula dalam kegiatan kepemimpinan, baik pemimpin maupun orang yang dipimpin masing-masing memiliki motivasi dalam berbuat sesuatu, yang mungkin berbeda atau sama. Apabila terdapat keserasian motivasi antara kedua belah pihak, berarti telah terbuka peluang bagi terwujudnya penyesuaian antara pemimpin dengan orang yang dipimpinnya.

Fungsi motivasi dalam kepemimpinan yaitu diantaranya:

  1. Motivasi merupakan motor penggerak atau sebagai energi yang menggerakkan. Sedang kepribadian merupakan pengatur arah dan penentu kualitas kegiatan yang dilakukan dalam upaya memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Apabila kebutuhan pemimpin dan orang yang dipimpin sama, maka timbullah motivasi yang sama sebagai energi yang menggerakan dengan kegiatan yang disebut bekerja.dan intensif atau tidak dan berkualitas atau tidak pekerjaan yang dilakukan, tergantung pada berbagai aspek dalam kepribadian masing-masing. Di antara aspek-aspek kepribadian itu adalah minat dan perhatian, pengetahuan dan ketrampilan mengenai pekerjaannya.
  2. Motivasi merupakan penentu tujuan dari kegiatan yang dilakukan. Sedang kepribadian menjadi pembatas atau pengatur keseimbangan anatar kebutuhan dan tujuan, yang berpengarh pada intensitas dan kualitas kegiatan yang motivasinya merupakan daya pendorong yang kuat. Aspek kepribadian berupa pengetahuan, ketrampilan, bakat dan perhatian akan dikerahkan dalam bekerja sebaik-baiknya, agar berprestasi secara maksimal. Akan tetapi perwujudannya tetap terbatas sesuai dengan besar kecilnnya potensi aspek-aspek kepribadian tersebut. Namun tujuan berprestasi tetap berperan sebagai motivasi, sehingga semua kegiatan lain yang menghalangi pencapaian tujuan, akan dikurangi atau dihinndari seluruhnya.
  3. Motivasi merupakan penyeleksi jenis kegiatan yang akan dilakukan. Sedang kepribadian dengan berbagai aspeknya akan menjadi penguat dalamm melakukan kegiatan yang terpilih berdasarkan motivasi tersebut. Motivasi yang diperkuat itu biasanya dipengaruhi oleh pertimbangan aspek kepribadian yang dimiliki, dengan asumsi kegiatan yang motivasinya diperkuat itu akan dapat dilaksanakan secara intensif dalam memenuhi kebutuhannya atau kebutuhan bersama. Aspek kepribadian itu mungkin karena kegiatan motivasinya diperkuat itu sesuai dengan minnat dan perhatian, bakat serta ketrampilan/keahlian orang-orang yang akan melaksanakannya dan sebagainya. Sebaliknya jika tanpa pertimbangan aspek-aspek kepribadian yang mendukungnya, motivasinya mungkin kuat, namun pelaksanaannya menjadi tida intensif dan pemenuhan kebutuhhan pun tidak berlangsungm maksimal. Dalam kepemimpinan persoalannya tidak sekedar menyentuh kepribadian, kebutuhan dan motivasi para pemimpin. Untuk menggerakkan atau mempengaruhi orang lain agar melakukan suatu kegiatan, maka kepemimpinan tidak dapat mengabaikan masalah motivasi, kepribadian dan kebutuhannya.

Sehubungan dengan itu pemimpin setidak-tidaknya perlu mengetahui dua jenis motivasi yang bersifat umum, dan dapat dimanfaatkan dalam menggerakkan dan mempengaruhi anggota kelompok atau organisasinya. Kedua jenis motivassi itu adalah:

  1. Motivasi Instrinsik

Motivasi ini adalah kondisi yang mendorong terjadinya suatu perbuatan/kegiatan yang berada di dalam kegiatan itu sendiri. Kondisi itu berbentuk kesadaran mengenai arti dan manfaaat suatu perbuatan atau kegiatan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan masyarakat luas. Beberapa bentuk motivasi ini adalah motivasi mengabdi, beramal dan berbuat kebaikan, berprestsi karena tanggung jawab dan lain sebagainya. Kepemimpinan yang efektif harus berusaha mengunggah dan mengembangkan motivasi tersebut secara maksimal, baik bagi dirinya sendiri maupun pada anggota kelompok atau organisasinya. Misalnya, pemimpin pada kantor Kemeterian Agama Krakkan anggoota Blitar dapat menggerakkan anggotanya melakukan kerja lembur, apabila semuanya didorong oleh motivasi bertanggung jawab dalam menyelesaikan beban kerjanya, secara baik dan tuntas.

  1. Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ini adalah kondisi yang mendorong suatu perbuatan atau perbuatan atau kegiatan yang berada di luar kegiatan itu sendiri. Kondisi itu merupakan factor luar yang sudah ada atau yang sengaja diadakan dalam kaitannya dengan kebutuhan dan kepribadian, yang mendasari keyakinan dan menimbulkan kemauan untuk melakukan kegiatan yang dipandang paling tepat dan efektif. Faktor luar yang menjadi motivassi ini anatar lain berbentuk pujian, paksaan (sanksi atau hukuman), situsi kerja yang menyenangkan

IMG_4083 Setiap karyawan dituntut untuk memberikan kontribusi positif melalui kinerja yang baik, mengingat kinerja organisasi tergantung pada kinerja karyawannya. Menurut Dessler, kinerja karyawan merupakan prestasi kerja, yakni perbandingan anatra hasil kerja yang dilihat secara nyata dengan standar kerja yang telah ditetapkan organisasi. Kemudian Robbins, mendefinisikan kinerja yaitu suatu hasil yang dicapai oleh karyawan dalam pekerjaannya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pkerjaan.

Berdasarkan pengertian-pengertian kinerja dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan hasil kerja baik itu secara kualitas maupun kuantitas yang telah dicapai karyawan, dalam menjalankan tugas-tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan organisasi, hasil kerja tersebut disesuaikan dengan yang diharapkan organisasi, melalui kriteria atau standar yang berlaku dalam organisasi.

Berhasil tidaknya kinerja yang dicapai organisasi tersebut di pengaruhi kinerja karyawan secara individual maupun kelompok. Dengan asumsi semakin baik kinerja karyawan maka semakin baik kinerja organisasi

Adapun indikator dari kinerja karyawan yaitu:

  1. Kualitas

Tingkat di mana hasil aktifitas yang dilakukan mendekati sempurna, dalam arti menyesuaikan beberapa cara ideal daripenampilan aktifitas ataupun memenuhi tujuan yang diharapkan dari suatu aktifitas.

2. Kuantitas

Jumlah yang dihasilkan dalam istilah jumlah unit, jumlah siklus aktifitas yang diselesaikan.

  1. Ketepatan Waktu

Tingkat suatu aktifitas diselesaikan pada waktu awal yang diinginkan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktifitas lain.

  1. Efektifitas

Tingkat penggunaan sumber daya manusia organisasi dimaksimalkan dengan maksud menaikkan keuntunngan atau menguarangi kerugian setiap unit dalam penggunaa sumber daya.

  1. Kemandirian

Tingkat di mana seorang karyawan dapat melakukan fungsi kerjanya tanpa minta bantuan bimbingan dari pengawas atau meminta turut campurnya pengawas untuk menghindari hasil yang merugikan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja yaitu:

a)      Kemampuan, kepribadian dan minat kerja

b)      Kejelasan dan penerimaan atau penjelasan peran seorang pekerja yang merupakan taraf pengertian dan penerimaan seseorang atas tugas yang diberikan kepadanya.

c)      Tingkat motivasi pekerja yaitu daya energi yang mendorong mengerahkan dan mempertahankan perilaku.

 

Hubungan Motivasi dengan Kinerja Karyawan

Motivasi terbentuk dari sikap pegawai dlam menghadapi situasi kerja di perusahaan. Motivassi merupakan kondisi atau energy yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencaoai tuhuan perusahaan. Sikap mental pegawai yang positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk dapat mencapai kinerja semaksimal mungkin.

Di samping itu terdapat bebearapa aspek yang berpengaruh terhadap motivasi kerja karyawan, yaiti rasa aman dalam bekerja, mendapatkan gaji yang adil dan kompetetif, lingkungan kerja menyenangkan.

Motivasi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kinerja yang dihasilkan oleh karyawan Kantor Kementerian Agama di Kota Blitar, jadi memotivasi orang lain bukan sekedar mendorong atau memerintah seorang melakukan susuatu, melainkan sebuah seni yang melibatkan berbagai kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri sendiri dan orang lain. Paling tidak kita mengetahui bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong oleh motivasinya. Sehingga mereka melaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>