Collateral Untuk Menanggulangi Pembiayaan Bermasalah Pada BMT Tulungagung

Collateral Untuk Menanggulangi Pembiayaan Bermasalah Pada BMT Tulungagung

Penulis  Isfan Riskiantono Mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas Praktik Pengalaman Lapangan/ Magang Program Studi Perbankan Syariah IAIN Tulungagung

Baitul Mal Wa Tamwil merupakan suatu lembaga yang dibentuk atas prakarsa dan swadaya masyarakat dengan segala kelebihan dan kelemahannya terbukti sangat efektif untuk menolong pengusaha kecil dalam mengakes sumber dana pembiayaan. Dalam hal pembiayaan macet pihak bank perlu melakukan penyelamatan, sehingga tidak akan menyebabkan kerugian.

Dalam UU Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan disebutkan bahwa kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.

Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan-pembiayaan yang tidak lancar,pembiayaan dimana anggotanya tidak memenuhi persyaratan atau tidak menepati jadwal angsuran, pembiayaan yang memiliki potensi merugikan BMT dan memiliki potensi menunggak dalam satu waktu tertentu. Akibat terjadinya pembiayaan bermasalah, pihak BMT akan melakukan penyelesaian permasalahan tersebut. Secara garis besar upaya penyelesaian pembiayaan bermasalah dikelompokkan menjadi 2 (dua) tahapan yaitu upaya penyelamatan dan upaya penyelesaian. Upaya penyelamatan dilakukan BMT dengan melihat masih adanya kemungkinan memperbaiki kondisi usaha dan keuangan anggota.

Keberadaan BMT dapat dipandang memilliki dua fungsi utama,yaitu sebagai media penyalur pendayagunaan harta ibadah seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf,serta dapat pula berfungsi sebagai institusi yang bergerak dibidang investasi yang bersifat produktif sebagaimana layaknya bank. Pada fungsi yang kedua ini dapat dipahami bahwa selain berfungsi sebagai lembaga keuangan BMT juga berfungsi sebagai lembaga ekonomidan bertugas menghimpun dana dari masyarakat (anggota BMT) yang mempercayakan dananya disimpan di BMT dan menyalurkanya dana kepada masyarakat (anggota BMT) yang diberikan pinjamaman oleh BMT.

Baitul mal wat tamwil adalah yang isinya berintikan bayt al-mal wa al-tamwil dengan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan ekonomi pengusaha kecil antara lain dengan mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya. Selain itu BMT juga menerima titipan zakat, infak, dan sedekah serta menyalurkanya sesuai dengan peraturan dan amanatnya.

Kegiatan BMT adalah mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha makro dan kecil, antara lain mendorong kegiatan menabung dan pembiayaan kegiatan ekonominya.Sedangkan kegiatan bait al-mal menerima titipan dari dana zakat,infaq, dan shodaqah dan menjalankannya sesuai dengan peraturan dan amanah yang dititipkan. Berdasarkan dua pengertiaan diatas BMT dapat disimpulkan sebagai lembaga keuangan mikro yang didirikan untuk membiayai dan membantu perkembangan usaha mikro berdasarkan prinsip syariah.

Pembiayaan bermasalah adalah pembiayaan / kredit yang :

  1. Memiliki kesulitan di dalam penyelesaian kewajiban baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya dan atau pembayaran keuntungan.
  2. Di dalam pelaksanaannya belum mencapai atau memenuhi target yang diinginkan pihak BMT.
  3. Memiliki kemungkinan timbulnya resiko dikemudian hari bagi BMT dalam arti luas.

 

Pembiayaan yang memiliki potensi menunggak dalam satu waktu tertentu pun ada tunggakan angsuran pokok tetapi tidak melampaui satu bulan tetapi belum melampaui dua bulan. Ada juga pembiayaan macet maksudnya belum ada pelunasan dan penyelesaiannya diserahkan kepada pihak lain. Gejala-gejala pembiayaan bermasalah antara lain:

  • Sering meminta penundaan pembayaran
  • Mengajukan penambahan pembiayaan
  • Pembayaran angsuran tersendat-sendat
  • Terjadi penyimpangan penggunaan pembiayaan
  • Mengajukan perpanjangan pembiayaan

Landasan Hukum Indonesia

Dalam memberikan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah BMT wajib mempunyai kayakinan analisa yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan dari anggota untuk melunasi atau mengembalikan utangnya atau mengembalikan pembiayaan yang sesuai dengan yang diperjanjikan (Pasal 8 UU no. 10 Tahun 1998).

  1. Tindakan Preverentif

Tindakan yang bersifat pencegahan. Tindakan ini bersifat intern. Untuk itu keberhasilan dari tindakan ini sangat tergantung dari kualitas SDM, system dan prosedur, mekanisme monitoring dan evaluasi. Secara garis besar tindakan preverentif dapat dilakukan melalui :

  1. Analisa Pembiayaan
  2. Mekanisme Monitoring dan Evaluasi yang meliputi :
  • On Site Monitoring

Kegiatan pengawasan pembiayaan yang bersifat langsung atau kunjungan langsung kepada anggota.

  • Auditing

Kegiatan pengawasan pembiayaan yang bersifat langsung atau kunjungan langsung kepada anggota.

  • On Desk Monitoring

Kegiatan pengawasan pembiayaan yang dilakukan secara administrative, yakni melalui instrument administrasi, seperti : laporan, catatan-catatan, dokumen dan informasi pihak ketiga.

Secara umum terdapat 3 faktor penyebab terjadinya pembiayaan bermasalah :

  1. Faktor ekstern
  • Anggota kurang mampu mengelola usahanya.
  • Kondisi ekonomi yang tidak kondusif yang menyebabkan turunnya pendapatan usaha sehingga mempengaruhi kemampuan anggota untuk membayar kewajibannya kepada Koperasi Syariah.
  • Anggota beritikad tidak baik.
  • Anggota menyalah gunakan kredit yang diperolehnya.
  1. Faktor intern
  • Lemahnya pengawasan dan monitoring.
  • Pembiayaan yang diberikan secara terkonsentrasi baik jumlah maupun penerimaannya.
  • Analisa pembiayaan / kredit dan jaminan tidak sempurna.
  • Lemahnya SDM.
  • Pengikatan perjanjian pembiayaan / kredit dan jaminan tidak sempurna.
  1. Keadaan yang bersifat Force Majeour.

Faktor ini disebabkan karena suatu peristiwa atau kondisi yang diluar kemampuan Koperasi Syariah dan anggota untuk mengontrol dan menanggulanginya. Penyebabnya antara lain : bencana alam, pemogokan, kebakaran, dan perang huru-hara.

Melalui karya esai ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :

  1. Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku rektor IAIN Tulungagung.
  2. Bapak Dr. H. Dede Nurohman M.Ag selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung.
  3. Bapak Siswahyudianto ,MM selaku Kepala Laborartorium Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk bisa memuat karya esainya.
  4. Ibu Dyah Prafitasari S.E.,M.S.A Selaku Dosen Pembimbing Lapangan yang telah memberikan bimbingan, arahan kepada mahasiswa selama menjalani PPL termasuk juga bimbingan dalam pembuatan esai ini.
  5. Bapak Zainul Fuad, SE. Selaku Manajer BMT. Istiqomah Plosokandang.
  6. Ibu Lisa Murnisari, SE. Selaku Dosen Pamong yang telah memberikan arahan dan bimbingannya selama mahasiswa melaksanakan PPL.
  7. Orang tua dan keluarga yang selalu mendoakan dan mendukung.
  8. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penyusun mengucapkan banyak terimakasih.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>