Optimalisasi Kinerja Petugas Survey Pada Sesi Distribusi di Badan Pusat Statistik Kabupaten Blitar

Vina Alfiatul Munawaroh mahasiswa Jurusan Ekonomi Syariah FEBI IAIN Tulungagung yang sedang menyelesaikan tugas Magang/PPL di Badan Pusat Statistik Kabupaten Blitar

Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sebelumnya, BPS merupakan Biro Pusat Statistik, yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 1960 tentang Sensus dan UU Nomer 7 Tahun 1960 tentang Statistik. Sebagai pengganti kedua UU tersebut ditetapkan UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik. Berdasarkan UU ini yang ditindaklanjuti dengan peraturan perundangan dibawahnya, secara formal nama Biro Pusat Statistik diganti menjadi Badan Pusat Statistik. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2007 tentang Badan Pusat Statistik dan Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pusat Statistik. Susunan organisasi BPS terdiri dari:

  • Kepala;
  • Sekretariat Utama;
  • Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik;
  • Deputi Bidang Statistik Sosial;
  • Deputi Bidang Statistik Produksi;
  • Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa;
  • Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik;
  • Inspektorat Utama;
  • Pusat Pendidikan dan Pelatihan;
  • Instansi Vertikal

Ketika saya praktek pengalaman lapangan di badan pusat statistic saya berada di bagian pengolahan data statistic yang mana data tersebut berasal dari bidang distribusi. Pada bagian distribusi adapun data yang diolah yaitu tentang indeks harga petani dan juga konsumsi pengeluaran rumah tangga. Dalam menginput data secara online ada beberapa kendala yang kami hadapi.

Untuk mengoptimalkan kinerja, dalam hal kegiatan survey untuk memperoleh data  maka BPS menggunakan mitra petugas lapangan atau petugas survey ang disebut sebagai mitra statistic yang akan membantu melakukan tugas-tugas pendataan. Mitra statistic yang direkrut dari masyarakat dengan kualifikasi tertentu dan dikontrak dalam jangka waktu tertentu untuk satu jenis kegiatan. Mitra statistic memiliki peran yang sangat penting dalam rangka mencapai visi BPS “Penyedia Data Berkualitas Untuk Semua”, dan untuk mewujudkan visi tersebut, diperlukan kinerja yang baik dari setiap instansi BPS termasuk mitra statistic.  Tentui saja dengan kualitas petugas terbaik juga belum tentu menjamin data yang akan dihasilkan akan bagus juga. Ada factor lain yang perlu diperhatikan juga, yaitu kurangnya kesadaran masyarakat pemberi data untuk jujur dan menjawab setiap pertanyaan dengan apa adanya. Saat ini doktrin yanag ada di benak masyarakat kita adalah “setiap ada pendataan pasti ada bantuan yang bakal mereka terima” sehingga mereka akan menjawab cenderung mengarah agar mereka di anggap tidak berkecukupan. Di era modern seperti ini masyarakat kita masih banyak yang berfikiran dangkal dan tidak faham akan pentingnya data yang nantinya akan dijadikan tolak ukur pemerintah dalam mengevaluasi dan merencanakan program-program pemerintah dalam usaha mensejahterakan masyarakat.

Kinerja karyawan mempengaruhi keberlangsungan instansi tersebut dalam mencapai tujuannya. Kinerja karyawan yang baik dapat memberikan keuntungan bagi instansi, sedangkan kinerja yang buruk dapat menghasilkan kerugian bagi perusahaan. Kinerja yang buruk dapat disebabkan oleh penurunan kinerja karyawan, dan hal ini dapat terlihat ketika karyawan tidak menyelesaikan pekerjaan dengan target dan waktu yang ditentukan oleh perusahaan. Kinerja mitra statistic dapat diukur melalui pencapaian terhadap target pekerjaan. Dalam menjalankan tugas pencapaian kerja dilihat dari sisi kecepatan kerja sesuai dengan tenggat waktu dan metode kerja yang telah ditetapkan. Selain itu kinerja juga dapat dilihat dari kemampuan menyelesaiakan pekerjaan sesuai standar operasional. Mitra juga harus disiplin dalam menjalankan standar operasional yang telah ditentukan dan menghasilkan pekerjaan dengan kesalahan minimum.

Ukuran kinerja juga dapat dilihat dari perilaku mitra statistic tersebut. Dalam hal ini mitra diharuskan teliti dan bertanggungjawab terhadap hasil pekerjaannya. Lebih dari itu mitra juga harus memiliki pemikiran positif serta selalu menjalin hubungan kerja baik itu dengan rekan kerja maupun dengan pengawas. Untuk mendapatkan mitra statistic dengan kinerja yang baik, BPS menempuh cara misalnya melalui pelatihan, pengawasan dan pemberian kompensasi yang layak.

Dalam bidang sosial kependudukan, data yang dihasilkan BPS dikumpulkan antara lain melalui Sensus Penduduk (SP), Survei Penduduk Antar Sensus (Supas), Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Susenas merupakan survei yang dirancang untuk mengumpulkan data sosial kependudukan yang relatif sangat luas. Data yang dikumpulkan antara lain menyangkut bidang-bidang pendidikan, kesehatan/gizi, perumahan, sosial ekonomi lainnya, kegiatan sosial budaya, konsumsi/pengeluaran dan pendapatan rumah tangga, perjalanan, dan pendapat masyarakat mengenai kesejahteraan rumah tangganya. Pada tahun 1992, sistim pengumpulan data Susenas diperbaharui, yaitu informasi yang digunakan untuk menyusun indikator kesejahteraan rakyat (Kesra) yang terdapat dalam modul (keterangan yang dikumpulkan tiga tahun sekali) ditarik ke dalam kor (kelompok keterangan yang dikumpulkan tiap tahun). Sejak itu, setiap tahun dalam Susenas tersedia perangkat data yang dapat digunakan untuk memantau taraf kesejahteraan masyarakat, merumuskan program pemerintah yang khusus ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sektor-sektor tertentu dalam masyarakat, dan menganalisis dampak berbagai program peningkatan kesejahteraan penduduk.

Sensus merupakan kegiatan pendataan yang dilakukan secara menyeluruh terhadap seluruh populasi, sedangkan survey adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pendataan sample dari sesuatu populasi untuk memperkirakan karakteristik (ciri ) suatu objek pada saat tertentu. Dengan melihat cakupan populasi yang harus didata, jelas bahwa sensus akan menyajikan hasil sampai wilayah administrasi terkecil. Jika survey dapat diakukan secara berkala dalam waktu berdekatan, misal SUSENAS dan SAKERNAS dilakukan setiap tahun, sedangkan sensus umumnya dilakukan setiap 10 tahun sekali. Dengan survei dapat dilakukan penghematan atas biaya, tenaga, dan waktu, karena hanya pengumpulan data dari sebagian populasi, pertanyaan yang diajukan kepada responden dapat memuat jenis atau item yang amat rinci dan khusus. Meskipun sebuah sampel terdiri dari sebagian populasi, tetapi perlu diperhatikan bahwa sebagian populasi tidak selalu dapat disebut sebuah sampel. Agar dapat dianalisis secara statistik, sampel harus mewakili populasi, harus mempunyai tingkat kebenaran (reliability) yang dapat diukur, harus sesuai dengan keadaan, dan harus efisien.

Petugas (pencacah) yang digunakan dalam SAKERNAS, umumnya adalah pegawai Badan Pusat Statistik yang ada di kecamatan (Mantri Statistik) dan BPS Kabupaten/Kota setempat. Sebagian besar dari mereka umumnya telah mempunyai pengalaman dalam berbagai survei maupun sensus serta lebih menguasai medan/lapangan. Sedangkan dalam kegiatan Sensus Penduduk maupun SUSENAS sebagian besar pencacah adalah bukan pegawai Badan Pusat Statistik, tetapi tenaga bantuan dari luar BPS yang disebut Mitra Statistik, seperti guru SD, pegawai Pemerintah Daerah dan ada pula dari Karang Taruna tamatan SMTA yang tinggal di daerah penelitian.

Untuk meningkatkan efektifitas pelaksanaan lapangan serta mengurangi kesalahan yang mungkin terjadi, maka harus dilakukan pengawasan lapangan. Tugas pokok dalam pengawasan lapangan ini meliputi pengawasan pelaksanaan pencacahan dan pemeriksaan hasil-hasilnya. Secara umum rangkaian tugas pengawas/pemeriksa adalah sebagai berikut:

1. Mengikuti pelatihan yang telah ditentukan.

2. Membuat jadwal pengawasan lapangan untuk setiap pencacah.

3. Mendampingi setiap pencacah paling sedikit satu hari selama periode pencacahan. Pengawasan dimulai dari pencacah yang dinilai paling lemah dan dilakukan sedini mungkin, sehingga kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dapat dikurangi/dihindari.

4. Membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ditemui pencacah: jika menemukan masalah yang meragukan tentang konsep dan definisi, pengawas harus mengacu pada buku pedoman pencacah atau catatan yang diberikan selama pelatihan.

5. Mendistribusikan dokumen yang diperlukan sesuai dengan jenis maupun jumlahnya kepada pencacah dan mengumpulkan kembali daftar isian yang telah diisi pencacah.

6. Bersama pencacah mengenali dan mengelilingi daerah tugas pencacah dalam blok sensus/sub blok sensus terpilih sehingga pencacah dapat melakukan pencacahan di daerah tugasnya pada batas-batas blok sensus/sub blok sensus yang benar.

7. Melakukan pemilihan sampel rumah tangga dari Daftar VSEN2005.L sebanyak 16 rt dan memindahkan rt terpilih ke dalam Daftar VSEN2005.DSRT.

8. Memberikan Daftar VSEN2005.DSRT yang telah diisi kepada pencacah sehingga pencacah dapat segera melaksanakan tugasnya.

9. Memeriksa ketertiban dan kebenaran pengisian daftar-daftar yang digunakan, terutama konsistensi atau kelengkapannya. Bila isian tidak lengkap, tidak konsisten atau tidak wajar tanyakan kembali kepada pencacah.

10. Membuat rekapitulasi blok sensus hasil pendaftaran bangunan dan rumah tangga dengan menggunakan Daftar VSEN2005.RBL.

11. Menyerahkan daftar yang telah diisi dan diperiksa kepada BPS kabupaten/kota.

12. Melaksanakan seluruh tugas sesuai jadwal yang telah ditentukan.

Di dalam wawancara diperlukan kesediaan responden untuk memberikan keterangan. Kesediaan responden tersebut dapat dikondisikan dan biasanya sangat bergantung kepada sikap pewawancara pertama kali bertemu. Sikap duduk, kecerahan wajah, tutur kata, keramahan, kesabaran, dan keseluruhan penampilan pewawancara sangat mempengaruhi kelanjutan/kelancaran wawancara. Penampilan yang sopan dan ramah dengan sendirinya akan dapat mengurangi bahkan menghilangkan perasaan dan sikap penerimaan responden yang negatif, yang dapat merugikan pencacahan, seperti: rasa curiga, rasa takut, rasa enggan, atau malu. Beberapa hal penting yang harus dilakukan untuk menciptakan hubungan baik dengan responden, antara lain:

a. Dalam membuat janji wawancara dengan calon responden, sebaiknya memperhatikan waktu senggang dari responden tersebut, dan berusaha jangan sampai mengganggunya dalam kesibukan sehari-hari.

b. Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh responden.

c. Sebelum memulai wawancara jangan lupa memperkenalkan diri, menunjukkan kartu pengenal jika perlu, serta menyebutkan lembaga atau badan yang menugaskannya

d. Dalam “obrolan” awal yang merupakan “intro” untuk membangun suasana yang kondusif ini jangan keluar dari konteks isi kuesioner.

e. Berilah perhatian terhadap hal-hal yang sedang dibicarakan oleh responden selama berlangsungnya wawancara.

f. Bila pewawancara kurang memahami jawaban responden, maka dapat meminta responden tersebut untuk mengulangi jawaban dari pertanyaan yang diajukan.

g. Menjalankan tugasnya dengan penuh kepercayaan. Namun tidak dengan rasa percaya diri yang berlebihan, sehingga dirinya merasa lebih tinggi.

h. Di dalam mengajukan pertanyaan yang bersifat sensitif, misalnya menanyakan nilai pembelian dan penjualan, usahakan agar pertanyaannya tidak menyinggung perasaan responden

i. Gunakanlah waktu untuk wawancara dengan efektif, artinya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dapat diperoleh data yang sebanyak-banyaknya dan sejelasjelasnya.

j. Ucapkanlah terima kasih, bila wawancara tersebut telah selesai.

Standar kinerja tersebut ditetapkan berdasarkan kriteria pekerjaan yaitu menjelaskan apa-apa saja yang sudah diberikan organisasi untuk dikerjakan oleh karyawan atau pegawainya, oleh karena itu kinerja individual dalam pekerjaan haruslah diukur, dibandingkan dengan standar yang ada dan hasilnya harus dikomunikasikan kepada seluruh karyawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>