Peran Dinas Perikanan Tulungagung Terhadap Peningkatan Perekonomian Petani Ikan pada Kelompok Budidaya Ikan di Tulungagung

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar dan sebagian besar wilayahnya merupakan perairan. Dengan kondisi tersebut, Indonesia memiliki potensi keanekaragaman hayati dan potensi ikan yang besar. Tidak terkecuali di kabupaten Tulungagung. Kabupaten Tulungagung memiliki potensi perikanan perairan laut, perairan payau dan perairan tawar. Usaha tangkap laut berada di perairan pantai selatan Pulau Jawa yaitu Samudra Indonesia dengan potensi panjang pantai 61,470 km, Total Potensi sebesar 25.000 ton per tahun, Potensi Tangkap Lestari (MSY) sebesar 12.500 ton/tahun dan Total Allowed Catch (TAC) sebesar 10.000 ton/tahun. Melihat tingkat pemanfaatan sampai saat ini hanya sekitar 15 % - 26 %. RTP Nelayan 1.684 dengan jumlah nelayan 2.138

Selain perairan laut, perairan air tawar juga memiliki potensi yang besar. Perikanan di daratan atau air tawar ini bisa berkembang karena sumber air tanah yang melimpah khususnya pada budidaya ikan tawar. Budidaya ikan tawar dibagi menjadi 2 kelompok, ikan hias dan ikan konsumsi. Di Tulungagung luas kolam dan jumlah petani ikan dari tahun 2013 samapi tahun 2015 mengalami kenaikan.

Pelaksanaan pemanfaatan potensi budidaya ikan hias dapat dilakukan melalui subsektor perikanan tangkap maupun subsector perikanan budidaya. Keunggulan subsektor perikanan budidaya dibanding subsektor perikanan tangkap adalah lebih mampu menjaga kelestarian alam, menghindari overfishing, serta dapat berproduksi terus menerus karena ikan dikondisikan untuk berkembangbiak dengan baik.

Sebagai dinas yang membantu pemerintahan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dinas perikanan memiliki tugas untuk membantu meningkatkan kesehjahteraan masyarakat yang bergelut di bidang perikanan, seperti para nelayan. Masyarakat yang ada di pesisir pantai untuk mencukupi kebutuhan hidup meraka mengandalkan profesi sebagai nelayan. Nelayan dalan kegiatan tangkap ikan, mereka membentuk kelompok untuk mempermudah mereka dalam kegiatan  tangkap ikan di laut.

Potensi Perairan Umum di Kabupaten Tulungagung seluas 504.5 ha terdiri dari waduk/cekdam 450 ha, danau/telaga 17,4 ha, rawa 37 ha serta sungai sepanjang 408,65 km.

Perairan umum tersebut dimanfaatkan oleh 1.050 nelayan PUD yang terdiri dari Nelayan tetap 876 orang dan nelayan sambilan 174 orang dengan perincian sebagai barikut: 420 orang nelayan melakukan penangkapan ikan di sungai, 154 orang nelayan di telaga, 105 orang nelayan di rawa, dan 1.371 orang nelayan di waduk.

Ketersediaan sumber daya perairan yang luas dan sumber daya manusia yang berlimpah merupakan modal dasar untuk meningkatkan dan mengembangkan pembangunan perikanan di Indonesia. Berbagai kebijakan pemerintah untuk mendukung peningkatan produksi perikanan telah dilakukan, antara lain sebagai berikut :

  1. Pembinaan seluruh aparat dinas perikanan mulai dari tingkat pusat sampai tingkat daerah, baik berupa bimbingan teknis maupun nonteknis.
  2. Pemberian rekomendasi paket-paket teknologi hasil penelitian untuk dapat disebarluaskan kepada petani atau pengusaha agar mereka dapat mengembangkan dan meningkatkan produktivitas perikanan.
  3. Bimbingan kepada masyarakat berupa penyuluhan-penyuluhan mengenai sarana produksi budidaya ikan air tawar.
  4. Pembangunan sarana dan prasarana budidaya ikan air tawar di seluruh Indonesia untuk memudahkan petani atau pengusaha mendapatkan informasi atau fasilitas lainnya, misalnya pengadaan benih ikan.
  1. Usaha tani di bidang perikanan memiliki prospek ekonomi yang sangat cerah karena sampai sekarang kebutuhan akan ikan, baik yang berupa segar maupun bentuk olahan, masih belum mencukupi kebutuhan konsumen. Banyak orang beranggapan bahwa perairan umum adalah sumber ikan yang tidak akan pernah habis, meski hasilnya diambil terus-menerus. Anggapan semacam itu dapat mcngakibatkan terganggunya kelestarian sumber perairan.
  2. Kelestarian sumber hayati perairan suatu ketika akan terganggu jika penangkapan ikan dilakukan secara besar-besaran tanpa mengindahkan norm-norma konservasi. Jika kita mengharapkan agar hasil perairan tetap dapat dinilnnati, maka sudah sewajamya kita kembangkan usaha budidaya perikanan. Dengan budidaya perikanan kita sudah menunjukkan perwujudan yang paling sederhana dan usaha peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
  3. Secara umum analisis usaha tani atau kelayakan suatu usaha tani dapat dilakukan secara finansial dan ekonomi. Secara finansial harga-harga yang menjadi patokan/acuan adalah harga riil atau harga pasar. Umumnya harga-harga ini mendapatkan pengaruh dan distorsi pasar, misalnya subsidi dan pajak. Adapun jika menggunakan analisis secara ekonomi, maka faktor-faktor yang mempengaruhi distorsi pasar seperti subsidi dan pajak, tersebut harus dihilangkan. Sehingga harga-harga yang menjadi acuan dalam analisis usaha secara ekonomi (analisis ekonomi) adalah harga bayangan (shadow price) dari barang/jasa yang bersangkutan. Untuk mendapatkan harga bayangan memerlukan kejelian dan ketelitian dalam perhitungan secara matematis.
  4. Dalam analisis finansial apabila harga-harga pasar telah diperoleh, maka kita harus menentukan harga mana yang akan dipakai. Dua alternatif utama adalah harga jual bersih di tingkat petani dan harga beli yang dibayar rumah tangga. Karena analisis usaha tani mengukur penampilan usaha tani sebagai sistem, maka sebagai dasar untuk menilai produk yang tidak berbentuk uang tunai biasanya dipakai harga jual bersih (Soekartawi, et.al, 1986).
  5. Pendapatan bersih (net Profit) usaha tani mengukur imbalan yang diperoleh keluarga petani dari penggunaan faktor-faktor produksi kerja, pengelolaan dan modal milik sendiri atau modal pinjaman yang diinvestasikan ke dalam usaha tani (Soekaftgwi, et.al, 1986).
  6. Pendapatan bersih usaha tani merupakan selisih antara pendapatan kotor usaha tani (hasil penjualan/ Total Revenue) dan pengeluaran total atau total biaya operasional (Totle Cost/TC).

Pada setiap kegiatan budidaya ikan pasti akan terdapat kendala yang dapat menyebabkan berkurangnya produktivitas dalam suatu usaha. Penyebab utama terjadinya kegagalan produksi ikan budidaya biasanya disebabkan oleh karena adanya hama dan penyakit yang menyerang dalam wadah budidaya ikan. Karena ikan yang sakit tidak akan mengalami pertumbuhan berat badan yang optimal dan hal ini sangat merugikan bagi para pembudidaya.

Agar tidak terjadi serangan hama dan penyakit ikan dalam wadah budidaya maka sebelum dilakukan kegiatan budidaya harus dilakukan treatment pada wadah yang akan digunakan seperti membersihkan wadah budidaya, penggunaan air yang baik secara kualitas dan kuantitas, peralatan yang akan digunakan untuk kegiatan budidaya telah disucihamakan, jangan memelihara ikan yang sakit dengan ikan yang sehat secara bersamaan, membuang segera ikan yang sakit. Jika ikan telah terserang hama dan penyakit ikan maka langkah yang harus dilakukan adalah melakukan pengobatan terhadap ikan yang sakit.

Penyakit ikan adalah suatu akibat dari interaksi tiga komponen yaitu lingkungan, ikan itu sendiri, dan agen penyakit yang menyebabkan ikan yang dibudidayakan menjadi sakit dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ikan ini dapat disebabkan oleh berbagai hal di antaranya Penyakit ikan yang disebabkan oleh Virus, bakteri, jamur, parasit dan makanan.

Dalam budidaya ikan, serangan penyakit adalah masalah dan aspek yang sangat penting, artinya penanggulangan penyakit dan hama juga harus menjadi pengetahuan yang penting bagi petani ikan dan siapa saja yang hendak membudidayakan ikan. Sebab penyerangan penyakit maupun ganguan hama dapat mengakibatkan kerugian ekonomis.

Serangan penyakit dan ganguan hama dapat menyebabkan pertumbuhan ikan menjadi lambat (kekerdilan), padat tebar sangat rendah, konversi pakan sangat tinggi, periode pemeliharaan lebih lama, yang berarti meningkatnya biaya produksi. Dan pada tahap tertentu, serangan penyakit dan gangguan hama tidak hanya menyebabkan menurunnya hasil panen (produksi), tetapi pada tahap yang lebih jauh dapat menyebabkan kegagalan panen. Agar para pembudidaya ikan mampu mencegah serta mengatasi serangan penyakit dan gangguan hama yang terjadi pada ikan pemeliharaannya, maka mereka perlu dibekali pengetahuan menyenai sumber penyakit, penyebab, dan jenisnya serta teknik-teknik penanggulangannya.

Permasalahan budidaya ikan antara lain, rusaknya lingkungan hutan mangrove karena pembukaan lahan tambak yang begitu luas serta menurunnya daya dukung lahan karena budidaya ikan dan udang di beberapa tempat mengabaikan daya dukung lahan tersebut. Khusus untuk jenis ikan tertentu, pasokan benih masih mengandalkan hasil penangkapan di alam, sehingga selain pasokan benih terbatas, penangkapan benih telah menyebabkan kerusakan habitat ikan.

Dan masalah yang dianggap sering menjadi penghambat budidaya ikan terbesar adalah munculnya serangan penyakit. Pengalaman dalam dunia perudangan merupakan trauma berkepanjangan, yang hingga saat ini belum terpecahkan secara tuntas. Karena serangan penyakit dapat menimbulkan kerugian ekonomis, bahkan mengagalkan hasil panen, maka para akuakulturis dan calon akuakulturis perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang penanggulangan hama dan penyakit.

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pemeliharaan ikan adalah sebagai berikut :

  1. Kolam

Persiapan kolam dimulai dengan membalik tanah di dasar kolam, meratakan tanah, dan mengeringkan tanah agar tidak terjadi penebalan lumpur. Posisi kamalir bisa dibuat diagonal atau sejajar dengan pematang. Bak penampungan sebaiknya dibuat berdekatan dengan saluran pengeluaran (outlet).  Akan lebih baik jika air yang digunakan bersih atau jernih.

  1. Kandang

Kandang baterai dibuat memanjang. Jarak lantai kandang dengan permukaan air 50-100 cm. Kandang dirempatkan di daerah yang dangkal dan di tengah salah satu sisi pematang yang panjang. Fondasi dari dang tembok dan aliran udara di dalam kandang juga harus baik. Supaya aliran udaranya baik, kandang sebaiknya diberi lubang angin dari kayu atau bambu yang ditata berjajar dengan jarak tertentu atau bisa juga menggunakan kawat ram.

  1. Air

Kedalaman air kolarn idealnya 50-75 cm. Sementara itu, debitnya tidak kurang dari 5-10 liter/detik. Suhu air ideal 24-28° C dan pH 5,5-7.

  1. Hydrogen Sulfide

Kolam dengan oksigen miskin dan terganggunya akumulasi bahan organik dapat melepaskan hidrogen sulfide. Apabila oksigen terlarut berkurang akan menimbulkan hydrogen sulfide. Gas Hidrogen sulfida memiliki bau telur busuk dan sangat beracun untuk ikan. Untuk memperbaiki masalah ini kolam sebelum digunakan harus dilakukan proses pengeringan bertujuan untuk mengoksidasi bahan organic yang terdapat pada dasar kolam.

  1. Kecerahan

Dalam kolam kecerahan air dapat mempengaruhi ikan. Jika yang lebih dibudidaya adalah ikan air-air keruh (misalnya lele, gabus, nila) yang dibudidayakan dalam air kecerahan tinggi mereka akan mengalami stres, kelangsungan hidup dan pertumbuhan akan terpengaruh. Akumulasi padatan tersuspensi dan warna air terjadi pada sistem sirkulasi yang dapat mengganggu ikan dan presipitat penyakit. Beberapa bahan tersuspensi dan terlarut dapat menyebabkan mati rasa pada ikan. Filtrasi dan flocculent dapat digunakan untuk menghapus padat dan mengurangi perubahan warna.

  1. Monitoring Kualitas Air

Jika ikan yang dipelihara dengan kepadatan tinggi, maka suhu, oksigen terlarut, ammonia, nitrit, dan pH harus dipantau setiap hari atau lebih sering (misalnya, pemantauan terus menerus oksigen terlarut dalam sistem sirkulasi). Kejernihan air, alkalinitas, dan kekerasan dapat diukur kurang sering, mungkin satu atau dua kali per minggu, karena mereka tidak berfluktuasi seperti cepat. Salinitas, besi, dan klorin harus ditentukan ketika sumber air potensial pertama diperiksa sehingga tindakan korektif dapat dimasukkan ke dalam sistem produksi selama tahap desain atau perencanaan. Karbon dioksida harus diukur ketika pertama kali menggunakan sumber air tanah baru dan secara rutin dalam sistem sirkulasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>