Peran BMT di Tengah-Tengah Perekonomian Umat

Konsep BMT sebenarnya sudah ada sejak zaman rasulullah saw yang dikenal dengan nama bait al-maal dan berfungsi sebagai pengelola dana amanah dan harta rampasan perang (ghonimah) pada masa awal islam, yang diberikan kepada yang berhak dengan pertimbangan kemaslahatan umat. Namun secara konkrit pelembagaan Baitul Maal baru dilakukan pada masa Umar Bin Khattab, ketika kebijakan pendistribusian dana yang terkumpul mengalami perubahan. Lembaga Baitul Maal itu berpusat di ibukota Madinah dan memiliki cabang di profinsi-profinsi wilayah Islam.

Baitul Maal wa Tamwil (BMT) berasal dari bahasa Arab disingkat menjadi BMT adalah kelompok swadaya masyarakat (KSM) sebagai lembaga ekonomi rakyat yang berupaya mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dengan system bagi hasil untuk meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha kecil bawah dan kecil menengah dalam rangka upaya pengentasan kemiskinan berlandaskan syariah. Di Indonesia  setelah berdirinya  Bank Muamalat Indonesia (BMI) timbul peluang untuk mendirikan bank-bank yang berprinsip syariah. Operasinalisasi BMI kurang menjangkau usaha masyakat kecil dan menengah, maka muncul usaha untuk mendirikan bank dan lembaga keuangan mikro, seperti BPR syariah dan BMT yang bertujuan untuk mengatasi hambatan operasional daerah.

Selain itu di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang hidup serba berkecukupan muncul kekhawatiran akan timbulnya pengikisan akidah. Pengikisan akidah ini bukan hanya dipengaruhi oleh aspek syiar Islam tetapi juga dipengaruhi oleh lemahnya ekonomi masyarakat. Sebagian besar umat Islam yang hati-hati dalam menjalankan perintah dan ajaran agamanya menolak menjalin hubungan bisnis dengan perbankan konvensional yang beroperasi dengan sistem bunga, kendati mereka tahu bahwa lembaga ini berperan besar dalam perjalanan panjang pembangunan ekonomi bangsa. Dalam hal ini umat Islam hanya sedikit saja yang mau memanfaatkan fasilitas kredit berbunga dari bank konvensional, sebaliknya mereka lebih suka mencari jalan lain di luar lembaga perbankan untuk segala keperluan bisnisnya. Oleh sebab itu peran BMT agar mampu lebih aktif dalam memperbaiki kondisi tersebut.

BMT merupakan lembaga keuangan non bank. Lembaga keuangan dalam arti luas sebagai perantara dari pihak yang mempunyai kelebihan dana ( Surplus of fund ) dengan pihak yang kekurangan dana ( lack of fund ) sehingga peranan yang sebenarnya sebagai perantara keuangan masyarakat. Maka dari itu, BMT didirikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas usaha ekonomi untuk kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.Pengertian tersebut dapat dipahami mengingat BMT berorientasi pada upaya peningkatan kesejahteraan anggota dan masyarakat.Anggota harus diberdayakan supaya dapat mandiri. Dengan menjadi anggota BMT, masyarakat dapat meningkatkan taraf hidup melaui peningkatan usahanya.

BMT melaksanakan dua macam kegiatan bisnis sebagai kegiatan utama dan kegiatan social sebagaikegiatan penunjang. Kegiatan Baitul Tamwil adalah mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha kecil bawah dan kecil menengah dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonomi. Sedangkan Baitul Maal menerima titipan ZIS (Zalat, Infaq, dan Shodaqah) dan menjalankan sesuai peraturan dan amanahnya.

Selain kegiatan yang berhubungan dengan keuangan di atas, BMT dapat juga mengembangkan usaha di bidang sektor riil, seperti kios telepon, kios benda pos, memperkenalkan teknologi maju untuk meningkatkan produktivitas hasil para anggota, mendorong tumbuhnya industri rumah tangga atau pengolahan hasil, mempersiapkan jaringan perdagangan atau pemasaran masukan dan hasil produksi, serta usaha lain yang layak, menguntungkan dan tidak mengganggu program jangka pendek, dengan syarat dikelola dengan sistem manajemen  yang terpisah dan profesional. Usaha sektor riil BMT tidak boleh menyaingi usaha anggota tetapi justru akan mendukung dan memperlancar pengorganisasian secara bersama-sama keberhasilan usaha anggota dan kelompok anggota berdasarkan jenis usaha yang sama.

BMT merupakan koperasi yang berbasis syariah. BMT sebagai LKMS memiliki peran yang penting dalam perekonomian Indonesia untuk mengurangi kemiskinan, dimana tugas penyaluran pembiayaan kepada usaha masyarakat kecil harus dapat dilakukan dengan baik.

Untuk mewujudkan masyarakat adil dan efisien, maka setiap tipe dan lapisan masyarakat harus terwadahi, namun perbankan belum bisa menyentuh semua lapisan masyarakat, Terlebih bagi mayarakat kecil bawah dan kecil menengah. Beberapa lapisan dan tipe masyarakat/umat yang tidak dapat tersentuh oleh lembaga perbankan sehingga masih terdapat kelompok masyarakat yang tidak terfasilitasi yakni:

  1. Masyarakat yang secara legal dan administrative tidak memenuhi kriteria perbankan. Prinsip kehati-hatian yang diterapkan oleh bank menyebabkan sebagian masyarakat tidak mampu terlayani.
  2. Masyarakat yang bermodal kecil namun memiliki keberanian dalam mengambil resiko usaha.
  3. Masyarakat yang memiliki modal besar dan keberanian dalam mengambil resiko usaha.
  4. Masyarakat yang menginginkan jasa keuangan non-investasi.

keadaan tersebut keberadaan BMT setidaknya mempunyai beberapa peran :

  1. 1.      Menjauhkan masyarakat dari praktek ekonomi non-syariah.

Dengan aktif melakukan sosialisasi di tengah masyarakat tentang arti penting sistem ekonomi Islami. Hal ini bisa dilakukan dengan pelatihan-pelatihan mengenai cara-cara bertransaksi yang Islami, misalnya supaya ada bukti dalam transaksi, dilarang curang dalam menimbang barang, jujur terhadap konsumen dan sebagainya.

  1. 2.      Melakukan pembinaan dan pendanana usaha kecil.

BMT harus bersikap aktif menjalankan fungsi sebagai lembaga keuangan mikro. Dengan jalan pendampingan, pembinaan, penyuluhan dan pengawasan terhadap usaha-usaha nasabah atau masyarakat umum.

  1. 3.      Melepaskan ketergantungan pada renternir.

Masyarakat yang masih tergantung renternir disebabkan renternir mampu memenuhi keinginan masyarakat dalam memenuhi dan dengan segera, maka BMT harus mampu melayani masyarakat lebih baik, misalnya selalu tersedia dana setiap saat, birokrasi yang sederhana dan lain sebagainya.

  1. 4.      Menjaga keadilan ekonomi masyarakat dengan distribusi yang merata.

Fungsi BMT langsung berhadapan dengan masyarakat yang kompleks dituntut harus pandai beersikap, oleh karena itu langkah-langkah yang melakukan evaluasi dalam rangka pemetaan skala prioritas yang harus diperhatikan, misalnya dalam masalah pembiayaan, BMT harus memperhatikan kelayakan nasabah dalam hal golongan nasabah dan jenis pembiayaan.

  1. Motor penggerak ekonomi dan social masyarakatt banyak.
  2. Ujung tombak pelaksanaan system ekonomi islam.
  3. Penghubung antara umat aghnia(kaya) dan kaum dhu’afa(miskin)
  4. Sarana pendidikan informal unutuk mewujudkan prinsip hidup yang barakah, ahsanu’amala, dan salam.
  5. membantu para pengusaha lemah untuk mendapatkan modal.
  6. membantu permerataan pertumbuhan ekonomi
  7. membantu pemerintah dalam membuka lapangan pekerjaan
  8. menjadi lembaga keuangan alternative yang dapat menopang percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Konsep Baitul Maal Wa Tamwil sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.Dan Allah Maha Luas (Karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Sesuai dengan terjemah ayat diatas maka BMT dapat disimpulkan bahwa BMT ini digunakan untuk kemaslahatan umat, yaitu dengan menjalin tali silaturrahmi dan mengadakan kerja sama bagi hasil dengan cara membagi keuntungan yang diperoleh. Dalam menjalankan operasionalnya BMT memiliki beberapa prinsip diantaranya:

  1. Keimanan dan ketakwaan pada Allah swt dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip syariah dan muamlah islam ke dalam kehidupan nyata. Berpikir, bersikap dan berperilaku ahsanu ‘amala.
  2. Keterpaduan (kaffah) di mana nilai-nilai spritual berfungsi mengarahkan dan menggerakkan etika dan moral yang dinamis, proaktif, progresif, adil, dan berahlak mulia.
  3. Kekeluargaan (kooperatif).

Dalam menjalankan operasionalnya BMT tidak pernah memaksakan kehendak nasabah. Dalam penagihan pembiayaan pun tidak pernah keluar dari syariat dan ketentuan islam.

  1. Kebersamaan.

Prinsip BMT kebersamaan tercermin dari hubungan karyawan dengan nasabah yang begitu dekat dan hangat. Karyawan BMT begitu memahami keadaan nasabah merekaa. Sehingga nasabah pun merasa aman dan nyaman dalam melakukan transaksi.

  1. Kemandirian.

Kemandirian BMT tercermiin pada opersasional BMT yang tidak pernah membebani lembaga lain. Aktif, beranjangsana, berprakarsa, pro aktif, menemukan masalah dengan tajam dan menyelesaikan masalah dengan bijak, bijaksana, yang memenangkan semua puhak.

  1. Profesionalisme.

Meskipun BMT bukan lembaga keuangan berbasis perbankan, BMT memiliki standard profesionalitas yang tinggi. Dari perhitungan bagi hasil dan nisbah yang ditetapkan tidak akan memberatkan nasabah. Hal ini karena BMT adalah lembaga syariah yang memegang tegung tinggi prinsip dalam meminimalisisr maysir, gharar dan riba. Selain itu, Administrasi keuangan, pembukuan dan prosedur ditata dan dilaksanakan dengan sistem akuntansi sesuai dengan standar akuntansi indonesia yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah.

  1. Istiqomah

Yang dimaksud istiqomah disini adalah konsisten, kontinuitas/berkelanjutan tanpa henti dan tak pernah putus asa. Setelah mencapai suatu tahap, maju ke tahap berikutnya, dan hanya kepada Allah berharap.

Lahirnya BMT ini lah sangat tepat untuk memajukan perekonomian umat yang sesuai dengan syariat islam yang sangat mengharamkan system bunga, maysir, gharar dan akad yang mengandung maksiat. Sebelum hadirnya BMT, masyarakat tidak dapat menghindari sitem bunga untuk membantu perekonomian mereka.Mereka menggunakan jasa-jasa perbankan seadanya. Mereka tidak dapat memilih bagaimana mereka menghindari system bunga dengan tetap mendapatkan fasilitas yang mereka butuhkan.

Selain peran BMT pada masyarakat yang telah diungkapkan diatas, kehadiran BMT juga telah memberikan beberapa manfaat diantaranya:

  1. Meraih keuntungan bagi hasil dan investasi dengan cara syari’ah.
  2. Pengelolaan dana berdasarkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan akan menjadikan setiap simpanan dan pinjaman di BMT aman baik secara syar’I maupun ekonomi.
  3. Komitmen kepada ekonomi kerakyatan, dimana BMT membuat transaksi keuangan, memperoleh pembiayaan pengelolaannya bermanfaat bagi pengembangan ekonomi umat islam.
  4. BMT dan masyarakat dapat berperan membangun citra perekonomian yang dikelola umat.
  5. Menggirahkan usaha-usaha kecil produktif dan membebaskan mereka dari jeratan rentenir.
  6. Partisipasi positif bagi kemajuan lembaga-lembaga keuangan dan perbankan islam yang termasuk di dalamnya BMT.

Dari beberapa uaraian yang telah diungkapkan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa BMT adalah kelompok swadaya masyarakat (KSM) sebagai lembaga ekonomi rakyat yang berupaya mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dengan system bagi hasil untuk meningkatkan kualitas ekonomi pengusaha kecil bawah dan kecil menengah dalam rangka upaya pengentasan kemiskinan berlandaskan syariah. Tata kerja BMT harus dirumuskan secara sederhana sehingga mudah untuk didirikan dan ditangani oleh para nasabah yang sebagian besar berpendidikan rendah. Aturan dan mekanisme kerjanya dibuat dengan lentur, efisien, dan efektif sehingga memudahkan nasabah untuk memanfaatkan fasilitasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>