Upaya Meningkatkan Jumlah Pendapatan dengan Menggunakan Strategi Keuangan yang Dimiliki Oleh BMT Dinar Amanu Tulungagung

Oleh Tyas Andriani Mahasiswi PPL/ Magang Gelombang 1  Prodi Perbankan Syariah

NIM : 17401153037

Bagi seorang muslim, setiap aktifitas harus memiliki hubungan antara urusan duniawi dan ukhrowi. Sebab seorang muslim meyakini bahwa Islam Is a Way of Life. Islam adalah agama yang kaffah yang mengatur semua aspek kehidupan, besar dan kecil, pribadi dan sosial, spiritual dan material. Begitu pula terkait dengan ekonomi (muamalat), secara spesifik mengenai perencanaan keuangan syariah. Hal ini didasarkan sebagaimana firman Allah surat Al Isra ayat 26-27, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. Diperkuat dengan surat Al Furqon ayat 67, ”Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”.

Secara definitif, Abu Yusuf mendefinisikan bahwa perencanaan keuangan syariah adalah proses penentuan tujuan keuangan dan prioritas keuangan, juga mempertimbangkan sumberdaya yang dimiliki, profil risiko dan gaya hidup saat ini. Agar rencana dibuat secara realistis dan seimbang untuk mencapai sasaran tersebut (goal). Rencana inilah yang digunakan sebagai panduan dan memetakan suatu tindakan, distribusi kekayaan terkait Zakat, Infaq, Sedekah.

 

Memang, bagi kalangan lembaga keuangan mikro, perencana keuangan syariah masih terasa asing ditelingah kita. Tetapi bagi pegiat lembaga keuangan secara umum adalah sebuah kemestian untuk tahu dan memanfaatkan ilmu perencanaan keuangan. Bukan tanpa sebab, tapi agar bisa menentukan sikap, strategi dan sekmen (pasar market) yang akan diambil menjadi satu kebijakan dalam mengembangkan lembaga keuangan. Apalagi dalam kondisi ekonomi Indonesia yang lagi krisis seperti saat ini. Rupiah melemah. Daya beli masyarakat menurun secara drastis. Peran ilmu perencanaan keuangan menjadi sangat urgen agar lagi-lagi tidak keliru dalam menentukan kebijakan.

Ilmu perencanaan keuangan, mulai tahun 1990-an masuk Indonesia, profesi ini lebih banyak digunakan dalam industri perbankan dan asuransi. Baru ketika Indonesia mengalami krisis moneter tahun 1997, banyak orang yang mulai tertarik mempelajari ilmu ini. Dalam perkembangannya, tak hanya lembaga keuangan, home industry, UMKM dan koperasipun sudah menggunakan perencanaan keuangan dan ini menjadi satu bagian yang tak terpisahkan.

Seiring dengan keluarnya fatwa MUI tentang Bunga Bank adalah Riba dan disosialisasikannya DSN (Dewan Syariah Nasional) yang mengatur tentang Perbankan Syariah, Asuransi Syariah, Pasar Modal Syariah dan lainnya. Maka ilmu perencanaan keuangan pun mengalami transformasi dari perencaan keuangan biasa (sering juga disebut perencanaan konvensional) menjadi perencanaan keuangan Islami.

Secara garis besar, perencanaan keuangan konvensional (conventional financial planning) melihat dari aspek tujuan utama dari perencanaan keuangan kita, untuk mencapai tujuan-tujuan investasi (goals), baik berupa sekolah anak, membeli aset, pensiun, pajak serta pembagian harta waris. Kecenderungannya menitikberatkan pada aspek duniawi saja.

Sementara di Islamic Financial Planning meletakkan akhirat sebagai tujuan, yang Insya Allah dengan akhirat di hati, maka duniapun akan berada di genggaman kita. Ibaratnya tidak cukup hanya halal saja, tetapi juga toyyib. Dari Islamic financial planning ini, diharapkan hidup pun semakin berkah, karena dunia hanya bersifat sementara, kampung akhiratlah yang bersifat kekal.

Dalam dataran konseptual, perencanaan keuangan Islami mengatur pandangan Islam tentang harta, pandangan manusia mengenai harta, sarana-sarana Islam memperoleh rezeki, sarana-sarana manusia meraih rezeki dan sebagainya, itu artinya dari mana kita mendapatkan harta, cara kita membelanjakan harta tersebut hingga pertanggungjawaban kita menggunakan harta tersebut di akhirat kelak.

Teknisnya, perencanaan keuangan Islami membahas pendapatan secara Islami, pengeluaran secara Islami, manajemen hutang, perlindungan (manajemen resiko) secara Islami, menabung, investasi, zakat, sedekah, amal dan wakaf, yang kesemuanya itu tak lain bagian dari muamalah. Sedangkan alur perencanaan keuangan syariah memiliki tujuan utama (higher objectives) memberlakukan segala sesuatu sesuai dengan ketentuan syariah (agama). Baik bagi BMT, pelaku usaha UMKM dan keluarga anggota BMT bagaimana mengelola pendapatan (income), mengatur belanja keperluan (needs), merencanakan impian (dreams/ wants), mengatur surplus atau defisit, serta mempersiapkan dana emergensi.

BMT merupakan salah satu lembaga Micro Finance Syariah. Salah satu aktivitasnya yakni memberikan pembiayaan pada pengusaha mikro. Pembiayaan yang telah disalurkan tidak selalu memberikan keuntungan sesuai harapan karena kemungkinan risiko yang akan terjadi, yang mana bila tidak diantisipasi dapat membahayakan keberlangsungan BMT.

Strategi mengelola keuangan usaha atau bisnis dalam perusahaan. Manajemen keuangan dalam berwirausaha tentu sedikit berbeda dari manajemen keuangan pribadi. Dalam situasi ini, seorang wirausahawan dituntut untuk lebih bijak dan disiplin mengelola cash flow-nya. Dan yang terpenting, dia harus mampu memisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadinya.

 

 

Berikut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengelola keuangan usaha yang bisa dijadikan acuan bagi yang memiliki usaha baik itu kecil maupun besar:

  1. Pertahankan agar cash flow tetap positif.

Dunia usaha tidak terlepas dari hitung-hitungan untung dan rugi. Kalau hasil penjualan dikurangi biaya produksi dan biaya-biaya perusahaan adalah positif maka perusahaan tersebut untung, dan kalau hasil negatif maka rugi. Untuk membuat perencanaan keuangan perusahaan, maka arus kas (cash flow) harus positif, sehingga merencanakan keuangan selanjutnya lebih mudah. Bagaimana kalau cash flow perusahaan tersebut negatif atau rugi? Yang harus dilakukan adalah menekan biaya produksi atau biaya yang lain lebih kecil dari pemasukan, namun anda juga harus tetap memperhatikan aspek lain, misalnya kualitas produk atau jasa yang anda jual.

  1. Proteksi pendapatan (asuransi jiwa)

Proteksi terhadap pendapatan atau dengan kata lain proteksi terhadap pengusaha yang menjadi sumber penghasilan keluarga adalah suatu hal yang perlu direncanakan terlebih dahulu, sebelum kita masuk kepada perencanaan kebutuhan keuangan lainnya.

Seperti halnya dana darurat, asuransi jiwa adalah merupakan sebuah cara yang perlu dipersiapkan dalam mengantisipasi resiko kehilangan sumber penghasilan yang disebabkan oleh kematian atau terjadinya ketidakmampuan total akibat kecelakaan atau sakit pengusaha tersebut yang menjadi sumber penghasilan utama dalam keluarga. Apalagi kalau pengusaha tersebut mempunyai banyak ide yang berguna dalam usahanya, harus diasuransikan.

  1. Proteksi terhadap tempat usaha

Pelimpahan resiko kepada pihak perusahaan asuransi terhadap tempat usaha juga sangat penting sekali. Ini mengantisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya terjadi pencurian, kebakaran dan huru hara. Jangan sampai terjadi setelah kebakaran yang menghabiskan seluruh tempat usaha, stok barang dan barang jadi pengusaha tersebut jadi bangkrut.

Pada umumnya pusat pendapatan merupakan unit pemasaran atau penjualan yang tidak memiliki wewenang untuk menetapkan harga jual dan tidak bertanggung jawab atas harga pokok penjualan dari barang-barang yang mereka pasarkan. Penjualan atau pesanan actual diukur terhadap anggaran dan kuota, dan manajer dianggap bertanggung jawab atas beban yang terjadi secara langsung didalam unitnya, akan tetapi ukuran utamanya adalah pendapatan.

Dari pendapatan tersebut akan didistribusikan kepada para nasabah penyimpan. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan sumber-sumber pendapatan yang diperoleh oleh bank syariah atau lembaga keuangan non bank.

Adapun sumber-sumber pendapatan tersebut diperoleh dari:

  1. Bagi hasil atas kontrak mudharabah dan kontrak musyarakah
  2. Keuntungan atas kontrak jual beli (al-bai’)
  3. Hasil sewa atas kontrak ijarah dan ijarah wa iqtina’
  4. Fee dan biaya administrasi atas jasa-jasa lainnya.

Menurut PSAK nomor 23 paragraf 6, pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktifitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari konstribusi penanaman modal. Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima. Jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dengan pembeli atau pengguna asset tersebut.

 

 

 

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pendapatan adalah:

  1. Motivasi atau dorongan juga mempengaruhi jumlah penghasilan, semakin besar dorongan seseorang untuk melakukan pekerjaan, semakin besar pula penghasilan yang diperoleh. Selain itu juga lokasi bekerja yang dekat dengan tempat tinggal dan kota, akan membuat seseorang lebih semangat untuk bekerja.
  2. Keuletan kerja, pengertian keuletan dapat disamakan dengan ketekunan, keberanian untuk menghadapi segala macam tantangan. Bila saat menghadapi kegagalan maka kegagalan tersebut dijadikan sebagai bekal untuk meneliti ke arah kesuksesan dan keberhasilan.

Banyak sedikitnya modal yang digunakan, besar kecilnya usaha yang dilakukan seseorang sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya modal yang dipergunakan. Suatu usaha yang besar akan dapat memberikan peluang yang besar pula terhadap pendapatan yang akan diperoleh

Strategi keuangan yang diterapkan di KSPPS BMT Dinar Amanu dimulai dengan cara:

  1. Memperbanyak pembiayaan yang crossing atau keluar.
  2. Meningkatkan calon anggota atau anggota baru untuk menyimpan. Yaitu dengan cara melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas, dan memberikan brosur-brosur kepada para pedagang yang ada di pasar-pasar agar masyarakat tertarik untuk menjadi nasabah
  3. Mempunyai kas yang besar lalu bermitra dengan KSPPS lain ataupun Puskopsyah dengan cara sistem bagi hasil yaitu dengan membagi keuntungan antara BMT Dinar Amanu dengan KSPPS lain
  4. Meminimalisir untuk pengeluaran.

 

 

Penilaian kinerja keuangan suatu perusahaan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh manajemen agar dapat memenuhi kewajibannya terhadap para penyandang dana dan juga untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan perusahaan. Penilaian kinerja perusahaan yang ditimbulkan sebagai akibat dari proses pengambilan keputusan manajemen, merupakan persoalan yang kompleks karena menyangkut efektivitas pemanfaatan modal dan efisiensi dari kegiatan perusahaan yang menyangkut nilai serta keamanan dari berbagai tuntutan yang timbul terhadap perusahaan.

Jadi dalam menilai kinerja keuangan perusahaan, dapat digunakan suatu ukuran atau tolok ukur tertentu. Biasanya ukuran yang digunakan adalah rasio atau indeks yang menghubungkan dua data keuangan. Adapun jenis perbandingan dalam analisis rasio keuangan meliputi dua bentuk yaitu membandingkan rasio masa lalu, saat ini ataupun masa yang akan datang untuk perusahaan yang sama. Dan bentuk yang lain yaitu dengan perbandingan rasio antara satu perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis.

Dampak apabila suatu BMT tidak mempunyai strategi keuangan untuk meningkatkan jumlah pendapatan adalah sangat jelas yaitu pada minimnya pendapatan, dalam minimnya pendapatan tersebut juga akan berdampak pada kesejahteraan karyawan yaitu berkurangnya gaji karyawan, bagi hasil yang diberikan kepada penyimpan berkurang dan sisa hasil usaha (SHU) yang menurun.

Namun dalam menjalankan strategi dan rencana pemasarannya perusahaan memiliki berbagai keterbatasan sumberdaya misalnya permodalan, kualitas sumberdaya, penguasaan teknologi dan informasi pasar. Strategi berusaha untuk mengatasi keterbatasan ini dan mampu memanfaatkan berbagai sumberdaya yang dimiliki secara optimal. Oleh karena itu, perusahaan perlu menyusun strategi yang digunakannya dan berbagai rencana sebagai implementasi strategi tersebut.

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan program atau kegiatan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung yang bekerjasama dengan sebuah institusi atau lembaga sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa. Di dalam praktik Pengalaman Lapangan ini mahasiswa tidak hanya dituntut mempunyai kecerdasan saja, tetapi harus juga mempunyai pembekalan seperti kemampuan dasar yaitu seperti pengetahuan, keterampilan, kreatifitas dan juga perilaku atau sikap serta kemampuan tersebut juga belum sepenuhnya didapat mahasiswa ketika mereka berada di bangku perkuliahan. Dari kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) inilah penulis menyajikan karya Esai sesuai dengan kondisi pengalaman dan realita dilapangan.

Melalui karya ini saya mengucapkan terimakasih kepada:

  1. Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku rektor IAIN Tulungagung.
  2. Bapak Dr. H. Dede Nurohman M.Ag selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung.
  3. Bapak Siswahyudianto ,MM selaku Kepala Laborartorium Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk bisa memuat karya esainya.
  4. Ibu Hj.Nur Aini Latifah SE,MM. Selaku Dosen Pembimbing Lapangan yang telah memberikan bimbingan, arahan kepada mahasiswa selama menjalani PPL termasuk juga bimbingan dalam pembuatan esai ini.
  5. Bapak Mamik Priyatno Selaku Dosen Pamong di KSPPS BMT Dinar Amanu Tulungagung yang telah memberikan arahan dan bimbingannya selama mahasiswa melaksanakan PPL.
  6. Orang tua dan keluarga yang selalu mendoakan dan mendukung.
  7. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penyusun mengucapkan banyak terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>