MENINGKATKAN KUALITAS DATA HASIL SURVEI PENYEMPURNAAN DIAGRAM TIMBANG NILAI TUKAR PETANI (SPDT-NTP) 2017 BPS KABUPATEN BLITAR

Oleh : Musfikoh Ifna Khoiru Rohmawati

 

Dalam penugasan PPL saya di Kantor BPS Kabupaten Blitar yang bertempat di Jl Brigjen Katamso No. 5 Blitar Jawa Timur. Saya ditugaskan untuk mencari masalah yang nantinya akan memjadi bahan laporan akhir PPL. Dalam kegiatan ini saya dapat belajar dalam penerapan teori – teori yang di pelajai di kampus yang selanjutnya di aplikasikan di dunia kerja atau di masyarakat sekitar. Dan penugasan ini juga memberikan saya ilmu dimana saya dapat mempelajari mekanisme kinerja kantor BPS Kabupaten Blitar sehingga nantinya saya tidak akan kaget dann cepat untuk mengerti apabila nanti terjun langsung dalam lingkungan masyarakat untuk bersosialisasi. Serta meningkatkan rasa percaya diri dan rasa tanggung jawab  dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan oleh suatu instansi nantinya.

Badan Pusat Statistik adalah Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sebelumnya, BPS merupakan Biro Pusat Statistik, yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 6 Tahun 1960 tentang Sensus dan UU Nomer 7 Tahun 1960 tentang Statistik. Sebagai pengganti kedua UU tersebut ditetapkan UU Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik. Berdasarkan UU ini yang ditindaklanjuti dengan peraturan perundangan dibawahnya, secara formal nama Biro Pusat Statistik diganti menjadi Badan Pusat Statistik. Peranan yang harus dijalankan oleh BPS adalah sebagai berikut :

  • Menyediakan kebutuhan data bagi pemerintah dan masyarakat. Data ini didapatkan dari sensus atau survey yang dilakukan sendiri dan juga dari departemen atau lembaga pemerintahan lainnya sebagai data sekunder
  • Membantu kegiatan statistik di departemen, lembaga pemerintah atau institusi lainnya, dalam membangun sistem perstatistikan nasional.
  • Mengembangkan dan mempromosikan standar teknik dan metodologi statistik, dan menyediakan pelayanan pada bidang pendidikan dan pelatihan statistik.
  • Membangun kerjasama dengan institusi internasional dan negara lain untuk kepentingan perkembangan statistik Indonesia.
  1. Tugas, Fungsi dan Kewenangan

Tugas, fungsi dan kewenangan BPS telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2007 tentang Badan Pusat Statistik dan Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pusat Statistik.

1)   Tugas

Melaksanakan tugas pemerintahan dibidang statistik sesuai peraturan perundang-undangan.

2)   Fungsi

a)    Pengkajian, penyusunan dan perumusan kebijakan dibidang statistik

b)   Pengkoordinasian kegiatan statistik nasional dan regional

c)    Penetapan dan penyelenggaraan statistik dasar

d)   Penetapan sistem statistik nasional

e)    Pembinaan dan fasilitasi terhadap kegiatan instansi pemerintah dibidang kegiatan statistik

f)    Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum dibidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, kehumasan, hukum, perlengkapan dan rumah tangga.

3)   Kewenangan

a)    Penyusunan rencana nasional secara makro di bidangnya;

b)   Perumusan kebijakan di bidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro;

c)    Penetapan sistem informasi di bidangnya;

d)   Penetapan dan penyelenggaraan statistik nasional;

e)    Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu;

f)    Perumusan dan pelaksanaan kebijakan tertentu di bidang kegiatan statistik

g)   Penyusun pedoman penyelenggaraan survei statistik sektoral.

Seiring dengan kegiatan pokok yang dilakukan oleh kantor BPS Kabupaten Blitar dalam kegiatan kepemerintahannya. Maka BPS Kabupaten Blitar selalu mengumpulkan data yang lengkap, akurat dan mutakhir berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat salah satunya dengan melakukan Survei Penyempurnaan Diagram Timbang Nilai Tukar Petani (SPDT-NTP) yang berkaitan dengan nilai tukar petani.

Nilai Tukar Petani (NTP) itu sendiri adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayar petani. NTP ini merupakan indikator yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangenan di sektor pertanian. Dalam perhitungan NTP diperlukan paket komoditas dan bobot pada tahun dasar yang disebut diagram timbang yang menggambarkn pola produksi an pola konsumsi.

NTP yang digunakan saat ini adalah NTP dalam kurun waktu 5 tahun. Dimana dalam kurun waktu 5 tahun tersebut terdapat peristiwa yang telah terjadi yang berdampak pada perkembangan di sektor pertanian cukup signifikan pada perubahan pola konsumsi dan pola produksi. Perubahan dari pola konsumsi dan produksi tersebut disebabkan oleh faktor pendapatan masyarakat, permintaan dan penawaran barang, perubahan kualitas dan kuantitas barang, serta perubahan sikap perilaku masyarakat itu sendiri.

Kegiatan SPDT-NTP merupakan salah satu pendekatan untuk mengukur indikator kemampuan daya beli petani di daerah pedesaan. Kegiatan ini meliputi pencacahan konsumsi dan pencacahan produksi rumah tangga pertanian yang meliputi rumah tangga pertanian tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan.

Nilai Tukar Petani (NTP) marupakan rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase. Nilai tukar petani tersebut merupakan salah satu indikator yang digunakan dalam menentukan tingkat kesejahteraan petani. Pengumpulan data dan perhitungan NTP dilakukan oleh Badan Pusat Statistik.

SPDT-NTP sendiri menggambarkan bagai mana pola produksi dan konsumsi yang ada di masyarakat pedesaan. Oleh karena itu setiap responden akan di berikan pertanyaan oleh petugas survey lapangan mengenai produksi pertaniannya maupun biaya-biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan konsumsinya. Dan hasil data survei tersebut merupakan digram timbang yang digunakan sebagai dasar perhitungan indeks harga yang diterima petani (it), indeks harga yang dibayar petani (ib), NTP, dan inflasi pedesaan. Diagramm timbang yang dhasilkan adalah diagram timbang persektor, yaitu: subsektor tanam pangan, subsektor tanaman holtikultural, subsektor tanaman perkebunan rakyat, subsektor perternakan, subsektor perikanan dan subsektor kehutanan.

Hasil SPDT-NTP yang digunakan sebagai dasar perhitungan Indeks Harga yang di terima petani (it), indeks harga yang dibayar petani (ib).

  1. Indeks harga yang dibayar petani (it)

Merupakan indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga produsen atas hasil produksi petani. Dari nilai ini maka dapat dilihat fluktuasi harga barang - barang yang dihasilkan petani. Indeks ini digunakan sebagai data penunjang dalam perhitungan pendapatan sektor pertanian. Indeks ini dihitung berdasarkan nilai juan hasil pertanian yang dihasilkan oleh petani.

  1. indeks harga yang dibayar petani (ib)

Merupakan indeks harga yang menunjukkan perkembangan harga kebutuhan rumah tangga petani, baik kebutuhan untuk konsumsi rumah tangga maupun kebutuhan untuk produksi pertanian. Dari indeks ini dapat dilihat fluktuasi barang-barang yang dikonsumsi oleh petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat pedesaan, serta fluktuasi harga bbarang yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. Perkembangan indeks ini juga dapat menggambarkkan inflasi di pedesaan. Indeks ini dihitung berdasarkan indeks harga yang harus dibayarkan oleh petani dalam memnuhi kebutuhan hidupnya dan penambahan barang modal dan biaya produksi, yang dibagi lagi menjadi sektor makanan dan barang jasa non makanan.

Permasalahan yang dihadapi oleh BPS selama melaksanakan survei Nilai Tukar Petani adalah dalam kendala pengolahan data, dimana karena kurang ketersedianya tenaga kerja untuk pengolahan data hasil survei yang telah didapatkan melalui survey lapangan. BPS sudah menjalanan pengolahan data dengan menggunakan sistem pengambilan dari luar badan, yakni di bantu oleh pihak luar yang tidak terkait langsung dengan BPS itu sendiri, tapi hal tersebut dirasa masih kurang dalam meningkatkan pengolahan data tersebut.

Kendala lain yang di hadapi oleh petugas lapangan yakni keterkaitan dengan responden. Dimana adakalanya responden tidak mau untuk di wawancara mengenai biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi. Karena mereka merasa bahwa itu hal yang tidak perlu dibicarakan. Mereka belum bisa berfikir bahwa daa tersebut penting dalam menentukan atau mengetahui tingkat perkembangan perekonomian di daerah tersebut. Itulah yang menjadi kendala apabila dalam pemerolehan data yang kurang akurat. Sehingga data yang nantinya apabila data tersebut di input maka ada sedikit yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Selain itu kendala yang di dapat yakni mengenai kendala waktu. Dimana pada hal ini dalam mengadakan survei kita juga harus bisa menentuakan atau memperkirakan waktu yang tepat saat wawancara, serta melihat kondisi dari orang yang akan kita wawancarai. Karena waktu seorang petani dalam menggarap sawahnya tidak menentu atau waktu yang digunakan untuk di rumah dan di sawah tidak selalu sama.

Untuk mengatasi permasalahan ini. Pihak lembaga melakukan penyeleksian dalam pemilihan petugas yang ada dilapangan. Karena pekerjaan yang dilakukan dilapangan itu harus cakap dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Serta dalam lapangan itu pihak  - pihak survey harus pintar dalam membaca situasi. Selain itu juga petugas harus bisa menguasai materi, karena apabila  petugas tidak menguasai materi, bagaimana bisa mereka menjelaskan mengenai survei yang akan dilakukan. Petugass harus pintar dalam bersosialisasi  dengan masyarakat serta harus pintar dalam membujuk masyarakat supaya dalam menggali informasi bisa berjalan dengan lancar. Selanjutnya petugas lapangan juga harus memiliki sikap dan tata krama yang baik agar dapat diterima oleh masyarakat sekitar. Tidak hanya itu juga, penampilann juga di perhitungkan. Hal tersebut dirasa mampu untuk mendapatkan data hasil wawancara yang akurat dan UP to Date.

Dari kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) yang bertempat di Kantor BPS Kabupaten Blitar selama kurang lebih 1 bulan. Maka dapat diisimpulkan dengan adanya kegiatan dari pihak kampus yang mewajibkan anak didiknya untuk terjun langsung ke lapangan demi memperoleh ilmu yang tidak hanya di dapat di kampus saja tetapi juga di luar kampus ini sangatlah bermanfaat bagi mahasiswa/i PPL apabila kegiatan tersebut dilakukan dengan seksama dan dengan ketekunan. Karena dengan adanya kegiatan ini, maka mahasiswa/i PPL mendapatkan pengalaman terutama pengalaman pada sebuah instansi. Yang nantinya mahasiswa/i PPL tidak akan asing lagi dengan kegiatan tersebut dalam PPL inilah semua teori yang didapat di bangku kuliah dapat di terapkan secara langsung di instansi-instansi yang terkait. Sehingga anak didik bisa menyelaraskan teori – teori yang nantinya di terapkan dalam dunia kerja.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>