ANALISIS PERAN DINAS KOPERASI TERHADAP PENINGKATAN OMSET BAGI PELAKU USAHA MIKRO (UM) DI KABUPATEN BLITAR

IMG-20180704-WA0000Penulis DWI KHALIMATUR ROSYIDAH Praktik Pengalaman Lapangan Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Tulungagung

Dalam rangka pelaksanaan pembangunan di bidang ekonomi harus mendapat perhatian yang cukup besar, karena pererkonomian memegang peran penting dalam pembangunan. Salah satu cara untuk memajukan perekonomian adalah melalui pemasaran yang dilakukan pihak dinas koperasi guna menunjang pelaku usaha mikro (UM) yang membutuhkan wadah untuk memasarkan barang yang dihasilkannya. Dengan adanya koperasi diharapkan para pelaku usaha mikro bisa memamerkan barangnya kepada masyarakat luas dan dikenal oleh masyarakat berskala nasional. Dari sinilah permasalahan koperasi yang biasa dihadapi, mereka bingung bagaimana cara memamerkan produknya hingga bisa dikenal oleh dunia luas, sehingga hal tersebut diharapkan perekonomian khususnya di Kabupaten Blitar dapat berkembang merata. Koperasi yang ada pada saat ini di Indonesia kian hari kian bertambah seiring dengan besarnya kebutuhan serta keinginan masyarakat untuk membuka usaha baru ataupun untuk sekedar melestarikan pola hidup yang serba konsumtif.

Koperasi adalah organisasi yang memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan organisasi ekonomi lain. Perbedaan ini terletak pada nilai etis yang melandasi kehidupannya dan terjabar dalam prinsip-prinsipnya yang kemudian berfungsi sebagai norma-norma etis yang mempolakan tata laku koperasi sebagai ekonomi. Ciri utama koperasi adalah kerjasama anggota dengan tujuan untuk mencapai kesejahteraan hidup bersama.

IMG_1527Koperasi sebagai organisasi mempunyai kelengkapan-kelengkapan yang dibutuhkan untuk memperlancar kegiatan operasionalnya. Oleh karena itu, dalam pengelolaan koperasi yang sehat perlu dilengkapi dengan kelengkapan organisasi seperti Rapat Anggota, Pengurus Koperasi dan Pengawas.

Salah satu organ koperasi yang menjadi obyek penelitian saya adalah di bidang pemasaran, melaksanakan perumusan kebijakan, koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan  kebijakan, serta pemantauan, analisis, evaluasi dan pelaporan di bidang pemasaran produk Koperasi dan Usaha Mikro serta Bimbingan teknis pengembangan pemasaran usaha Koperasi dan usaha mikro.

Peningkatan omset dari para pelaku usaha mikro/ perkoperasian sangat erat dengan kegiatan pemasaran. Kegiatan pemasaran itu sendiri merupakan kegiatan yang berorientasi pada efisiensi. Efisiensi pemasaran adalah pencapaian pendapatan (income) secara optimal dengan pengeluaran biaya yang diminimalkan, sehingga ada keuntungan yang diperoleh.

IMG-20180805-WA0019Kepala Dinas Koperasi dan Um Kabupaten Blitar memiliki tujuan untuk mengankat derajat dan perekonomian. Karena itu, Dinas Koperasi dan Um Kabupaten Blitar mendorong warga Blitar atau para pelaku usaha mikro agar pintar- pintar memanfaatkan peluang pasar, memaksimalkan pemasarannya. Baik offline maupun online. Pemerintah mempunyai beberapa sentra UKM yang dapat dimanfaatkan para pelaku usaha mikro. Untuk online-nya, bisa memanfaatkan digital media dan media sosial.

Untuk bulan ramdhan dan menjelang lebaran lalu, banyak para pelaku usaha yang banjir pesanan. “Rata- rata peningkatan omset di bulan Ramadhan lalu mencapai lebih dari 50 persen. Jadi lembaga Dinas Koperasi menghimbau kepada para pelaku usaha agar dapat memaksimalkan peluang sebaik- baiknya.”

Selain menyediakan fasilitas sentra UKM bagi para pelaku usaha mikro, dinas koperasi juga memberikan pelatihan- pelatihan bagi pelaku usaha mikro. Sehingga, semua pelaku usaha mikro bisa belajar dalam mengembangkan maupun memahami bagaimana cara memulai usaha yang benar dan berinovasi sesuai dengan keahlian yang dimilikinya.

Usaha pemberdayaan di bidang koperasi dimaksudkan untuk meningkatkan peranan golongan ekonomi lemah dalam kegiatan usaha- usaha ekonomi, agar dengan demikian tingkat kesejahteraan golongan tersebut semakin meningkat. Sesuai dengan tujuan ini maka kemampuan usaha koperasi perlu ditingkatkan dan partisipasi masyarakat dalam usaha- usaha perkoperasian perlu semakin diintensifkan. Tujuan itu selama lima tahun ini dicapai dengan cara memberikan bimbingan dalam bidang- bidang tatalaksana usaha dan organisasi serta mengadakan pengawasan terhadap kegiatan- kegiatan koperasi. Di samping itu kepada masyarakat diberikan penerangan mengenai tujuan- tujuan dan usaha- usaha perkoperasian.

 

Agar dapat sungguh- sungguh memainkan peranannya sebagai yang diharapkan maka kegiatan dan pengorganisasian koperasi- koperasi harus sungguh- sungguh didasari oleh azas-azas koperasi. Untuk itu pembinaan organisasi koperasi primer selalu memperoleh perhatian utama

Tujuan pembinaan organisasi koperasi adalah meningkatkan kemampuan organisasi koperasi sehingga memungkinkan peningkatan partisipasi anggota dan berfungsinya alat-alat perlengkapan organisasi seperti Rapat Anggota, Pengurus dan Badan Pemeriksa.

Dalam rangka pembinaan organisasi perkoperasian para petugas di lingkungan koperasi- koperasi primer memperoleh pendidikan mengenai pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan perkoperasian. Di samping itu juga dilaksanakan pemeriksaan pembukuan dan pembinaan pemanfaatan kredit secara teratur.

Dewasa ini masih terdapat kekurangan tenaga pembina koperasi yang sungguh-sungguh mahir. Dengan tercapainya kemajuan- kemajuan disektor Koperasi dan perkembangan yang pesat di waktu-waktu yang akan datang kekurangan itu akan semakin besar. Berhubung dengan itu maka dalam pembangunan koperasi selama lima tahun ini pendidikan selalu memperoleh prioritas yang tinggi. Demikianlah maka penataan tenaga pembina koperasi yang ada dilaksanakan secara teratur. Keahlian mereka dalam bidang perkoperasian dan dalam bidang- bidang lain yang diperlukan untuk pembinaan koperasi ditingkatkan. Selanjutnya jumlah tenaga pembina koperasi setiap tahun ditambah. Dalam rangka kegiatan itu setiap tahun di selenggarakan penataan dan pendidikan tenaga-tenaga pembina, baik di lingkungan Pemerintah maupun di lingkungan Gerakan Koperasi sendiri.[1]

Meskipun UMKM telah memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian, namun pada kenyataannya, mereka masih menghadapi berbagai permasalahan dan hambatan untuk memberikan sumbangan dalam kegiatan pembangunan nasional. UMKM masih belum dapat mewujudkan kemampuan dan peranannya secara optimal dalam perekonomian nasional. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa UMKM masih menghadapai berbagai hambatan dan kendala baik yang bersifat eksternal dan internal. Faktor internal antara lain dalam bidang sumber daya manusia, permodalan, produksi, pengolahan, dan pemasaran. Sedangkan faktor eksternal antara lain perizinan, teknologi, dan iklim usaha yang mendukung bagi perkembangan UMKM.[2]

Penyuluhan perkoperasian bertujuan untuk meningkatkan partisipasi anggota dalam kegiatan koperasi seperti rapat anggota, peningkatan permodalan dan peningkatan usaha koperasi. Peningkatan partisipasi itu dicapai dengan jalan meningkatkan pengertian tentang kewajiban dan haknya sebagai anggota koperasi serta cara- cara peningkatan usahanya.[3]


[1] Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia,Peningkatan Kapasitas Anggota Koperasi sebagai Kader Koperasi, (Jakarta:Deputi Bidang Kelembagaan Koperasi dan UKM,2007), hal 45-47

[2] Peraturan Daerah Kabupaten Blitar No. 6 Tahun 2012 tentang Pemberdayaan Koperasi Dan Usaha Mikro,Kecil, dan Menengah

[3] Hendrojogi, Koperasi:Asas-asas, Teori, dan Praktik, (Jakarta:Rajawali Pers, 2015), hal. 160

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>