FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN SENTRA BATIK DI KECAMATAN KARANGAN, KABUPATEN TRENGGALEK

IMG20180720102953Oleh ILHAM Praktik Pengalaman Lapangan Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomidan Bisnis Islam IAIN Tulungagung   Dosen Pembimbing Lapangan Siswahyudianto, S.Pd.I.,M.M.

Produksi pada industri batik adalah penanganan atau penyelenggaraan proses pembuatan kain batik dengan mengerahkan orang, alat yang diatur secara rapi melalui kerjasama meliputi perencanaan, pelaksanaan dan penilaian. Oleh karena itu berhasil tidaknya suatu usaha tergantung pada pengelolaannya. Usaha industri batik perlu dikelola dengan baik karena fungsi pengelolaan atau manajemen adalah untuk dapat mencapai keteraturan, kelancaran dan kelangsungan usaha serta agar orang dapat bekerja secara efisien sehingga dapat mencapai efisiensi. Supaya usaha batik dapat berjalan lancar maka perlu mengatur kegiatannya dengan rapi. Bidang-bidang pengelolaan dalam suatu usaha mencakup beberapa hal diantaranya pengelolaan alat dan bahan, pengelolaan tenaga kerja, pengelolaan keuangan, pengelolaan produksi, dan pemasaran.

cropped-IMG20180717135848.jpg

  1. A.    Permodalan

Modal adalah aktiva bersih. Modal bisa berarti financial capital dimana tekanannya adalah nilai uang dari aktiva dikurangi dengan nilaikewajiban yang merupakan kontribusi uang pemilik kepadaperusahaan. Modal disini difokuskan pada kemampuan fisik darimodal itu untuk memproduksi barang dan jasa bukan pada nilaiuangnya. Ukurannya adalah kapasitas produksi dari aktiva yangdimiliki (Harahap, 2004).Menurut Lawrance dalam Sriyadi (1991:140) modalmerupakan sinonim kekayaan, yaitu semua barang yang dimiliki orang/seorang. Tanah beserta sumber alam yang terkandung di dalamnya sering disebut modal alami, untuk membedakan dari modal buatan seperti gedung, mesin-mesin, alat-alat, dan bahan-bahan. Sehubungan dengan kegiatan operasi badan usaha, modal dapat dibedakan antara modal tetap dan modal bekerja. Modal tetap (fixedcapital) yaitu semua benda-benda modal yang dipergunakan terus menerus dalam jangka lama pada kegiatan produksi seperti misalnya tanah, gedung, mesin, alat perkakas, dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan modal bekerja (working capital) yaitu modal untuk membiayai operasi perusahaan seperti pembelian bahan dasar dan bahan yang habis dipakai, membiayai upah dan gaji, membiayai persediaan, membiayai pengiriman dan transportasi, biaya penjualan dan reklame, biaya pemeliharaan dan sebagainya (Sriyadi, 1991). Pengertian modal ditekankan pada nilai, daya beli atau kekuasaan memakai atau menggunakan yang terkandung dalam barang-barang modal. Modal meliputi baik modal dalam bentuk uang maupun dalam bentuk barang, misalnya mesin, ataupun barang-barang dagangan (Riyanto, 1993). Menurut Riyanto (1993) sumber-sumber penawaran modal diataranya yaitu: 1) Sumber internal yaitu modal yang dihasilkan sendiri. 2) Sumber eksternal yaitu modal dari luar perusahaan. 3) Supplier.4) Bank 5) Pasar modal.

 

 

 

B.Tenaga Kerja

Menurut Irwan dalam Suparmoko (1992) Keberhasilan pembangunan ekonomi salah satunya dipengaruhi oleh faktor produksi. Faktor-faktor produksi tersebut diantaranya adalah penduduk (Sumber Daya Manusia), yang dimaksud dengan penduduk dalam sumber daya manusia adalah penduduk dalam usia kerja. Dari segi penduduk sebagai faktor produksi maka tidak semua penduduk dapat bertindak sebagai faktor produksi, hanya penduduk usia kerja dalam arti sudah bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Sedangkan kelompok bukan angkatan kerja meliputi golongan yang bersekolah, golongan yang mengurus rumah tangga dan golongangolongan lain atau penerima pendapatan yaitu mereka yang menerima pensiunan, tingkat bunga atas simpanan, sewa atas milik dan mereka yang hidupnya tergantung pada orang lain seperti manula, penyandang cacat, narapidana serta penderita sakit kronis. Menurut Undang-Undang Tahun 1969 pasal 1 yaitu tentang ketentuan pokok mengenai tenaga kerja yang menyebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melaksanakan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan. Tenaga kerja merupakan suatu faktor produksi sehingga dalam kegiatan produksi diperlukan sejumlah tenaga kerja yang mempunyai keterampilan dan kemampuan tertentu sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Penduduk dalam suatu wilayah yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan kerja mereka dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas perusahaan. Tenaga kerja terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja, tingkat partisipasi angkatan kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

1) Jumlah penduduk yang masih bersekolah.

2) Jumlah penduduk yang mengurus rumah tangga.

3) Bagaimana suatu rumah tangga mengatur siapa yang bekerja, bersekolah dan mengurus rumah tangga.

4) Umur

5) Tingkat upah

6) Tingkat pendidikan

7) Kegiatan ekonomi. (Payaman, 1985).

Menurut (Winardi:1991) faktor-faktor yang mempengaruhi tenaga kerja adalah:

1) Produktivitas tenaga kerja hingga tingkat tertentu dipengaruhi oleh tenaga kerja keturunan, dari mana dia berasal dan iklim lingkungan yang tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan.

2) Sifat-sifat kesehatan, kekuatan, intelegensi, ambisi, kemampuan untuk menilai, ketekunan,    mempengaruhi produktivitas tenaga kerja.

3) Kondisi tempat kerja.

4) Tergantung kualitas dan metode dari organisasi perusahaan.

5) Berkaitan dengan upah yang diterimanya.

IMG-20180802-WA0056

  1. C.    Tingkat Pendidikan

Menurut Taufiq Effendi (2005:72) pendidikan adalah “segalah usaha yang bertujuan mengembangkan sikap dan kepribadian, pengetahuan dan ketrampilan” pendidikan sebagai tulang punggung kemajuan suatu Negara, menentukan tinggi rendahnya derajat dan kedudukan bangsa. Pendidikan yang efektif melahirkan anak-anak bangsa yang cerdas, bermoral dan memiliki etos kerja dan inovasi karya yang tinggi. Seluruh Negara maju sungguh telah meletakkan kebijakan pendidikan pada posisi terdepan: mendukung mengawal dan terus memperbaiki system pendidikan bagi rakyatnya.

Tingginya rata-rata tingkat pendidikan masyarakat sangat penting bagi kesiapan bangsa menghadapi tantangan global di masa depan. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan sesorang atau masyarakat untuk menyerap informasi dan mengimplementasikannya dalam perilaku dan gaya hidup sehari-hari, khususnya dalam hal kesehatan. Tingkat pendidikan formal membentuk nilai bagi seseorang terutama dalam menerima hal baru (Suhardjo, 2007).

 

IMG-20180802-WA0057

  1. D.    Pengalaman Usaha

Pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan pertambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun nonformal atau bisa diartikan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi.Suatu pembelajaran juga mencakup perubahan yang relatif tepat dari perilaku yang diakibatkan pengalaman,pemahaman dan praktek (Knoers & Haditono, 2009 dalam Asih, 2012). Purnamasari (2011) dalam Asih (20012) memberikan kesimpulan bahwa seorang karyawan yang memiliki pengalaman kerja yang tinggi akan memiliki keunggulan dalam beberapa hal diantaranya:Mendeteksi kesalahan, memahami kesalahan, dan mencari penyebab munculnya kesalalahan.

Pengalaman kerja seseorang menunjukan jenis-jenis pekerjaan yang pernah dilakukan seseorang dan memberikan peluang yang besar bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik. Semakin luas pengalaman kerja seseorang, semakin terampil melakukan pekerjaan dan semangkin sempurna pola berpikir dan sikap dalam bertindak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Abriyani Puspaningsih, 2004). Murphy dan Wrigth (2006) dalam Sularso dan Naim (2009) memberikan bukti empiris bahwa seseorang yang berpengalaman dalam suatu bidang subtantif memiliki lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya.

 Konsumen yang dituju (target consumer)

Tahap pertama dalam perumusan strategi pemasaran yakni dengan menentukan konsumen yang dituju. Usaha-usaha pemasaran akan lebih berhasil jika hanya ditujukan kepada konsumen tertentu saja, dan bukannya masyarakat secara keseluruhan. Konsumen yang dituju merupakan individu-individu yang harus dilayani oleh perusahaan dengan memuaskan.

  1. Bauran pemasaran/ marketing mix (4P)

Marketing mix adalah merupakan sekumpulan variabel-variabel tentang produk, harga, distribusi dan promosi dan merupakan variabel kebijakan dalam bauran pemasaran. Bauran pemasaran merupakan seperangkat alat yang dapat digunakan pemasar untuk membentuk karakteristik barang atau jasa yang ditawarkan kepada pelanggan. Jerome Mc-Carthy dalam Fandy Tjiptono merumuskan bauran pemasaran menjadi 4P (Product, Price, Promotion dan Place), adapun bauran pemasaran tersebut adalah:

1)  Produk (Product)

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan. Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kebijakan produk merupakan sebuah kebijakan yang diambil oleh perusahaan di dalam menyediakan barang atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan permintaan konsumen. Produk merupakan segala sesuatu yang berusaha ditawarkan oleh perusahaan kepada para konsumennya. Perusahaan berusaha menyesuaikan produk dengan kebutuhan calon pembelinya.

2)  Harga (Price)

Kebijakan harga berkenaan dengan kebijakan strategis dan taktis seperti tingkat harga, struktur diskon, syarat pembayaran pelanggan. Kebijakan mengenai harga jual harus disesuaikam berdasarkan seberapa besar konsumen mampu dan bersedia membayar barang atau jasa, hal ini harus disesuaikan juga dengan besaran daya beli konsumen sasaran produk. Penetapan kebijakan harga bukan hanya didasarkan pada kesediaan konsumen untuk membayar besaran harga suatu produk, namun lebih dari itu harus mempertimbangkan juga berapa besaran biaya yang ditetapkan bagi produk sejenis atau produk pesaing.

Dikarenakan apabila para pesaing dalam menetapkan harga jauh lebih murah dibanding produk yang kita tawarkan, maka dapat dipastikan pasar konsumen akan lebih mudah tertarik dan memilih produk yang harganya jauh di bawah produk yang kita tawarkan. Kecuali pasar konsumen memang bersedia membayar dengan harga tinggi untuk produk yang kita tawarkan.

3)  Distribusi (Place)

Kebijakan mengenai distribusi ialah menyangkut cara penyampaian produk ke tangan konsumen.Dapat disimpulkan bahwa perusahaan mempertimbangkan kapan dan di mana produk tersebut bisa diperoleh oleh konsumen ketika konsumen membutuhkannya. Perusahaan berusaha mendekatkan produknya dan mempermudah konsumen dalam memperoleh produk sebagai pemuas kebutuhannya kapan saja dibutuhkan.

4)  Promosi (Promotion)

Kebijakan yang diambil perusahaan dalam menyebarkan informasi mengenai produknya kepada konsumen, bahwa produk tersebut telah tersedia di  pasar dan produk tersebut mampu memberikan manfaat yang memadai serta mampu memuaskan kebutuhan konsumen. Sifat promosi selain yang telah disebutkan di atas yaitu untuk memperkenalkan produk kepada konsumen, juga dimaksudkan untuk merayu calon konsumen agar tergerak untuk melakukan tindakan pembelian terhadap produk yang ditawarkan.

Ibu Tiepuk memulai usahanya sejak 2016 yang lalu, dulunya ibu Tiepuk hanya pegawai uasaha batik yang ada di trenggalek, lalu belia berfikir kenapa tidak membuat usaha batik sendiri, ini lah yang membuat ia terjun dalam usaha batik tulis. Apa yang ia lakukan ini sangat di dukung oleh suami dan anak-anaknya, itu yang membuat ia bertambah yakin untuk memulai usahanya walaupun saat pertama kali memulai usaha ia merasa takut jika usahanya gagal.

Untuk permodalan ibu tiepuk melakukan dengan modal sendiri, dengan modal uang sebesar 2.000.000.00. Dengan uang itu ia memulai membuat batik dan hasilnya pun cukup bagus meskipun ia membuat batik tidak banyak karena modal yang terbatas, ia pun mencoba menjual batik liwat medsos seperti Instagram dan facebook. Karena ibu Tiepuk ingin usahanya terkenal dan ingin menambah ilmu agar batiknya tidak hanya batik tulis saja akhirnya ibu Tiepuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang di adakan dari Dinas Komidag trenggalek, dan hasilnya pun cukup bagus untuk membuat usahanya berkembang, ia pun juga sering diajak Dinas Komidag untuk acara pameran-pameran, setelah banyak mengikuti pameran akhirnya batik dari ibu Tiepuk ini menjadi terkenal dan batik dari ibu Tiepuk ini juga sering mendapatkan juara dari pameran tersebut, dan uangnya dijadikan untuk menambah modal.

Batik yang di biuat oleh ibu Tiepuk ini sekarang tidak hanya membuat batik tulis saja tapi sekarang sudah membuat batik tulis kombinasi batik cap, motif yang dibuat pun juga macam-macam seperti, motif batik bunga kapas, motif batik truntum cengkeh, motif batik anggrek bulan, motif batik arumi, dan masih banyak lagi, dalam perwanaanya ia menggunakan bahan alami dalam pembuatanya, dan sesekali menggunakan pewarna kimia, menuruti pemesanan saja.

 

  1. C.    Peran Bidang Usaha Mikro Dinas Komidag untuk Mengembangan Usaha Batik di Kabupaten Trenggalek

Dinas Koperasi dan Usaha Mikro dan Perdagangan Kabupaten Trenggalek Bidang Usaha Mikro mempunyai peran yaitu sebagai:

  1. Pembinaan, yaitu membina para ukm yang ada di kabupaten Trenggalek supaya lebih berkembang lagi.
  2. Memfasilitasi, yaitu bidang usaha mikro ini memberikan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan oleh para pelaku ukm yang kekurangan dalam hal alat-alat produksi.
  3. Pemodalan, yaitu bidan usaha mikro ini memberikan pinjaman modal kepada para pelaku usaha baik yang baru merintis usaha ataupun yang sudah melakukan usaha.
  4. Pemasaran, yaitu bidang usaha mikro juga membantu para pelaku usaha untuk melakukan pemasarannya.

 

  1. D.    Strategi Dinas Komindag Dalam Meningkatkan Pendapatan Pengusaha Mikro ( Batik Tulis dan Semi Kabupaten Trenggalek)

Berdasarkan hasil wawancara dari ibu Nurun Najmi selaku bidang pemasaran strategi pemasaran dalam meningkatkan pendapatan pengusaha mikro di Kabupaten Trenggalek yaitu Dinas Komindag Trenggalek mempunyai strategi untuk dapat meningkatkan pendapatan pengusaha mikro di Trenggalek dengan cara yaitu yang 1. Pengusaha tersebut harus mengisi  makanan di galeri Trenggalek yang disana ramai dikunjungi warga bahkan pembisnis nanti apabila disana banyak yang laku otomatis dapat menambah pendapatan. 2. Pengusaha harus juga rajin-rajin juga promosi di sosial media baik itu instagram, facebook, dan sebagainya supaya pengenalan produk bisa lebih luas. 3. Yaitu dengan adanya pameran diluar kota pihak Dinas Komindag dapat memasarkan produk/barang di pameran tersebut. Sebenarnya fungsi dari pameran tersebut untuk menjual barang yaitu melainkan untuk memasarkan produk /barang khas Trenggalek, supaya supaya pembeli castemernya lebih banyak lagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>