SEMINAR KURIKULUM MADRASAH DINIYAH DAN PENYUSUNAN PERANGKAT PEMBELAJARAN Bersama Dr. H. Akhmad Muzakki, M. A. (Kepala Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)

narasumber

Kamis, 7 Februari 2019, Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung mengakhiri libur semester gasal dengan mengadakan agenda perdananya di tahun 2019 yakni “Seminar Kurikulum Madrasah Diniyah dan Penyusunan Perangkat Pembelajaran”, agenda tersebut berlangsung di Aula Gedung Arief Mustaqiem Lt.6. Kegiatan ini dikhususkan bagi para asatidz/ah madin dan secara umum bagi asatidz/ah ma’had mukim. Dengan harapan, semoga sistem pembelajaran madin mampu tertata dengan lebih baik lagi. Hadir dalam kesempatan ini, Rektor IAIN Tulungagung, Dr. H. Maftukhin, M.Ag., Wakil Rektor III IAIN Tulungagung, Dr. H. Abad Badruzzaman, Lc., M.Ag., Mudir Ma’had al-Jami’ah Dr. K.H. Teguh, M.Ag., segenap Murobbi/ah Ma’had al-Jami’ah, serta para asatidz madin baik dari unsur HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo), LP. Ma’arif Tulungagung dan Jam’iyyatul Qurra’ wa al-Huffadz. Dan yang paling utama yakni narasumber kali ini beliau Dr. H. Akhmad Muzakki, M. A. yang merupakan Kepala Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 

Tepat pada pukul 09.30 WIB, acara Pembukaan “Seminar Kurikulum Madrasah Diniyah dan Penyusunan Perangkat Pembelajaran” dimulai. Yang dibawakan oleh Lailah Izzatul Maghfiroh, -Musyrifah Ma’had al-Jami’ah-, selaku MC acara. Susunan acara yang dibawakan olehnya dimulai dengan suratul fatihah, dilanjut dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an oleh Asma’ Barirotul Chotimah, -Musyrifah Ma’had al-Jami’ah-, kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Subbanul Wathon dengan diiringi dirigen Erlinda Siska Indriani –Musyrifah Ma’had al-Jami’ah-, lalu sambutan dari Bapak Maftukhin selaku Rektor IAIN Tulungagung. Beliau menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara seminar secara resmi.

Dalam sambutannya, beliau mengatakan bahwa “Selain “madin wajib” yang diikuti selama dua semester, mahasiswa dihimbau untuk mengikuti madin lanjutan. Yang bisa diikuti mulai semester III hingga lulus dari IAIN, karena belajar agama merupakan suatu keharusan.” Beliau menghendaki kepada para asatidz untuk mengarahkan mahasiswa supaya mengikuti madin lanjutan.

Di dalam pembelajaran madin, utamanya pada pengkajian kitab turotsy (kitab kuning) yang kecenderungan menggunakan pemaknaannya dengan bahasa Jawa (huruf pegon) akan melahirkan hal-hal yang lebih bermakna dibanding dengan bahasa Indonesia. Semisal dalam lafadz Bismillahirrohmanirrohim, yang dalam arti Indonesia yaitu “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang”. Nah, dari terjemahan tersebut apakah kita tahu perbedaan antara pengasih dan penyayang? Sekilas, nampak sama. Akan tetapi apabila diartikan dengan bahasa Jawa, akan menjadi “kelawan nyebut asmane Allah, ar-Rahman kang Moho welas asih ing ndalem ndunyo lan akherat, ar-Rahimi kang Moho welas asih ing ndalem akherot beloko”. (ulasan dari bapak Maftukhin mengenai lafadz basmalah) Terlihat jelas perbedaan maknanya antara ar-Rahman dan ar-Rahim.

Sebelum mengakhiri sambutannya, secara resmi beliau membuka “Seminar Kurikulum Madrasah Diniyah dan Penyusunan Perangkat Pembelajaran” dengan membaca surotul Fatihah. Beliau berharap semoga acara tersebut dapat berjalan lancar dan sukses. Amiin Ya Rabbal ‘Alamin…

Sambutan kedua disampaikan oleh Ustadz Teguh selaku Mudir Ma’had al-Jami’ah, beliau menyampaikan bahwa apresiasi para petinggi IAIN Tulungagung begitu besar, dibuktikan dengan kehadiran bapak Rektor yang selalu hadir dalam acara kema’had-an. Selain itu, dalam persoalan anggaran kema’had-an, yang mulanya tidak lebih dari satu milyar, di tahun 2018 kini mengalami peningkatan menjadi 1, 26 milyar.

Beliau juga menyampaikan bahwa kegiatan madin semester genap akan dimulai pada di hari Senin, 11 Februari 2019 bersamaan dengan jadwal akademik awal perkuliahan kampus IAIN Tulungagung. Di samping itu, beliau berharap semoga dalam seminar kali ini mampu memberikan gambaran kepada para asatidz dalam pembuatan RPP. Untuk mengetahui pemahaman dan penyerapan materi pada seminar kali ini, bapak mudir menghendaki pembuatan RPP bagi masing-masing asatidz/ah, baik asatidz/ah ma’had mukim maupun non mukim, di minggu pertama saat madin semester genap dimulai.

Seusai sambutan mudir ma’had, dilanjutkan dengan do’a yang dipimpin oleh Ustadz K.H. Bagus Ahmadi, M.Sy selaku asatidz madin. Dengan membaca do’a kafaratul majlis acara “pembukaan seminar” diakhiri.

Memasuki acara inti yakni “Seminar Kurikulum Madrasah Diniyah dan Penyusunan Perangkat Pembelajaran”, dipandu langsung oleh salah seorang murobbi Ma’had al-Jami’ah beliau Ustadz Muhamad Fatoni, M.Pd.I.. Sebelum pemateri menyampaikan pemaparan materi, terlebih dahulu moderator membacakan Curriculum Vitae Narasumber. Narasumber kali ini ialah Dr. H. Akhmad Muzakki, M. A. merupakan Kepala Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sekaligus Ketua Forum Mudir Ma’had PTKIN se-Indonesia.
Guna menyingkat waktu, moderator mempersilahkan narasumber untuk mengulas pembahasan materi mengenai “Kurikulum Madrasah Diniyah dan Penyusunan Perangkat Pembelajaran”.

Materi Pertama yakni terkait pengertian kurikulum secara umum, Menurut  UU. No. 20 Tahun 2003:  “Pengertian kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.” Begitulah konsep kurikulum menurut UU No. 20

“Yang terpenting adalah bagaimana nantinya tujuan nasional dapat tercapai sesuai dengan visi masing-masing dan Bagaimana nantinya kita susun kurikulum sebaik-baiknya sehingga visi misi bisa tercapai.” (Tegas narasumber)
“Tujuan pendidikan akan tercapai apabila ada kurikulum, kalau dalam pesantren dianalogikan sebagai Toriqoh (jalur yang pas dan benar sehingga tujuan bisa dicapai)”, ungkap Ustadz Muzakki.

Menurut beliau, apabila kurikulum dikaitkan dengan pembelajaran madin, menghasilkan suatu konsep sebagai berikut: “Konsep kurikulum tidak hanya mengacu pada pengertian kurikulum sebagai materi semata, melainkan jauh lebih luas dari itu, yakni menyangkut keseluruhan pengalaman belajar santri dalam lingkup koordinasi Madin”

Madin itu memiliki hal yang unik, uniknya dimana?, menurut paparan narasumber “Salah satu keunikan Madin adalah independensinya yang kuat, dimana masyarakat memiliki keleluasaan, tidak harus mengikuti model baku yang ditetapkan oleh pemerintah, tanpa harus mengikuti standarisasi dan kurikulum yang ketat.”

Kurikulum dalam sebuah pesantren ialah Kyai, dikatakan bahwa Kyai adalah Kurikulum, maksudnya adalah apabila seorang guru dapat menggunakan metode-metode pembelajaran yang menarik dan kreatif, maka akan memudahkan dalam mencapai tujuan pendidikan.

Selain itu, yang perlu diperhatikan yakni terkait perangkat kurikulum. Perangkat Kurikulum, terdiri dari 12 aspek, yaitu:

  1. Kalender Pendidikan
  2. Program Tahunan, adanya evaluasi setelah kurun waktu setahun.
  3. Program Semester, terkait dengan materi apasaja yang akan diberikan oleh mahasiswa.
  4. Silabus
  5. R.P.P
  6. L.K.S
  7. Materi Bahan Ajar
  8. Buku Absen
  9. Buku Jurnal
  10. Instrumen Penilaian Sikap
  11. Portopolio
  12. Bank soal

Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003: Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Proses yang dilakukan Guru untuk mengembangkan kreatifitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir Siswa (tumbuh dewasa, berkarakter yang baik, mandiri, percaya diri, dhadhi wong, dsb.).

Metode pembelajaran di Madin ada yang bersifat tradisional, yaitu metode pembelajaran yang diselenggarakan menurut kebiasaan, ada pula metode pembelajaran baru (tajdid), yaitu metode pembelajaran hasil pembaharuan di kalangan Madin dengan merekonstruksi metode-metode yang berkembang di masyarakat modern.

Macam-macam Metode Pembelajaran, secara umum sebagai berikut:

  1. Sorogan
  2. Wetonan
  3. Musyawarah (Bahtsul Masa’il)
  4. Pengajian Pasaran
  5. Demonstrasi/ Praktek Ibadah
  6. Hafalan (Muhafadzah)
  7. Muhawarah
  8. Mudzakarah

Ustadz Muzakki juga memaparkan terkait ayat-ayat al-Qur’an tentang madin, antara lain sebagai berikut:

1. Q.S. al-Baqarah ayat 129

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur`an) dan al-Hikmah (al-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Q.S. al-Baqarah ayat 151
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

2. Q.S. al-Imran ayat 164

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

3. Q.S. al-Jumu’ah ayat 2

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka al-Kitab dan al-Hikmah (al-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata

Perlu diketahui pula, proses pembelajaran yang harus dilalui:

1. Tilawah

Adalah proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Makna tilawah awalnya adalah mengikuti (tabi’a atau ittiba’a) secara langsung tanpa pemisah, yang secara khusus berarti mengikuti kitab-kitab Allah, baik dengan cara qiro’ah (intelektual) atau menjalankan apa yang terkandung di dalamnya (ittiba’).

Singkat kata, tilawah dapat diartikan sebagai membaca yang bersifat spiritual atau aktifitas membaca yang diikuti komitmen dan kehendak untuk mengikuti apa yang dibaca dengan disertai sikap ketaatan dan pengagungan. Oleh karena itu, dalam al-Qur’an kata tilawah lebih sering digunakan kata qira’ah dalam konteks tugas para rasul. Hal yang terpenting dalam tilawah yakni implementasi dalam kehidupan sehari-hari.

2. Tazkiyah

Tazkiyah berasal dari kata “zakka-yuzzaki-tazkiyah” yang maknanya sama dengan “tathir” yang berasal dari kata “thahhara-yuthahhiru-tathir” yang berarti pembersihan, penyucian atau pemurnian.

3. Ta’lim

Secara bahasa ta`lim berarti pengajaran (masdar dari ‘alama-yu’alimu-ta’liman), secara istilah berarti pengajaran yang bersifat pemberian atau penyampian pengertian, pengetahuan dan ketrampilan. Jadi, ta’lim merupakan proses pemberian pengatahuan, pemahaman, pengertian, tanggung jawab, sehingga diri manusia itu menjadi suci atau bersih dari segala kotoran, siap menerima hikmah dan mampu mempelajari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya. Atau sebuah usaha terus menerus manusia sejak lahir hingga mati untuk menuju dari posisi ‘tidak tahu’ ke posisi ‘tahu’.

Begitulah pemaparan materi dari beliau Dr. H. Akhmad Muzakki, M. A., untuk selanjutnya, moderator memberikan waktu bagi audien bertanya atau menangapi materi yang telah disampaikan. Seusai tanya jawab, sekitar pukul 12.00 WIB acara seminar ditutup oleh moderator. Dan dilanjutkan penyerahan sertifikat pemateri oleh Mudir Ma’had al-Jami’ah Dr. K.H. Teguh, M.Ag., kepada Dr. H. Akhmad Muzakki, M. A.

murobbi

Dokumentasi pemateri dengan segenap murobbi/ah ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung

Mohon maaf jika ada kesalahan

Sekian,

Terimakasih dan semoga bermanfaat

Oleh: Nihayah (Musyrifah Ma’had Al-Jami’ah IAIN Tulungagung)

Tulungagung, 8 Februari 2019

PENUTUPAN DAUROH TAHFIDZ KE-V MA’HAD AL-JAMI’AH IAIN TULUNGAGUNG DI MA’HAD BUSTANU ‘USYAQIL QUR’AN TAHUN AKADEMIK 2018/2019

IMG-20190208-WA0031

Oleh: Nihayah (Musyrifah Ma’had al-Jami’ah)

Bil Hammasah wal Mumtazah Allahu Akbar!!! inilah jargon kami-Santri Ma’had Bustanu ‘Usyaqil Qur’an (MBUQ)- yang dicetuskan kali pertama oleh Ustadzah Istihabbil Imamah, S.Pd. selaku, pendamping kegiatan Dauroh Tahfidz Al-Qur’an periode ke-V. Jargon tersebut riuh terdengar penuh semangat dan serempaksaatacara tersebut.Sabtu, 2 Februari 2019 M (27 Jumadil Ula 1440 H) pukul 08.00 WIBdi Masjid Baitul Muhajirin Kaliwungu-Ngunut-Tulungagung. Semangat menggelora dari mereka terlihat jelas namun di dalam lubuk hatinya terdapat sendu yang mungkin sulit untuk dihapuskan.Perjalanan panjang telah mereka lalui bersama,kini mau tidak mau  harus berpisah untuk bersua di liburan semester yang akan datang.InsyaAllah

Seperti yang penulis paparkan pada postingan enam minggu yang lalu (Pembukaan Dauroh Tahfidz Al-Qur’an Angkatan V)bahwa, dauroh Tahfidz Al-Qur’an dilaksanakan setiap libur semester yang dilaksanakan kurang lebih satu bulan penuh. Dauroh kali ini berlangsung sekitar enam minggu dikarenakan banyaknya jumlah peserta. Oleh karena itu, disiasati menjadi dua gelombang dan masing-masing mendapat jatah 3 minggu. Dalam penutupan Dauroh Tahfidz Al-Qur’an ke-V semua berkumpul menjadi satu. Acara penutupan dauroh kali ini nampak berbeda dari periode sebelumnya, di samping agenda utama “Khataman bagi peserta bin-Nadri wa bil-Ghoib”akan tetapi juga ada tambahan tampilan dari santri yang telah dipersiapkan kurang lebih dua minggu sebelum hari-H. Mereka sangat luarbiasa, dengan jadwal ngaji yang begitu padat, mereka menyempatkan waktu dan tenanganya untuk mempersiapkan tampilan demi menyukseskan acara akbar tersebut.

Akan kami paparkan agenda selama “PENUTUPAN DAUROH TAHFIDZ ANGKATAN KE-V” mulai dari pra acara, inti acara, sampai pasca acara.

Pra acara, sebelum menginjak acara inti ada beberapa tampilan, mahakarya santri Ma’had Bustanu ‘Usyaqil Qur’an. Pra acara kali ini dipandu oleh MC yang sangat kece pastiya. Dialah Ukhty Nasriyatul Akhadiyah (IAT/V) dengan ditemani oleh ukhty Ana Mazida (PGMI/VII). Dengan luwesnya mereka memandu pra acara tersebut, sehingga suasana nampak seru dan santai.

Pra acara dimulai dengan lantunan sholawat yang dipersembahkan oleh “Group Sholawat Al-Muhibbin” dengan personil kurang lebih 15 kang santri. Sholawat ini dijadikan pembuka acara dengan maksud semoga Ridho Allah menyertai kami dan syafa’at Rasulullah senantiasa mengiringi perjalanan kami. Tampilan selanjutnya yaitu “Karaoke Islami” dengan beberapa lagu yang dibawakan oleh Ukhty Asma’ Barirotul Chotimah (PBA/V)dan Ukhty Nurif Fikrotul Qibtyah (PAI/III). Suara merdu nan syahdu mereka, mencairkan suasana di acara tersebut. Tampilan ke-3 yakni, “Rodhat” yang dibawakan oleh lima santri atas nama

  1. Lailatus Salamah(IAT/I)
  2. Dwi Oktavia Puspa Mulia(PGMI/III)
  3. Luthfi nur Laili Aida(PGMI/V)
  4. Maziyatul Hikmah(IAT/I)
  5. Nurul Maulidiyah(T.Kim/III)

Tampilan ini membutuhkan kekompakan yang tinggi sehingga enak dipandang dan dinikmati seluruh tamu undangan.Pra acara tersebut kemudian ditutup dengan kreasi tampilan Cup Song (nyanyian cangkir). Dengan jumlah personil delapan, antara lain:

  1. Rikhanatul Azizah (IAT/III)
  2. Firda Ainin Fitria (PBA/V)
  3. Noviana Oktavia (PGMI/III)
  4. Nihayah (TMT/III)
  5. Mbak Arini Sabila Nafi’a (putri Ustadz Marzuki duduk di kelas III MI Qurrota A’yun)
  6. Liyana Amimasturoh (ES/III)
  7. Muthmainnatun Nafi’ah (IAT/VII)
  8. Neneng Khoirun Nisa’ (BSA/I)

Tampilan yang membuat keren yakni hadirnya mbak Arini yang luarbiasa, personil paling kecil diantara mbak-mbak yang lain. Meskipun kecil namun tekad dan kemampuannya begitu besar. Dengan waktu tidak lebih dari seminggu, mbak Arin mampu mengikuti Cup Song dengan lanyah, dan ketika tampil dia begitu enjoy. Begitulah kecerdasan putri dari Ustadz Marzuki.

Setelah pra acara diakhiri, MC dialihkan kepada Ukhty Siti Maslahatul Ummah (IAT/III) dan Ukhty Imna Indana Zulfa (PAI/I)yang bertugas memandu acara inti yakni “Penutupan dan Khataman Bin-Nadhri wa bil-Ghoib”. Acara dimulai dengan pembukaan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci al-Qur’an oleh Ukhty Nurif Fikrotul dengan harapan semoga acara bisa berjalan lancar sesuai yang diharapkan. Acara selanjutnya yakni “Prosesi Wisuda” bagi khatimat bin-Nadhri wa bil-Ghoib dengan iringan lantunan sholawat yang dibawakan oleh Ukhty Asma’ Barirotul Chotimah.

Setelah sampai di atas panggung prosesi wisuda, mereka duduk kemudian membaca ayat-ayat suci al-Qur’an mulai dari surah al-Takatsur sampai pada surat an-Nas dengan versi nada ummi. Setelah itu, ustadz Marzuki disilahkan untuk memimpin do’a khotmil Qur’an. Lalu, dilanjut dengan penyerahan syahadah dan sanad oleh ustadz Marzuki, S.Th.I, M.Pd.I bersama Dr. KH. Teguh, M.Ag.selaku Mudir Ma’had Al-Jami’ah IAIN Tulungagung. Diawali dari khatimat bin-Nadhri dilanjut oleh khatimat bil-Ghoib.

Khatimat bin-Nadhri dengan jumlah sebelas santri atas nama:

  1. Dina Nurhanifah (PS/III)
  2. Amalia Fitra Lutfiah(PGMI/III)
  3. Novita Ratna Sari(T.BIO/III)
  4. Siti Sa’diyah(PAI/I)
  5. Lutfiatuzzulfa(PAI/I)
  6. Shofi Nailatul Muyassaroh(MPI/III)
  7. Lailatul Musofingah(TMT/III)
  8. Asmaritafauzia(PAI/III)
  9. Retno Eva Nazila(PAI/I)
  10. Nurul Badi’ah(PIAUD/I)
  11. Rohadatul ‘Aisy Taoly(HKI/III)

Sedangkan, khatimat bil-Ghoib berjumlah lima santri, atas nama:

  1. Desi Rahmawati, S.Pd
  2. Indrawati(PBA/V)
  3. Naili Husna(BSA/III)
  4. Izzatul Amalina(PAI/III)
  5. A’yunin Nadzifah(PAI/V)

Seusai prosesi wisuda, kemudian di lanjutkan dengan sambutan oleh Ustadz Marzuki, S.Th.I., M.Pd.I selaku pengasuh Ma’had Bustanu ‘Usyaqil Qur’an, beliau melaporkan kepada para undangan bahwasanya jumlah peserta khatimat bin-Nadhri (membaca al-Qur’an 30 juz, ditambah menghafal juz 30 serta surat-surat pilihan) berjumlah 11 santri dan yang bil-Ghoib (menghatamkan Al-Qur’an dengan menghafal) ada 5 santri. Disamping itu beliau juga mengapresiasi kreatifitas santri, yang telah mempersembahkan kreasinya demi menyemarakkan acara penutupan dauroh kali ini. Kekaguman beliau nampak terlihatpada semangat santri yang telah menyempatkan waktunya untuk berlatih dan menyiapkan penampilan terbaik, di sela-sela jadwal ngaji yang full.

Tak lupa beliau melaporkan kepada Mudir Ma’had Al-Jami’ah IAIN Tulungagung bahwa dauroh tahfidz semester ini nampak berbeda dibanding dengan dauroh periode sebelumnya.  Dikarenakan jumlah peserta yang begitu banyak sekitar 100 santri, sehingga dijadikan dua gelombang.

Selanjutnya, beliau menyampaikan beberapa pesan yang ditujukan kepada wali santri wabil khusus kepada para santri. Melihat begitu mirisnya keadaan zaman sekarang, beliau mengharapkan santri memiliki karakter yang baik. Karena karakter tersebut sangat dibutuhkan oleh generasi muda untuk membangun negara dan memajukan agama. Kita ketahui bahwa hampir semua santri MBUQ adalah seorang mahasiswa, oleh karenanya harus dipersiapkan juga kompetensi/keahlian masing-masing guna menjawab berkembangan zaman. Dalam hal kompetensi yangperlu dipahami juga yakni 3K, 3K ini harus ada pada diri mahasiswa, yakni:

  1. Kritis,
  2. Kreatif,
  3. Komunikatif, harus mampu berkomunikasi dengna sispapun, harus mampu mengomunikasikan dengan ilmu yang dimiliki

Selanjutnya hal lain yang hendaknya dipersiapkan adalah Literasi, (membaca) di dalam Al-Qur’an telah termaktub perintah untuk membaca:Iqro’.Tiga komponen tersebut (karakter, kmpetensi, dan literasi) telah terangkum di dalam dauroh tahfidz. Dalam kurun waktu tiga minggu, kegiatan ini mampu menanamkan pendidikan karakter dibuktikan salah satunya dengan kebiasan bangun tidur sebelum subuh, misalnya. Semoga aktifitas yang telah dibangun di dalam dauroh dapat tetap terjaga serta dilaksanakan dimanapun dan kapanpun.

Motivasi terakhir dari beliau: “Apresiasi dari kampus IAIN Tulungagung kepada penghafal al-Qur’an 30 Juz yaitu mendapatkan penghargaan berupa beasiswa pendidikan dari bapak rektor. Dan bagi yang belum selesai 30 juz, atau sekitar 20 Juz juga bisa mendapatkan beasiswa. Bagi yang belum khatam “TETAP SEMANGAT UNTUK MENYELESAIKAN HAFALANNYA””.

Setelah pengasuh Ma’had Bustanu ‘Usyaqil Qur’an menyampaikan sambutannya, kini giliran Mudir Ma’had Al-Jami’ah IAIN Tulungagung beliauDr. KH. Teguh, M.Ag. Menurut pemparan beliau, mahasantri dididik untuk manghafal al-Qur’an sejatinya, untuk mengembalikan al-Qur’an sebagaimana awal mula kedatangannya. “Al-Qur’an yang hakiki adalah yang tertanam di dalam hati” quotes dari beliau. Inilah yang membedakan kitab suci al-Qur’an dengan kitab suci lainnya. Sesuai janji Allah Subhanahu wa Ta’ala “menurunkan al-Qur’an itu dalam bentuk yang mudah untuk dihafal”  dan firman Allah “Inna nahnu nazzalnaa dzikra wa inna lahu la khaafidzun” (Q.S. Al-Hijr: 9)

Ustadz Teguh juga memberikan apresiasi yang luarbiasa atas terlaksananya kegiatan dauroh tahfidz ini, khususnya bagi para santri. Karena apa? Karena, mereka telah merelakan waktu liburannya demi menimba ilmu al-Qur’an di semester ini. Mereka tergolong orang yang hebat.

Dikatakan pula bahwa seseorang yang lahir di dunia memiliki sedulur papat limo pancere. Penjelasannya sebagai berikut; Dulur papat yaitu nafsu lawwamah, sufi’ah, amarah, dan muthmainnah. Dan limo pancere yaitu al-Quran.

Dalam do’a pembukaan ketika hendak membaca al-Qur’an, yang selalu kita lantunkan, terdapat makna yang begitu dalam. Beliau mengulas satu persatu dari syair do’a tersebut. Allahummar hamna bil Qur’an waj’al hulana imama. Al-Qur’an dijadikan imam atau panutan yang akan menuntut ke jalan yang lurus. Waj’al huli imama wa nura, dan sebagi cahaya ketika di alam kubur kelak, segala yang dimiliki di dunia tidak akan kita bawa di alam kubur. Namun hanya al-Qur’an yang akan menyinari jalan kita. Allahumma dzakkirna min huma nasina, seseorang pada hakekatnya adalah pelupa, oleh karena itu al-Qur’an menjadikan kita selalu ingat. Wa ‘allimna min huma jahilna, semoga Allah memberikan petunjuk bagi kita dengan apa yang tidak kita ketahui. Sehingga dengan do’a tersebut akan menjadikan kita mampu bersemangat dalam mencintai al-Qur’an.

Setelah memaparkan sekilas mengenai do’a al-Qur’an kemudian Ustadz Teguh secara resmi menutup acara dauroh tahfidz al-Qur’an angkatan V di Ma’had Bustanu ‘Usyaqil Qur’an dengan membaca tahmid.

Setelah mauidhoh dari beliau, MC kemudian naik untuk menutup rangkaian acara. Begitulah kiranya acara “Penutupan dan Khataman bin-Nadri wa bil-Ghoib” dilaksanakan dengan lancar. Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin

 

Sekian..

Terimakasih, semoga bermanfaat

Tulungagung, 5 Februari 2019

 

Dauroh Tahfidz ke-V Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung

IMG-20181224-WA0010

Oleh:

Istihabbil Imamah, S.Pd.I (Eks. Musyrifah Ma’had al-Jami’ah)

Nihayah (Musyrifah Ma’had al-Jami’ah)

Delapan tahun silam telah berdiri kokoh bangunan megah nan indah, yang dipenuhi oleh generasi muslimah pelopor kemajuan bangsa dan agama. Sudah tak asing lagi bagi masyarakat seluruh penjuru dunia. Ya… dialah Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung. Keberadaanya tepat di desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Ma’had berhasil diresmikan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada tahun 2010.Kemudian di tahun 2011, ma’had baru dapat difungsikan secara total, khusus bagi para mahasiswa perempuan semester satu IAIN Tulungagung.

Melihat komitmen ma’had  begitu besaruntuk menjawab segenap problema bangsa dan agama yang notabennya semakin hari semakin rumit, tentunya ma’had memiliki berbagai program yang dapat mewujudkan cita-cita tersebut. Diantaranyayakni program peningkatan keterampilan di bidang akademik, bahasa, dan keagamaan. Khusus pada peningkatan bidang akademik, ma’had mencanangkan kegiatan rutinan akbar yang cukup menarik perhatian segenap mahasiswa IAIN Tulungagung, wabil khusus para mahasantri ma’had al-Jami’ah. Sebut saja “Dauroh Tahfidz Al-Qur’an”, kini terhitung telah berjalan dua setengah tahun tepat kali kelima agenda ini diselenggarakan, setiap libur semester sesuai jadwal akademik kampus IAIN Tulungagung, dauroh dilaksanakan kira-kira selama tiga puluh hari atau satu bulan penuh.

Dauroh Tahfidz Al-Qur’an merupakan agenda rutin yang diprogramkan JQH (Jam’iyah Qura’ wa Huffadz) Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung. Tempat pelaksaanya berbeda dengan kegiatan ma’had biasanya. Ada kawasan khusus untuk program ini yaitu tepatnya di Dusun Umbutsewu, Desa Kaliwungu, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung. Maktab ini dinamakan Ma’had Bustanu ‘Usyaqil Qur’an.Ma’had tersebut didirikan oleh salah satu Murobbi  (pengasuh) ma’had al-Jami’ah bagian tahfidzul Qur’an,beliau ustadz Marzuki S.Th.I., M.Pd.I. tempat tersebut sementara ini hanya dikhususkan bagi kaum hawa (santriwati) tidak lebih dari 70 orang, dikarenakan ma’had masih dalam proses pembangunan dan belum memadai untuk menampung banyak orang.

Peserta dauroh tahfidz al-Qur’an terdiri atas mahasantri program tahfidz ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung dan sebagian dari mahasantri non mukim (mahasiswa IAIN Tulungagung). Yang tercatat ada 103 pendaftar, yang membuat pengurus untuk sigap menangani pendaftar sebanyak itu. Oleh karena itu, tampak berbeda pada periode ini, akan terdapat dua gelombang. Gelombang pertama dilaksanakan pada tanggal 18 Desember 2018 sampai 14 Januari2019 sedangkan gelombang kedua dilaksanakan tanggal 15 Januari sampai 16 Februari 2019

 

Selasa malam (ba’da maghrib), 18 Desember 2018 agenda ke lima Dauroh Tahfidz Al-Qur’an resmi dibuka oleh ustadz Marzuki, S.Th.I., M.Pd.I dengan pembacaan Istighosah, Surah Yasiin, dan Surah Waqi’ah di masjid Baitul Muhajirin bersama mahasantri gelombang pertama dauroh tahfidz ke-V. Dengan harapan mampu mendapat ridho Allah dalam terlaksananya dauroh tahfidz tahun ini. Disamping itu beliau juga menyampaikan tata tertib kegiatan ini serta dilanjut pemaparan adab mengaji yang baik dan benar.

Ustadz Marzuki memberikan apresiasi yang luar biasa kepada seluruh peserta Dauroh Tahfidz Al-Qur’an ke-V ini, yang telah menyempatkan waktu liburannya untuk mengaji di tempat beliau, tak lupa beliau menyampaikan pesan “niatkan dauroh ini, semata-mata mengharap ridho Allah”.

Sesuai yang penulis paparkan pada bagian atas, Peserta dauroh tahfidz Al-Qur’an periode kelima ini tercatat ada 103 santriwati. Dengan rician program pemula 1 orang, bin-Nadhor 11 orang, dan bil-Ghoib sisanya yaitu 91 orang. Pada gelombang pertama ada sekitar 60 orang dan pada gelombang kedua 63 orang.

Meskipun nama kegiatan ini adalah dauroh tahfidz al-Qur’an, tidak lantas mewajibkan seluruh pendaftar adalah para penghafal al-Qur’an. Akan tetapi, kegiatan ini merupakan wadah bagi semua yang berkeinginan ta’limul Quran. Sehingga dalam dauroh tahfidz, terdapat 3 program khusus, antara lain:

  1. Program pemula
  2. Program bin-Nadhor
  3. Program bil-Ghoib (tahfidz)

Pertama, program pemula yang dikhususkan bagi mahasiswa yang sama sekali belum mengenal al-Qur’an, belum mengetahui secara mendalam terkait ilmu tajwid, huruf hijaiah, makharijul huruf, dan sebagainya. Dalam program tersebut ustadz Marzuki akan membimbing dengan penuh kesabaran. Teknis ngajinya yaitu tetap sorogan apa yang sudah dikuasi, selebihnya pembenaran akan disampaikan oleh ustadz secara langsung (tatap muka).

Kedua, program bin-Nadhor (dengan melihat), maksud dari program tersebut yaitu membaca al-Qur’an dimulai dari surah al-Fatihah hingga surat an-Nass selama kurun waktu satu bulan penuh. Sehingga outputnya yaitu mampu mengkhatamkan al-Qur’an 30 Juz dengan melihat (tanpa menghafal). Semua ini untuk melatih kemampuan membaca al-Qur’an dan untuk meningkatkan kecintaan terhadap al-Qur’an. Teknis pelaksanaannya yaitu hampir sama dengan program pemula yaitu tatap muka secara langsung. Setiap tatap muka sekitar limahalaman, dan satu hari lima kali tatap muka (ba’da subuh, waktu dhuha, ba’da dhuhur, ba’da mahrib, dan ba’da isya’) sehingga dalam satu hari mampu mengaji satu juz lebih. Disamping itu ustadz juga meminta para santri untuk mengahafalkan surat-surat khusus diantaranya, surah Yasiin, surah al-Waqi’ah, surah al-Mulk, dan surat-surat pendek (juz 30). Dan diakhir dauroh akan ada wisuda akbar bagi mereka disertai pemberian sanad beserta syahadah oleh ustadz Marzuki.

Ketiga, program bil-Ghoib yakni program yang dikhususkan bagi para pejuang al-Qur’an dengan menghafal. Para hafidzoh bahasa kerennya, nah… pada program ini tidak hanya bagi santri yang telah memiliki celengan hafalan sebelumnya. Akan tetapi, juga mewadahi bagi santri yang baru memulai menghafal al-Qur’an. Untuk teknisnya yakni sorogan al-Qur’an yang dilakukan sebanyak tiga kali yaitu ba’da subuh, ba’da dhuhur, dan ba’da isya’. Di sela-sela waktu tersebut diselipkan kegiatan muroja’ah (Deresan al-Qur’an) dengan tujuan untuk menguatkan apa yang telah dihafalkan dan untuk mempersiapkan ayat yang akan di setorkan di waktu selanjutnya. Dari pengalaman taun lalu, output yang dihasilkan tercatat kurang lebih lima juz yang mampu dihafalkan oleh santri selama kurun waktu 30 hari. Sama halnya dengan program bin-Nadhor, jika ada santri yang telah mampu mengkhatamkan al-Qur’an 30 Juz akan diadakan wisda akbar bil-Ghoib bebarengan dengan wisuda bin-Nadhor.

Ketiga program tersebut dipegang langsung oleh ustadz Marzuki, S.Th.I., M.Pd.I dengan dibantu oleh ustadzah Istihabbil Imamah, S.Pd. semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, sehingga kegiatan dauroh tahfidz dapat berjalan dengan sebaik-baiknya. Dan di tahun depan pembangunan Ma’had Bustanu ‘Usyaqil Qur’an selesai dengan baik.

Itulah sekilas terkait pembukaan dauroh tahfidz periode ke-V Ma’had Bustanu ‘Usyaqil Qur’an.

Pembukaan Dauroh Ta’lim Al-Turatsy Angkatan III Tahun Akademik 2018-2019

Pembukaan Dauroh Ta’lim Al-Turatsy Angkatan III

Tahun Akademik 2018-2019

Penulis: Nihayah (Musyrifah Ma’had al-Jami’ah)

 IMG-20181212-WA0018

Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung,  kembali menggemparkan isi jagad raya. Tidak berselang lama dari acara Seminar At-Tashil  maupun Khatmil Qur’an Kubro kemarin, ma’had kembali mengadakan agenda besar yakni Dauroh Ta’lim Al-Turatsy. Dauroh Ta’lim Al-Turatsy ini merupakan inovasi dari program ma’had terdahulu. Tercatat sampai saat ini, daurah ta’lim sudah berlangsung sebanyak 3 kali, yakni pada liburan semester gasal 2016, 2017 dan 2018. Daurah ini dilaksanakan selama 21 hari, mulai hari Senin sampai dengan hari Sabtu dengan beragam kajian kitab. Dauroh ta’lim al-Turatsy merupakan kegiatan yang mengkaji dan mengulas secara lebih mendalam mengenai kitab-kitab turats atau kitab kuning.

Tepat pada hari Rabu, 12 Desember 2018 pukul 08.19 WIB dilaksanakan Pembukaan Dauroh Ta’lim Angkatan ke-3, di lantai V Gedung Pasca Sarjana IAIN Tulungagung. Acara ini, dihadiri oleh Wakil Rektor III (bapak Dr. H. Abad Badruzzaman., Lc., M.Ag.), Mudir Ma’had al-Jami’ah (Dr. K.H. Teguh., M.Ag), segenap murobbi, murobbiah, dan mahasantri Ma’had al-Jami’ah.Tercatat sejumlah 320 mahasantri mukim di asrama mahad al-jami’ah dan 50 mahasantri non mukim ma’had al-jami’ah turut serta ambil bagian dalam kegiatan ini. Acara Pembukaan ini di pandu oleh dua mahasantri yang didelegasikan untuk membacakan susunan acara, dengan 3 bahasa sekaligus. Yaitu, bahasa Arab, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Atas nama Lia Ni’matul Maula dari jurusan Pendidikan bahasa Arab dan Khanza Adawiyah Sasmita dari jurusan Tadris IPS.

Acara ini dibuka dengan bacaan basmalah, kemudian dilanjutkan pembacaan ayat suci al-Quran yang dibacakan oleh Siti Isna Amimatul Mutamimah dari jurusan Hukum Keluarga Islam (HKI) yang juga merupakan mahasantri mukim di asrama Ma’had al-Jami’ah. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Ustadz Dr. K.H. Teguh., M.Ag. selaku Mudirul Ma’had al-Jami’ah, beliau menyampaikan beberapa hal diantaranya:

  1. Apresiasi kepada bapak Dr. Abad Badruzzaman., Lc., M.Ag.yang menyempatkan hadir untuk membuka acara dauroh ta’lim tahun ini
  2. Melaporkan kegiatan dauroh ta’lim dengan jumlah peserta kurang lebih 370 mahasantri dengan perincian 320 mahasantri ma’had mukim dan 50 lainnya mahasantri non mukim, disamping itu juga menyinggung sedikit mengenai dauroh tahfidz yang insya Allah akan dimulai pada tanggal 18 Desember 2018.
  3. Melaporkan kepada bapak Wakil Rektor III, bahwa pelaksanaan madin lanjutan yang diinstruksikan oleh bapak Rektor berhasil dilaksanakan dengan jumlah kelas mencapai lima kelas.
  4. Penyampaian 5 kitab yang dikaji, yaitu kitab Minahus Saniah (Ustadz Muhamad Fatoni, M.Pd.I), Majmu’ ‘Ala Arba’i Rasa’il (Uastadz Rohmat S.Hum., M.Pd.I), Sullamut Taufiq (Ustadzah Ashima Faidati, M.Sy), Risalatul Mahid (Ustadzah Saudah), dan Akhlaqul Banat (Ustadzah Fauziyah Uzayinanna, M.Pd) yang dilaksanakan hari Senin sampai hari Sabtu, dari pukul setengah delapan pagi hingga setengah empat sore.

Mengutip sambutan beliau, mudirul ma’had: “Pada hakekatnya, kitab Turatsy merupakan kitab yang dijadikan sandaran para cendekiawan dalam menguatkan pendapat mereka.” Kitab turats dianggap sebagai rujukan dan referensi yang kuat dalam dunia akademik secara keseluruhan. Karenanya, mempelajari kitab turats adalah hal penting terutama bagi kampus yang bernuansa islam.

Di akhir sambutannya, Mudir Ma’had al-Jami’ah, Dr. K.H. Teguh, M.Ag., memohon kepada bapak Wakil Rektor III,  Dr. H. Abad Badruzzaman., Lc., M.Ag. agar berkenan memberi sambutan sekaligus pengarahan kepada pengelola dan mahasantri pada umumnya dan membuka acara dauroh Ta’lim al-Turatsy.

Di awal sambutannya Wakil Rektor III,  Dr. H. Abad Badruzzaman., Lc., M.Ag.,  dengan lihainya menyampaikan sambutan dengan bahasa Arab dan Inggris, namun karena melihat sebagian audien kurang memahami apa yang disampaikan, beliau mengganti bahasanya dengan bahasa Indonesia.

Sebenarnya ada 3 agenda bersamaan, namun kecintaan beliau pada Ma’had al-Jami’ah, nampaknya lebih mendorong beliau untuk “menghadiri agenda Ma’had al-Jami’ah” meski dengan menu yang ala kadarnya. Sontak saja, hal tersebut disambut dengan riuh tepuk tangan dari para mahasantri yang hadir.

Beliau menyampaikan bahwa komitmen pimpinan terhadap kegiatan Ma’had al-Jami’ah begitu besar. Akan tetapi, terkait anggaran dana untuk menopang kegiatan belum seluruhnya bisa dipenuhi. Dikarenakan, agenda kampus terkait bidang kemahasiswaan sangatlah banyak. Beliau meyakinkan bahwa secara ruhiyah, hal tersebut tidak akan menurunkan komitmen pimpinan untuk senantiasa memberikan dukungan penuh terhadap Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung. Kedua, beliau sampaikan apresiasi yang luar biasa kepada para jajaran murobbi dan murobbiah yang telah menyumbangkan dedikasinya untuk mengelola ma’had. Beliau memberikan saran apabila, para murobbi dan murobbiah mulai lelah dalam mengabdi untuk senantiasa mengingat jargon kemenag yaitu “Ikhlas Beramal”, sontak hal itu mengundang tawa audien yang memecahkan suasana.

Kemudian, beliau mengutip sebuah hadits riwayat Abu Muslim; “Man salaka thoriiqon, yaltamisu fihi ‘ilman sahhalallahu lahu thoriqon ilal jannati” yang artinya, barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga. Secara tidak langsung seorang yang menuntut ilmu, berarti ia sedang menempuh jalan menuju surga.

Beliau juga memberi wejangan kepada mahasantri, terkait dengan dedikasi para asatidz wa asatidzah yang tidak diragukan lagi. Pengabdian mereka sangat besar, keikhlasan mereka dalam mendidik mahasantri begitu besar, dibanding aturan-aturan yang mereka berikan kepada mahasantri. Terbukti, tanpa mengenal lelah, meski tanpa diimbangi materiil yang memadai, mereka tetap saja mendidik dengan penuh semangat.

Disamping itu beliau juga sampaikan bahwa, beliau tidak peduli dengan mereka yang melakukan klaim negatif sepihak kepada IAIN Tulungagung dalam mengelola Ma’had al-Jami’ah, bahwa kelemahan IAIN Tulungagung adalah dalam hal pembinaan keagmaan. Menurut beliau hal itu adalah salah besar. Semaraknya pembinaan keagamaan yang diusung Ma’had al-Jami’ah hingga menyedot perhatian khalayak, salah satunya adalah kegiatan tersebut Dauroh Ta’lim al-Turatsy merupakan bukti kuat untuk menampik klaim miring tersebut. Belum lagi, kemarin Khatmil Qur’an Kubro untuk menutup pembelajaran madin semester gasal, hari ini ada daurah ta’lim, tanggal 18 dimulai daurah tahfidz merupakan bukti kuat akan semakin meningkatnya pembinaan keagamaan di kampus Dakwah dan Peradaban. Beliau mengatakan, “Biarlah kita buruk di mata manusia, tetapi kita dalam pandangan Allah Swt.”

Di akhir sambutannya, kembali beliau memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para asatidz wa asatidzah, dan para mahasantri yang memilih mengaji dan mengkaji ilmu di sela-sela libur semester, kata beliau “Pasti Ini Tidak Akan Sia-Sia”. Akhirnya, beliau membuka acara dauroh Ta’lim secara resmi pukul 08.58 WIB dengaan mengucap “Bismillahirrohmanirrohim.”

Setelah rangkaian sambutan disampaikan, kemudian penyerahan simbolik kitab Minahus Saniyah dan Sulaut Taufiq oleh Wakil Rektor III, Dr. H. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag., kepada Ustadz Muhamad Fatoni, M.Pd.I. dan Sulamut Taufiq oleh Mudir Ma’had al-Jami’ah, Dr. K.H. Teguh, M.Ag. kepada Ustadzah Ashima Faidati, M.Sy. Susunan cara terakhir yankni doa yang disampaikan oleh Ustadz Muhamad Fatoni, M.Pd.I. Kemudian pemandu acara menutup acara Pembukaan dauroh ta’lim Al-Turatsy dengan doa kafaratul majlis.

 

 

 

 

 

Akhiri Pembelajaran Madin Semester Gasal, Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung Gelar Khatmil Qur’an Bersama Lebih dari 5000 Mahasantri

Khatmil Qur'an

Oleh: Muhamad Fatoni, M.Pd.I

Selasa, 11 Desember 2018, Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung mengakhiri pembelajaran madin semester gasal dengan mengadakan khatmil Qur’an dan do’a bersama. Acara ini diikuti oleh 131 kelas pembelajaran madin reguler dan lanjutan. Masing-masing kelas minimal satu khataman. Hadir dalam kesempatan ini, Wakil Rektor III IAIN Tulungagung, Dr. H. Abad Badruzaman, L.c, M.Ag., Mudir Ma’had al-Jami’ah, Dr. K.H. Teguh, M.Ag., segenap Murabbi Ma’had al-Jami’ah, Asatidz Ma’had al-Jami’ah, baik dari unsur HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo), LP Ma’arif Tulungagung dan Jam’iyyatul Qurra’ wa al-Huffadz.

Acara dimulai pada pukul 06.30 WIB dengan diawali istighfar dan syi’ir Gus Dur yang masyhur di kalangan masyarakat sambil menunggu berkumpulnya mahasantri. Suara lantunan syi’ir tersebut segera menyedot perhatian mahasantri yang segera merapat dan memadati area masjid, halaman masjid, aula utama IAIN Tulungagung yang bersebelahan dengan masjid, area parkir dan bahkan membludak hingga ke teras-teras kelas.

Tepat pada pukul 07.00 WIB, khatmil Qur’an dan do’a bersama di mulai. Adapun susunan acaranya, pembawa acara Ustadz Muhamad Fatoni, M.Pd.I, -Murabby Ma’had al-Jami’ah, imam tawasul, Ustadz K.H. Bagus Ahmadi, -Himasal dan Pengasuh Pondok Pesantren MIA Tulungagung, khatmil Qur’an beserta do’anya, Ustadz Ahmad Marzuki, S.Th.I, M.Pd.I, -Jam’iyyatul Qurra’ dan Pengasuh Pondok Pesantren Bustanu ‘Usysyaqil Qur’an, sambutan Mudir Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung, Dr. K.H. Teguh, M.Ag. dan sambutan dari Wakil Rektor III IAIN Tulungagung, Dr. H. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag.

Acara berlangsung dengan khusyu’ dan khidmat. Para peserta terhanyut dalam syahdunya bacaan al-Qur’an. Suasana tenang, nyaman dan khusyu’ nampak jelas dari semua yang hadir pada kesempatan pagi ini.

Dalam sambutannya, Mudir Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung memberikan apresianya dan menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya khatmil Qur’an pagi ini. Menurut beliau, setidaknya ada dua alasan mengapa khatmil Qur’an ini dilaksanakan. Beliau mengatakan, “Ada dua alasan mengapa kita melaksanakan khatmil Qur’an pagi ini, pertama adalah bersyukur kepada Allah Swt atas jasa para pendahulu kita, utamanya para pendiri IAIN Tulungagung yang telah merintis jalan dakwah di kampus dakwah dan peradaban ini. Kedua adalah syukur kepada Allah Swt bahwa kita telah menyelesaikan pembelajaran madin di semester pertama ini dengan baik”. Beliau berharap mudah-mudahan berkumpulnya semua yang hadir di pagi ini akan menjadi tanda bahwa yang hadir semuanya adalah pecinta dan penjaga al-Qur’an yang nantinya akan dikumpulkan di surga-Nya Allah Swt.

Beliau juga mengajak kepada semua yang hadir agar senantiasa berupaya untuk membaca al-Qur’an setiap harinya satu juz, “one day one juz”. Pesan beliau, “Mari kita membiasakan diri sehari semalam minimal satu juz, “one day one juz” agar ini menjadi penyeimbang dari jumlah huruf yang kit abaca setiap saat melalui wad an akun jejaring sosial lainnya”.

Sementara itu Wakil Rektor III IAIN Tulungagung, Dr. H. Abad Badruzaman, Lc., M.Ag. dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan khatmil Qur’an hari ini. Beliau juga menyampaikan pesan dari Bapak Rektor yang sejatinya sangat menaruh perhatian terhadap kegiatan ini, namun karena padatnya agenda, belum bisa hadir di tengah-tengah mahasantri semua.

Menurut beliau semakin meningkatnya semangat religius di tengah-tengah kehidupan akademik kampus, cukup menjadi bukti akan baiknya pembinaan keagamaan di tengah kampus IAIN Tulungagung. Beliau mengatakan, “Semakin meningkatnya kegiatan-kegiatan pembelajaran agama di IAIN Tulungagung, baik dalam bentuk belajar baca tulis al-Qur’an (BTQ), tilawah al-Qur’an, Tahfidz al-Qur’an, dan madin ula, wustha, dan ulya, merupakan bukti bahwa IAIN Tulungagung menaruh perhatian terhadap pembelajaran keagamaan sekaligus menjadi bukti bahwa IAIN merupakan kampus yang layak menjadi rujukan bagi pembelajaran ma’had se-PTKIN Indonesia dan sekaligus menjadi bukti bagi pengakuan IAIN sebagai kampus dakwah dan peradaban.”

Beliau berharap agar kegiatan-kegiatan serupa bisa semakin ditingkatkan sehingga memperkokoh keberadaan IAIN Tulungagung sebagai kampus dakwah dan peradaban. Acara berakhir pada pukul 08.30 WIB dengan membaca do’a kafaratul majlis dan dilanjutkan dengan ramah-tamah.

 

Simposium Nasional Ma’had al-Jami’ah

Simposium Nasional Ma’had al-Jami’ah

IAIN Kudus, 04-06 Desember 2018

IMG-20181205-WA0001[1]

Selasa-Kamis, 04-06 Desember 2018, pengelola Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung turut serta menghadiri simposium nasional Ma’had al-Jami’ah yang dilaksanakan di IAIN Kudus Jawa Tengah. Turut serta dalam kegiatan ini, Mudir Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung, Dr. K.H. Teguh, M.Ag., Sekretaris Ma’had al-Jami’ah, Wikan Galuh Widiarto, M.Pd., Kabid Madin, Muhamad Fatoni, M.Pd.I dan Kabid Bahasa, Rohmad, S.Hum., M.Pd.I

Rombongan berangkat dari kampus pada kisaran pukul 09.00 WIB dengan kendaraan dinas kampus. Berangkat melalui jalur tol wilangan dan sampai di lokasi pada kisaran pukul 15.30 WIB. Kami langsung menuju hotel untuk istirahat, karena perjalanan yang cukup melelahkan.

Pembukaan acara dilaksanakan pada sore hari pukul 16.00 WIB hingga selesai. Kami mulai mengikuti acara pada malam hari setelah maghrib.

Sebagai awal kegiatan diadakan khatmil Qur’an bersama para mahasantri ma’had al-jami’ah IAIN Kudus. Do’a tawasul dipimpin oleh K.H. Abdul Syukur, Mudir IAIN Salatiga, Tahlil oleh Ustadz  Afif dari UIN Maliki Malang, do’a khatmil Qur’an oleh Muhamad Fatoni dari IAIN Tulungagung dan tausiyah oleh Mudir Banjarmasin.

Dalam tausiyahnya Mudir Banjarmasin menyampaikan, bahwa penyebab mahasiswa gagal dalam belajarnya adalah karena empat hal. Empat hal itu harus dijauhi, yakni jangan menjadi ayam, jangan menjadi burung merpati, jangan menjadi burung gagak dan jangan menjadi burung merak.

Jangan menjadi ayam maksudnya jangan menjadikan cinta di atas segalanya. Kegagalan mahasiswa seringkali disebabkan karena mereka selalu mengedepankan cinta. Kuliah menjadi terabaikan demi memenuhi hasrat cintanya.

Jangan menjadi burung merpati, artinya jangan menjadi mahasiswa yang malas. Merpati itu tidak bisa mencari makan kalau tidak diberi makan. Mahasiswa yang malas dan menjagakan orang lain, tanpa mau berusaha dan bekerja keras meraih mimpinya, mustahil ia bisa meraih kesuksesan.

Jangan menjadi gagak, artinya jangan suka teriak-teriak di luar dan diam disaat diminta berbicara. Penyakit yang sering menjangkiti mahasiswa adalah saat mereka di ruang kuliah mereka diam seribu bahasa dan banyak bicara di luar. Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih sering mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat daripada yang bermanfaat.

Jangan menjadi burung merak. Burung merak lebih suka menebar pesona. Menjadi mahasiswa jangan hanya bersolek dan berdandan. Mengutamakan penampilan sementara kemampuan berpikir justru diabaikan.

Selanjutnya beliau juga menyampaikan empat kunci yang menentukan kesuksesan mahasiswa. Beliau menyitir ayat al-Qur’an, Surat al-Ghasiyah; 16-20. Ada empat hal yang harus diperhatikan di sana yakni, unta, langit, gunung dan bumi.

Unta, pandangannya jauh ke depan dan focus pada tujuan. Mahasiswa yang ingin sukses dalam belajarnya harus focus pada tujuan belajarnya. Jangan sampai mereka tergoda dengan berbagai godaan yang bisa saja merugikan dirinya, hingga proses belajarnya terganggu.

Gunung, kokoh dalam pendirian. Jangan mudah goyah dengan berbagai ujian dan cobaan. Tetap focus pada tujuan dan jangan goyah dengan berbagai ujian yang datang menyapa.

Langit, luas tak terbatas nan tinggi. Mahasiswa harus memiliki wawasan luas. Memperbanyak membaca dan belajar agar terbuka wawasan berpikirnya.

Bumi, tanah, semakin disakiti semakin ia menjadi subur. Rubahlah setiap hal negatif menjadi hal positif. Jangan menjadi pendendam dan selalu mengingat-ingat kesalahan orang. Ingatlah, bahwa semua ujian yang diberikan disesuaikan dengan kadar kemampuan manusia. Maka bersabarlah dalam setiap ujian dan jadikan setiap hal yang menyakitkan menjadi hal yang membahagiakan.

Sesi berikutnya yang merupakan inti materi pertama disampaikan oleh K.H. Abdul Jalal ketua Asosiasi Ma’had Ali dari Pasuruan. Beliau banyak mengulas mengenai pesantren dan terminologinya serta berbagai tradisi pesantren yang unik dan berbeda dari umumnya model pendidikan di dunia modern. Pesantren bukan sekedar melakukan transformasi ilmu semata, lebih dari itu ia juga menanamkan “khasyatullah” pada diri para santrinya.

Banyak kisah dan petuah yang ada di tengah-tengah kalangan pesantren saat para santri sedang nyantri. Terkadang ada hal-hal yang secara logika tidak bisa diterima, namun hal itu ada di dunia pesantren. Pesantren membentuk karakter santri yang senantiasa ta’dhim dan taat pada sang guru, menumbuhkan rasa “kumanthil” pada diri murid kepada kyainya.

Menurut beliau saat berbicara tentang pesantren, artinya kita juga berbicara mengenai budaya, bukan hanya sekedar proses pendidikan. Pesantren menjadi satu tradisi yang ditanamkan oleh para pendahulu yang mensyi’arkan Islam pertama di bumi nusantara. Santri yang kembali ke kampung halamannya tetap saja tabarukan pada gurunya dengan menyertakan nama pesantren tempat belajarnya saat dia mendirikan pesantren.

Pada tahapan berikutnya, tatanan budaya itu menjadi terkikis saat penjajah datang dan menduduki bumi nusantara. Pesantren mulai mengalami pergeseran, hingga banyak yang keluar dari tradisi yang telah dibangun oleh para salafus shalih. Bermunculanlah beragama pesantren. Ada yang tetap dengan tradisinya yang dikenal dengan pesantren salaf, ada pesantren modern, ma’had ali dan ada lagi ma’had al-jami’ah.

Semua pesantren tersebut semestinya terus dibina dan dikembangkan. Jangan sampai dibiarkan begitu saja sehingga tidak memiliki ruang untuk berkembang, termasuk di dalamnya adalah ma’had al-jami’ah. Memang, jika mengacu pada definisi yang diajukan oleh Zamahsyari Dhafir, Ma’had al-Jami’ah belum memenuhi tetapi tidak ada salahnya dan bahkan perlu untuk dibina dan dikembangkan dengan baik.

Adapun Ma’had Ali diadakan dengan spesifikasi khusus. Pesantren yang mendirikan ma’had ali tidak boleh mendirikan lebih dari satu cabang keilmuan yang menjadi spesifikasinya. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pembelajaran ma’had sesuai dengan ciri khusus yang membedakannya dari yang lain.

VISI MISI MA’HAD AL-JAMI’AH

VISI DAN MISI MA’HAD AL-JAMI’AH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI TULUNGAGUNG

TAHUN AKADEMIK 2017/2018

 

Visi:

  1. Terwujudnya pusat pengembangan Islam, pencetak sarjana muslim yang mempunyai kearifan lokal.

Misi:

  1. Memberikan keterampilan berbahasa Arab dan Inggris
  2. Mengantarkan mahasiswa memahami al-Qur’an dan al-Hadist dengan benar dan baik
  3. Mengantarkan mahasiswa memiliki keluasan ilmu, berakhlakul karimah, dan kedalaman spiritual

Ujian Sebagai Bagian dari Proses Belajar

IMG-20181127-WA0013

Oleh: Lailatul Mushofingah (Musyrifah Ma’had al-Jami’ah)

Terhitung sejak Senin 26 November 2018, hingga 30 November 2018, Ma’had Mukim al-Jami’ah melaksanakan ujian untuk mahasantri yang mukim di asrama Ma’had al-Jami’ah. Ujian ini merupakan agenda rutin yang ditangani secara langsung oleh musyrifah Ma’had al-Jami’ah. Ujian ini agak berbeda dari tahun sebelumnya yang biasanya hanya dilangsungkan sehari. Kali ini, ujian berlangsung selama lima hari, yakni Senin hingga Jum’at. Pada tahun ini pula, diadakan program baru bagi mahasantri ma’had mukim, yakni tahfidzul Qur’an dan kajian kitab kuning.

Ujian dilaksanakan pada pagi setelah shubuh dan sore menjelang malam ba’dha maghrib. Pemilihan waktu ini, bukan tanpa alasan. Hal ini disesuaikan dengan kondisi mahasantri yang pada umumnya mempunyai jam kuliah semenjak pagi hingga sore hari. Untuk Senin pagi, materi ujian adalah vocabularies bahasa Arab dan Inggris untuk mahasantri bin nadzar dan tahfidz juz ‘amma bagi mahasantri bilghaib. Sementara materi ujian ba’da maghrib adalah kitab Arba’in Nawawi untuk seluruh mahasantri.

Pada hari berikutnya Selasa pagi, materi ujian adalah Kitab al-ajurumiyah, sementara ba’da maghrib adalah Kitab Akhlaq Lilbanat. Untuk hari Rabu pagi, materi ujiannya adalah Kitab Mabadi’ Al-Fiqhiyyah, dan rabu malamnya adalah Kitab Adz-Dzikru. Hari Kamis pagi, materi yang diujikan adalah Kitab Risalat Al-Mahidz dan ujian ditutup pada Jum’at pagi dengan ujian bagi pembelajaran bahasa Arab dan Inggris.

Sebelum mengikuti ujian akhir, para mahasantri diharuskan melenngkapi seluruh kitab dan mufradat yang telah diajarkan. Tidak boleh ada kitab maupun materi yang ‘bolong’ tanpa ada keterangan yang memadai. Hal ini penting karena manusia ditakdirkan dengan sifat ‘kecendrungan’ untuk berbuat lupa dan menyimpang. Kitab yang dipenuhi dengan catatan dan keterangan-keterangan diperlukan agar sewaktu-waktu mereka lupa, mereka bisa kembali membuka catatan-catatan tersebut. Manusia boleh saja lupa, tetapi catatan lah yang mengingatkan.

Bagi mahasantri yang belum melengkapi kitabnya maka tidak diperkenankan mengikuti ujian. Mereka terlebih dahulu harus menyelesaikan tugas mereka untuk memenuhi kitabnya. Mahasantri dituntut untuk benar-benar memanfaatkan waktu mereka selama tinggal di Ma’had al-Jami’ah. Mereka tidak hanya sekedar berpindah tempat tidur dan makan, melainkan juga harus benar-benar menempa diri dan berproses secara benar sehingga sewaktu-waktu mereka kembali ke daerah masing-masing, mereka mampu memberi warna di tengah kehidupan masyarakatnya.

Ujian adalah bagian dari proses pembelajaran. Oleh karenanya tidak selayaknya kita takut pada ujian. Ujian dilaksanakan sebagai tolok ukur seberapa pemahaman yang kita peroleh dari materi yang telah disampaikan oleh para ustadz-ustadzah. Nilai memang penting, akan tetapi ada yang lebih penting dari sekadar nilai, yakni belajar dari sebuah kesalahan. Kekurangan demi kekurangan yang kita miliki hanya dapat diketahui setelah kita mengikuti proses ujian. Karena itu, jangan konsen pada nilainya, tetapi fokuslah pada prosesnya. Proses yang benar akan membawa kita pada hasil yang memuaskan, karena ‘Hasil tidak pernah mengkhianati proses’. Ma’an Najah dan Fastabiqul Khoirot.

 

 

 

Peringati Maulidur Rasul dengan Menggelar Lailatus Shalawat

IMG-20181124-WA0001[1]

Oleh: Nihayatul Ulya (Musyrifah Ma’had al-Jami’ah)

Jum’at, 23 November 2018 M, bertepatan dengan tanggal 16 Rabiul Awal 1440 H Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung melaksanakan kegiatan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw bertajuk shalawat bersama grub hadroh al-Muayyad Tulungagung. Acara ini dimulai pukul 18.30 WIB dan berakhir pada pukul 23.00 WIB. Hadir dalam kesempatan ini, mudir Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung Dr. KH. Teguh Ridlwan,M.Ag, dewan murobi, dan  ustadz/ ustadzah yang mengajar di Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung.

Acara diawali dengan lantunan shalawat dari grub Ma’had al–Jami’ah IAIN Tulungagung dan selanjutnya dibuka secara seremonial. Seremonial acara dilaksanakan secara singkat untuk efisiensi waktu dengan sambutan tunggal dari Mudir Ma’had al-Jami’a selaku pengasuh pesantren Ma’had al-Jami’ah.

Mengawali sambutannya, mudir Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung Dr. KH. Muhamad Teguh Ridlwan, M.Ag menyampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya kepada segenap panitia dan tamu undangan terkhusus grup hadroh al-Muayyad Tulungagung, yang berenan hadir memenuhi undangan dan mensukseskan malam lailatus shalawat.

Selain itu, beliau juga menyampaikan beberapa pesan sehubungan dengan peringatan maulidur Rasul. Menurut beliau ada beberapa alasan mengapa kita memperingati dan sekaligus meneladani Rasulullah Saw sebagai uswah hasanah dalam hidup. Pertama, karena Nabi Muhammad adalah manusia. Seandainya beliau bukanlah manusia, tentu kita sulit meneladani apa yang telah beliau contohkan untuk kita semua. Beruntug beliau diciptakan dalam wujud manusia sehingga dengan mudah teladan yang dicontokannya bisa dilihat, dan diterapkan oleh para sahabat yang selanjutnya disampaikan kepada kita.

Kedua, Nabi Muhammad adalah nabi yang paling istimewa. Titik kesabaran beliau melebihi nabi-nabi yang lain. Seluruh nabi pernah menyaksikan umatnya dihancurkan karena kelalaian mereka. Kelalaian yang terus menerus menyebabkan para nabi dan rasul mengangkat kedua tangannya, memohonkan adzab bagi kaumnya. Berbeda dengan Nabi Muhammad Saw. Saat mendapat perlakuan yang tidak sepatutnya dari kaum bangsa Thaif yang menyebabkan para malaikat marah dan meminta kepada beliau untuk mengangkat tangannya, memohon kepada Allah agar diturunkan adzab kepada mereka, Rasul justru mengangkat kedua tangannya dan berdoa’, “Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka (melakukan hal itu) karena ketidaktahuannya. Itulah yang menurut beliau menyebabkan beliau menduduki kedudukan istimewa. Beliau berkata, “Karena itulah Nabi Muhammad Saw menjadi satu-satunya nabi yang paling istimewa dari yang lain.”

Ketiga, kecintaannya kepada umat melebihi cintanya kepada diri sendiri. Menurut beliau, hal ini bisa dilihat dari sabda beliau:

لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ لِاَخِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ( رواه البخاري ومسلم)

Artinya:  “ Tidak sempurna iman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri”.(H.R. Bukhari Muslim)

Tiga hal diatas merupakan alasan mengapa kita mesti meneladani Nabi Muhammad Saw. Di akhir sambutannya beliau berdoa semoga semua yang hadir diberikan rasa mahabbah kepadanya. Salah satu tanda kecintaan adalah dengan memperbanyak ingat/menyebut yang dicintainya. Disebutkan dalam sebuah riwayat, “Barangsiapa mencintai sesuatu, maka ia memperbanyak mengingat/menyebutnya”.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan pembacaan shalawat. Para mahasantri nampak sangat antusias dengan baacaan shalawat. Gema shalawat membahana di gedung aula hingga halaman utama IAIN Tulungagung. Suasana syahdu dan khusyu’ turut mewarnai lantunan tembang-tembang shalawat dari grup Shalawat al-Muayyad.

Malam tadi, IAIN Tulungagung yang dimotori Ma’had al-Jami’ah meluapkan rasa rindu dan cintanya kepada Baginda Agung, Nabi Muhammad Saw. Semoga kerinduan dan kecintaan itu bersambung hingga perjumpaan dan berkumpul dengannya kelak di Yaumul Qiyamah. Amin.

 

RAPAT KOORDINASI KOORDINATOR MADIN DAN BTQ

RAPAT KOORDINASI KOORDINATOR MADIN DAN BTQ

MA’HAD AL-JAMI’AH IAIN TULUNGAGUNG

IMG-20181101-WA0004[1]

Kamis, 01 November 2018, Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung mengadakan rapat koordinasi bersama tiga lembaga yang menjadi patrnernya, LP Ma’arif, Jam’iyyatul Qurra’ wa al-Huffadz, dan Himpunan Alumni Lirboyo (HIMASAL). Hadir dalam kesempatan ini semua wakil koordinator dan Mudir Ma’had al-Jami’ah, Dr.K.H. Teguh, M.Ag dan semua Murabby Ma’had al-Jami’ah. Rapat dilaksanakan dalam rangka untuk evaluasi pembelajaran yang sudah berjalan serta beberapa kebijakan lain terkait dengan peningkatan kualitas dan layanan pada pembelajaran Madin Ma’had al-Jami’ah IAIN Tulungagung. Dalam sambutannya beliau Mudir Ma’had al-Jami’ah banyak memberikan nasehat dan petuah sehubungan dengan pembelajaran ma’had al-jami’ah. Beliau menyampaikan bahwa tugas kema’hadan adalah tugas mulia dalam rangka untuk membentengi para mahasantri dari pengaruh pemikiran yang tidak sejalan dengan semangat salaf shalih dan khususnya aqidah ahlu sunah wa al-jama’ah. Selain itu beliau juga menyampaikan bahwa setidaknya ada tiga materi pokok yang harus ada di pembelajaran ma’had. Beliau mengatakan, “Berdasarkan forum komunikasi Mudir se-PTKIN Indonesia semua ma’had al-jami’ah di Indonesia wajib untuk melakukan tiga pembelajaran, yaitu Ta’lim al-Qur’an, Ta’lim Afkar dan Ta’lim al-Lughah.” Ta’lim al-Qur’an telah dilaksanakan dalam bentuk BTQ, Tilawah dan Tahfidz. Ta’limul Afkar dilaksanakan dalam bentuk pembelajaran yang di dalamnya termasuk pembelajaran tauhid, fiqih dan akhlaq. Sedangkan ta’lim al-lughah di arahkan pada pembelajaran maharat al-kalam. Pembelajaran sebagaimana di atas dilaksanakan dalam upaya untuk membentengi seluruh mahasiswa dari berbagai paham radikalisme. Harapannya agar tercipta generasi muslim yang jauh dari paham radikalisme. Sementara dalam rapat ini banyak pembahasan yang dilaksanakan. Pembahasan tersebut mencakup distribusi sertifikat bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan dan dinyatakan lulus dalam pembelajaran madin tahun lalu, evaluasi pembelajaran madin 3 bulan berjalan, pelaksanaan UAS, rencana khatmil Qur’an serentak, mustahiq kelas, sertifikat yang akan datang dan seterusnya. Distribusi sertifikat Alhamdulillah telah 90% tersampaikan. Beberapa kendala yang terjadi di lapangan disebabkan karena telah banyak yang keluar dari group kelas, sementara mereka tersebar di semua jurusan dari fakultas yang berbeda. Berkaitan dengan pembelajaran, Alhamdulillah telah banyak peningkatan di semua kelas. Rata-rata mahasantri datang tepat waktu. Pagi hari sebelum pembelajaran dimulai mahasantri secara serempak melakukan lalaran di kelas masing-masing sesuai dengan mata pelajaran di kelasnya. Adapun UAS direncakan dilaksanakan pada awal bulan Desember, pada tanggal 4,5,6 dan 10 Desember 2018, dan pembelajaran di semester ini diakhiri dengan mengadakan khatmil Qur’an secara serentak pada 11 Desember 2018. Berdasarkan usulan dan masukan yang diberikan oleh masing-masing koordinator, rencana khatmil Qur’an yang insy. diikuti sekitar 6000 mahasantri dari mahasantri madin pagi dan lanjutan/malam hari, akan dilaksanakan pada pagi hari saat pembelajaran madin dan dipusatkan di Masjid Kampus IAIN Tulungagung. Di tahun ini, juga diberlakukan system mustahiq. Mustahiq kelas bertanggung jawab dalam mengkondisikan kelasnya, mulai dari ketertiban masuk, keaktifan dalam pembelajaran, membentuk perilaku mahasantri dengan akhlakul karimah sesuai dengan ketentuan syari’at serta mengamati kemajuan belajarnya. Selain itu juga memberikan bantuan dan solusi bagi mahasantri yang mengalami kendala belajar dan segala persoalan yang mereka hadapi selama menempuh proses pembelajaran. Selanjutnya sertifikat madin pada angakatan ini akan segera dicetak pada liburan semester. Sertifikat dicetak berdasarkan jumlah mahasantri yang dinyatakan layak untuk tetap mengikuti madin di semester berikutnya. Mahasantri yang sering meninggalkan kelas pembelajaran/sering izin yang tidak bisa ditolelir, secara otomatis tidak akan muncul namanya pada absensi semester mendatang dan diharuskan mengulang pembelajaran di tahun berikutnya. Sertifikat yang dicetak dalam bentuk “kosongan” yang nanti akan diisi oleh masing-masing mustahiq setelah UAS semester akhir dilaksanakan. Sertifikat akan diberikan pada saat haflah akhirus sanah dan bagi mahasantri yang tidak hadir, sertifikat tidak diberikan. Selain itu juga sedikit dilakukan pembahasan mengenai tampilan pada haflah. Tampilan pada haflah akhirus sanah kubro direncanakan merupakan produck pembelajaran selama setahun. Untuk BTQ menampilkan tartil dengan mengupas secara tuntas makharijul huruf, sifatul huruf dan lain sebagainya yang berkaitan dengan pembelajarannya. Tilawah dengan menampilkan tilawah dan tahfidz dengan hafalannya. Untuk madin ula tampilannya adalah lalaran aqidatul awam dari awal hingga akhir, wustha dengan lalaran imrithi dan ulya dengan alfiyah ibnu maliknya. Semua itu dimaksudkan untuk melihat seberapa progress peningkatan pembelajaran yang telah dilakukan. Khusus untuk tahfidz akan diadakan kelas tahfidz lanjutan yang akan diseleksi secara ketat. Kelas ini terkhusus lagi bagi mahasantri yang berangkat dari 0 hingga selama 4 tahun mereka benar-benar menyelesaikan 30 juz. Hal ini dimaksudkan agar nantinya akan muncul para huffadz murni yang lahir dari proses pembelaran tahfidz di IAIN Tulungagung. (fatoni)