Dosen dan Tradisi Menulis

Oleh Ngainun Naim

 

 

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat ekspresif dan produktif. Menulis (dan juga membaca) merupakan cara berkomunikasi tidak langsung, sedangkan berbicara dan mendengar (menyimak) merupakan komunikasi secara langsung. Menulis, sebagaimana dikatakan Maslahah (2005: 20), adalah berkomunikasi untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Keterampilan menulis sebagai salah satu syarat berbahasa mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Dengan menulis, seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuannya.

Menulis pada dasarnya merupakan sebuah bentuk komunikasi. Komunikasi tertulis tampaknya masih menjadi aspek yang kurang berkembang secara baik dalam dunia akademis di Indonesia. Budaya berbicara sebagai bentuk komunikasi langsung lebih dominan dibandingkan dengan budaya membaca dan menulis. Padahal, budaya menulis menjadi dasar yang penting di dalam dinamika dan pengembangan keilmuan di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi.

Indikasi belum optimalnya tradisi menulis dapat dicermati dari karya tulis yang dihasilkan oleh masyarakat kampus, baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa. Dosen sebagai seorang intelektual idealnya terus memproduksi dan mengembangkan pengetahuannya lewat penelitian dan publikasi karya ilmiah. Eksistensi dan kualitas seorang dosen dilihat—di antaranya—dari publikasi ilmiah dalam bentuk buku, artikel jurnal, paper seminar maupun tulisan di berbagai media massa. Semakin produktif seorang dosen menulis, semakin luas pengakuan publik terhadap kapasitas keilmuan yang dimilikinya. Sebaliknya, semakin jarang menulis, publik pun kurang mengetahui terhadap kapasitas dan kualitas keilmuannya. Dari perspektif ini terlihat betapa karya tulis memiliki peranan yang sangat penting, khususnya mengomunikasikan pikiran dan gagasannya kepada masyarakat secara luas.

Intelektualitas seorang dosen seyogyanya tidak hanya terbatas dalam aktivitas mengajar  di kelas semata. Sebab jika hanya lewat mengajar, cakupan mahasiswa yang menyerap ilmunya sangat terbatas. Sebaiknya seorang dosen melebarkan sayap pengembangan keilmuannya  secara lebih luas lagi. Berbagai kesempatan penyebaran ilmu yang tersedia sebaiknya dimasuki, termasuk dalam bentuk publikasi karya tulis. Dengan cara demikian, intelektualitas yang ada pada dirinya memiliki spektrum penyebaran dan pengakuan yang lebih luas. Sangat mungkin namanya tidak hanya dikenal dalam skala lokal, tetapi juga skala nasional, bahkan internasional.

Namun realitas menunjukkan, hanya sebagian kecil saja dosen yang memanfaatkan berbagai sarana penyebaran ilmu, khususnya lewat penerbitan karya tulis. Sementara sebagian besarnya justru sibuk dengan tugas-tugas rutin seperti mengajar, atau terlibat dalam kegiatan teknis. Padahal, dosen harus membuat karya tulis untuk kepentingan kepangkatannya. Dosen yang memiliki ketrampilan membuat karya tulis, tentu saja, relatif lebih lancar perjalanan kariernya. Sebaliknya, mereka yang jarang membuat karya tulis akan tersendat-sendat perjalanan kariernya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>