Spiritualitas Liburan

Oleh Ngainun Naim

Liburan menjadi fenomena yang menarik bagi saya untuk dicermati. Saya sendiri termasuk penikmat liburan. Tetapi pertanyaan besar saya adalah; sejak kapan masyarakat Indonesia begitu menikmati liburan secara massal. Setiap liburan agak panjang, misalnya jumat, sabtu, dan minggu atau liburan sekolah, dapat dipastikan tempat-tempat wisata tumpah ruah oleh pengunjung.

Saya pernah ke Telaga Sarangan Magetan menjelang akhir tahun lalu. Saya ke sana bukan karena liburan, tetapi karena ada undangan mengisi acara di sana. Saya paham mengapa panitia melaksanakan acara di Sarangan; juga sekaligus liburan.

Karena sedang musim liburan panjang, saya harus berjalan cukup jauh menuju hotel tempat acara. Lautan manusia berjejalan di hampir setiap tempat. Justru saya tidak lagi melihat ada kenikmatan menikmati suasana semacam itu.

Saya membutuhkan penjelasan ilmiah, bukan sekadar asal jawab, terhadap fenomena liburan yang selalu dijejali manusia di hampir setiap tempat liburan. Secara tidak sengaja saat kemarin berada di rumah orangtua di Tulungagung, saya menemukan buku lama yang cukup memikat karya Yudi Latif. Judulnya, Masa Lalu yang Membunuh Masa Depan: Krisis Agama, Pengetahuan, dan Kekuasaan dalam Kebudayaan Teknokraatis terbitan Mizan Bandung tahun 1999. Saya ingat persis membeli buku ini di Toga Mas Malang. Buku ini saya ingat karena saya pernah membacanya sampai tuntas dan membuat resensinya yang kemudian dimuat di Harian Surabaya Post.

Buku Yudi Latif ini sesungguhnya bukan buku utuh, tetapi kumpulan artikel, makalah, maupun tulisan lainnya selama beberapa tahun. Sebagaimana buku kumpulan tulisan lainnya, tema dalam buku ini sangat beragam. Tanpa menafikan terhadap kekurangannya, saya justru menemukan kelebihan buku semacam ini, yaitu temanya yang luas justru memungkinkan bagi saya menemukan referensi atas tulisan yang sedang saya buat sekaligus menemukan jawaban atas pertanyaan yang sedang saya butuhkan. Dan jawaban atas pertanyaan saya tentang liburan dijawab dalam sebuah judul yang terkesan jorok, ”Masturbasi Budaya”.

Yudi Latif adalah seorang intelektual yang saya kagumi karena ketajaman analisisnya, keluasan wawasannya, dan bahasa tulisannya yang menawan.  Tulisannya yang berjudul “Masturbasi Budaya” merupakan contoh bagaimana ia begitu kritis dan cerdas membaca realitas dalam bungkus teori yang mapan. Mengutip pendapat filosf Herbert Marcuse, “masturbasi budaya” yang ia maksudkan adalah weekend. Weekend merupakan konsekuensi dari kenikmatan yang ditunda-tunda ketika manusia tidak lagi berdaulat atas waktu karena tersihir oleh mesin kapitalis. Kondisi kerja era sekarang memaksa setiap orang untuk mengeksploitasi energi dan waktunya selama lima hari kerja. Pada dua hari liburan itu, segenap keletihan dikompensasi dengan liburan yang juga menguras perolehan selama kerja.

Yudi menilai bahwa weekend merupakan bentuk pergeseran makna wisata yang substansial. Kegiatan wisata yang sekarang ini berkembang cenderung mengalami proses penyempitan maknawi, dari wahana studi, kontemplasi, dan rekreasi menjadi sekadar rekreasi belaka. Dengan begitu, kegiatan wisata telah mengalami penciutan kontribusi; dari kesanggupan untuk memberikan kenikmatan insani yang sublim menjadi sekadar penawaran kenikmatan indriawi yang cethek.

Saya kira Yudi benar. Coba Anda simak setiap musim liburan. Arus wisatawan memang kian deras. Dan sangat mungkin salah seorang dari wisatawan ini adalah saya atau mungkin Anda sekalian. Tetapi pertanyaan mendasarnya adalah; bagaimana apresiasi kita terhadap obyek wisata? Wisatawan sekarang memang kian gigih menjangkau laut, mendaki gunung, atau menjelajah tempat-tempat eksotik yang lainnya. Tetapi, kata Yudi Latif, kehadirannya di tempat-tempat tersebut paling banter sebatas menyaksikan gulungan omban, pohon-pohon yang rindang, dan megahnya konstruksi belaka. Tanpa ada upaya untuk menemukan makna terdalam di balik fenomena keelokan dan kemegahan itu.

Karena itulah, Yudi Latif menawarkan apa yang saya jadikan judul dalam catatan ini, yaitu ”spiritualitas liburan”. Dengan meminjam kerangka teori YB Mangunwijaya, Yudi Latif menjelaskan bahwa spiritualitas liburan penting dilakukan untuk menjadikan liburan mampu menggali makna terdalam dari kehadirannya di tempat-tempat wisata. Jadi tidak sekadar ”rekreasi”, tetapi ada juga dimensi ”studi” dan ”kontemplasi”. 

Wisatawan spiritualis, kata Yudi, bukan penghayal yang ingin lari dari realita. Tetapi dia secara sadar atau tidak sadar mencari makna yang lebih hakiki dari sekadar penampakan kulit luar. Dia tidak putus hanya dengan berbiduk-biduk senang di atas permukaan laut, tetapi ingin menyelam dalam keheningan di bawah permukaan, mengagumi keindahan koral-koral dan tari ikan-ikan yang serba warna-warni sebagai cermin kemahaindahan Tuhan.

Saat mau menyelesaikan catatan ini, saya baca ulang tulisan ini dan yang kemarin. Saya terhenyak, ternyata tulisan ini berlagak filosofis. Tetapi biarlah, walaupun saya mengajar Filsafat Islam, tetapi sesungguhnya saya menyukai pembahasan dan tulisan yang tidak memberatkan. Semoga tulisan ini memberikan warna berbeda dalam menjalani kehidupan yang memang semakin kehilangan momentum reflektif. Padahal, refleksi menjadi kegiatan utama filsafat. Nah, mbulet lagi kan? Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>