Uncategorized

Judul Buku: Islam Tuhan Islam Manusia, Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau

Penulis: Haidar Bagir

Penerbit: Mizan, Bandung

Edisi: 2017

Tebal: xxxiii+294 halaman

ISBN: 9786024410162

Peresensi: Ngainun Naim

Saya menyukai buku-buku karya Bos Penerbit Mizan Bandung, Dr. Haidar Bagir. Saya memiliki sebagian besar karya beliau. Karena itu ketika ada informasi bahwa beliau menerbitkan buku lagi, saya segera memburunya.

Buku yang saya ulas ini, selain isinya yang menarik-mencerahkan, juga memantik reaksi dari kaum Muslim yang kurang sepakat. Saya sendiri heran kenapa buku sebagus ini ditolak di banyak tempat. Di IAIN Surakarta, saat buku ini dibedah, konon ratusan orang berdemonstrasi di luar kampus. Padahal, seandainya mereka yang menolak mau membaca dengan objektif dan kepala dingin, saya yakin akan menemukan banyak hikmah dan manfaat.

Hikmah itu bisa diperoleh dari banyak tempat. Kita sebagai manusia Muslim jangan hanya mau menerima informasi secara eksklusif. Ada begitu banyak hikmah dari kehidupan ini. Jika memang tidak sepakat dengan Dr. Haidar Bagir, caranya bukan dengan demonstransi. Tulislah buku untuk membantahnya. Jika ini yang dilakukan, itu seimbang.

Mengapa sampai ada kelompok yang menolak? Tentu tidak mudah untuk menjawabnya. Hal ini disebabkan karena ada banyak faktor yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Salah satunya saya kira karena Haidar Bagir menawarkan cara pandang kritis dalam beragama.

Saya sungguh menikmati buku karya pemilik penerbit besar di Bandung ini. Bagian demi bagian saya baca secara cermat di sela-sela kesibukan harian yang cukup padat. Saya berharap mendapatkan ilmu dan wawasan mencerahkan setelah mencicipi halaman demi halaman dari buku ini.

Menurut saya, bahasa Haidar Bagir—khususnya di buku ini—cukup bervariasi: ada bagian yang bahasanya sederhana, mudah dipahami dan mengalir; ada juga bagian yang cukup rumit sehingga membuat kening mengernyit. Justru karena itulah tulisan demi tulisan di buku ini cukup menarik dan menantang.

Salah satu hal yang banyak diulas di buku ini adalah pentingnya menghadirkan Islam yang berwajah damai. Wajah damai ini penting untuk terus disuarakan agar Islam Indonesia tampil sejuk, damai, dan mencerahkan. Di tengah situasi sekarang ini yang oleh Haidar Bagir disebut sebagai “situasi tidak normal” (h. 166), pemikiran Haidar Bagir menemukan relevansinya untuk diaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Salah satu penanda “situasi tidak normal” adalah menguatnya kelompok takfiri. Kelompok ini begitu mudahnya mengafirkan mereka yang berbeda pemikiran dan paham keagamaan (h. 168). Jika takfiri semakin meluas maka kehidupan sosial keagamaan akan penuh ketegangan. Saling tuding sebagai kafir akan merebak di mana-mana.

Takfiri harus direduksi. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan kultur yang menghargai dan mengapresiasi terhadap keanekaragaman.  Tulisan demi tulisan yang terdapat di buku ini secara jelas menunjukkan bagaimana Haidar Bagir adalah sosok pluralis. Di tengah menguatnya arus radikalisme, pikiran-pikiran Haidar Bagir penting untuk terus dieksplorasi dan disosialisasikan secara luas. Pemikirannya tentang filsafat Islam, misalnya, menarik karena tidak hanya sebatas wacana teoretis, melainkan juga dikembangkan dalam kerangka kontribusi nyata. Ia misalnya menulis, “...meskipun manifestasi lahiriah agama-agama itu memiliki perbedaan-perbedaan, pada dasarnya akar atau sumbernya itu sesungguhnya sama” (112). Pemikiran semacam ini lahir dari latar belakang HB yang menekuni filsafat Islam.

Pokok-pokok pikiran Haidar Bagir di buku ini merupakan penegasan agar agama dipahami secara dinamis-kontekstual agar sesuai dengan dinamika perkembangan zaman. Haidar Bagir tampaknya berusaha secara serius untuk menawarkan pendekatan rasional dalam memahami agama, meskipun juga tetap mengapresiasi intuisi. Secara jelas ia menyatakan bahwa ia tidak bisa mengendalikan operasi intuisi, namun ia yakin bahwa, “...aku bisa menjadikan pemikiran intuitifku mendukung upayaku mencari kebenaran selama aku menjaga objektivitas dan keikhlasanku” (xiv).

Menyimak catatan demi catatan di buku ini bisa dipahami bahwa Haidar Bagir adalah seorang pemikir agama yang kritis. Cara beragamanya pun demikian. Pada sisi yang berbeda, Haidar Bagir juga memberikan apresiasi konstruktif terhadap tasawuf. Implikasinya, meskipun kritis, pemikirannya bermuara pada bagaimana seorang hamba memiliki hubungan yang dekat dengan Allah.

 

Parakan Trenggalek, 13-10-2017

Oleh Ngainun Naim

 

Menulis memang merupakan dunia unik yang—bagi saya—selalu menarik untuk ditulis. Namanya juga dunia menulis maka wajar saja kalau menarik untuk ditulis. Walaupun sebenarnya, diperbincangkan dan didiskusikan juga tidak kalah menariknya.

Saya sendiri merasakan seperti mendapatkan energi baru untuk menulis kalau membaca buku tentang menulis, berdiskusi dengan sesama penulis, berguru ilmu kepada penulis hebat, atau mengisi acara menulis. Setelah memperbincangkan dunia menulis, saya biasanya menjadi lebih bersemangat lagi untuk menulis. Walaupun harus jujur saya akui, semangat itu juga fluktuatif. Kadang naik, kadang turun. Bagi saya, ini wajar. Namanya juga manusia. Tetapi yang jauh lebih penting adalah komitmen. Ya, komitmen untuk terus menjaga dan merawat tradisi menulis ini.

Menulis telah saya jadikan semacam identitas diri. Memang belum banyak karya tulis yang saya buat, tetapi karena menulis—walaupun masih sedikit—itulah, orang tidak jarang yang mengidentikkan saya dengan menulis. Bagi saya, ini anugerah besar yang harus saya rawat.

Ada banyak anugerah lain yang saya peroleh dengan menulis. Jaringan, kepercayaan, relasi, dan berbagai manfaat lain telah saya rasakan dari dunia menulis.

* * *

Saya ingin menjadi penulis yang baik. Salah satu kriterianya—menurut saya—adalah selalu belajar dan terus berusaha memperbaiki tulisan. Sejauh yang saya rasakan, memang tidak banyak perubahan dalam struktur, karakter, dan model tulisan saya. Tetapi harus saya tulis dengan jujur bahwa saya selalu berusaha memperbaiki tulisan saya. Persoalan kemudian menurut pembaca tidak ada yang meningkat, saya kira itu menjadi catatan untuk saya kembali belajar dan belajar.

Salah satu cara belajar memperbaiki tulisan adalah dengan belajar dan menyerap ilmu dari penulis lain. Melalui cara semacam ini, saya mendapatkan perspektif baru, proses baru, dan semangat baru untuk teruss menulis.

Cara semacam inilah yang hari selasa, 17 Desember 2013 kemarin saya lakukan. Ceritanya, kampus tempat saya bekerja ada kegiatan bedah buku. Buku yang dibedah merupakan sebuah buku yang luar biasa karena ketebalannya saja lebih dari 2000 halaman. Ya, buku itu terbagi dalam dua jilid besar. Penulisnya adalah seorang doktor muda lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Waryani Fajar Riyanto, M.Ag.

Buku ini sesungguhnya merupakan biografi intelektual Rektor UIN Sunan Kalijaga selama dua periode, yaitu Prof. Dr. H.M. Amin Abdullah. Ada tiga aspek yang dibahas dalam buku supertebal ini, yaitu person, knowledge, dan institution. Melihat ketebalannya, bisa dibayangkan bagaimana penulisnya melakukan riset dan kerja serius. Hebatnya lagi, buku supertebal ini dikerjakan ”hanya” selama 10 bulan.

* * *

Catatan ini tidak akan mengulas isi buku tersebut. Semoga ada kesempatan lainnya untuk mengulas. Saya akan berbagi pengalaman dengan para pembaca sekalian berkaitan dengan proses kepenulisan Mas Fajar, penulis buku tersebut.

Kebetulan, saya yang diminta panitia menghubunginya. Kebetulan juga, saya yang menjadi moderator bedah bukunya sehingga beruntung saya punya kesempatan untuk banyak berbincang dengan Mas Fajar, termasuk tentang bagaimana proses kreatifnya menulis, bagaimana menjaga energi menulis, dan bagaimana menulis karya yang sedemikian banyak dan tebal. Selain dua buku tebal yang saya ceritakan di awal tulisan ini, Mas Fajar sepanjang karier akademiknya telah menulis sekitar 100 judul buku. Ini tentu prestasi yang sangat luar biasa.

Saat saya tanya bagaimana ia bisa sedemikian produktif? Ia menjawab dengan rumus sebagaimana judul tulisan ini, yaitu heart, head, dan hand. Heart maksudnya hati. Tentu bukan hati secara fisik, tetapi bagaimana mengelola hati dan menata hati dalam menulis. Menulis harus dilakukan dengan niat yang baik. Orientasi material yang sering mengiringi sedapat mungkin dipinggirkan. Hal inilah yang memberikan energi besar kepadanya untuk terus menulis dan menulis. Ia menyebutnya sebagai ”Kerja Ikhlas”. Saya kira itu wajar karena dia sendiri menggeluti dunia tasawuf. Ia sendiri seorang mursyid sebuah tarekat yang berpusat di Mesir.

Head maksudnya adalah bekerja cerdas. Menulis membutuhkan strategi dan metode yang tepat sehingga bisa menghasilkan karya berbobot. Rumus ini saya kira tidak jauh berbeda dengan uraian teman-teman yang sering menulis tentang topik ini.

Yang ketiga adalah hand, tangan. Maksudnya adalah kerja keras. Untuk menghasilkan karya yang besar dan produktif, tidak ada rumus lain selain bekerja keras. Menulis, menulis, dan menulis menjadi kunci penting yang harus ditanamkan jika ingin menghasilkan karya tulis yang banyak dan berbobot. Para penulis sukses umumnya para pekerja keras.

Jujur, saya mendapatkan banyak ilmu baru dalam dunia menulis dari doktor yang umurnya masih 34 tahun tersebut. Perpaduan secara seimbang antara kerja ikhlas, kerja cerdas, dan kerja keras atau heart, heand, dan hand telah memberikan perspektif baru bagi saya dalam menekuni dunia menulis.

Trenggalek, 18 Desember 2013

 

Oleh Ngainun Naim

 

Menulis merupakan salah tema yang sering ditanyakan saat saya mengisi berbagai acara, termasuk oleh para mahasiswa di kampus tempat saya mengajar. Mereka umumnya mengeluhkan sulitnya menulis, bagaimana membangun spirit menulis, kapan mulai menulis, dan sebagainya. Pertanyaan, keluhan, dan juga harapan yang berkaitan dengan dunia menulis sesungguhnya merupakan sebuah modal besar yang harus dirawat. Maksudnya, kemauan mereka berbicara mengenai menulis sesungguhnya merupakan titik awal dari keinginan untuk bisa menulis.

Keterampilan menulis idealnya memang harus dikuasai dengan baik oleh mahasiswa. Menguasai keterampilan menulis merupakan salah satu kunci sukses studi. Tentu saja, ada juga kunci sukses yang lainnya. Tetapi dibandingkan dengan kunci sukses studi yang lainnya, keterampilan menulis membutuhkan proses yang panjang dan keseriusan melatihnya.

Mengapa menulis menjadi salah satu kunci sukses studi? Ada banyak alasannya. Pertama, kuliah—baik di level S1, S2, atau S3—mengharuskan mahasiswa untuk membuat makalah atau paper. Bisa Anda bayangkan bagaimana repotnya mengikuti perkuliahan jika keterampilan menulis tidak dikuasai secara baik. Bisa jadi kuliah akan membuatnya tersiksa. Setiap ada tugas membuat makalah, ia akan mengalami siksaan psikologis yang hebat karena beratnya beban yang harus ditanggung. Sebagai akibatnya, makalah yang dibuat juga tidak akan bagus. Tulisan yang dibuat dalam kondisi tertekan—apa pun bentuk tekanannya—biasanya kurang optimal. Memang harus juga diakui banyak juga orang yang telah terlatih secara baik untuk bisa menulis dalam kondisi tertekan, khususnya tekanan waktu. Tetapi orang yang semacam ini biasanya adalah penulis yang sudah ahli, atau paling tidak, ia merupakan penulis yang bisa menikmati kondisi tertekan semacam ini.

Jika saja seorang mahasiswa memiliki ”mentalitas proses”, maka ia akan tetap berusaha untuk menulis berdasarkan kemampuannya. Segala cara akan ditempuh asalkan tugasnya selesai. Menulis akan dijalani sebagai bagian dari proses belajar. Ia akan tetap menulis berdasarkan kemampuannya sendiri. Mahasiswa semacam ini ia akan merasakan kelegaan yang luar biasa begitu tugas menulisnya selesai.

Tetapi tidak semua mahasiswa memiliki ”mentalitas proses”. Banyak yang menempuh jalan pintas. Misalnya meminta bantuan orang lain untuk membuat tugas makalah atau membuat makalah dengan mengunduhnya dari internet tanpa editing yang memadai. Plagiasi semacam ini cukup sering terjadi. Saya mencermati ada begitu banyak tulisan di Kompasiana yang menyoroti tentang persoalan ini.

Kedua, kuliah akan diakhiri dengan tugas riset yang kemudian ditulis. Di tingkat S1 disebut skripsi, S2 disebut tesis, dan S3 disebut disertasi. Tugas akhir ini mengharuskan penguasaan keterampilan menulis yang jauh lebih serius dan mendalam dibandingkan dengan tugas makalah. Menguasai keterampilan menulis akan mengantarkan mahasiswa untuk lulus kuliah tepat waktu, atau bahkan lebih cepat dari jadwal waktu standar. Berbagai informasi tentang mahasiswa yang studinya selesai dengan cepat menunjukkan bahwa pada umumnya mereka didukung oleh keterampilan menulis yang baik.

Kuliah sesungguhnya bukan pekerjaan yang ringan. Banyak yang gagal di tengah jalan. Tetapi yang justru mengenaskan adalah gagal di ujung akhir perkuliahan. Tugas akhir berupa penelitian dan menulis laporan penelitian biasanya menjadi persoalan serius yang tidak mudah untuk diurai. Pada titik inilah, keterampilan menulis menjadi kunci penting yang seyogyanya dikuasai secara baik.

Trenggalek—Tulungagung, 29-11-2013

Ngainun Naim

 

www.ngainun-naim.blogspot.com

Oleh Ngainun Naim

Mantan Menteri Agama, Prof. Dr. K.H. M. Tholhah Hasan dalam sebuah acara di Pondok Pesantren Al-Fatah Mangunsari Tulungagung menyatakan bahwa salah satu ”penyakit” yang menghinggapi banyak orang—termasuk orang alim sekalipun—adalah dengki. Penyakit ini menyebabkan orang yang terinfeksi tidak rela melihat orang lain menerima anugerah, apalagi anugerahnya lebih baik dibandingkan yang diterimanya. Ia sakit hati saat orang lain lebih baik dari dirinya. Akibat penyakit ini tidak hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga menyebabkan terjadinya persoalan dalam kehidupan sosial secara luas.

Sesungguhnya kita tidak asing lagi dengan kata ini. Ya, dengki merupakan kata yang banyak diucapkan, didiskusikan, atau dijadikan tema pengajian. Semuanya mengingatkan bahwa dengki itu bukan hal yang baik. Dengki jangan dipelihara. Dengki menjadi titik awal untuk menghancurkan orang lain.

Menurut Dr. Nadirsyah Hosen dalam buku Mari Bicara Iman (Jakarta: Zaman, 2011), dengki adalah persoalan hati. Dari dengki akan lahir buruk sangka. Dari buruk sangka akan lahir fitnah dan tuduhan. Dan seseorang akan ”senang” jika fitnah dan tuduhan yang dibuatnya bisa didengar oleh orang lain. Fitnah itu pun menyebar. Begitulah.... Dengki melahirkan perilaku-perilaku buruk lainnya (h. 46-47).

Pendapat Dr. Nadirsyah ini menarik untuk kita renungkan dan kita jadikan refleksi dalam konteks kehidupan personal dan sosial kita. Secara personal, orang yang mengidap penyakit dengki tidak pernah merasakan tenang. Ia akan selalu gelisah. Kehidupannya hanya berisi ketidakpuasan dan kebencian terhadap orang lain. Jika ada tetangganya mendapatkan rejeki, ia akan sibuk mencari logika untuk menjatuhkannya. Ia akan bahagia kalau orang lain justru sengsara. Kondisi ini terus berlanjut selama sifat dengki menjangkiti dirinya.

Secara sosial, sifat dengki ini telah menyebabkan tatanan kehidupan menjadi tidak harmonis. Aspek kerukunan bisa terganggu karena masing-masing individu berusaha mencari titik kelemahan orang lain. Sisi positif yang seharusnya lebih dikedepankan justru tidak kelihatan pada individu dan komunitas yang mengidap dengki ini.

Oleh karena itu, mari kita kelola diri kita. Mari kita gunakan sudut pandang positif. Lihatlah bahwa sisi positif yang dimiliki orang lain merupakan anugerah dan sarana bagi diri untuk belajar. Marilah belajar memuji daripada mencaci. Memuji akan membuat hidup kita selalu penuh senyum kebahagiaan. Memang tidak mudah untuk melakukannya, tetapi kita sesungguhnya mampu jika mau. Semoga kita semua menjadi manusia yang tidak terhinggapi dengki dan iri hati.

Tulungagung, 12 November 2013

Ngainun Naim

Lihat juga catatan ringan saya di blog www.ngainun-naim.blogspot.com

Oleh Ngainun Naim

IMG_20130131_131404 - Copy 

Entah yang ke berapa kali saya menulis yang berkaitan dengan buku. Saya tidak ingat persis. Mungkin sudah puluhan kali.

Buku memang selalu memesona. Saya berulangkali mendapatkan inspirasi, pencerahan, dan pengetahuan baru dari buku. Memang hanya sebagian kecil saja buku-buku saya yang sudah terbaca, sementara sebagian besarnya teronggok kurang rapi di berbagai tempat. Tetapi selalu saja, begitu kondisi memungkinkan, buku menjadi pilihan untuk dibeli, dipinjam, atau dibaca.

Tulisan ini juga lahir karena buku. Saya belum sempat membaca secara tuntas buku yang memberikan inspirasi tersebut. Hanya sekilas saja saya lihat di bagian pengantarnya. Dan tiba-tiba, terbersit keinginan untuk menulis artikel ini.

Buku ini terbeli secara tidak sengaja. Ceritanya, hari sabtu sore (09/11/2013) anak saya menelpon saat saya sedang ikut workhsop di sebuah hotel di Tulungagung. Ia meminta saya memberikan surprise karena ia memang sedang ulang tahun. Saya, tentu saja, mengiyakan.

Saya berpikir keras hadiah apa yang bisa membuat anak saya surprise. Ada beberapa alternatif. Salah satunya adalah buku.

Saya memang berusaha mendekatkan anak saya dengan buku. Menjelang tidur di malam hari, jika sedang di rumah dan tidak capek berat, saya biasanya membacakan buku untuk anak saya. Buku yang saya bacakan temanya beranekaragam. Di antaranya adalah cerita nabi dan orang-orang shaleh. Saya berharap kelak ia bisa meneladaninya.

Selesai acara sesi sore, saya meluncur ke Toko Buku Togamas Tulungagung. Saya berkeliling mencarikan buku. Beberapa waktu berkeliling, saya tidak menemukan buku sebagaimana yang saya maksudkan. Justru saya mendapatkan buku untuk diri saya sendiri. Salah satunya adalah karya Dr. Nadirsyah Hosen. Judulnya Mari Bicara Iman (Jakarta: Zaman, 2011).

Buku ini pernah mau saya beli beberapa waktu lalu, tetapi saya urungkan karena pertimbangan dana. Sore kemarin, saya segera saja membelinya karena ada diskon besar.

Ada bagian menarik yang kemudian menjadi sumber ide untuk tulisan ini, yaitu pada bagian pengantar. Di situ Dr. Nadirsyah menyebutkan bahwa beliau merupakan intelektual kelas milis (hlm. 12). Meskipun konteksnya berbeda, saya pernah disebut oleh seorang teman sebagai intelektual kelas blog. Hal ini disebabkan karena saya lumayan sering menulis di blog. Saya sendiri sesungguhnya merasa tidak pantas dengan sebutan intelektual. Saya bukan siapa-siapa dan tidak layak untuk disebut sebagai intelektual. Saya hanya orang yang sedang belajar menulis dan berharap tulisan yang saya buat bisa memberikan manfaat kepada sesama.

Berkaitan dengan manfaat ini, ada kalimat menarik di buku Dr. Nadirsyah yang membuat saya mendapatkan inspirasi yang mendasar. Ceritanya, salah satu tulisan Dr. Nadirsyah dijadikan naskah buletin jumat di Lombok. Temannya mengirimi pesan membanggakan. ”Nikmatnya jadi ustad di internet, ribuan kilometer antum sedang asyik tidur, sementara pahala mengalir dari mana-mana sampai ke pelosok Lombok” (hlm. 13).

Kalimat ini menurut saya sangat menggetarkan. Saya terkesiap sekaligus terinspirasi untuk menjaga stamina menulis. Ya, menulis merupakan sarana ibadah. Jika tulisan saya memberikan manfaat, Insyaallah pahalanya akan mengalir kepada saya.

Tentu saja, saya tidak boleh berharap terlalu berlebihan. Kalaupun ada yang memetik manfaat dari tulisan saya, tentu saya sangat berbahagia. Kalaupun tidak ada, atau bahkan tidak ada yang membacanya sama sekali, masih ada pembacanya yang setia, yaitu saya sendiri.

Tulungagung, 10 November 2013

Ngainun Naim

Tulisan saya yang lainnya bisa dibaca di: www.ngainun-naim.blogspot.com

Apa yang ada dalam benak Anda saat membaca judul di atas? Mungkin Anda langsung senyum, atau bahkan ngguyu. Kalimat di atas memang kurang umum, sebab yang umumnya kita kenal adalah ”urip mung mampir ngombe”. Kalimat ini biasanya sering kita dengar dalam forum-forum pengajian, atau perbincangan sehari-hari dalam masyarakat. Menurut saya, kalimat ”urip mung mampir ngombe” sarat dengan kandungan filosofis dan kearifan hidup. Beberapa hal yang dapat ditarik sebagai pelajaran adalah: pertama, hidup manusia di dunia ini sesungguhnya singkat. Tidak ada kehidupan yang abadi. Semuanya pasti akan berakhir. Perjalanan waktu berjalan begitu singkat. Coba Anda renungkan perjalanan hidup Anda: segalanya ternyata berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin, ternyata sekarang sudah jadi orang tua. Rasanya belum terlalu lama menikah, ternyata anak-anak sudah besar. Rasanya baru kemarin tamat SMA, kok ternyata sudah lama sekali. Ya, ”rasanya baru kemarin” adalah refleksi cepatnya kehidupan berjalan–yang kadang—tanpa  kita sadari.

Kedua, karena hidup itu singkat maka harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Waktu itu sedemikian berharga. Ia tidak terbeli, tidak terulang, dan terus berjalan. Maka, seharusnya waktu yang ada dipergunakan sebaik-baiknya untuk hal-hal positif dalam hidup ini. Filosofi signifikansi waktu inilah yang kemudian melahirkan berbagai kata bijak, seperti ”Time is money=waktu adalah uang”, ”Al-waktu kas-Syaif=waktu ibarat pedang”, dan sebagainya. Pentingnya waktu ini biasanya akan terasa pada saat tertentu. Misalnya, saat keberangkatan pesawat terbang, saat mengerjakan ujian, dan saat-saat penting lainnya. Sementara di saat yang lain, waktu seolah tidak banyak artinya.

Pentingnya waktu ini mengingatkan saya pada banyak kisah heroik orang-orang sukses. Saya pernah membaca pengantar panjang dari kumpulan resensi buku Jihad Ilmiah: Dari Termas Menuju Harvard yang merupakan buku karya Prof. Kyai Yudian W. Asmin, Ph.D. Dalam pengantar buku kumpulan resensi tersebut Prof. Yudian menyatakan bahwa kesuksesan yang diraihnya sekarang ini adalah buah kerja kerasnya selama bertahun-tahun. Ia melakukan itu semua karena memegang filosofi ”Selamat Datang Kematian”. Filosofi tersebut ditanamkan pada dirinya bahwa sebelum kematian menjemput, ia akan memanfaatkan waktu yang ada sebaik-baiknya untuk pengembangan ilmu.

Tentu banyak lagi kisah-kisah heroik mengenai pemanfaatan waktu ini. Kisah-kisah kiai besar yang saat belajar di pesantren belajar keras hingga teman-temannya tidak mengetahui bagaimana ia belajar, atau kisah pengusaha sukses yang memanfaatkan waktunya sedetail mungkin, dan sebagainya. Semua itu menunjukkan bahwa waktu itu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Ketiga, perubahan itu merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan.walaupun hidup ini ibarat ”mampir ngombe”, tetapi kata ”ngombe” itu sendiri tidak hanya bermakna sebagai aktivitas fisik. Ia, menurut saya, lebih sebagai simbol yang sarat kandungan filosofis. Setelah minum—dalam makna simbolik—kita tidak akan mengalami kehausan atau dehidrasi. Energi hidup kita bertambah. Karena itu, ”ngombe” sesungguhnya adalah sesuatu yang bisa memberi nilai lebih pada diri kita; bisa lewat belajar, menyerap kearifan hidup, menggali potensi diri, dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan ”urip mung mampir ngguyu?”. Kalimat ini ternyata bukan hanya guyonan. Kalimat ini serius sebagaimana kalimat ”urip mung mampir ngombe”. Di dalamnya juga terkandung makna filosofis mendalam. Saya mendengar kalimat ini saat menonton acara Satu Jam Lebih Dekat dengan Butet Kertarajasa di TV One pada Rabo malam (23/6/2011) jam 11 hingga 12 malam. Di akhir sesi, saat Indriarto Priadi—pembawa acara—bertanya kepada menantu Butet mengenai apa yang khas dari keluarga mertuanya, dijawab bahwa filosofi hidup keluarga mertuanya adalah ”urip mung mampir ngguyu”.

Saya tersentak, kaget, lalu tersenyum. Bagi saya, ini merupakan filosofi yang menarik dan berani. Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dipetik. Pertama, filosofi itu mengajarkan bagaimana menghadapi hidup selalu penuh dengan keceriaan. Semua orang yang hidup pasti akan menghadapi masalah. Jangan pernah mimpi hidup ini tidak punya masalah. Hanya orang yang telah mati saja yang tidak punya masalah—setidaknya dalam pandangan kita yang hidup. Justru karena ada masalah itulah hidup kita tumbuh dan berkembang. Kemampuan menghadapi masalah dan menyelesaikannya merupakan cermin eksistensi diri kita. Kalau kita mampu memecahkan setiap masalah, sesungguhnya kita sudah belajar banyak hal. Nah, cara menghadapi masalah dengan penuh keceriaan, alias dengan ”ngguyu” itulah yang menjadikan masalah seberat apa pun dapat dihadapi dengan ringan.

Kedua, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai counter terhadap gaya hidup manusia sekarang ini yang sarat dengan kompetisi, intrik, dan selalu penuh ketegangan. Maka, kita menyaksikan betapa terasa semakin beratnya hidup sekarang ini. Jumlah orang stress meningkat tajam. Demikian juga dengan orang yang bunuh diri, melakukan kejahatan, mengkonsumsi narkoba, dugem, dan sebagainya. Semua itu cermin semakin banyak orang yang kehilangan selera humor dalam menghadapi hidup.

Ketiga, hidup ini harus dijalani dengan ”mentertawakan” segala hal, termasuk diri kita sendiri. ”Mentertawakan” merupakan upaya kritik diri, koreksi, dan evaluasi terhadap apa pun yang kita lakukan. Satu hal yang paling mudah dalam hidup ini: menyalahkan orang lain, dan yang sulit adalah mengakui diri salah. Filosofi keluarga Butet tersebut dapat dijadikan sebagai momentum ”mentertawakan” dalam maknanya yang luas.

Oleh Ngainun Naim

Liburan menjadi fenomena yang menarik bagi saya untuk dicermati. Saya sendiri termasuk penikmat liburan. Tetapi pertanyaan besar saya adalah; sejak kapan masyarakat Indonesia begitu menikmati liburan secara massal. Setiap liburan agak panjang, misalnya jumat, sabtu, dan minggu atau liburan sekolah, dapat dipastikan tempat-tempat wisata tumpah ruah oleh pengunjung.

Saya pernah ke Telaga Sarangan Magetan menjelang akhir tahun lalu. Saya ke sana bukan karena liburan, tetapi karena ada undangan mengisi acara di sana. Saya paham mengapa panitia melaksanakan acara di Sarangan; juga sekaligus liburan.

Karena sedang musim liburan panjang, saya harus berjalan cukup jauh menuju hotel tempat acara. Lautan manusia berjejalan di hampir setiap tempat. Justru saya tidak lagi melihat ada kenikmatan menikmati suasana semacam itu.

Saya membutuhkan penjelasan ilmiah, bukan sekadar asal jawab, terhadap fenomena liburan yang selalu dijejali manusia di hampir setiap tempat liburan. Secara tidak sengaja saat kemarin berada di rumah orangtua di Tulungagung, saya menemukan buku lama yang cukup memikat karya Yudi Latif. Judulnya, Masa Lalu yang Membunuh Masa Depan: Krisis Agama, Pengetahuan, dan Kekuasaan dalam Kebudayaan Teknokraatis terbitan Mizan Bandung tahun 1999. Saya ingat persis membeli buku ini di Toga Mas Malang. Buku ini saya ingat karena saya pernah membacanya sampai tuntas dan membuat resensinya yang kemudian dimuat di Harian Surabaya Post.

Buku Yudi Latif ini sesungguhnya bukan buku utuh, tetapi kumpulan artikel, makalah, maupun tulisan lainnya selama beberapa tahun. Sebagaimana buku kumpulan tulisan lainnya, tema dalam buku ini sangat beragam. Tanpa menafikan terhadap kekurangannya, saya justru menemukan kelebihan buku semacam ini, yaitu temanya yang luas justru memungkinkan bagi saya menemukan referensi atas tulisan yang sedang saya buat sekaligus menemukan jawaban atas pertanyaan yang sedang saya butuhkan. Dan jawaban atas pertanyaan saya tentang liburan dijawab dalam sebuah judul yang terkesan jorok, ”Masturbasi Budaya”.

Yudi Latif adalah seorang intelektual yang saya kagumi karena ketajaman analisisnya, keluasan wawasannya, dan bahasa tulisannya yang menawan.  Tulisannya yang berjudul “Masturbasi Budaya” merupakan contoh bagaimana ia begitu kritis dan cerdas membaca realitas dalam bungkus teori yang mapan. Mengutip pendapat filosf Herbert Marcuse, “masturbasi budaya” yang ia maksudkan adalah weekend. Weekend merupakan konsekuensi dari kenikmatan yang ditunda-tunda ketika manusia tidak lagi berdaulat atas waktu karena tersihir oleh mesin kapitalis. Kondisi kerja era sekarang memaksa setiap orang untuk mengeksploitasi energi dan waktunya selama lima hari kerja. Pada dua hari liburan itu, segenap keletihan dikompensasi dengan liburan yang juga menguras perolehan selama kerja.

Yudi menilai bahwa weekend merupakan bentuk pergeseran makna wisata yang substansial. Kegiatan wisata yang sekarang ini berkembang cenderung mengalami proses penyempitan maknawi, dari wahana studi, kontemplasi, dan rekreasi menjadi sekadar rekreasi belaka. Dengan begitu, kegiatan wisata telah mengalami penciutan kontribusi; dari kesanggupan untuk memberikan kenikmatan insani yang sublim menjadi sekadar penawaran kenikmatan indriawi yang cethek.

Saya kira Yudi benar. Coba Anda simak setiap musim liburan. Arus wisatawan memang kian deras. Dan sangat mungkin salah seorang dari wisatawan ini adalah saya atau mungkin Anda sekalian. Tetapi pertanyaan mendasarnya adalah; bagaimana apresiasi kita terhadap obyek wisata? Wisatawan sekarang memang kian gigih menjangkau laut, mendaki gunung, atau menjelajah tempat-tempat eksotik yang lainnya. Tetapi, kata Yudi Latif, kehadirannya di tempat-tempat tersebut paling banter sebatas menyaksikan gulungan omban, pohon-pohon yang rindang, dan megahnya konstruksi belaka. Tanpa ada upaya untuk menemukan makna terdalam di balik fenomena keelokan dan kemegahan itu.

Karena itulah, Yudi Latif menawarkan apa yang saya jadikan judul dalam catatan ini, yaitu ”spiritualitas liburan”. Dengan meminjam kerangka teori YB Mangunwijaya, Yudi Latif menjelaskan bahwa spiritualitas liburan penting dilakukan untuk menjadikan liburan mampu menggali makna terdalam dari kehadirannya di tempat-tempat wisata. Jadi tidak sekadar ”rekreasi”, tetapi ada juga dimensi ”studi” dan ”kontemplasi”. 

Wisatawan spiritualis, kata Yudi, bukan penghayal yang ingin lari dari realita. Tetapi dia secara sadar atau tidak sadar mencari makna yang lebih hakiki dari sekadar penampakan kulit luar. Dia tidak putus hanya dengan berbiduk-biduk senang di atas permukaan laut, tetapi ingin menyelam dalam keheningan di bawah permukaan, mengagumi keindahan koral-koral dan tari ikan-ikan yang serba warna-warni sebagai cermin kemahaindahan Tuhan.

Saat mau menyelesaikan catatan ini, saya baca ulang tulisan ini dan yang kemarin. Saya terhenyak, ternyata tulisan ini berlagak filosofis. Tetapi biarlah, walaupun saya mengajar Filsafat Islam, tetapi sesungguhnya saya menyukai pembahasan dan tulisan yang tidak memberatkan. Semoga tulisan ini memberikan warna berbeda dalam menjalani kehidupan yang memang semakin kehilangan momentum reflektif. Padahal, refleksi menjadi kegiatan utama filsafat. Nah, mbulet lagi kan? Salam.

Oleh Ngainun Naim

 

 

Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat ekspresif dan produktif. Menulis (dan juga membaca) merupakan cara berkomunikasi tidak langsung, sedangkan berbicara dan mendengar (menyimak) merupakan komunikasi secara langsung. Menulis, sebagaimana dikatakan Maslahah (2005: 20), adalah berkomunikasi untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Keterampilan menulis sebagai salah satu syarat berbahasa mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Dengan menulis, seseorang dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud dan tujuannya.

Menulis pada dasarnya merupakan sebuah bentuk komunikasi. Komunikasi tertulis tampaknya masih menjadi aspek yang kurang berkembang secara baik dalam dunia akademis di Indonesia. Budaya berbicara sebagai bentuk komunikasi langsung lebih dominan dibandingkan dengan budaya membaca dan menulis. Padahal, budaya menulis menjadi dasar yang penting di dalam dinamika dan pengembangan keilmuan di dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi.

Indikasi belum optimalnya tradisi menulis dapat dicermati dari karya tulis yang dihasilkan oleh masyarakat kampus, baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa. Dosen sebagai seorang intelektual idealnya terus memproduksi dan mengembangkan pengetahuannya lewat penelitian dan publikasi karya ilmiah. Eksistensi dan kualitas seorang dosen dilihat—di antaranya—dari publikasi ilmiah dalam bentuk buku, artikel jurnal, paper seminar maupun tulisan di berbagai media massa. Semakin produktif seorang dosen menulis, semakin luas pengakuan publik terhadap kapasitas keilmuan yang dimilikinya. Sebaliknya, semakin jarang menulis, publik pun kurang mengetahui terhadap kapasitas dan kualitas keilmuannya. Dari perspektif ini terlihat betapa karya tulis memiliki peranan yang sangat penting, khususnya mengomunikasikan pikiran dan gagasannya kepada masyarakat secara luas.

Intelektualitas seorang dosen seyogyanya tidak hanya terbatas dalam aktivitas mengajar  di kelas semata. Sebab jika hanya lewat mengajar, cakupan mahasiswa yang menyerap ilmunya sangat terbatas. Sebaiknya seorang dosen melebarkan sayap pengembangan keilmuannya  secara lebih luas lagi. Berbagai kesempatan penyebaran ilmu yang tersedia sebaiknya dimasuki, termasuk dalam bentuk publikasi karya tulis. Dengan cara demikian, intelektualitas yang ada pada dirinya memiliki spektrum penyebaran dan pengakuan yang lebih luas. Sangat mungkin namanya tidak hanya dikenal dalam skala lokal, tetapi juga skala nasional, bahkan internasional.

Namun realitas menunjukkan, hanya sebagian kecil saja dosen yang memanfaatkan berbagai sarana penyebaran ilmu, khususnya lewat penerbitan karya tulis. Sementara sebagian besarnya justru sibuk dengan tugas-tugas rutin seperti mengajar, atau terlibat dalam kegiatan teknis. Padahal, dosen harus membuat karya tulis untuk kepentingan kepangkatannya. Dosen yang memiliki ketrampilan membuat karya tulis, tentu saja, relatif lebih lancar perjalanan kariernya. Sebaliknya, mereka yang jarang membuat karya tulis akan tersendat-sendat perjalanan kariernya.

Oleh Ngainun Naim

 

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 16.00 saat Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara mulai mengisi acara. Hari itu, 12 September 2012—berarti sudah lebih setahun lalu—saya mendapatkan tugas dari pimpinan untuk menjadi peserta workshop di Hotel Grand Preanger Bandung. Saya merasa mendapatkan anugerah karena selama workshop, para intelektual garda depan Indonesia hadir memberikan ceramah ilmiah. Salah seorang di antaranya adalah Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara.

Sesungguhnya saya sudah pernah mendengarkan ceramah Prof. Mulyadhi setahun sebelumnya di sebuah konferensi. Tetapi entah mengapa sore itu saya merasakan suasana yang berbeda. Mungkin karena pesertanya yang terbatas sehingga ceramah terasa mengena. Selain itu juga karena tema yang diangkat, ”Tradisi Ilmiah Islam”, sangat dikuasai oleh beliau. Karena itu, dua jam lebih beliau berceramah masih terasa kurang.

Salah satu hal yang beliau tekankan adalah tentang pentingnya tradisi menulis. Prof. Mulyadhi, sebagaimana juga ditulis dibuku karya beliau, Reaktualisasi Tradisi Ilmiah Islam (Jakarta: Baitul Ihsan, 2006), menyebutkan signifikansi menulis dengan mengutip banyak literatur klasik. Di buku beliau disebutkan bahwa Muhammad  bin Jarir al-Thabari menulis sebanyak 40 halaman setiap hari selama 40 tahun. Karena itu beliau menyatakan bahwa tidak mengherankan jika al-Thabari begitu terkenal dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam bidang yang ditekuninya.

Saya sendiri sesungguhnya belum menemukan penjelasan memadai mengenai bagaimana al-Thabari begitu hebatnya sehingga mampu menulis sedemikian banyak karya. Tetapi yang menurut saya justru pernyataan beliau berikutnya. ”Kalau kita tidak menulis satu halamanpun selama bertahun-tahun, maka tidak perlu heran kalau kita tak pernah maju dalam ilmu. Pernyataan ini menurut saya sangat fundamental. Ya, hanya melalui menulis kita bisa meraih kemajuan hidup dan kemajuan peradaban.

Prof. Mulyadhi tidak hanya berteori, tetapi membuktikan sendiri dengan produktif menulis. Saya mengoleksi sebagian karya beliau. Satu hal unik yang saya temukan sekaligus diakui sendiri oleh beliau bahwa hampir semua naskahnya ditulis tangan. Beliau sendiri sejauh yang saya tahu bisa mengoperasikan komputer, tetapi untuk menulis, tulisan tangan memberikan sensasi yang berbeda. Dengan tulisan tangan di sebuah buku tulis, beliau terus produktif menghasilkan karya tulis yang sangat bermanfaat. Jadi, mari menulis. Jika satu halamanpun tidak kita tulis, bagaimana kita bisa maju?

Trenggalek, 13 Oktober 2013

Ngainun Naim