TUGAS PENULIS ITU MENULIS

 

Kompasiana betul-betul menjadi ajang pertarungan ide yang luar biasa. Sejak tergabung dalam komunitas ini, saya mengamati bagaimana sebuah ide bisa didiskusikan dengan penuh semangat. Ada yang diskusinya santun, penuh empati, dan membuat pembaca yang menyimak merasa respek. Tetapi ada juga yang—menurut saya—”kebablasan”. Debat sengit dan saling memojokkan terlihat dari tulisan dan komentar.

Tema yang cukup ramai dan menyedot perhatian banyak pembaca adalah tentang duo pemimpin fenomenal Jakarta, Jokowi-Ahok. Apapun yang dilakukan oleh kedua pemimpin tersebut rasanya selalu saja menjadi topik yang menarik untuk didiskusikan. Entahlah, hal-hal biasa saja dari kedua pemimpin itu, ketika diulas Kompasianer, kok menjadi heboh. Saya hanya menyimak saja dan tidak ikut terlibat dalam perdebatan para Kompasianer karena saya tahu diri. Saya orang udik, bukan orang kota. Ke Jakarta pun tidak terlalu sering. Bahkan belum tentu setahun sekali. Jadi saya tidak memiliki pengetahuan memadai tentang Jakarta.

 

Perjuangan

Sebagaimana pernah saya tulis, saya memiliki dua tahap saat bergabung di Kompasiana. Harus jujur saya akui, saya gagap teknologi sehingga hanya untuk bergabung ke Kompasiana saja, membutuhkan perjuangan yang cukup panjang.

Ceritanya, saat mencari data via Mbah Google, saya menemukan artikel di Kompasiana. Itu terjadi beberapa tahun lalu. Saat membaca Kompas cetak, saya juga sering membaca artikel para Kompasianer. Tetapi saat itu belum ada greget sama sekali untuk bergabung. Entahlah, mungkin karena belum ada momentum, atau memang Tuhan belum memberikan petunjuk kepada saya untuk menjadi bagian dari komunitas ini he he he....

Kira-kira bulan Mei kemarin, muncul keinginan dalam diri saya untuk bergabung ke Kompasiana. Tetapi sulit sekali mengaksesnya. Di kantor tempat saya bekerja, Kompasiana bersama dengan Facebook tidak bisa diakses lewat jaringan internet. Saya tidak tahu alasan pihak pengelola internet memblokir jaringan ini. Jaringan hanya membuka aalamat-alamat umum. Itupun hanya pada jam-jam istirahat. Pada jam kerja, akses yang paling mudah adalah email.

Saya sepenuhnya memahami kebijakan ini. Kebijakan membatasi akses pada jam-jam kerja dibuat berdasarkan diskusi panjang para pengelola lembaga. Awalnya semua akses dibuka luas. Sebagai sebuah lembaga pendidikan, komputer menjadi bagian tidak terpisah dari aktivitas sehari-hari. Tetapi ketika semua akses dibuka lebar, banyak terjadi penggunaan yang kurang tepat. Tidak sedikit mahasiswa yang sedang kuliah, kelihatannya memperhatikan komputer, padahal yang dia akses adalah facebook. Berbagai kritik pun bermunculan. Dan sejak itu, akses FB ditutup pada jam kerja.

Ketika muncul keinginan bergabung ke Kompasiana, saya mengalami kesulitan. Saya coba dan coba, tetapi selalu gagal. Di facebook, saya mengutarakan apa yang saya alami. Beberapa teman memberikan saran, tetapi saran tersebut ternyata juga tidak mempan. Kembali saya gagal masuk sebagai anggota Kompasiana. Di tengah kondisi semacam ini, teman satu ruang memberikan solusinya. Memang tidak mujarab, tetapi solusi yang ia berikan menjadi pembuka bagi masuknya saya sebagai anggota Kompasiana.

Sebagai anggota baru, saya mencoba menulis, walaupun belum disiplin.  Karena satu dan lain hal, akun Kompasiana saya selama beberapa hari tidak saya kunjungi. Akses di kantor tidak mudah, maka pilihannya mengakses dengan modem. Persoalannya, modem itu sinyalnya sulit minta ampun kalau di rumah. Harap maklum karena tempat saya tinggal, yaitu Trenggalek, merupakan sebuah kota yang sulit akses. Dan itu yang harus saya rasakan sampai sekarang. Jadi, menulis untuk Kompasiana itu memang perjuangan, termasuk dari sisi biaya pulsa modem. Nah, persoalan baru muncul. Akun saya gagal saya buka. Berkali-kali saya coba, terus gagal. Padahal, saya ingin menayangkan sebuah tulisan.

Gagal dengan berbagai upaya, saya membuat langkah baru, yaitu membuka akun baru. Ini yang saya sebut sebagai langkah kedua. Akun ini resmi saya mulai tanggal 4 Juli 2013 dan melalui akun inilah saya mencoba berdisiplin menulis. Rata-rata saya menulis sehari satu artikel. Kalau sampai lebih satu, saya anggap sebagai bagian dari perjuangan untuk menuntaskan sebuah karya.

 

Menulis

Tugas penulis itu ya menulis. Itu pendapat yang saya pegangi. Karena itu, aspek penting yang harus dilakukan sebagai bagian dari identitas sebagai penulis adalah terus memproduksi karya. Seorang penulis tidak akan disebut sebagai penulis jika hanya berbicara saja. Bukti bahwa seseorang itu sebagai penulis adalah karya yang ia buat.

Menjadi penulis itu memang tidak mudah. Kompasiana berkali-kali menampilkan perdebatan mengenai menulis: mudah atau sulit. Semua tulisan itu ujungnya sama, yaitu menulis itu kalau tidak sulit ya mudah. Tergantung siapa orangnya. Tidak bisa dibuat generalisasi bahwa menulis itu sulit, atau menulis itu mudah. Jadi, lihat kondisi dan siapa yang membahasnya.

Terlepas dari persoalan sulit atau tidak, menulis sebagai bagian dari tugas penulis, menurut saya, harus dijadikan sebagai titik orientasi. Perdebatan tentang bagaimana agar tulisan masuk HL, TA, atau kategori mentereng lainnya sebenarnya sah-sah saja. Semua orang tentu senang jika tulisannya dikerubuti banyak pembaca. Rasa bangga tentu akan menyembul dalam diri manakala tulisannya berkali-kali menjadi sorotan para pembaca. Tetapi saya memahami bahwa itu bukan tujuan yang utama. Tujuan yang utama justru tulisan itu selesai dan kemudian ditayangkan di Kompasiana. Persoalan kemudian menjadi HL atau tidak, saya kira itu sudah bukan berada pada wilayah otoritas seorang penulis. Itu urusannya admin Kompasiana.

Jika HL menjadi tujuan utama, saya kira akan banyak penulis yang semakin minder. Saya membaca bagaimana beberapa penulis akhirnya mundur teratur karena artikelnya tidak pernah masuk HL, dibaca sedikit orang, dan tidak ada yang mengomentari. Minder dan mundur dari Kompasiana sesungguhnya hal wajar dan harus dihargai juga. Tetapi sebagai penulis yang baik, saya kira hal semacam itu tidak perlu terjadi. Setelah menulis dan mempublikasikan, biarlah pembaca dan admin yang menentukan nasib sebuah tulisan. Langkah penting yang seharusnya ditempuh adalah belajar dan terus belajar agar tulisan semakin baik. Saya kira itu saja hal penting yang harus dilakukan seorang penulis. Mohon maaf, ini sesungguhnya saran untuk saya pribadi. Jika ada yang setuju ya silahkan. Jika tidak juga tidak apa-apa. Saya mohon maaf mumpung menjelang lebaran.

 

Membangun Disiplin

Hal penting yang saya rasakan semenjak bergabung dengan Kompasiana adalah dorongan untuk disiplin menulis. Menulis setiap hari tanpa jeda dalam sebulan terakhir untuk Kompasiana betul-betul menantang. Ini pengalaman luar biasa. Saya merasakan betul bagaimana berjuang mencari ide, berjuang menuliskannya di tengah-tengah jadwal kerja yang kadang sangat padat, juga berjuang bagaimana mengirimkannya di tengah akses internet yang betul-betul menguji kesabaran. Kedisiplinan semacam ini telah menorehkan pelajaran yang sangat berharga. Banyak orang pinter, pengetahuannya luas, bisa menulis, tetapi jarang menulis. Tentu akan luar biasa jika mereka itu mau dan mampu berdisiplin menulis. Saya mendapatkan banyak inspirasi dan pelajaran berharga tentang bagaimana membangun disiplin menulis dari Kompasiana. Ya, Kompasiana telah mengajari saya tentang menulis dengan disiplin. Salam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>