Pertemuan Ketiga

PERGURUAN TINGGI DAN ILMU PENGETAHUAN

TELAAH PENGEMBANGAN DAYA INTELEKTUAL DAN MORAL

Oleh Ngainun Naim

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (iain) Tulungagung

naimmas22@gmail.com

 

ABSTRAK

Ilmu pengetahuan menjadi unsur penting yang ada di perguruan tinggi. Oleh karena itu, seyogyanya ilmu pengetahuan yang dikembangkan adalah ilmu pengetahuan yang memiliki sistem yang utuh dan didukung dengan dimensi moralitas dan perilaku ilmiah. Pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi Islam, tidak tepat jika berlandaskan paradigma positivistik. Paradigma positivistik memandang segala hal yang berkaitan dengan spiritual dapat merusak cara kerja ilmiah. Padahal, hal semacam ini justru mereduksi moralitas. Langkah penting yang dapat dilakukan adalah penguatan epistemologi pendidikan Islam.

Kata Kunci: Perguruan tinggi, ilmu pengetahuan, intelektual, moral.

 

A. PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan merupakan tema pokok yang dipelajari dan dikembangkan di perguruan tinggi. Perguruan tinggi dan ilmu pengetahuan memiliki hubungan erat, saling terkait, dan saling mempengaruhi. Keberadaan masing-masing menentukan eksistensi dan pola perkembangannya.

Ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh perguruan tinggi seyogyanya dibangun di atas landasan filosofis yang kokoh. Sebab, ilmu pengetahuan yang dipelajari dan dikembangkan akan menjadi acuan dalam pemikiran, sikap, perilaku, dan aplikasi kehidupan pada kerangka yang luas. Pada perspektif inilah, perguruan tinggi penting untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang memiliki sistem yang utuh. Keutuhan sistem ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), dengan didukung oleh moralitas dan perilaku ilmiah, dapat menjamin pemberdayaan Iptek secara berkeadilan sebagai jalan menuju hidup dan kehidupan yang berkeseimbangan.[1]

Jalan hidup dan kehidupan yang berkeseimbangan harus terus-menerus diusahakan dan diperjuangkan. Ia tidak akan datang dengan sendirinya dan dengan begitu saja. Ilmu pengetahuan yang keberadaan dasarnya untuk kepentingan manusia terutama dalam memperbaiki hidup dalam rangka meningkatkan serta mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup, dalam realitasnya justru menghadirkan berbagai persoalan. Ilmu pengetahuan sekarang ini, kata Soedjatmoko, berhadapan dengan pertanyaan pokok tentang jalan yang harus ditempuh selanjutnya. Pertanyaan itu sebenarnya berkisar pada ketidakmampuan manusia mengendalikan ilmu pengetahuan dan teknologi itu. Pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya sendiri, mengenai tujuan dan mengenai cara-cara pengembangannya, tidak akan dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan tanpa menoleh pada patokan-patokan mengenai moralitas, makna dan tujuan hidup manusia, termasuk apa yang baik dan apa yang buruk bagi manusia modern. Patokan-patokan itu ternyata berakar pada agama.[2]

Berdasarkan pemikiran di atas, dalam usaha untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis, maka penelitian ilmiah perlu terus dilakukan oleh para ilmuwan dengan tidak meninggalkan moral dan agama yang seharusnya mendasari segala kegiatannya. Azas moral yang terkandung dalam kegiatan keilmuan merupakan sumbangan positif, baik bagi pembentukan manusia perorangan maupun pembentukan karakter suatu bangsa.[3]

Kegiatan keilmuan menjadi inti kegiatan di perguruan tinggi. Hal ini yang menjadikan perguruan tinggi memegang peranan penting dalam kerangka pengembangan ilmu. Tetapi pemberian landasan intelektual dan moral ilmu pengetahuan tampaknya belum dilaksanakan secara optimal. Berbagai persoalan moral intelektual yang terjadi dalam relasi perguruan tinggi dan ilmu pengetahuan merupakan bukti nyata bahwa perguruan tinggi masih harus berjuang keras dalam merekonstruksi dan reformulasi ilmu pengetahuan agar selaras dengan dimensi intelektual dan moral.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>