Menghargai Pembicara

Satu hal yang sering saya amati saat mengajar atau mendengarkan ceramah adalah kecenderungan pendengar untuk berbicara sendiri dengan teman yang ada di sebelahnya. Kondisi ini semakin riuh apabila pembicaranya tidak tampil memukau. Maka bisa Anda bayangkan, suasana berubah menjadi gaduh karena ada banyak pembicara dalam satu ruang.

Jika pembicaranya sabar—apalagi memiliki ”kesabaran tingkat Dewa”—tentu kondisi semacam ini akan terus berlangsung sampai akhir sesi. Tetapi jika pemarah, hadirin yang ramai itu akan diperingatkan. Sejenak suasana pun hening. Tetapi ini biasanya tidak terlalu lama. Pada kondisi berikutnya, keadaan akan kembali terulang dan suasana kembali riuh.

Saat pembicaranya menarik, konsentrasi hadirin terfokus. Apalagi jika pembicaranya memiliki selera humor tinggi. Nyaris sepanjang waktu akan penuh dengan ger-geran. Bahkan tidak terasa jika si pembicara telah usai menyampaikan materinya.

Tampaknya orang Indonesia secara umum memiliki kecenderungan yang sama, ”Suka berbicara dan kurang suka mendengarkan”. Saya minta maaf jika asumsi ini salah. Sejauh yang saya amati—mungkin juga terjadi pada diri saya—berbicara itu lebih menarik daripada mendengarkan. Padahal, salah satu ciri kemajuan dan peradaban adalah adanya warga masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi untuk mau mendengarkan. Jika ini yang menjadi salah satu tolok ukur kemajuan, rasanya masih jauh bagi bangsa ini untuk maju. Lihat saja bagaimana para pejabat atau politisi yang debat kusir untuk memenangkan sebuah dialog di televisi. Satu pembicara belum usai menyampaikan pendapatnya sudah dipotong oleh yang lain. Hal ini berlangsung berkali-kali.

Tampaknya kita perlu belajar menjadi pendengar yang baik. Dalam hal ini, pengalaman Prof. Dr. Machasin menarik untuk disimak. Menurut Prof. Dr. Machasin dalam buku yang ditulisnya, Islam Dinamis Islam Harmonis, Lokalitas Pluralisme Terorisme (Yogyakarta: LKiS, 2012), kita selayaknya belajar pada orang Amerika tentang bagaimana menjadi pendengar yang baik. Di halaman 75 buku yang ditulisnya, Prof. Machasin menyatakan bahwa orang-orang Amerika sangat apresiatif terhadap pembicara dalam setiap pertemuan. Mereka selalu kelihatan bersemangat untuk mendengarkan dan memahami apa yang diungkapkan oleh pembicara, betapapun sulitnya hal itu dilakukan. Paparan Prof. Machasin ini menarik disimak sekaligus sebagai bahan refleksi bersama. Saya sendiri menjadikan tulisan ini sebagai sarana untuk belajar menjadi manusia yang mau mendengarkan. Salam.

One thought on “Menghargai Pembicara

  1. Nur Kholis, S.Pd.I, M.Pd.

    menjadi pendengar yang baik tentunya hal yang harus kita teladi. namun, tentunya pendengar yang baik tersebut kita perlu klasifikasi lagi pak Naim. karena di kita, di lingkungan kita/di negara kita maksud saya, menjadi pendengar yg baik ada kalanya :
    1. pendengar tersebut (diam untuk) mendengarkan karena memang memahami apa yang di bicarakan
    2. pendengar tersebut (diam untuk) mendengarkan karena dia ingin memahami apa yang sedang dibicarakan.
    3. atau, pendengar tersebut diam “untuk mengendengarkan” karena memang tidak paham sama sekali apa yang sedang di bicarakan.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>