Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Pemanfaatan Pring dan Kesakralannya

Ahmad Zaini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III - Staf Magang IJIR []

Ahmad Zaini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III – Staf Magang IJIR []

Jawa dan sakralitas adalah satu hubungan yang tak bisa dipisahkan. Orang Jawa selalu menyakralkan berbagai hal yang berhubungan dengan Tuhan ataupun Alam. mereka menganggap bahwa alam adalah bala tuwo atau saudara tua bagi manusia. Salah satu contoh bentuk kesakralan alam adalah ketika manusia Jawa berhubungan dengan pring.

Pring adalah istilah orang Jawa untuk menyebut kata bambu, yakni sejenis rumput yang memiliki rongga dan bisa tumbuh tinggi hingga belasan meter. Tanaman ini memiliki sifat lentur dan ulet yang membuatnya banyak dipakai oleh masyarakat tradisional untuk membuat berbagai perabot. Sifat-sifat tersebut juga ditiru manusia Jawa, yang dikenal dengan falsafah ngelmu pring.

(more…)

Siti Inggil atau Lemah Geneng

Ahmad Fahrur Rozi [] Mahasiswa SPI Semester I; Peserta Klinik Menulis IJIR []

Ahmad Fahrur Rozi [] Mahasiswa SPI Semester I; Peserta Klinik Menulis IJIR []

Mendengar nama Raden Wijaya, otomatis angan kita tertuju pada agungnya Kerajaan Majapahit. Bekas-bekas peninggalan kerajaan besar itu bisa disaksikan telanjang mata di desa-desa di berbagai wilayah di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Salah satu diantaranya adalah Siti Inggil.

Tempat ini merupakan petilasan Raden Wijaya yang bergelar Kertarajasa Jawawardhana atau Brawijaya I yang menjadi tonggak awal lahirnya Majapahit di tahun 1293 M. Semasa kecilnya, Raden Wijaya dipanggil dengan nama Djoko Suruh. Petilasan yang sebelumnya lebih terkenal dengan istilah Lemah Geneng itu berada di dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

(more…)

Pentas Kethoprak Kolosal “Banjaran Penangsang”

Inilah suasana pegelaran kolosal Kethoprak Siswo Budoyo yang mengangkat lakon “Banjaran Penangsang”. Pentas digelar di lapangan IAIN Tulungagung, Sabtu, 10 November 2018, mulai pukul 20.00 –  02.00 WIB, dini hari. Penyelenggara hajatan ini adalah PT Forum Indonesia Pers bekerja sama dengan Keluarga Besar Siswo Budoyo.

foto 3

Photo 1. Suasana meriah pentas kolosal Kethoprak Siswo Budoyo yang mengangkat lakon “Banjaran Penangsang;

Photo 2. Salah satu adegan ketika Sunan Giri mengangkat Trenggono sebagai Sultan Demak yang akan melahirkan berbagai reaksi pembangkangan Aryo Penangsang;

Photo 3 dan 4. Adegan-adegan peperangan antara Aryo Penangsang bersama pasukan Jipang terhadap Hadiwijaya bersama pasukan Pajang;

Photo 5. Retno Kencono alias Ratu Kalinyamat berhadapan dengan Aryo Penangsang sebelum melakukan topo wudo sinjang rambut untuk mendapatkan keadilan dari Tuhan karena kematian saudara dan suaminya di tangan Aryo Penangsang;

Photo 6. Aryo Penangsang tewas oleh kerisnya sendiri, keris Setan Kober, setelah sebelumnya terkena tombak Kyai Pleret (Photo 5.) milik Surawijaya.

 

Klarifikasi

Sekadar catatan, IAIN Tulungagung bukanlah panitia penyelenggara pentas kolosal tersebut. PT Forum Indonesia mengajukan permohonan kepada IAIN agar pihak kampus memberikan fasilitas tempat untuk pagelaran. Sesuai dengan visi pengembangan kampus IAIN yang terbuka terhadap pegembangan kebudayaan, pentas tersebut akhirnya benar-benar digelar di lapangan kampus.

Ini sekaligus mengklarifikasi bahwa pihak IAIN Tulungagung bukan bagian dari managemen acara. Bila beredar informasi terkait dengan penjualan tiket di berbagai kalangan masyarakat dan lembaga pendidikan, hal tersebut di luar tanggung jawab IAIN Tulungagung. []

Oyen Sebagai Doa Keselamatan Rajakaya

Imam Safi’i [] Peneliti muda IJIR []

Imam Safi’i [] Peneliti muda IJIR []

Saat mendengar kata Oyen, seakan-akan dalam benak kita telah mencuat nama Es Oyen. Wajar saja bila hal ini terjadi, karena umumnya masyarakat Tulungagung mengenalnya demikian. Padahal, di Tulungagung khususnya wilayah Sendang, Oyen atau Uyen dipahami sebagai bagian dari tradisi masyarakat lokal.

Bentuk tradisi ini sampai sekarang masih tetap lestari. Masyarakat Sendang mengadakan Oyen untuk mendoakan keselamatan seluruh hewan ternak miliknya. Hewan-hewan tersebut didoakan mengingat perannya cukup besar dalam membantu manusia.

(more…)

Sarasehan Budaya “Revitalisasi Kethoprak”

Institute for Javanese Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung bersama dengan Keluarga Besar Siswo Budoyo menggelar Sarasehan Budaya bertajuk “Revitalisasi Kethoprak: Siswo Budoyo dan Masa Depan Kethoprak di Indonesia” pada Sabtu, 10 November 2018, di Aula Utama IAIN Tulungagung. Acara ini menjadi sangat spesial karena dihadiri oleh para seniman Siswo Budoyo dan keluarga Ki Siswondho Hardjosoewito, pendiri Siswo Budoyo.

Hadir sebagai wakil keluarga Pak Sis, Dr. Endang Warianti putri Ki Siswondo yang kini menjalani profesi sebagai akademisi di Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri. Sedianya, Endang Wijayanti—istri mendiang Ki Siswondo juga diagendakan hadir, akan tetapi karena alasan kesehatan, beliau akhirnya tidak bisa bergabung di dalam Sarasehan.

Selain itu, hadir sebagai nara sumber Sarasehan, Yati Pesek dan Budi Prayitno. Keduanya adalah murid sekaligus sahabat Ki Siswondo di Siswo Budoyo. Yati Pesek dan Budi Prayitno juga membawa 20an orang seniman Kethoprak Siswo Budoyo dari Yogyakarta dan Solo.

PKIJ-SARASEHAN BUDAYA

Sarasehan Budaya dipandu oleh Akhol Firdaus, Direktur IJIR. Suasana Sarasehan sengaja dibikin lebih informal sehingga tampak seperti jagongan budaya.

Di samping itu, Sarasehan seakan-akan juga menjadi forum reuni diantara para seniman Siswo Budoyo. Terakhir mereka pentas bareng pada tahun 1998, dan mereka tidak lagi dipertemukan dalam momen pagelaran Kethoprak. Tak urung, momen ini menjadi momen reuni sekaligus curah hati setelah 20 tahun lamanya Siswo Budoyo mengalami masa surut.

Yati Pesek dan Budi Prayitno juga didukung oleh semua seniman Siswo Budoyo yang hadir di acara tersebut, lebih banyak menceritakan tentang sejarah Siswo Budoyo dan kiprah Ki Siswondo hingga kelompok ini menjadi legenda hidup yang terus dikenang oleh masyarakat pecinta seni tradisi. Sementara itu, Endang Warianti memberikan perspektif tentang pentingnya menjadikan Kethoprak sebagai seni tradisi yang tetap hidup di hati masyarakat.

Melampaui semua itu, semua yang hadir pada acara Sarasehan memiliki harapan yang besar agar di masa yang akan datang Siswo Budoyo dan kelompok-kelompok Kethoprak lainnya mampu bangkit kembali dan hadir di hadapan masyarakatnya dalam rangka menyuguhkan tontontan yang sarat akan tuntunan dan tatanan. []

Sakralitas Simbol Semar

Muhamad Lutfi Nawawi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Muhamad Lutfi Nawawi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III; Peneliti Muda IJIR. []

Semar adalah salah satu simbol sakralitas di Jawa. Dalam lakon punakawan, Semar merupakan ayah dari Gareng, Petruk dan Bagong. Selain itu, Semar ialah sosok yang dianggap sebagai tokoh spiritualitas tertinggi. Saking pentingnya tokoh ini, manyarakat Jawa mengabadikannya dalam wujud bangunan, jimat dan lain sebagainya.

Anggapan tersebut juga disampaikan dalam salah satu pertunjukkan wayang yang diadakan oleh Ki Anom Suroto pada salah satu acara di Pondok Pesantren Ngabar, Ponorogo. Menurutnya, Semar berasal dari bahasa Arab yaitu ismar yang artinya paku. Baginya, paku dapat direpresentasikan sebagai tanda dimulainya agama Islam masuk di Jawa.

(more…)

25.000 Obyek Cagar Budaya, Hanya Ada 4 Fakultas Arkeologi se-Indonesia

Oleh Akhol Firdaus [] Direktur IJIR []

Ini merupakan salah satu catatan penting PraKongres Kebudayaan Indonesia 2018.

Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) sebagai dokumen pokok perumusan strategi kebudayaan nasional kini sudah mencapai 50 persen dari total jumlah Kota/Kabupaten se-Indonesia. Sudah lebih dari 200 Kota/Kabupaten yang berhasil merumuskan PPKD.

Dari jumlah itu saja, khusus obyek cagar budaya, tercatat sekitar 25.000 obyek di seluruh wilayah Indonesia. Data ini menjadi basis pandangan tentang betapa tidak berimbangnya jumlah obyek dengan ketercukupan tenaga ahli dan Perguruan Tinggi yang siap memanfaatkan obyek cagar budaya tersebut. Bisa dibayangkan, data obyek kebudayaan sebanyak itu sementara hanya ada 4 Fakultas Arkeologi di seluruh Indonesia.

(more…)

Strategi Kebudayaan Nasional dan Banalitas Birokrasi Daerah

Oleh Akhol Firdaus [] Direktur IJIR []

Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 adalah puncak hajatan perumusan strategi kebudayaan Nasional yang sudah dimulai sejak pertengahan April 2018.

Ini ibarat lari maraton. Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, dalam sambutan Pra Kongres Kebudayaan Indonesia, 4 – 6 November 2018 di Jakarta, menegaskan bahwa ini merupakan proses perumusan strategi kebudayaan yang memakan waktu paling panjang dalam sejarah.

Kongres Kebudayaan sendiri akan dihelat pada 7 – 9 Desember 2018 yang ditandai dengan penyerahan dokumen strategi kebudayaan nasional kepada Presiden RI, Joko Widodo. Ini merupakan dokumen negara yang dihasilkan melalui proses yang sangat panjang dengan menyerap hampir seluruh pikiran kebudayaan yang tumbuh di seluruh Kota/Kabupaten se-Indonesia melalui penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD).

(more…)

Pengobatan Melalui Upacara Ruwatan

Firda Azmi Nur Aini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III, Peneliti muda IJIR []

Firda Azmi Nur Aini [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III, Peneliti muda IJIR []

Masyarakat Jawa masih meyakini segala hal yang berbau metafisika. Salah  satunya adalah  soal kesehatan yang selalu dikaitkan dengan hal mistis. Persoalan tersebut tertuang dalam salah satu tradisi orang Jawa, yakni ruwatan.

Ruwatan di Jawa merupakan upacara yang dilakukan untuk menghilangkan nasib buruk. Menurut Hariwijaya, melaksanakan upacara ruwatan juga disebabkan perbuatan-perbuatan yang terlarang (M. Hariwijaya, 2006:24). Hal itu selaras dengan kepercayaan bahwa penyebab orang sakit dikaitkan dengan kesalahan yang telah dilakukannya.

(more…)

Perempuan Jawa dalam Pusaran Mitos Gugon Tuhon

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III; Peneliti Muda IJIR. []

Fitria Rizka Nabelia [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester III; Peneliti Muda IJIR. []

Perempuan Jawa tidak pernah lepas dari mitos. Salah satu mitos tersebut ada dalam tradisi lisan berupa gugon tuhon. Umumnya istilah ini dikenal sebagai pantangan, larangan atau pamali. Isinya adalah petuah-petuah bijak yang berisi kearifan lokal daerah.

Petuah-petuah bijak ini disampaikan oleh orang tua, umumnnya orang Jawa kepada anak perempuan mereka. Biasanya gugon tuhon di sini memuat larangan berupa kiasan atau perumpamaan. Orang Jawa percaya bahwa petuah tersebut mengandung nilai moral untuk memahami diri, lingkungan dan alam sekitar. Namun, secara turun temurun gugon tuhon diadopsi sebatas larangan dan pantangan.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme