Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Garuda

Oleh Akhol Firdaus

(Direktur Institute for Javanese Islam Research – IAIN Tulungagung)

cak akhol

 

Garuda itu mahluk kahyangan. Perwujudan dewa. Tubuhnya berwarna keemasan. Wajah dan kepalanya berwarna putih, sayapnya merah darah. Ia terbang melintasi dimensi ruang dan waktu, dari bumi menuju kahyangan. Kala sayapnya dikepakan ke angkasa, sinar matahari pun tak bisa menembus bumi.

Itulah alegorisme umum yang masyhur di masa lalu. Masyarakat Nusantara sudah lama berkenalan dan menghormati mahluk agung ini. Jejak garuda di Nusantara bisa dilacak sejak abad 5 M.  Setidaknya, Muhammad Yamin (1951) pernah berspekulasi demikian. Garuda—sejauh dikaitkan dengan Wisnu, telah dijadikan simbol kemegahan Maharaja Pūrņawarman dari Tārumanāgara.

Tidak diragukan, Pūrņawarman adalah penganut Wisnu. Tujuh prasasti yang mengukuhkan keberadaannya, secara tegas menggambarkan sifat-sifat ke-Wisnu-annya (Marwati D. Poesponegoro, dkk, 1992; George Cœdés, 2010). Sebagian besar prasasti diberi cap kaki—dilukiskan sebagai kaki Wisnu—untuk menggambarkan keberanian, kemegahan, dan kebijaksanaan.

Meski Wisnu selalu dikaitkan dengan Garuda, akan tetapi tidak ada visual yang terang benderang dari periode tersebut. Jejak-jejak Garuda dalam bentuk relief dan patung, baru terbahana pada abad 8-9 M. Menariknya, pada periode ini, peng-arca-an Garuda tidak selalu terkait dengan kosmologi Wisnu, tetapi juga ke-Buddha-an.

(more…)

Metamorfosis Kiai di Jawa

Oleh Khoirul Fata

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research)

FATA

Kiai pernah tampil sebagai cultural broker. Istilah tersebut digunakan Geertz untuk melihat keterlibatan kiai dalam urusan sosial, ekonomi, politik dan budaya di masyarakat. Ia tidak berdiri di menara gading dan menikmati berkah otoritas keagamaannya. Sedangkan saat ini, kiai enggan menyapa masyarakat dan cenderung menikmati posisinya yang serba mapan.

Posisi kiai dalam kategori trikotomi Geertz, sering dipertentangkan dengan kelompok “abangan”. Kendati demikian, tidak seluruh kiai bersitegang dengan mayoritas abangan. Kiai lebih bisa diterima masyarakat karena ia menjadi—dalam bahasa Geertz –“cultural broker” yang mempertemukan antara Islam dan Jawa. Sedangkan menurut Ricklefs ketegangan santri-abangan terus meruncing dalam periode sejarah, namun posisi kiai tetap mendapat penghormatan yang tinggi dalam masyarakat pedesaan Jawa (M. C. Ricklefs, 2013: 787).

Betapapun mendapat penghormatan yang tinggi, hemat Ricklefs, kiai tidak memiliki pengaruh politik secara efektif di periode sebelum kemerdekaan Indonesia. Namanya ditempatkan pada posisinya sebagai pengayom umat dan sering meredam gejolak-gejolak politik pada masanya. Dalam sejarahnya, kiai yang masuk dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama (NU) kerap menentang setiap tindakan yang berbau politik dalam organisasi tersebut. Martin van Bruenessen mencatat pada muktamar NU ke-15 di Banten 1938, pernah terdapat usulan untuk mengirim wakil NU dalam Volksraad (Dewan Rakyat). Kita bisa menebak, mayoritas kiai menolak dan menginginkan NU tidak bersinggungan dengan politik dalam bentuk apapun (Martin Van Bruinessen, 1994: 47).

(more…)

Langgar, Panggung Kekuasaan Kiai

Oleh Imam Safi’i

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research )

IMAM

Langgar dan kiai tidak bisa dipisahkan. Bangunan ini menjadi tempat berkumpulnya beragam cara pandang kiai dalam mempraktikkan agama Islam di Jawa, mungkin juga beberapa wilayah lainnya. Tolak ukur kesalehan seseorang dilihat dari seberapa ia sering pergi ke tempat ini untuk beribadah. Kiai termasuk bagian di dalamnya sebagai orang yang punya kharisma di masyarakat. Sekarang ini, secara kuantitatif, jumlah langgar dan kiai semakin banyak. Bahkan, jumlah langgar melebihi masjid dan saling berdekatan satu sama lain.

Menjamurnya tempat peribadatan ini terkait erat dengan ketersediaan lahan dan situasi politik di tahun 65-an, Ricklefs menyebutnya sejak tahun 60-an. Saat itu PKI dengan sengaja mengambil tanah-tanah yang berlebihan milik tuan tanah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Akibatnya, aksi sepihak PKI itu justru memberikan keuntungan bagi institusi-institusi Islam, sebab banyak tuan tanah santri yang lebih memberikan tanah mereka bagi pesantren, masjid, langgar atau lembaga-lembaga lain sebagai wakaf daripada melihatnya jatuh ke tangan kekuatan Komunis (Ricklef, 2013: 192).

(more…)

Titisan Wisnu

Oleh Akhol Firdaus

(Direktur Institute for Javanese Islam Research – IAIN Tulungagung)

cak akhol

 

Inilah kisah tentang Erlangga. Raja termasyhur dalam jagad kekuasaan di Nusantara. Harum kisahnya abadi. Dialah titisan Wisnu. Hadir ketika dunia sedang dicekam kegelapan. Dialah Arjuna. Sosok yang mengejar kesempurnaan demi menciptakan dunia yang sentosa.

Erlangga bukan raja biasa. Ia tidak mewarisi kekuasaan sebagai putra mahkota. Ia datang justru ketika kerajaan sedang luluh lantak karena kekuatan pralaya. Zaman gelap akibat angkara murka sedang menguasai semesta. Erlangga ditakdirkan hadir pada masa kaliyuga, suatu episode sejarah yang menyerupai ‘lautan purba’.

Alam telah memilih Erlangga. Sosok dan kualitas pribadinya telah memikat hati dewa Indra. Pemegang kekuasaan tertinggi kerajaan kahyangan itu, turun sendiri ke bumi. Membujuk Erlangga-Arjuna agar mau mengemban tugas berat, menghadapi pralaya, bukan hanya demi memulihkan sentosa di dunia, tetapi juga memulihkan keadaan kerajaan kahyangan.

(more…)

Annual Report 2017

Ini merupakan laporan tahunan yang dilansir secara resmi oleh Institute for Javanese Islam Research (IJIR) kepada publik. Laporan juga merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada pemberi mandat, Rektor IAIN Tulungagung. Terima kasih tidak terhingga kepada Rektor IAIN Tulungagung, Dr. Maftukhin, M.Ag, Dekan Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah, serta Kajur Aqidah dan Filsafat Islam.

SAMPUL ANNUAL REPORT 17

Selama tahun 2017, IJIR telah menyuguhkan 35 tulisan ilmiah populer yang mengusung isu Islam Jawa. Tulisan-tulisan tersebut merupakan karya para peneliti muda, sebagiannya tengah ditandaklanjuti menjadi penelitian. Di tahun yang sama, IJIR juga sudah menggelar 27 kegiatan pokok, baik yang bersifat pengembangan kapasitas lembaga maupun kegiatan yang dirancang untuk publik dalam berbagai bentuk seminar, short course, workshop, focus group discussion, dan ceramah ilmiah.

Dua kali publikasi ilmiah. Satu dalam bentuk buku hasil penelitian, dan satu tulisan jurnal internasional.

Laporan ini sekaligus sebagai tolok ukur kegiatan IJIR di tahun-tahun mendatang. Karenanya, dukungan, kritik, saran, dan masukan dari berbagai kalangan, akan sangat berarti untuk pengembangan kelembagaan dan kerja intelektual lembaga ini di masa-masa mendatang.

Laporan dapat diunduh di link berikut ini: https://drive.google.com/file/d/1kvX49vC48Gu6TBQGJ32H_RHrIyknU8eX/view?usp=sharing

 

Salam,

Akhol Firdaus

(Direktur IJIR)

Menyoal Klaim “Menjadi Orang Jawa Berarti Menjadi Muslim”

Oleh Gedong Maulana Kabir

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research)

GEDONG

Imajinasi sebagian ahli tentang kajian Islam Jawa masih menyisakan masalah. Mereka menganggap bahwa menjadi orang Jawa berarti menjadi muslim. Dengan bahasa yang lain, seakan-akan masyarakat Jawa dianggap sudah auto-muslim. Mungkin, pandangan ini hendak mengatakan bahwa nilai-nilai dalam Islam bersesuaian dengan nilai-nilai yang ada di Jawa. Namun, justru pandangan demikian mengidap penyakit fondasionalisme. Mungkinkah ini benar demikian?

Tokoh pertama yang menyuarakan pandangan seperti ini adalah Mark. R. Woodward. Dalam bukunya Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, secara eksplisit dia menuliskan, “semua orang Jawa sesungguhnya adalah Muslim” (Woodward, 2008: 366). Dengan meyakinkan, Woodward membuktikan bahwa praktik-praktik Islam Jawa bisa ditemukan argumentasi normatifnya dalam Islam. Dia juga memberikan penjelasan bahwa masyarakat Jawa yang memiliki kecenderungan mistik memiliki kesamaan dengan corak Islam sufistik. Ini menunjukkan bahwa Islam Jawa sama absahnya dengan Islam yang berpadu dengan nilai lokalitas di tempat lain, misalnya Islam Iran, Islam Maroko, Islam India, maupun Islam-Islam di tempat lain.

(more…)

Menandai Langkah Pertama, Kerja Intelektual Organik

Oleh Akhol Firdaus

(Direktur Institute for Javanese Islam Research – IAIN Tulungagung)

 

Masih segar dalam ingatan, tanggal ini, 3 Januari tahun lalu, untuk pertama kalinya saya menerima penyerahan kunci kantor Institute for Javanese Islam Research (IJIR). Di tanggal itu juga saya untuk pertama kali membuka bekas ruang kuliah yang didesain sebagai kantor tersebut.

Seraya membaca al-Fatihah, saya memasuki ruangan. Ada berjubal-jubal mimpi dan ekspektasi yang menunggu diwujudkan. Tentu saja semua masih abstrak. Kami—tidak selayaknya organisasi-organisasi modern yang harus menyusun rencana strategis terperinci terlebih dulu, sebelum mewujudkan ragam program, yang terjadi pada kami justru, semua serba mengalir mengikuti irama waktu. Mengikuti kehendak alam.

Jujur saja, kami telah dan selalu hanya digerakan oleh mimpi. Semua serba abstrak pada awalnya, dan dalam beberapa hal, kami membiarkannya tetap abstrak. Tentu pada akhirnya, saya harus membuat semacam logical framework sebagai guidance lembaga ini. Arah kerja lembaga itu pastilah ada, tapi bukan kitab suci.

Singkat kata, IJIR berdiri mengikuti waktu pertama kali saya membuka kantor yang difasilitasi oleh IAIN. Itulah tanggal yang kami tetapkan sebagai hari jadi, 3 Januari.

(more…)

Undangan Eksklusif

Workshop Menulis Kritis ini secara khusus diselenggarakan untuk 16 orang mahasiswa di lingkungan Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah yang terlipih berdasarkan kualifikasi yang ditetapkan oleh IJIR. Workshop juga memberi kuota terhadap sejumlah mahasiswa dari kampus lain jaringan IJIR.

workshop nulis 2018 Small

Islam Jawa, Jagad Tafsir Kebudayaan

Institute Transvaluasi hadir kembali dengan tetap mengusup spirit tersebut menggugat “narasi-narasi besar” Isalam Jawa. Melihat pergumulan wacana Islam Jawa sebagai narasi yang perlu ditafsirkan lebih multi-perspektif dengan melibatkan cara pandang insider.

institute transvaluasi share fb

Institute berkesempatan menghadirkan dua orang ilmuwan muda yang berkompeten dalam kajian ini: [1] Dr. Islah Gusmian, M.Ag (IAIN Surakarta), dan; [2] Yanwar Pribadi (UIN Banten). Kedua ilmuwan telah membuktikan diri dalam berbagai karya mereka melakukan upaya-upaya pengayaan tafsir atas narasi besar Islam Jawa. Islah Gusmian sangat konsen pada persoalan manuskrip Nusantara. Sementara Yanwar Pribadi melihat rembesan identitas Islam Jawa dalam sub-kultur yang lebih sempit yakni budaya Madura. Berpijak pada keahlian tersebut, Islah Gusmian diharapkan memberikan ceramah yang berdaya tentang corak dan identitas Islam Jawa dalam manuskrip Nusantara. Sementara itu, Yanwar Pribadi diharapkan memberikan ceramah tentang identitas Islam Jawa dalam sub-kultur Madura.

Atas berbagai pertimbangan, pelaksanaan ceramah ilmiah dan kebudayaan putaran III dan IV dijadikan satu. Tema yang diangkat dalam putara III dan IV ini adalah “Islam Jawa, Jagad Tafsir Kebudayaan” dengan nara sumber dan tema sebagaimana bisa dibaca pada tabel.

Penceramah Tema Hari/Tanggal
Dr. Islah Gusmian, M.Ag [IAIN Surakarta] Corak dan Identitas Islam Jawa dalam Manuskrip Nusantara

 

Kamis, 14 Desember 2017

 

Jam 08.30 WIB — selesai

Yanwar Pribadi [UIN Banten] Identitas Islam Jawa dalam Sub-Kultur Madura

 

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme