Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Refleksi 20 Tahun Reformasi

Forum Jatim, UPC Trawas, 1-2 Juni 2018

Forum Jatim kembali digelar. Inilah satu-satunya forum paling berwibawa di Jawa Timur yang selalu mempertemukan para pemikir, akademisi, aktivis, pegiat HAM, politisi, kalangan birokrat dan NGO dalam suatu diskusi yang mewah. Bukan hanya karena semua yang terlibat adalah para ‘pendekar’ di bidangnya, tetapi diskusi dalam Forum Jatim juga selalu diproyeksikan berkontribusi pada pemikiran-pemikiran tentang kebangsaan Indonesia.

(more…)

Beragama Cara Sehat ala Jawa

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Keberadaan Islam di Jawa memiliki ciri khasnya sendiri. Salah satu ciri yang menonjol adalah kekayaan penafsiran atas Islam yang berpadu dengan kebudayaan Jawa. Cara orang Jawa beragama juga sangat selaras dengan akar kebudayaannya sendiri. Hasilnya cara ber-Islam demikian telah melahirkan kepribadian yang sehat, dan terbebas dari ragam represi agama.

Pandangan tentang represi dalam beragama itu berpangkal pada pandangan Sigmund Freud. Ia temasuk tokoh yang masyhur karena pandangannya bahwa agama adalah sumber penyakit bagi manusia.

(more…)

Tafsir Kiai Shaleh Darat [8]: Nikmat Hakiki dalam Ṣirāṭ al-Ladhīna An’amta ‘Alaihim

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Kecenderungan manusia untuk mengejar kebahagiaan serta kenikmatan adalah kelaziman. Namun, seringkali kenikmatan tersebut disamakan dengan kesenangan, terlebih kesenangan duniawi. Tak mengherankan jika akhirnya manusia berbondong-bondong mengumpulkan harta. Ironisnya, hal semacam itu seringkali dilakukan dengan cara yang tidak pantas, semisal dalam maraknya kasus korupsi.

Mengingat semua itu, perlulah kita belajar dari Tafsir Kiai Shaleh Darat ini terkait apa sebenarnya yang dimaksud dengan nikmat. Hal ini perlu dilakukan agar kita mengenal apa itu hakikat nikmat, tidak lupa diri dan menghalalkan segala cara dalam mengejar kenikmatan baik yang duniawi maupun ukhrawi.

(more…)

Semesta Al-Fatihah [2-Habis]: Tafsir Sufistik-Kejawaan Manuskrip Kiai Mustojo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Mempertimbangkan penafsiran Kiai Mustojo yang penuh dengan ajaran manunggaling kawula-Gusti, maka penafsirannya akan selalu ingin mengungkap makna di balik makna literal sebuah kata dalam al-Fatihah yang sesuai dengan ajaran yang beliau anut tersebut.

Meski memiliki makna yang lebih dari makna literal (makna konotatif), bukan berarti makna literal (makna denotatif) yang ada dalam al-Qur’an tidak begitu penting. Sebab makna literal dari sebuah kata yang ada dalam al-Qur’an menjadi pintu gerbang bagi masuknya pemahaman terhadap makna-makna lainnya.

(more…)

Semesta Al-Fatihah [1]: Tafsir Sufistik-Kejawaan Manuskrip Kiai Mustojo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Alumni IAIN Ponorogo, jaringan peneliti IJIR []

Al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia lewat Nabi Muhammad Saw sebagai pedoman hidup. Oleh karena itu, al-Qur’an haruslah bersifat ṣāliḥ likulli zamān wa makān. Al-Qur’an juga menjadi sebuah pondasi dan pijakan kehidupan teologi umat manusia maupun kehidupan sosial kemasyarakatan manusia (Q.S. Al-Baqarah (2): 2, 183).

Al-Qur’an hanyalah sebuah teks yang bisu ketika tidak adanya sebuah dialog antara teks, mufasir dan realitas. Karena teks begitu rigid dan statis, sedangkan realitas selalu dinamis dan fleksibel, sehingga dibutuhkan sebuah proses dialektika antara teks, akal dan realitas secara terus-menerus.

(more…)

Psiko-Macapat: Memahami Psikososial Manusia dalam Tembang Macapat

Mochammad Chafidz Baihaqi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Mochammad Chafidz Baihaqi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Jika kita berangkat dari sejarah munculnya macapat, kitab-kitab primbon telah memaparkan tembang macapat sebagai hasil gubahan para Wali dan pejabat tinggi di zamannya. Dapat disimpulkan bahwa tembang macapat telah muncul pada periode Majapahit, kurang lebihnya saat budaya Islam mulai masuk ke Jawa.

Hadirnya tembang macapat lahir saat pengaruh kebudayaan India mulai luntur dan menipis, yaitu saat kakawin atau puisi Jawa kuna dengan mentrum (irama) India makin surut, disusul munculnya bentuk kakawin tanpa metrum India (Sadjana Hadiatmadja, 1968: 6-9).

(more…)

Tafsir Kiai Shaleh Darat [7]: Mengenal Hidayah dan Jalan Kebenaran dalam Ihdinā aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Hidayah atau petunjuk, merupakan hal mewah bak permata bagi umat beragama, termasuk umat Islam. Karena alasan hidayah, manusia berorientasi pada jalan yang lurus atau kebenaran. Sayangnya, orientasi pada jalan lurus itu malah seringkali membuat manusia lupa, bahwa sebenarnya keduanya (baik hidayah maupun jalan lurus) sesungguhnya merupakan hak prerogatif Tuhan.

Pada taraf kesalehan tertentu, manusia bahkan memiliki kecenderungan menghakimi sesamanya karena merasa memiliki hak atas hidayah. Manusia seperti ini, mudah merasa punya hak atas sesamanya, seakan-akan dialah pemberi hidayah bagi orang lain untuk menuju jalan kebenaran yaitu aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm.

(more…)

Halal Bi Halal: Membuka Kembali Catatan Clifford Geertz

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Halal bi halal merupakan semacam pesta sekuler yang menggantikan kunjungan perorangan untuk meminta maaf saat hari raya, begitu tulis Clifford Geertz. Dalam bahasa arab, sebagaimana ditulis Geertz, halal bi halal artinya saling meminta maaf.

Kala itu, saat Geertz melakukan penelitian lapangan di Mojokuto pada 1953-1954, halal bi halal lebih popular di kota-kota besar dibanding di Mojokuto sendiri. Alasannya mudah ditebak, masyarakat lebih banyak berkunjung dari rumah ke rumah untuk saling meminta maaf.

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [5-Habis]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Riyaya—Basis Konflik atau Penyatuan?

Riyaya telah menjadi sarana pembauran dan integrasi, tapi jangan salah, riyaya dalam pandangan Clifford Geertz sekaligus merupakan titik keretakan dan konflik di internal santri.

Di samping soal penyelenggaraan sembahyang riyaya di lapangan atau di masjid, fakta keretakan lainnya adalah, soal penentuan hari raya berdasarkan metode yang berbeda di lingkungan kelompok-kelompok santri. Rupanya problem penetapan hari raya merupakan problem klasik .

(more…)

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [4]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Riyaya

Setelah ritual puasa, tarawéh, darus, dan sahur berlangsung sebulan penuh, datanglah riyaya atau hari raya. Clifford Geertz menyebut riyaya sebagai pesta puncak dari rangkaian ritual bulan puasa. Semua orang merayakan hari itu.

Mereka semua berpakaian baru, menghidangkan makanan yang paling istimewa, saat menjalani ritual intinya. Bagi Geertz, pesta riyaya ini mirip dengan hari Paskah di Amerika. The Religion of Java (1960) sudah menyinggung soal riyaya di bagian The Santri Ritual Pattern, akan tetapi ulasan yang lebih khusus justru ditempatkan di bagian kesimpulan buku tersebut, Rijaja: The End of Fast Holiday (379-381).

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme