Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Jayabhayalañchana

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Śrī Jayabhaya masih bersama kita. Raja megah itu namanya harum semerbak kembang Padma. Kharismanya abadi—menembus dimensi ruang dan waktu. Titah-titahnya sakral, diugemi hingga kini. Masa depan Jawa, sejauh diyakini orang Jawa, selalu dikaitkan dengan petuah Jayabhaya.

Entahlah. Raja ini seperti masih memimpin Jawa. Jongko-jongkonya masih terus menyelimuti memori kolektif manusia Jawa. ‘Ramalan-ramalan’ itu terus mendidik orang Jawa agar tetap ‘ingat’ (iling) dan ‘waspada’ (waspodo). Jayabhaya telah menjelma menjadi citra diri orang Jawa itu sendiri.

Meski begitu, sejarah sesungguhnya hanya menyuguhkan sekelumit kisah tentang siapa Jayabhaya sebenarnya. Tiga prasasti yang ia wariskan hampir tidak menggambarkan apapun. Hantang tahun 1057 Śaka (1135 M), Talan 1058 Śaka (1136 M), dan Jepun 1066 Śaka (1144 M), hanyalah catatan ringan tentang kemurahan sang Raja atas kesetiaan penduduk di tiga desa itu selama periode pergolakan.

(more…)

Tahun Baru Pemikat Berkah di Pantai Serang

Ahmad Izzul Haq [] Peneliti muda IJIR; mahasiswa AFI Semester V []

Ahmad Izzul Haq [] Peneliti muda IJIR; mahasiswa AFI Semester V []

Ada banyak ragam dan cara mengemas rasa syukur masyarakat. Pelestarian tradisi di Serang Kecamatan Panggungrejo, Blitar, merupakan ekspresi syukur yang dikemas dalam sajian sakral ritual Larungan di pesisir pantai. Larungan adalah ritual yang diperankan oleh budayawan maupun penduduk desa untuk menyambut awal tahun Jawa 1940 Saka Jawa dan Muharram 1440 H. Tepat pada Kamis Legi, 2 Sura (13 September 2018) ritual tersebut menjadi meriah karena dihadiri secara langsung oleh Bupati Blitar, Drs. Rijanto, beserta  para pejabat daerah. Kehadiran ribuan warga juga semakin menyemarakkan Larungan.

Ritual tersebut menggambarkan kebudayaan masyarakatnya. M. Jacobs dan B.J. Stern menjabarkan bahwa kebudayaan mencakup keseluruhan kehidupan manusia meliputi bentuk teknologi sosial, ideologi, religi, dan kesenian yang menjadi warisan sosial (M. Adhim: 2014). Berpijak pada pandangan ideologi penduduk Serang, Bapak Raban Yuwono, sesepuh desa tersebut, membeberkan sejarah bahwa terdapat kepercayaan yang diwujudkan melalui ritual saat awal penanggalan Jawa dan Hijriah. Tanggal Jawa mulai dikenal saat Majapahit berkuasa. Hayam Wuruk pernah mengadakan upacara agung tahun 1361 M.

(more…)

Demi Kentrung

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Seperti sudah diatur oleh alam, saya akhirnya benar-benar bisa sowan ke rumah Mbok Gimah pada peringatan 100 hari kepergian beliau. Suatu perjumpaan yang layak saya tangisi karena, pada akhirnya saya harus puas hanya diperkenankan menelusuri ‘jejak’ beliau.

Sang Maestro Kentrung Tradisi itu telah menjalani tugas hidupnya dengan sempurna. Beliau telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk perkembangan Kentrung.

Sepanjang itu pula, Mbok Gimah dikenal sebagai satu-satunya dalang Kentrung yang tunduk pada pakem. Tak tertandingi piawainya dalam menyajikan sejarah dan nilai keadaban yang dikandung oleh seni tutur tingkat dewa itu. Meski telah berpulang, pesona dan kemegahan Mbok Gimah tak akan habis untuk diarungi.

(more…)

Suroan di Tambakrejo

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, peneliti muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester V, peneliti muda IJIR []

Masyarakat Tambakrejo, Wonotirto, Blitar, sungguh telah menggenggam erat warisan leluhur. Hal ini nampak dari ritual Suroan yang mereka selenggarakan. Masyarakat Tambakrejo menyajikan ritual Suroan yang dijiwai dengan nilai-nilai luhur, “nguri-nguri warisan leluhur” dan nilai spiritual yang menjadi pondasi utama kehidupan mereka. Di sisi lain, balutan kesenian turut melengkapi ritual perayaan pergantian tahun di Desa Tambakrejo tersebut.

Adanya ritual Suroan itu berkaitan erat dengan sejarah yang dituturkan secara turun-temurun.  P. Djumar, selaku panitia ritual Suroan, mengawali ceritanya dengan kisah seorang prajurit Mataram yang sekaligus abdi Pangeran Diponegoro yang dikepung oleh pasukan Belanda. Ia dijuluki dengan sebutan Ki Atmawijaya. Ia menyisir hingga kawasan pesisir selatan Blitar. Kawasan ini nantinya diberi nama Tambakrejo.

(more…)

Tulungagung, Surga Jaranan

Imam Safi’i [] Peneliti muda IJIR []

Imam Safi’i [] Peneliti muda IJIR []

Tulungagung telah menjadi situs penting bagi kesenian tradisi. Di kota ini, semua jenis kesenian tradisi bertumbuh dengan baik. Di antara semua seni tradisi, Jaranan bisa dibilang sebagai seni yang paling bisa bertahan dari arus perubahan zaman. Kesenian ini bahkan telah melahirkan grup-grup legendaris seperti grup Safitri Putro, Kuda Manggala, dan Kuda Birawa.

Merujuk pada data yang dikeluarkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, setidaknya tercatat 32 kelompok kesenian Jaranan. Kelompok-kelompok ini bahkan sudah mendapatkan nomor induk kesenian. Dengan melihat data ini, popularitas Jaranan di Tulungagung sebagai kesenian rakyat menduduki urutan teratas. Hanya saja, data tersebut belum menggambarkan jumlah yang sebenarnya dari banyaknya kelompok kesenian yang ada.

(more…)

Kentrung Kreasi, Cara Memikat Penonton dengan Komedi

Masruroh [] Peneliti muda IJIR []

Masruroh [] Peneliti muda IJIR []

Kentrung kini memiliki wajah baru. Tanpa bermaksud mengubah pakem Kentrung, para seniman Kentrung mencoba memberikan berbagai formulasi untuk membuat Kentrung tetap diminati. Termasuk memperkenalkan Kentrung pada generasi muda.  Adalah Sanggar Gedang Godhog, sanggar Kentrung yang terlahir dari kegelisahan Mbok Gimah yang ditularkan pada anak Ideologisnya.

Berangkat dari kegelisahan yang dialami oleh mbok Gimah, tentang siapa yang akan melanjutkan kesenian Kentrung setelah beliau berpulang, akhirnya pada tanggal 5 Agustus 2017 Sanggar Gedang Godhog terlahir. Sanggar Gedang Godhog merupakan sanggar Kentrung milik seorang pemuda Asli Tulungagung yang bernama Yayak Priasmara. Yayak adalah anak ideologis dari Mbok Gimah yang mewarisi darah kentrung dari Maestro Kentrung nomer satu di Tulungagung ini. Dan Sanggar Gedang Godhog adalah jawaban atas kegelisahan yang dialami oleh mbok Gimah.

(more…)

Kirab Bedhol Pusaka Kabupaten Ponorogo

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Muhammad Masrofiqi Maulana [] Peneliti IJIR []

Arti secara etimologi bedhol itu mencabut secara kasar. Akan tetapi orang Ponorogo yang notabene orang-orangnya lebih suka simpel maka diambil kata Bedhol Pusaka. Menurut KRAT. Gondo Puspito (Anggota PAKASA—Paguyuban Kawula Karaton Surakarta—Gebang Tinatar), dulu ada yang mengusulkan Lorot Pusaka, ada yang mengusulkan Pengembalian Pusaka sehubungan dengan bahasa Indonesia.

Para sesepuh lebih cenderung memilih “Bedhol Pusaka” karena lugas dan simple. Ritual ini merupakan ritual mengembalikan 3 Pusaka Ponorogo peninggalan Bathara Kathong ke Setono. Ketiga Pusaka ini berupa Kingkin (Angkin/Sabuk), Songsong (Payung), dan Waos (Tombak). Setiap Pusaka memiliki nama yaitu Tombak Tunggul Naga, Songsong Tunggul Wulung, dan Kingkin Cinde Puspita. Kirab Bedhol Pusaka merupakan ritual yang dilakukan dalam pergantian tahun Jawa, 1 Suro Saka Jawa.

(more…)

Sénthéréwé: Jaranan Asli Tulungagung (?)

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Bicara tentang jaranan Sénthéréwé, orang akan langsung ingat Tulungagung. Hal ini tidak berlebihan karena jaranan versi ini, menurut banyak kalangan dan sumber, memang lahir dari rahim para seniman di Tulungagung. Salah satu versi menyebut, jaranan Sénthéréwé lahir di Dukuh Sukorejo, Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung sekitar tahun 1958-an.

Peneliti Belanda, Victoria M. Clara van Groenendael pernah menulis perihal jaranan. Kini, penelitian itu telah dibukukan dengan judul JARANAN: The Horse Dance and Trance in East Java (Leiden: KITLV, 2008). Dia menjelaskan makna Sénthéréwé begini:

(more…)

Dunia Jaranan di Jawa

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Chandra Halim Perdana [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Jaranan berasal dari bahasa Jawa ngoko yang artinya kuda tiruan. Hal ini karena Kesenian tari tradisional tersebut mempertontonkan para pemainnya tampil dengan membawa kuda tiruan. Daya tarik sekaligus bagian tidak terpisahkan bagi pertunjukan ini adanya, para pemainnya yang trance atau istilah jawanya ndadi.

Kesenian ini telah lama ada, menurut Th.G.Th. Pigeaud dalam Victoria M. Clara yang menyebutkan keberadaan jaranan dalam Serat Centhini. Fragmen tersebut menggambarkan pementasan tari yang menggunakan kuda tiruan berwujud dua dimensi terbuat dari kulit atau bambu (Clara, 2008:13).

(more…)

Dari Kentrung Tradisi Menuju Kentrung Kreasi

Rifchatullaili [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) []

Rifchatullaili [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research (IJIR) []

Kentrung adalah seni bertututur tradisional. Kesenian ini menjadi sarana komunikasi yang khas pada masanya. Di dalamnya, sarat akan pesan-pesan tersirat yang penuh makna. Melalui kesenian Kentrung, masyarakat mewujudkan sarana komunikasi rakyat sesama golongannya melalui pengandaian-pengandaian (simbol-simbol) dalam parikan-parikannya.

Pengandaian ini diwujudkan dalam gambaran penokohan carita tutur yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sekali pementasan, biasanya berisi beragam tema semisal agama, ideologi, ekonomi bahkan politik. Seluruh tema tersebut sepenuhnya disampaikan melalui tuturan tanpa ada ilustrasi tokoh, misalnya wayang.

(more…)

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme