Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Educate The Self Against Stupidity: Mabuk Pelangi, Mabuk LGBT — opini peneliti muda

Oleh Maulidya Rohmatul Umamah

Penulis adalah mahasiswa jurusan Aqidah & Filsafat Islam

15781663_1623399274623101_6449995174294720456_n

Manusia mengalami dua kali masa pubertas. Pubertas pertama adalah ketika pemikirannya cukup mapan untuk memahami seksualitas. Pubertas kedua adalah ketika tubuhnya cukup siap untuk melakukan hubungan seksual ― Immanuel Kant.
LGBT seringkali menerima perlakuan tidak manis hanya karena perbedaan orientasi seksual yang tidak memiliki label di mata masyarakat, terutama dari barisan konservatif Islam yang―hampir keseluruhan belajar agama― meneriakkan halal-haram kemudian menyalahkan tanpa mengkaji lebih dalam. Padahal untuk menjadi benar, tidak harus menyalahkan yang lain. LGBT sendiri juga identik dengan Nabi Luth AS. Di Al-Quran kisah Nabi Luth dituliskan melalui kisah Sodom-Gomorah. Sampai hari ini belum ada bukti arkeologi yang bisa membuktikan keberadaan kaum tersebut. Umat Luth diceritakan mengeksploitasi seksualitas, bukan tentang homoseksualnya saja, melainkan juga macam-macam karya pornografi, sastra pornografi dan memperjualbelikan perempuan ke rumah pelacuran.

Pemahaman seksualitas pada jaman itu pun memiliki konteks berbeda dengan jaman sekarang. Dalam beberapa kebudayaan pada jaman itu, kegiatan seksual dimasukkan dalam undang-undang. Misalnya, pria yang tertangkap tidur dengan istri orang boleh dipermalukan dengan cara disodomi di depan publik. Lalu pada jaman itu, perilaku sodomi adalah symbol penaklukan dan penistaan. Misalnya, jika sebuah wilayah ditaklukkan, para lelaki dari wilayah yang kalah boleh disodomi sebagai bagian dari tradisi penaklukan tersebut.

Dalam Al-quran sendiri tidak ditemukan kosakata Homoseksual dan Nabi pun memilih untuk tidak membahas mengenai homoseksual ketika ditanya oleh para sahabat. Berbicara tentang ini, harusnya ada pembeda antara perilaku seksual dan orientasi seksual. Al-quran dan Nabi Muhammad tidak pernah membahas mengenai orientasi seksual, sebaliknya yang dibahas adalah perilaku seksual yang menyimpang. Ditekankan disini, perilaku seksual dan orientasi seksual adalah sesuatu yang berbeda.
Dalam ayat-ayat yang termaktub di Quran menunjukkan secara eksplisit bahwa Islam tidak menyukai perilaku seksual yang merusak kehormatan manusia dan merugikan orang lain. Ini berlaku bagi mereka yang straight dan homoseksual. Kosakata homoseksual dan heteroseksual tidak ada dalam quran karena islam tidak ingin membeda-bedakan manusianya. Seperti yang tercantum dalam Q.S al-baqarah 2:30 dan al-isra 17:70. Lebih lanjut lagi, kata yang dianggap merujuk pada makna homoseksual di al-quran adalah fahisyah pada Al-Araf 7:80-81 dan Al Ankabut 29:28. Faktanya adalah kata ini digunakan sebanyak tiga belas kali dalam al-quran yang juga merujuk pada tindakan lain, seperti penipuan, hutang, sampai sirik. Jadi jika merujuk padanan kata fahisyah yang lain ini, artinya akan merujuk pada perilaku, bukan identitas.

Bagi yang memahami Ushul Fiqh, tentunya akan paham mengenai pemaknaan keagamaan yang mengedepankan enam prinsip yakni: Keadilan, Kemaslahatan―maksudnya sesuatu yang mendatangkan keselamatan, Kebijaksanaan, Kesetaraan, Kasih-sayang, Nilai-nilai hak asasi manusia. Kemudian dengan enam prinsip tersebut islam mampu mengklaim sebagai agama pembawa rahmat dan janji pembebasan bagi semua kelompok tertindas sebagaimana yang telah Rasulullah perjuangkan di awal masanya. Sebagai catatan, LGBT bukanlah ancaman.
Kelompok straight-konservatif tentunya sering bertanya pada mereka yang dianggap melenceng dengan pertanyaan konyol, misalnya Pernahkah anda mencoba untuk menyukai lain jenis dan bukannya menyukai sesama? yang kemudian akan dijawab dengan jawaban retoris,Pernahkah anda mencoba untuk menahan darah menstruasi agar tidak keluar dari (maaf) kemaluan anda?. Bagi orang yang memiliki pikiran terbuka atau setidaknya akal yang benar-benar bekerja dengan baik, jawaban diatas merupakan bentuk dark joke yang bermakna kira-kira seperti ini, sebagai perempuan, sudah fitrahnya memiliki (maaf) vagina dan memiliki siklus menstruasi. Begitu pula para homoseksual. Bagi yang tidak sepaham, mari berdiskusi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme