Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Diskusi Bersama Dr. Samsul Maarif

 15107220_10207942126847346_1734001483581328709_n

Pada dasarnya hidup ini terdiri atas tiga elemen utama saja: aku, selain aku, dan relasi antara keduanya. Elemen yang kedua (selain aku) terdiri dari tiga unsur: super-natur, natur, dan kultur. Yang kemudian harus dipetakan adalah hubungan antara “aku” dengan tiga unsur yang berada di domain “selain aku” tersebut, yakni super-natur, natur, dan kultur.

Kita bahas yang ini saja: hubungan antara aku dengan super-natur dan natur. Hubungan antara “aku” (kita) dengan super-natur bersifat hirarkis dalam ujud sembah. Sebagai penganut agama samawi, hubungan kita dengan super-natur sudah diatur sedemikian rupa; tinggal ada/tidak adanya kesiapan untuk menjalankannya. Selebihnya, penggalian dan pengayaan makna yang lebih filosofis untuk setiap “sembah” yang kita haturkan.

Lalu bagaimana hubungan kita dengan natur? Quran (antara lain QS 45:13) menawarkan formula “taskhir” untuk hubungan itu. Namun di tempat lain Quran (antara lain QS 64:1) juga menyatakan bahwa sejatinya natur itu berjiwa; mereka bertasbih kepada Allah. Dari sini maka formula “taskhir” itu lebih dekat ke “pendayagunaan” ketimbang eksploitasi (istighlal).

Di sini letak kekeliruan banyak dari kita; menempatkan natur sebagai objek yang sudah dipasrahkan Tuhan kepada kita untuk kita eksploitasi begitu rupa guna sebesar-besarnya kebaikan dan kemaslahatan kita. Kita lupa bahwa antara kita dengan natur posisinya sama-setara: sama-sama makhluk-Nya, sama-sama berjiwa. Kita bahkan sering abai bahwa seluruh natur senantiasa melantunkan tasbih kepada-Nya, sementara kita kerap-kali lupa akan keagungan dan kesucian-Nya.

Di sini juga kita perlu belajar dari “pandangan dunia” yang sejak awal melihat hubungan antara “aku” dengan “natur” itu sebagai hubungan antara dua subjek setara sehingga pola hubungannya pun bersifat dimensional, bukan hirarkis.

Demikianlah antara lain pesan-moral yang saya dapatkan dari Acara Ceramah Ilmiah dan Kebudayaan yang diselenggarakan oleh FUAD lewat Institut Transvaluasi tadi malam dalam topik: “Islam Jawa dalam Pergumulan Agama-agama Lokal,” dengan pembicara: Dr. Samsul Maarif (Center for Religious & Cross-Cultural Studies, UGM). [catatan oleh Dr. Abad Badruzaman - Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, IAIN Tulungagung].

15109587_10207942126447336_3268217424973072304_n 15134628_10207942126607340_4629571018193981665_n 15170957_10207942126767344_5902522809154200457_n 15179068_10207942126647341_9002011075618559045_n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme