Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Pembagian Kerja — opini peneliti muda

Oleh Seli Muna Ardiani

Penulis adalah mahasiswa jurusan Aqidah & Filsafat Islam IAIN Tulungagung dan pengurus administrasi di Forum Perempuan Filsafat.

seli

Sambil menunggui ibuku yang sedang berkemas aku duduk di teras masjid. Hari ini bertepatan dengan hari raya qurban, seperti biasa, setelah bapak-bapak dan remaja laki-laki  bersiap dengan bilah pisau yang sudah diasah sedemikian rupa ritual penyembelihan pun dimulai. Nampak juga dari tempat ku bersila, ibu-ibu di sebelah utara berkerumun, tertawa, berbincang, dengan bayi-bayi digendongan mereka. Kehadiran ibu-ibu ini bukan tanpa sebab, memasak dan mempersiapkan jamuan bagi para pemotong dan pembagi daging qurban menjadi tugasnya. Keakraban ini terasa lengkap, kami, semua keluarga menjadi bagian di dalamnya. Anak-anak kecil pun tak mau kalah ikut serta, laki-lakinya saling menantang nyali untuk melihat langsung penyembelihan sementara perempuan-perempuan kecilnya penasaran  namun bersembunyi karena ketakutan. Aku terkekeh sejenak ketika salah satu anak laki-laki mengejek sebayanya “alah…cemen we, lek nggak wani ndelok wedus dibeleh, kono ndelikko mbi cah wedok!

Cukup lama rupanya aku menerka-nerka sejak kapan semua dialog dan penugasan ini dimulai? Sekaliber pertanyaan berhamburan ketika aku mencoba menyelinap lebih dalam pada reklame kehidupan yang sedang ada di depan mataku ini.

Mengapa laki-laki lebih leluasa untuk memainkan pisaunya? Mungkin di zaman dahulu kita dapat menemui hal yang serupa, parang untuk berburu, pedang untuk berperang. Ya, peradaban telah melahirkan benda-benda itu untuk laki-laki. Suatu bagian yang dianggap lebih kuat, membutuhkan nyali besar, dan bagian yang di anggap paling sakral.  Tentu, dalam hal ini (penyembelihan hewan qurban) harus menaati aturan Agama Islam. “Laki -laki” oleh hukum masyarakat lebih diutamakan untuk melakukannya, hal ini

dapat kita lihat bahwa kecenderungan penyembelihan dilakukan oleh laki-laki. Padahal jika kita tengok syariat Islam, hukum perempuan menyembelih dan juga hukum daging hasil yang disembelih adalah boleh dan juga halal. Pada masa Jahiliyahlah hukum ini benar-benar dilarang, daging hasil penyembelihannyapun dianggap tidak pantas dimakan.

Hukum masyarakat memang memiliki alasan mengapa laki-laki lebih diutamakan, sebab mereka dianggap cekatan dalam bertindak, memiliki kekuatan lebih, dan tinggi tingkat religiusitasnya dibanding dengan perempuan.

Memiliki kekuatan yang lebih, seketika aku teringat buku “perempuan dalam budaya patriarkhi” karya Nawal Sadawi, perempuan masa pararoh (sebuah masa di zaman Mesir kuno) kala itu belum mengenal pembagian Kerja, hidup masih tergantung kepada alam sepenuhnya. Tanpa menggalipun, kekayaan alam melimpah dengan sendirinya. Seiring dengan bertambahnya populasi manusia, sementara sumber alam harus dibagi sedemikian rupa, muncullah inisiatif untuk berburu. Kegiatan inilah yang diduga sebagai rujukan tertua mengenai pembagian kerja yang dilakukan oleh manusia. Masa perburuan mulai mencerminkan ranah Domestik-Publik, dimana laki-laki

bertugas berburu di luar dan perempuannya menunggu hasil buruan dan memasaknya di rumah.

Hal inilah yang dijadikan oleh beberapa pengamat mengenai asal muasal pembagian Kerja dan kecenderungan pada laki-laki untuk memiliki kekuatan lebih, karena konstruk budaya sejak kuno pun telah melatihnya untuk menjadi manusia kuat. Memiliki mental yang kuat, mudah saja kita menemui contoh keseharian bahwa lagi-lagi budaya lah yang memiliki andil besar. Sepertihalnya contoh celoteh anak laki-laki yang dituliskan di atas, percakapan seperti “anak laki-laki kok nangis, kok penakut” dan masih banyak lagi. Hal ini tanpa disadari telah merasuk kedalam pribadi si anak, hingga kelak ia dewasa dan seterusnya. Sekali lagi, mengapa perempuan tidak berkesempatan dalam aturan ini?

Mungkin dianggap sepele, namun perwujudan-perwujudan hukum masyarakat seperti ini juga dikuatkan oleh tafsit-tafsir keagamaan yang misoginis, sehingga semakin menguatkan bahwa agama pun juga terrasuki budya-budaya patriarkal. Dimana kaca mata yang dipakai selalu memandang “perempuan” sebagai manusia yang belum sempurna, yang tak memiliki kecakapan lebih dibanding laki-laki. Bahkan yang lebih parahnya, dalam penelitian yang dilakukan, kadar religiusitas perempuan dipandang lebih rendah jika dibandingkan dengan laki-laki (khususnya dalam agama semit).

Ah, rasa-rasanya aku mulai pusing dengan semua ini. Mereka tetap saja berjalan dan berkelakar dengan riang-gembira. Juga tidak menutup kenyataan bahwa kami, “aku” pun -di dalamnya- adalah anak budaya dimana ia sangat lihai dalam membentuk kami. Kemapanan inilah yang seringkali membutakan umat manusia didalamnya, juga sebagian penolak kaum pembela kesetaraan dan kelompok Feminist dengan mengatakan bahwa : toh, sekeras apapun pembelaan itu dilontarkan, budaya patriarki ini telah menghidupi banyak umat manusia sepanjang abad ini. Betapapun kenyataan bahwa budaya ini telah menghidupi, namun sejatinya manusia telah dibutakan oleh budaya yang mereka anggap mapan dan tak tergoyahkan.

Aku bangkit dari tempat dudukku, rupanya ibuku telah selesai. Segera aku meninggalkan kerumunan manusia itu. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme