Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Perempuan Karir di Tengah Kemajuan Zaman — opini peneliti muda

Oleh Setiamin

Penulis adalah mahasiswa Ilmu Al-qur’an dan Tafsir IAIN Tulungagung  dan koordinator divisi intelektual di Forum Perempuan Filsafat (FPF).

setiamin-2

Munculnya perempuan karir di tengah-tengah budaya masyarakat masih banyak menuai kontroversi. Ada yang beranggapan bahwa wanita karir merupakan hal yang dilarang dalam Islam dengan alasan perempuan memiliki tugas di sektor domestik. Tetapi ada juga yang membolehkan dengan beberapa pertimbangan, seperti upaya untuk meringankan beban suami yang harus memberi nafkah kepada keluarga dan lain sebagainya. Perbedaan tersebut sama-sama menghendaki adanya kemaslahatan dalam kehidupan yang semakin hari semakin kompleks ini.

Istilah mengenai wanita karir sudah muncul sejak lama. Namun perdebatannya masih berlangsung hingga saat ini. Memahami pandangan Islam terkait wanita karir tidak cukup hanya dengan mempertimbangkan bunyi literal Nash. Untuk dapat memperoleh suatu kemaslahatan, dibutuhkan pertimbangan sosial, ekonomi, dan budaya. Hal ini sebagaimana diungkapkan Nur Cholis Majid dalam bukunya Islam Doktrin dan Peradaban yang menyatakan bahwa dalam memahami agama, tidak hanya memerlukan pendekatan yang bersifat normatif, tetapi juga perlu adanya pendekatan lewat

budaya (peradaban) serta sejarah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, dapat dikatakan bahwa Nash tentang wanita karir harus disandingkan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga, keduanya berjalan beriringan dalam mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Boleh tidaknya konsep wanita karir dalam Islam memang tidak bisa lepas dari pembagian peran dalam keluarga. Menjadi wanita karir ataupun sebaliknya sebenarnya juga memiliki dampak tersendiri. Di satu sisi, perhatian terhadap anak akan semakin berkurang dengan menjadi wanita karir. Namun di sisi lain, tidak bisa disangkal bahwa dalam keadaan tertentu, pilihan untuk menjadi wanita karir sangat dibutuhkan, seperti kebutuhan ekonomi yang sangat mendesak.

Pada masa Nabi, umumnya wanita memang berada di rumah untuk menjalankan tugas sebagai istri dan ibu. Hal ini sangat wajar karena banyak dari suami yang harus meninggalkan rumah untuk berperang dalam jangka waktu tertentu. Tetapi untuk saat ini, budaya tersebut sudah jarang dijumpai, hanya beberapa kalangan saja seperti tentara yang harus bertugas mengamankan negara sehingga meninggalkan keluarga di rumah. Yang banyak terjadi adalah suami pulang ke rumah setelah selesai bekerja. Sehingga

tidak menutup kemungkinan ia bisa membantu mengurus rumah tangga.

Islam adalah agama yang memudahkan

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”Q.S. Al-Baqoroh: 185.

Ayat di atas menegaskan bahwa sesungguhnya Allah menghendaki kemudahan bagi hambaNya.  Tidak hanya untuk hamba yang laki-laki, namun juga untuk wanita. Ketika seseorang dalam keadaan yang terdesak, maka menjadi wanita karir bukanlah hal yang dilarang. Terlebih saat ini sudah banyak wanita yang mengenyam dunia pendidikan. Apa yang ia raih saat mendalami proses belajar, pasti bisa menjadi bekal saat ia terjun ke dunia publik. Sehingga, selama karir yang ia jalani tidak melanggar norma agama dan juga tidak menimbulkan permasalahan dalam sosialnya, maka menjadi wanita karir bukanlah hal yang hina.

Wanita Karir Sebagai Bentuk Pengabdian

Ada yang berpendapat bahwa menjadi wanita karir adalah suatu keringanan yang diberikan bagi wanita.  Agar tidak terlalu jenuh di ruang

domestik, maka ia diberi kelonggaran untuk berekspresi di luar rumah. Pendangan semacam ini sebenarnya adalah perlakuan yang tidak menghargai wanita. Biar bagaimanapun, apa yang dilakukan perempuan di publik adalah bagian dari pengabdian dan kesalehan sosialnya. Allah pun telah menjanjikan pahala yang besar bagi manusia, baik laki-laki maupun perempuan yang beramal baik. Hal ini termaktub dalam Q.S. An-Nahl :97.

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Tidak dapat dipungkiri saat ini semua sektor kehidupan berjalan semakin pesat ditandai dengan semakin gencarnya perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi. Tentunya, perkembangan zaman tersebut memerlukan kesiapan serta inovasi dari sumber daya manusianya. Jika kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh manusia tidak dipupuk sedemikian rupa, mereka akan semakin tergerus oleh zaman dan terpinggirkan dari kehidupan, termasuk wanita. Wanita juga memiliki peluang untuk mengembangkan potensinya di dunia karir. Jika hal ini tidak diasah, maka potensi itu akan hilang dan perempuan muslim akan semakin ketinggalan zaman.

Melihat beberapa petunjuk Nash yang menganjurkan umat untuk berbuat baik serta perubahan sosial dan budaya di tengah-tengah masyarakat modern, maka menjadi wanita karir bukanlah hal yang tidak patut dihargai karena ia juga berjuang untuk membangun peradaban yang lebih baik melalui pengabdiannya. Sehingga, pandangan bahwa wanita yang berkarir adalah hina sebaiknya dihilangkan agar kemaslahatan manusia senantiasa terjaga dan tumbuh subur di bumi Sang Maha Kuasa. []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme