Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Rakawi

Oleh Akhol Firdaus

(Direktur Institute for Javanese Islam Research – IAIN Tulungagung)

cak akhol

Saya lebih gampang membayangkan nenek moyang kita adalah penulis, daripada pelaut. Sayangnya, memang tidak ada lagu yang mengabadikan hal itu. Ibu Soed, pencipta lagu ‘nenek moyangku seorang pelaut’, mungkin tak sempat menyimak sejarah.

Setahu saya, sejak abad 10-14 M, hanya ada dua prasasti yang mengabadikan kerajaan-kerajaan di Jawa memiliki armada laut yang digjaya. Itupun informasinya samar. Prasasti pertama adalah prasasti Hujung Langit (Bawang) yang ditemukan di Sumatera, bertarikh 919 Śaka [997 M]. L.C. Damais [1926: 275-288] menganggap prasasti ini merupakan bukti bahwa, Raja Śrī Dharmawangsa Teguh, penguasa Mataram kuno, pernah menyerang Sriwijaya dengan armada laut.

Prasasti kedua adalah prasasti Jaring bertarikh 1103 Śaka [1181 M]. Ini merupakan satu-satunya prasasti yang dikeluarkan raja Pangjalu-Daha, Śrī Kroñcaryyadipa, keturunan Śrī Jayabhaya. Prasasti menyebut istilah senāpati sarwajaya, panglima angkatan laut. Ini menjadi satu-satunya bukti bahwa pada masa kuno, kita ‘agak’ berdaya di laut. Tentu saja, itu bukti yang samar.

Baru pada abad 13 M, penguasa Jawa memiliki imajinasi yang konkret tentang laut. Di zaman raja Kṛtanegara, nenek moyang kita baru benar-benar paham bahwa laut adalah jembatan untuk menyatukan Nusantara. Visi inilah yang diwarisi oleh Wilwatikta pada masa Hayam Wuruk. Imajinasi tentang laut yang dibangun kala itu, telah membentuk suatu wawasan nusantara yang masih kita warisi hingga hari ini.

Nāgarakṛtāgama wirama 12-13 karya Mpu Prapañca, telah mengabadikan bentangan wilayah nusantara yang tak terperi itu.

Sayang, kejayaan ini tidak bertahan lama, tawar oleh arus balik yang mengembalikan kejayaan maritim ke pedalaman. Di awal abad 16 M arus balik itu telah menjadikan bangsa ini menjadi sedemikian kerdil, persis, seperti didokumentasikan dengan ‘perih’ oleh Pramoedya Ananta Toer dalam roman agungnya, Arus Balik (1995). Hingga hari ini, kita payah di urusan maritim, kejayaan masa lalu seperti musnah tak berbekas.wayang nulis

Fakta tesebut, sekali lagi, menjadikan saya lebih mudah membayangkan nenek moyang kita sebagai penulis karena, karya-karya mereka sejak masa kuno, masih lestari, dan tak habis dikaji hingga hari ini.

Sebelum masa Dharmawangsa Teguh, buyutnya, Mpu Sindhok Śrī Isanawikramma Dharmotunggadewa, bahkan telah mewariskan kakawin Ramāyana. Naskah ini sudah ditulis tahun 930-an oleh Yogīśwara. Nama ini bagi Zoetmolder [1994: 295] adalah nama pena seorang kawi yang memang berharap kakawin tersebut bisa menjadi jalan penyucian bagi yang membacanya.

Masih pada masa Mataram kuno, raja Erlangga yang termasyhur juga mewariskan kakawin yang tak kalah berdayanya. Mpu Kanwa diutusnya untuk menggubah kakawin Arjunawiwāha [perkawinan Arjuna] pada tahun-tahun Erlangga melakukan ekspedisi militer, 1028-1035 M. Kakawin ini dianggap sebagai tonggak sastra Jawa Timur, ditulis dengan sangat indah, meski sesungguhnya hanya bercerita kisah hidup Erlangga sendiri.

Tradisi penulisan kakawin terus berlanjut hingga masa Pangjalu-Kadiri dan Majapahit. Masa Pangjalu-Daha dianggap sebagai masa emas sastra kakawin. Pada periode itu, Mpu Sedah dan Mpu Panuluh menggubah kakawin Bhāratayuddha sebagai puji-pujian terhadap Śrī Jayabhaya. Pada periode yang sama, Mpu Panuluh juga menggubah naskah Hariwāngṡa, juga naskah Ghatotkacasraya pada masa Jayakarta.

Mpu Dharmaja menggubah kitab Śmaradāhana pada masa raja Śrī Kameswara. Mpu Monaguṇa menggubah kitab Sumanasantaka pada periode bersamaan dengan Mpu Triguna menggubah kitab Kṛsnāyana pada masa raja Śrī Warsajaya. Masih ada satu kakawin lagi, berjudul Bhomāntaka. Semua naskah kakawin tersebut ditulis dari periode 1135 hingga 1185. Periode ini dikenal sebagai periode yang paling produktif dalam mewariskan karya sastra.

Pada masa Majapahit tidak kalah menariknya. Mpu Prapañca mengabadikan perjalanan Hayam Wuruk menelusuri wilayah-wilayah kerajaan Majapahit dalam kakawin Deśawarnnana [pelukisan tentang desa-desa dalam wilayah kerajaan]. Kakawin ini lalu populer dengan nama Nāgarakṛtāgama [kerajaan yang dipimpin oleh tradisi suci]. Naskah ini selesai ditulis tahun 1365 M. Harus dicatat, kakawin masuk dalam daftar memory of the world oleh UNESCO.

Pada periode berikutnya, nenek moyang kita masih mewariskan naskah yang tak kalah agungnya. Naskah itu adalah kakawin Sutasoma, ditulis oleh Mpu Tantular. Tokoh ini hampir tidak bisa dilupakan dalam kesejarahan Indonesia modern karena, ajaran Sutasoma yang diukir dalam kakawin tersebut dijadikan sebagai moto bangsa, “bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”.

Tradisi menulis rupanya tidak berhenti sampai pada masa kejayaan Majapahit. Pada masa akhir periode Majapahit, kita masih mewarisi kitab Pararaton. Naskah paling tua ditemukan bertarikh 1552 Śaka [1600 M], dan tidak diketahui penulisnya. Kitab ini berisi tentang silsilah wangsa Rajasa, sejak masa Ken Angrok hingga Majapahit. Meski hanya dianggap sebagai naskah sekunder, akan tetapi tetap merupakan warisan yang tak ternilai harganya.

Tradisi menulis sastra tidak punah bersamaan dengan menyusutnya pengaruh Śiwa-Buddha di nusatara. Terbukti, pada periode Mataram Islam, pendahulu kita masih mewariskan karya-karya sastra dalam bentuk serat, babad, dan suluk. Untuk menyebut beberapa di antara karya-karya tersebut, kita masih mewarisi Serat Kanda, Babad Mataram, Babad Sangkala, Babad Tanah Jawi, Serat Rama, Serat Bharatayuda, dan sebagainya.

Harus dicatat, pada periode kerajaan-kerajaan Islam sekalipun, kakawin-kakawin Hindu-Buddha juga tetap digubah kembali, diselaraskan dengan konteks zaman, dan tidak dienyahkan begitu saja.

Sejak masa kuno tradisi menulis di Jawa dianggap sebagai bagian dari jalan sprititual. Menulis bukanlah sekadar urusan teknis kebahasaan, tetapi jalan kemanunggalan manusia dengan sumber pengetahuan. Menulis adalah jalan mencapai kasūnyatan, kesempurnaan. Setelah mengaji sastra-sastra Jawa kuno seumur hidupnya, Zoetmulder begitu meyakini hal tersebut.

Para penulis, nenek moyang kita, sekaligus adalah para spritiualis yang menjadikan syair sebagai sarana mencapai kontak dengan Hyang Tunggal, sehingga mencapai pembebasan sejati, kemanunggalan yang abadi. Dalam konteks ini, perbedaan tradisi menulis pada periode Hindu-Buddha dengan periode Mataram Islam, hanyalah berada di level kulit saja. Menulis, tetap saja menjadi sarana spiritual bagi para kawi (penulis-sastrawan) untuk mencapai pembebasan, kemanunggalan.

Saya, kita, seharusnya mewarisi tradisi itu. Menulis seharunya menjadi sarana pembebasan, setidaknya dalam pengertian bios theoretikos, menulis sebagai jalan ideologi mentransformasikan dunia menuju tatanan yang Ilahiah, adil dan setara.

Nenek moyang kita memang seorang penyair. Seandainya saya seorang komposer, segera ingin saya gubah sebuah lagu dengan syair, “nenek moyangku seorang penyair,” meski fals selayaknya Anda ikut mendendangkan, hhmm hmmm hmmmm daredam redam… []

1 Comment

Add a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme