Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Rumah Ibadah

Oleh Akhol Firdaus

(Direktur Institute for Javanese Islam Research – IAIN Tulungagung)

cak akhol

 

Sesekali bila ada waktu longgar, berziarahlah ke candi-candi di Jawa. Seandainya diksi ‘ziarah’ mengganggu iman kita karena takut menjadi musyrik, bolehlah kita ganti dengan kata ‘bertamasya’. Saya hanya ingin bilang, pergilah sesekali ke candi untuk menoleh masa lalu kita.

Harus diingat, pada masa Śiwa-Buddha, candi-candi adalah rumah ibadah juga. Bukan hal yang wah seandainya kita tetap menghormatinya sebagai sebuah bangunan ibadah. Toh, Itu juga merupakan ajaran Baginda Rosul yang santun.

Hal paling memukau dari bangunan candi adalah, perpaduan simbol-simbol Śiwa dan Buddha dalam satu lokasi candi. Sangat mungkin, model perpaduan ini kita warisi dari abad 13 M dan periode sesudahnya. Di antara banyaknya bangunan candi, candi Singhasari dan candi Jawi merupakan contoh yang paling ideal.

Kedua candi dianggap sebagai pendharmaan raja Śrī Kṛtānagara. Di Jawa, menurut Stutterheim [1931], candi juga merupakan bentuk pendharmaan bagi para raja. Mudahnya bisa disebut candi makam. Jadi di samping sebagai rumah ibadah, candi juga merupakan musoleum, tempat perabuan para raja.

Śrī Kṛtānagara adalah raja besar Singhasari, dan karena itu ia layak mendapat penghormatan seperti itu. Menurut Nāgarakṛtāgama [43.5], candi Jawi dibangun dengan sangat indah, bagian pondasi candi bersifat Śiwa, bagian atasnya bersifat ke-Buddha-an.

Ringkē sthāna niran dhinarmma śiwa buddhaarcca halepnyottama [di dalam candi (Jayawa) diabadikan arca Siwa Buddha indahnya luar biasa],” begitu tulis Mpu Prapañca.

Candi Singhasari juga tidak kalah idealnya. Di lokasi candi, ada tiga arca perwujudan Śiwa-Buddha dalam bentuk Bhairawa, Ardhanari, dan Akṣobhya. Intinya, kedua candi dibangun dengan perpaduan simbol-simbol Śiwa dan Buddha. Dalam kitab Pararton disebutkan, pada masa hidupnya Kṛtānagara bahkan sudah mendapat gelar Śiwa-Budhha.

candi-singosari

Pada zaman ini, candi-candi lalu hadir sebagai rumah ibadah terbuka. Ann R. Kinney dalam bukunya yang keren, Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java (2003), memastikan bahwa sudah menjadi kelaziman kedua pengikut agama Śiwa dan Buddha melakukan peribadatan dan pemujaan di lokasi candi yang sama.

Bahkan, bila dilacak pada sejarah yang lebih ke belakang, sejak abad 10 M, di Jawa sesungguhnya tidak pernah ada penyembahan yang bersifat eksklusif. Inilah sebuah model sintesis-mistis yang sangat mengakar dalam kehidupan masyarakat Jawa kuno. Bahkan, menurut M.C. Ricklefs [2012: 30] konsep sintesis-mistis ini terus berlanjut hingga periode Islam.

Candi-candi tidak sekadar menyuguhi kita kemegahan arsitektur dan kebudayaan di masa lampau, tetapi juga kemegahan sikap beragama dan toleransi. Saya curiga, istilah toleransi sendiri merupakan konsep yang kita adopsi dari Barat, dan tidak memiliki akar dalam kebudayaan Jawa, karena sejak masa kuno sesungguhnya kita tidak memiliki problem dengan toleransi beragama.

Di Jawa, setidaknya sejak abad 10 M, menurut kesaksian Bernard H.M. Vlekke [2016: 34] tidak pernah terdapat bukti adanya vandalisme terhadap rumah ibadah. Tidak pernah rumah ibadah sebuah agama diusik oleh pengikut agama lain. Surutnya pengaruh Shailendra, pengikut Buddha, pada masa itu, tidak menjadikan para Śiwais merasa punya pembenaran untuk mengusik karya monumental mereka, Borobudur. Bahkan, wangsa Sanjaya, pengikut Śiwa,  yang berkuasa sesudah itu, hanya membangun musoleum-nya sendiri yang tak kalah megahnya, Roro Jonggrang.

Hingga hari ini, kedua warisan itu masih berdiri hampir berdampingan, sambil memberikan kesaksian, betapa di Jawa pada masa lampau tidak pernah ada vandalisme terhadap rumah ibadah.

Kini, kemegahan sikap beragama itu hampir tidak lagi kita ingat. Kita seperti hidup di zaman pralaya, ketika umat-umat beragama begitu mudahnya merasa mendapat pembenaran untuk mengusik dan merusak rumah ibadah penganut agama lain. Di Aceh Singkil, belasan gereja dihancurkan, begitu juga di tempat-tempat lain di Indonesia.

Pendirian gereja dihambat dengan pelbagai dalih. Hal ini terjadi di Bekasi, di Bogor, di Yogyakarta, dan kota-kota lainnya di Jawa. Sejumlah masjid dirusak di Jawa Barat oleh umat Islam sendiri karena perbedaan sekte beragama. Di Indonesia Timur, giliran masjid yang sering tidak bisa berdiri karena ditolak oleh kelompok mainstream. Setiap pemeluk agama menjadi begitu ‘buas’nya, begitu kerdilnya dalam menyikapi perbedaan.

Kita memang tidak hidup di zaman Śrī Kṛtānagara. Zaman kita adalah masa menjamurnya Front-Front Pembela Agama. Masyarakat merayakan simbol-simbol beragama, hingga  taraf, maaf, over dosis. Semua orang seperti mabuk beragama, tapi justru tidak menyisakan kedalaman batin untuk menerima kehadiran agama lain.

Kita sesungguhnya tengah mabuk agama, tapi nol spiritualitas. Akibatnya, kita kehilangan semua kemegahan sikap beragama, seperti pernah dirayakan oleh para leluhur, ratusan tahun yang silam. Marilah berziarah, agar kita bisa mengingat kembali kemegahan-kemegahan cara beragama leluhur kita []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme