Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Slametan, Bukan Ritual Islam Rendahan

Oleh Gedong Maulana Kabir

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan mahasiswa Aqidah & Filsafat Islam IAIN Tulungagung)

 edong

Saat kakak saya mengandung bayi pertamanya, keluarga menyambutnya dengan ragam slametan. Saat kandungan berusia tiga bulan, keluarga merayakan dengan telonan. Ketika masuk tujuh bulan, giliran keluarga merayakan pitonan. Di Jawa, setiap tahap kehamilan dan kelahiran ada upacara slametannya sendiri. Bahkan, semua tahap hidup dan mati manusia ditandai oleh suatu upacara—dalam bahasa Nur Syam, disebut upacara lingkaran hidup (2005: 9).

Geertz (1960: 10-15) menggambarkan slametan sebagai hidangan ritual animistik. Menurutnya, slametan menjadi tradisi kaum abangan yang lazim dilakukan oleh kalangan petani Jawa. Tradisi ini mendapat pengaruh kuat dari tradisi Hindu-Buddha. Implikasinya adalah tradisi ini dianggap tidak memiliki akar dalam agama Islam.

Pandangan berbeda disuguhkan oleh Mark Woodward. Dia adalah seorang etnolog dari Arizona State University. Beberapa waktu yang lalu dia sempat mengisi Ceramah Ilmiah dan Kebudayaan di Institut Transvaluasi Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam FUAD IAIN Tulungagung. Bagi Woodward (1999: 81) kesalahan Geertz adalah analisis etnografinya tidak disertai dengan kajian yang cermat terhadap tradisi tekstual Islam.

Slametan dalam perspektif ini, memiliki tujuan keagamaan yang berdasar pada penafsiran lokal terhadap teori kesatuan mistik sufi. Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa bentuk kegiatan ritual dilaksanakan berdasarkan pada praktik-praktik yang dikaitkan melalui hadits Nabi Muhammad. Pokok persoalan yang lebih umum adalah tidak mungkin untuk menilai “ke-Islam-an”, “ke-Hindu-an” atau “ke-Buddha-an” suatu tradisi lokal tanpa analisis terhadap adat dan ritual lokal yang disertai dengan pengetahuan terhadap tradisi tekstualnya.

Selain itu, Mitsuo Nakamura (1984: 72) menjelaskan bahwa slametan adalah istilah yang bersumber pada ajaran Islam sendiri. Ia berpendapat kata slamet berasal dari bahasa Arab salam, yang berarti damai. Sedangkan salam berasal dari kata salima, yang berarti menjadi baik. Dengan begitu, konsep slametan bukan semata bersifat Hindu-Bunddha yang animistik seperti telah dijelaskan oleh Geertz di atas.

Secara lebih realis, Niels Mulder (2013: 136) menerangkan bahwa slametan adalah sebuah acara makan komunal religius di mana para tetangga ditambah beberapa kerabat dan handai taulan ikut serta. Tujuannya adalah mencapai keadaan slamet, seperti yang pernah dideskripsikan Koentjaraningrat sebagai “sebuah keadaan di mana peristiwa-peristiwa mengikuti alur yang telah ditetapkan dengan mulus dan tidak satupun kemalangan yang menimpa siapa saja.”

Sekarang mari kita lihat bagaimana ritual slametan dilakukan. Di desa saya, Selokajang, slametan selalu dilakukan terkait suatu hajat. Slametan dipimpin oleh seorang tetua, biasanya disebut Modin, kepala bagian spiritual desa. Setelah seluruh warga berkumpul, akan dibacakan niat hajat slametan, biasanya disebut ngajatne. Selesai proses ngajatne, slametan kemudian diakhiri dengan doa. Ngajatne dan doa ini dibaca dengan dua bahasa, yaitu Jawa dan Arab.

Sepanjang pengalaman saya mengikuti berbagai slametan di desa, pemimpin slametan selalu mengawali dengan bacaan basmalah, bismillah. Biasanya ada juga pemimpin slametan yang tidak cukup fasih untuk mengucap kalimat berbahasa Arab tersebut, sehingga yang terucap adalah (bi)semilah. Kata alhamdulillah menjadi (al)kamdulilah. Saat proses ngajatne, disebut juga 4 sahabat nabi, yaitu: sokabat Abu Bakar, Ngumar, Ngusman, Ngali. Tentu saja pelafalan nama mereka sedikit berbeda dengan pelafalan Arab yang fasih. Bahkan, nama Nabi Muhammad biasa disebut dengan Mokammad. Meski begitu, tentu Tuhan mengerti apa yang dimaksud oleh pemimpin slametan tersebut.

Biasanya setiap pemimpin slametan selesai satu bagian ngajatne, dia akan mengatakan, “mugi angsalo tambahing berkah saking poro sepuh anem ingkang sami pinarak mriki sedoyo” (semoga mendapat tambah keberkahan dari semua orang tua dan muda yang hadir di sini). Kemudian serentak jamaah akan menjawab, “inggih”. Ini sesungguhnya sama dengan jawaban doa “amiin” yang diucapkan jamaah ketika mendengar doa dalam bahasa Arab di akhir acara slametan.

Dalam acara ini, para jamaah juga mendoakan para leluhur. Bukan hanya itu, orang-orang yang dianggap babat desa juga turut didoakan. Biasanya yang terakhir disebut ini diungkapkan dengan kalimat, “cikal-bakal akal-bakal kang bakali dusun banjar pekarangan ……”. Doa-doa ini dirapalkan dengan harapan dapat menjaga tatanan yang harmonis dan menghindari datangnya bala.

Ada beragam sajian makanan dalam slametan. Masyarakat biasa menyebutnya dengan uborampen. Makanan-makanan ini memiliki pelbagai makna filosofis sebagai simbol permohonan hamba pada Tuhannya. Misalnya, dalam uborampen berupa tumpeng yang berbentuk kerucut menyerupai gunung. Hal ini mengandung makna bahwa manusia dalam segala aspek kehidupannya harus mengarah atau berorientasi kepada Tuhan.

Seperti kita tahu, selain nasi ada banyak sajian lain dalam ritual slametan. Ada ayam, telur, sayur, tahu, tempe, begitu juga dengan buah pisang dengan kualitas number one. Ini semua adalah makanan terbaik yang memiliki gizi tinggi. Kita semua yang mengikuti slametan akan mendapatkannya dengan cuma-cuma. Tidak ada pembedaan dalam hal ini. Petani, pejabat, pemuka agama, semua mendapat berkat yang sama. Ini menjadi semacam “perbaikan gizi” di lingkungan masyarakat desa.

Melalui slametan, semua pihak akan mendapat berkah. Bagi yang punya hajat, dia akan dibantu doa oleh semua undangan. Bagi undangan, semua mendapat berkat berupa makanan dari tuan rumah yang punya hajat. Bahkan para leluhur yang telah tiada mendapat kiriman doa dari para undangan yang hadir. Sehingga, slametan menjadi semacam penanda hubungan komunitas yang harmonis. Hubungan harmonis inilah yang menjadi sarana menuju, sebuah kondisi, keadaan slamet. Keadaan slamet inilah yang menjadi tujuan akhir dari ritual slametan.

Jika kita telisik, seluruh bagian dari ritual slametan dapat kita temukan landasan normatifnya dalam Islam. Mengawali kegiatan dengan menyebut nama Allah: [QS. Hud: 41], [HR. Abu Dawud no. 3276]. Mendoakan arwah yang telah meninggal: [QS. Al Hasyr: 10], [HR. Muslim no. 2733]. Bersedekah: [QS. Al Baqarah: 195], [HR. Al -Bukhari no. 6023]. Salah seorang tokoh yang mengulas titik temu landasan tekstual Islam dan budaya setempat adalah Woodward (2008: 137). Fakta ini menyangkal tuduhan seorang Muslim modernis, misalnya Deliar Noer, dalam bukunya Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Ia menganggap Islam seperti ini sebagai Islam yang rendah: Islam sinkretik.

Hhmmm, sepertinya saya harus menyudahi tulisan ini dan mulai menyantap berkat penuh barokah. Oh, indahnya Islam. Oh, nikmatnya berkat.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme