Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Perempuan Spiritualis dalam Tradisi Dua Agama

Oleh Fatimatuz Zahro

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat Islam IAIN Tulungagung; Pengurus Forum Perempuan Filsafat [FPF])

fatim

Setiap agama, tak terkecuali Islam, selalu menawarkan suatu pencapaian kesempurnaan jiwa melalui jalan mistisisme [tasawuf]. Dalam Islam, tradisi demikian dikenal dengan sufisme. Sejarah semua agama, selalu melahirkan sosok-sosok spiritualis, para sufi. Siapakah mereka? Para spiritualis umumnya dikenal sebagai sosok yang bukan hanya percaya , tetapi juga melakoni dan mencicipi dimensi transenden yang berhubungan hakikat kebenaran. Maslow menyebutnya sebagai pengalaman tertinggi (peak experiences) [Elkin dkk, 1988].

Sayangnya, dalam tradisi agama dunia, pengalaman mistis seperti dipaparkan di atas umumnya tidak banyak dicicipi oleh perempuan. Sederhana saja, perempuan biasanya selalu disituasikan menempati posisi kelas kedua (the second sex) dalam urusan spiritualitas. Agama dunia yang saya maksud adalah tiga agama monotheis terbesar di dunia yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam [Karen Armstrong: 1993]. Dalam tiga tradisi agama besar tersebut, sejarah dan wacana agama seaka-akan hanya disediakan untuk laki-laki.

Di ruang agama diskriminasi model demikian kerap terjadi. Perempuan diposisikan sebagai kelas kedua, bukan hanya dalam urusan hukum formal [syariah], namun juga dalam hal spiritualitas. Dimensi transenden yang ditawarkan suatu agama dengan segenap pengalaman eskatologinya, seakan-akan tidak memberi tempat bagi perempuan.

Situasi kepincangan demikian merupakan karya patriarkisme. Ideologi ini pula yang terus merawat konstruksi timpang demikian seolah-olah berakar pada normativitas agama. Patriarkisme adalah sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral [Charles E.: 2007]. Budaya patriarkilah yang secara sistematis terus mengondisikan perempuan hanya sibuk dengan urusan domestik, berjibaku dengan seluruh rutinitas harian. Dalam nalar agama yang patriarchal, seolah-olah kesibukan domestik itu merupakan kewajiban perempuan, dan satu-satunya jalan bagi perempuan untuk meraih ‘surga’.

‘Pemenjaraan’ yang sistematis ini bukan hanya menjadikan seluruh potensi perempuan mengalami kemerosotan. Pada akhirnya, perempuan juga harus menanggung kemerostan mental, moral, intelektual, dan spiritual karena terus menerus dikondisikan sebagai kelas kedua, tidak terkecuali dalam urusan agama dan spiritualitas.

Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa tidak banyak ditemukan spiritualis perempuan dalam tradisi agama dunia. Dalam sejarah mistisisme Islam sendiri, kita hanya mengenal nama Rabiah al-Adawiyah di antara sekian puluh bahkan ratus nama-nama tersohor para sufi. Dalam sejarah agama-agama lain juga tidak kalah buramnya. Perempuan semakin termarginal, inferior, tenggelam bahkan bisa hilang dari ensiklopedia mistisisme atau tasawuf.

Kondisi seperti inilah yang menjadi sasari kritik oleh para teolog feminis. Istilah teologi feminis sendiri merupakan reaksi dan protes terhadap dominasi atas perempuan yang telah berlangsung berabad-abad lamanya (Marie Claire Barth-Frommel, 2004: 14). Para teolog feminis yakin bahwa kemunduran perempuan dalam teologi dan spiritualitas disebabkan oleh pola hierarki yang terjadi akibat adanya legitimasi tafsir agama. Pemahaman yang subjektif mengalami objektifikasi sehingga dalam kesadaran dan pandangan masyarakat berubah menjadi kebenaran itu sendiri. Kondisi ini telah berdampak bagi perempuan sehingga tidak bisa mengembangkan kapaistas dirinya.

Pola hierarki gender antara laki-laki dan perempuan, selalu berujung pada pengkotak-kotakan peran kedua gender dalam masyarakat. Laki-laki berada di gereja dan masjid, sementara perempuan menghabiskan waktunya di rumah. Jika kita melihat dalam agama Islam, pola hierarki juga terjadi. Superioritas laki-laki telah menjadikannya selalu sebagai imam dalam keluarga dan perempuan selalu sebagai makmum. Pola demikian sudah sepatutnya diganti dengan pola yang mengedepankan kesederajatan antara laki-laki dan perempuan.

Melirik Agama Jawa

Tentu saja, semua jenis diskriminasi tidak akan pernah bersifat total. Pola hierarki sebagaimana lazim dalam tradisi agama dunia, ternyata sangat langka berlaku dalam tradisi agama lokal, dalam konteks tulisan ini yang saya maksud agama lokal adalah agama Jawa. Agama jawa yang saya maksud adalah keagamaan kuno yang biasa disebut dengan Penghayat (kebatinan). Istilah kebatinan dan istilah agama memang sering tumpang tindih, dan sulit dibedakan. Namun dalam wacana umum sebagaimana yang terjadi di Indonesia (Jawa), kehidupan religius masyarakat diwarnai oleh dikotomi istilah dalam praktik keberagamaan [Soehadha, 2008:7]. Dalam hal ini lebih tepatnya menempatkan mistisisme sebagai bagian dari sistem religi (agama), jadi istilah kebatinan tidak dapat dipisahkan dari agama itu sendiri.

Agama jawa sendiri lebih menerapkan kehidupan yang mengagungkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.  Jika kita memahami kultur Jawa itu sendiri, secara simbolik perempuan cenderung ditempatkan pada posisi yang tinggi. Sebagai simbol moralitas, perempuan digambarkan sebagai sosok ibu atau ratu. Dalam hal spiritual, agama Jawa cenderung memberikan tempat yang setara bagi perempuan. Dalam tradisi agama-agama lokal di nusantara, tidak jarang perempuan justru menempati posisi tertinggi sebagai pemimpin spiritual.

Penghormatan kepada seorang perempuan pun banyak disimbolkan melalui pahatan patung atau monumen yang disakralkan. Sebagai contoh, dalam masyarakat Jawa di zaman kerajaan Majapahit tidak asing lagi dengan sosok ibu Dewi Gayatri Rajapatni. Perempuan yang diagungkan atas ide Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Dan sebagai wujud penghormatan kepada ibu Gayatri, di Tulungagung terdapat sebuah candi yang dinamakan Candi Gayatri. Perwujudan ini justru melebihi penghormatan kepada raja-raja Majapahit yang lainnya.

Tidak hanya ibu Gayatri. Ada juga seorang spiritualis perempuan dari Jepara, Jawa Tengah yang hidup di abad ke-16. Namanya Ratu Kalinyamat. Ratu Kalinyamat dikenal sebagai sosok yang sangat kuat dan kaya. Dalam menuntut keadilan terhadap penguasa, ia melakukan tapa dengan cara telanjang atau dikenal sebagai tapa wuda sinjang rambut. Laku demikian pada zamannya tentu menoreh multi-makna spiritual di masyarakat. Bertapa dengan telanjang yang ia lakukan, bermaksud sebagai simbol pengosongan diri dan kemudian diisi dengan pertobatan, kasih dan taqorrub kepada Tuhan. Dan pada akhirnya ia mampu mengusir para penjajah Portugis dengan mengirimkan armada pasukan militer ke Malaka.

Kebermaknaan perempuan Jawa juga dilukiskan dengan symbol hadirnya Ibu Pertiwi, yang berarti Dewi Bumi atau Ibu Bumi. Simbol ini mampu menjadi sosok seorang ibu yang dicintai, ibu yang membuai dan membesarkan anak-anaknya, yang dapat bersedih hati, besusah hati, berlinang air mata, merintih dan berdoa, bergembira dan sekaligus sebagai pijakan untuk berbakti dan mengabdi. Konsep ini, terserap dan dimaknai khusus dalam alam perjuangan nasional Indonesia yang mendasari sifat kepahlawanan dan jiwa patriotiknya.

Agama Jawa juga mempunyai empat sosok perempuan yang mampu menguasai jagad raya ini. Empat sosok itu adalah, Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan, Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan, Dewi Laksmi sebagai Dewi Perhiasan, dan Dewi Durga atau Uma sebagai Dewi Waktu.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam kosmologi Jawa, seorang spiritualis perempuan mendapat tempatnya yang tidak kalah terhormat secara simbolik dibandingkan dengan laki-laki. Kemunculan sosok perempuan-perempuan tersebut di atas membuktikan spiritualis perempuan sudah kita kenal sejak berabad-abad silam. Dalam tradisi agama lokal, spiritualitas hadir sebagai kekuatan yang tidak bergender []

1 Comment

Add a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme