Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Workshop dan Kelas Menulis “Intoleransi dan Kekerasan atas Nama Agama” Qureta

Layaknya kaum Sophis Yunani kuno, sesekali perlulah kiranya untuk berkunjung melancong ke berbagai kota. Bukan mendarmakan ilmu pengetahuan demi rupiah, melainkan menengok langsung denyut ilmu pengetahuan yang bergejolak di seberang lain. Demi ilmu pengetahuanlah, saya harus menuntaskan perjalanan ini.

Pada mulanya, saya mendapatkan informasi mengenai Workshop Agama dan Intoleransi Melalui WhatsApp group Javanesse Islam Reserach. Berbekal esai sederhana 600 kata, pihak panitia dari Qureta memberikan kesempatan bagi saya untuk mengikuti kegiatan ini. Workshop ini digelar di Hotel Onih-Bogor pada 21 hingga 23 Juli 20117. Workshop inilah yang mebuat saya rela duduk berjam-jam di kursi kereta api menuju kota Bogor.

Di antara 24 peserta lainnya, rupanya saya adalah satu-satunya peserta yang berasal dari Jawa Timur. Masih sedikit pula yang mengenal kota Tulungagung. Hal ini lantas tidak membuat saya ciut, saya cukup berbangga untuk mengenalkan Tulungagung dan Institute for Javanesse Islam Research (IJIR) IAIN Tulungagung. Sebagai lembaga yang menempa saya, IJIR mendapatkan sambutan yang baik. Usman Hamid selaku ketua Amnesty Internasional Indonesia juga merupakan narasumber workshop turut memberikan apresiasi bagi adanya IJIR sebagai lembaga penelitian. Banyak dari teman-teman peserta maupun panitia yang mengapresiasi, walaupun kebanyakan belum begitu mengerti mengenai kajian yang kami (IJIR) kembangkan, yakni mengenai Islam Jawa.

Kegiatan ini bernama Worksop dan Kelas Menulis “Intoleransi dan Kekerasan atas Nama Agama”. Selama 3 hari peserta diberikan materi mengenai HAM dan Komunikasi. Separuh kegiatan difokuskan untuk kelas menulis. Capaiannya adalah setiap peserta mampu menuliskan karya fiski maupun non-fiksi yang berkaitan dengan tema yang telah ditentukan.

Pada hari pertama setelah perkenalan dan keakraban kami langsung diberikan materi mengenai Hak Asasi Manusia (HAM). Materi disampaikan oleh Usman Hamid. Materi mengenai HAM ini sangat penting sebab memberikan cara pandang dalam melihat berbagai kasus intoleransi. Pada hari kedua, kami mendapatkan materi mengenai komunikasi oleh Ade Armando. Sebagai dosen Komunikasi Universitas Indonesia, Ade memaparkan terlebih dahulu sejarah komunikasi. Beliau juga menyampaikan bagaimana ideologi dominan dapat mengkonstruk pengetahuan. Di masa lalu, konstruksi pengetahuan dibangun dengan cara yang elitis: oleh pemegang otoritas kebenaran yang bisa saja berupa pemerintah, ulama, pendeta, dan lembaga sekolah. Namun berbeda dalam era saat ini, hadirnya media massa merupakan sarana demokrasi. Setiap individu dapat menyebarkan gagasanya. Ade tak henti-hentinya menyuarakan bahwa melalui tulisanlah struktur pengetahuan dapat bergeser, untuk itu setiap individu berkewajiban dalam membentuk peradaban ini.

Seperti halnya worksop kepenulisan, di hari kedua kami diajak langsung untuk praktik menulis. Sebelum kelas menulis berlangsung, kami mendapatkan materi mengenai strategi penerbitan tulisan di media online oleh Luthfi Assyaukanie. Selaku pendiri Qureta, Luthfi juga menceritakan bagaimana Qureta terbentuk dan mengajak seluruh peserta untuk aktif menulis di website Qureta.

xx

Kegiatan yang ditunggu-tunggu, kelas menulis, akhirnya tiba. Kami dipandu langsung oleh Okky Mandasari, seorang novelis yang intens menyuarakan isu kemanusiaan dan minoritas dalam karya-karyanya. Pertama-tama kami mempresetasikan tema yang hendak ditulis, tentunya sesuai  tema yang berkaitan dengan intoleransi dan kekerasan atas nama agama. Saya memilih konsisten untuk mengangkat isu Penghayat Kepercayaan. Selain isu ini jarang diperhatikan, saya seolah memiliki keharusan untuk menyampaikannya. Persinggungan langsung dengan teman-teman Penghayat Kepercayaan seolah memberikan dorongan tersendiri untuk mengahdirkannya dalam tulisan.

Dugaan saya mengenai isu Penghayat Kepercayaan yang jarang diminati ternyata benar adanya. Bukan hanya teman-teman peserta yang merasa asing, bahkan Okky selaku pemandu penulisan juga menyatakan perlunya untuk menjelaskan bagaimana sosok yang saya gambarkan dalam tulisan. Hal ini sedikit membuat saya kecewa. Fakta bahwa Penghayat Kepercayaan pun mendapatkan diskriminasi di berbagai lini ternyata belum terdengar. Bahkan lebih parah jika dibandingkan dengan agama yang telah diresmikan oleh pemerintah Indonesia.

Di hari ketiga seluruh peserta telah menuangkan gagasan masing-masing ke dalam bentuk tulisan. Berupa esai ringan dan cerita pendek. Saya juga belajar banyak dari pengalaman kelas menulis. Tulisan ringan yang mengangkat isu-isu populer menjadi ketentuannya. Karena kepentingan penerbitan di website, maka tulisan yang dikehendaki juga bersifat ringan. Bentuk tulisan yang kaku dan ketat rupanya menjadi halangan tersendiri bagi saya. Sepertihalnya yang disampaikan oleh Luthfi, kita harus pandai dalam menyesuaikan pembaca. Tulisan ringan namun tidak mengurangi ide dan gagasan yang hendak kita hadirkan.

Menjadi keunikan tersendiri mengikuti workshop dan kelas menulis seperti ini. Belajar bersama peserta yang hadir dari berbagai wilayah di Indonesia dengan latar belakang berbeda. Mahasiswa, dosen, wartawan, dan para aktifis duduk sama rata untuk menuangkan gagasan-gagasan yang dimiliki. Harapannya adalah satu, yakni menulis atas nama kemanusiaan. Menjadi manusia yang turut menggerakkan peradaban []

 

Seli Muna Ardiani

[Peneliti IJIR]

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme