Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kongres Mahasiswa Filsafat Pertama di Indonesia

Selama dua hari, 27-28 Oktober 2017, mahasiswa filsafat se-Indonesia menyelenggarakan “Kongres dan Deklarasi Mahasiswa Filsafat Nasional”. Ini hajatan penting karena inilah momentum pertama mahasiswa filsafat se-Indonesia menyelenggarakan kongres. Acara dihelat oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat (AFI) Institut Agama Islam Negeri Tulungagung.

Kongres dan Deklarasi sengaja diselenggarakan bertepatan dengan momentum Soempah Pemoeda. Mahasiswa-mahasiswa jurusan filsafat dari berbagai Perguruan Tinggi se-Indonesia ini sengaja mengambil spirit Soempah Pemoeda untuk membentuk wadah nasional.

Selama kongres, forum yang dihadiri tidak kurang dari 18 Perguruan Tinggi se-Indonesia, dan melibatkan 120 peserta (58 peserta merupakan delegasi dari berbagai wilayah di Indonesia, dan sisanya merupakan mahasiswa AFI IAIN Tulungagung). Rapat komisi dan pleno sempat berjalan alot sehingga harus berlangsung hingga dini hari. Meski begitu, semua proses itu berlangsung lancar dan menghasilkan kesepakatan-kesepakatan penting.

Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia

Kongres ini akhirnya berhasil melahirkan organisasi payung mahasiswa filsafat se-Indonesia. Ini merupakan momentum yang sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya organisasi asosiasi mahasiswa filsafat berhasil dilahirkan. IAIN Tulungagung menjadi bagian penting dalam sejarah lahirnya organisasi payung yang kemudian bernama Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia tersebut. Lebih bersejarah lagi karena organisasi tersebut lahir pada hari betepatan dengan momentum Soempah Pemoeda.

Pembacaan naskah deklarasi Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia

Pembacaan naskah deklarasi Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia

Kongres juga secara aklamasi memilih Muhammad Afif A., mahasiswa jurusan filsafat Islam IAIN Surakarta, sebagai ketua Presidium Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia. Pada 28 Oktober 2017 organisasi ini resmi dideklarasikan. Naskah deklarasi dibacakan oleh Presidium terpilih dan diikuti oleh semua delegasi perwakilan berbagai Perguruan Tinggi. Berikut naskah deklarasi tersebut:

 Deklarasi Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia

  1. Kami Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia adalah seluruh mahasiswa filsafat di seluruh Indonesia
  2. Kami Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia berasaskan satu asas Pancasila
  3. Kami Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia bersifat:
  • Inklusif,
  • Nasionalis,
  • Mandiri dan Independen,
  • Kekeluargaan,
  • Adil,
  • Aspiratif dan Partisipatif,
  • Representatif,
  • Bebas dari politik praktis
  1. Kami Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia bertujuan untuk menciptakan manusia paripurna dan menciptakan kebijaksanaan universal
  2. Kami Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia, dari mahasiswa filsafat untuk Indonesia

Tulungangung, 28 Oktober 2017

 

Dari Tulungagung untuk Indonesia

Naskah deklarasi Lingkar Mahasiswa Filsafat Indonesia tersebut dibacakan sesaat sebelum digelar Seminar Kebangsaan bertajuk “Filosofi Bhinneka Tunggal Ika sebagai Fondasi Peradaban Bangsa” pada 28 Oktober 2017, di Aula Utama IAIN Tulunagunung. Tema seminar ini merupakan tema yang sama yang diusung oleh Kongres.

HMJ AFI bekerja sama dengan Institute for Javanese Islam Research (IJIR) secara sengaja menawarkan tema filsafat Bhinneka Tunggal Ika sebagai tema pokok Kongres tersebut. Hasil penelitian IJIR “Melacak Jejak Spiritualitas Bhinneka Tunggal Ika dan Visi Penyatuan Nusantara” menjadi acuan penting dalam diskusi yang berlangsung selama 5 jam tersebut. Dapat dikatakan, hasil riset yang sudah dipublikasi dalam bentuk buku tersebut merupakan sumbangan penting IAIN Tulungagung terhadap diskursus Bhinneka Tunggal Ika sebagai pondasi kebangsaan Indonesia modern.

Akhol Firdaus, Direktur IJIR, dalam sesi Seminar Kebangsaan

Akhol Firdaus, Direktur IJIR, dalam sesi Seminar Kebangsaan

Akhol Firdaus, Direktur IJIR, nara sumber tunggal dalam seminar tersebut memang memulai pembicaraan dengan menyuguhkan beberapa temuan penting penelitian. Salah satunya soal narasi Bhinneka Tunggal Ika sebagai ajaran spiritual yang sudah hidup di Nusantara sejak 1000 tahun yang lalu. “Pada abad 14 M, Mpu Tantular merepresentasikan ajaran spiritualitas kuno tersebut dalam sebuah Kakawin bernama Sutasoma,” demikian ungkap Akhol.

Setelah digali kembali oleh para pendiri bangsa, ajaran ini terbukti mampu berdialektika dengan semangat zaman, dan terus menjadi identitas kebangsaan Indonesia. Direktur IJIR juga menegaskan bahwa Bhinneka Tunggal Ika juga merupakan filsafat yang merefleksikan kedalaman pemikiran masyarakat Nusantara. Meski berdimensi spiritualitas, Akhol Firdaus membandingkan dengan banyaknya ajaran filsafat dalam tradisi Yunani, Islam, dan Barat Modern yang berdimensi sama.

IMG-20171028-WA0048

Nalar Eropa Modernlah yang mengeksklusi ajaran Bhinneka Tunggal Ika dari area filsafat. Akhol lebih jauh melakukan perbandingan tradisi filsafat Yunani, Islam, dan Barat modern terkait dengan bagaimana sumber-sumber kebenaran yang diraih oleh manusia di luar kapasitas rasio dan pendekatan empiris. Melalui perbandingan seperti ini, Akhol Firdaus meyakini bahwa ajaran Bhinneka Tunggal Ika tetap merupakan warisan spiritualitas/filsafat terbaik yang layak untuk terus dirawat dan digali kembali kedalamannya, sebagai pondasi dan identitas kebangsaan Indonesia. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme