Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Kentongan dan Bedug dalam Pandangan Hadratus Syaikh

Oleh Heru Setiawan

(Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung, staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR)

 

12074781_1059990350687607_5095013720240952670_n

 

Masyarakat Indonesia (khususnya masyarakat Jawa), tidak akan asing mendengar “kentongan” dan “bedug”. Kedua alat musik banyak ditemukan di masjid-masjid ataupun mushola. Alat musik tersebut selain sering dibunyikan/ditabuh sebelum adzan. Seiring merebaknya arus Islam fudamentalisme di Indonesia, keberadaan kedua alat musik sebagai penanda masuknya waktu sholat, mendapat gugatan. Kalangan ini cenderung melihat kentongan maupun bedug di masjid dan mushola sebagai bid’ah. Ada juga yang memandang kedua alat musik sebagai media syiar orang-orang kafir.

Kontroversi terkait hukum atas kentongan dan bedug tersebut sebenarnya sudah menjadi perdebatan para ulama’ nusantara, khususnya para ulama’ di wilayah Jawa.  Hal ini dapat kita ketahui dari ungkapan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam mukaddimah kitabnya yang berjudul Al-Jasûs fî Bayâni Ḥukmi Al-Nâqûs. Menurut beliau, para ulama’ sebelum beliau berbeda pendapat terkait hukum menabuh kentongan dan bedug sebelum dan sesudah Adzan.  Ada sebagian ulama’ yang memperbolehkan bahkan menghukuminya sunnah, ada pula yang menghukuminya haram bahkan menghukumi murtad (ha. 2).  Agak mengejutkan, dalam polemik istimbat hukum ini, Hadratus Syaikh lebih memilih pendapat bahwa hal tersebut adalah haram, meskipun sebelumnya beliau mengakui bahwa beliau mendukung pendapat yang memperbolehkannya.

Sebelum menjelasakan argumen tentang keharaman kentongan, Hadratus Syaikh mula-mula mendefinisikan apa yang disebut al-Nâqûs (kentongan). Beliau menukil beberapa pendapat terkait definisi dari kentongan, diantaranya adalah: [1] menurut Al-Majdu Al-Lughawiy dalam al-Qâmûs, kentongan adalah kayu besar lagi panjang di mana di salah satu sisinya pendek. Barang ini dinamakan dengan al-Wabl (kentongan); [2] dalam Kamus Misbah Al-Munir, al-Nâqûs adalah kayu yang besar, panjang dan berlubang yang dipukul (dibunyikan) orang Nasrani sebagai penanda waktu ibadah mereka; [3] Al-Munjid, al-Nâqûs adalah potongan panjang dari besi dan kayu yang dibunyikan orang Nasrani untuk pertandanya masuknya waktu ibadah mereka. Kadang kata al-Nâqûs  juga dipakai dalam penyebutan al-Jarsu (lonceng). Meskipun definisi dari Naqus berbeda-beda,  ada titik kesamaan bahwa alat tersebut digunakan orang Nasrani untik menandai masuknya waktu ibadah mereka.

Selain dari segi definisi, Hadratus syaikh membangun argumentasi keharaman kentongan dengan beberapa tahap yang beliau urutkan dalam kitab tersebut. Bab Pertama memaparkan hadits-hadits shahih yang menjelaskan bahwa menabuh kentongan merupakan bentuk syi’ar dari orang-orang Nasrani. Sedangkan adzan merupakan salah satu bentuk syi’ar dalam Islam. Sehingga menabuh kentongan sebelum adzan merupakan bentuk pencampuran antara syi’ar agama non-Islam dan agama Islam yang tidak diperbolehkan (hal. 4). Pada bab kedua beliau memaparkan pendapapat para ulama’ fiqih yang menyatakan bahwa kentongan merupakan bentuk kemungkaran yang haram dilakukan seperti halnya babi dan khamr (minuman keras). Hal ini sama dengan pendapat As-Syairaziy dan Zakariya Al-Anshariy yang menyatakan keharaman memperlihatkan kemungkaran yang merupakan bentuk syi’ar dari non-muslim semisal khamr, babi, kentongan/lonceng (hal. 8).

Pada pasal berikutnya beliau memaparkan lima tesis keharaman Naqus/kentongan dan membunyikannya. Kelima tesis tersebut kemudian dikuatkan dengan dalil hadits Nabi dan pendapat ulama’. Kelima tesis tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, membunyikan Al-Nâqûs (kentongan/lonceng) merupakan bentuk syi’ar agama non-Islam. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah yang menyatakan hal tersebut merupakan bagian kaum Naasrani. Selain itu menurut Ahmad Ibn Hajar, al-Nâqûs merupakan salah satu bentuk syi’ar kaum Nasrani. Menurut pendapat Hadratus Syaikh sendiri sesuatu yang identik dengan kegiatan non-Islam tidak boleh dikerjakan oleh orang Islam karena Firman Allah لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِيْ (Bagi kalian agama kalian, dan bagiku agamaku). Mengutip penafsiran Ar-Raziy bahwa arti dari ayat tersebut adalah “Bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku, bukan untuk selainku”. Menurut beliau hal ini berarti bahwa seorang muslim tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang merupakan bagian dari agama non-Islam. Sedangkan al-Nâqûs merupakan salah satu bagian dari agama non-Islam sehingga orang Islam tidak diperbolehkan menggunakannya.

Kedua, Membunyikan al-Nâqûs (kentongan/lonceng) merupakan perbuatan yang menyerupai non-muslim dalam syi’ar agamanya, sehingga hal itu merupakan kekufuran atau keharaman. Hal ini sebagaimana sabda Nabi yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Hibban yang berbunyi : مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ  (Barang siapa yang meneyerupai kamu, maka ia termasuk dari kaum tersebut). Menurut pangan para ulama Hadits ini menunjukkan bahwa seseorang yang menyerupai dengan orang fasiq, orang kafir tau ahli bid’ah dalam hal-hal yang menjadi ciri khas mereka, maka dia termasuk bagian dari mereka. Baik menyerupai tersebut dalam segi pakaian, kendaraan ataupun perilaku. Seandainya ada seorang muslim yang menyerupai orang kafir dalam asesoris dan dengan itu dia meyakini (ber-I’tiqad) bahwa iya sama dengan orang kafir tersebut maka dia dihukumi kufur. Akan tetapi jika dia tidak menyakini/meng-I’tiqad-i hal tersebut, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat di antara para ulama’.

Dari paparan di atas kemudian Hadratus Syaikh berpandangan bahwa jika seorang muslim menyerupai orang Nasrani dalam membunyikan kentongan sebagai tanda masuknya waktu shalat/ibadah dan menyakini bahawa dia sama dengan orang Nasrani, maka dia tidak dikatakan kufur. Akan tetapi hal itu haram dilakukan dan orang tersebut harus dididik adab.

Ketiga, membunyikan/menabuh kentongan untuk pemberitahuan masuknya waktu ibadah berarti memperlihatkan syi’ar agama kufur. Sedangkan dalam pandangan ulama’ fiqih seorang kafir dzimmi saja dilarang untuk melakukan hal itu dan dihukum ketika melakukannya. Padahal hal ini menurut keyakinan mereka (kafir dzimmi) diperbolehkan, tentunya larangan ini lebih masuk akal jika diterapkan kepada orang muslim yang mengetahui bahwa hal itu (membunyikan kentongan) dilarang karena bukan merupakan bentuk syi’ar agama Islam (hal. 12).

Keempat, membunyikan/menabuh al-Nâqûs merupakan salah satu bentuk kemungkaran. Sedangkan kemungkaran menurut pendapat As-Sayyid dalam al-Qamus adalah segala hal yang dianggap buruk dan haram oleh syari’at. Sedangkan mencegah kemungkaran hukummnya adalah wajib jika kemungkaran tersebut merupakan sesuatu yang haram. Naqus/kentongan meurut pendapat Hadratus Syaikh merupakan sesuatu yang dianggab buruk oleh syara’ karena merupakan bagian dari syi’ar orang Nasrani sehingga dihukumi haram. Maka mencegah hal itu (menabuh/membunyikan kentongan) wajib hukumnya.

Kelima, al-Nâqûs/kentongan merupakan sesuatu yang dilarang oleh Nabi secara Ṣariḣ seperti penjelasan Syibramalisiy. Segala sesuatu yang dilarang oleh Nabi dalah diharamkan kecuali ada dalil yang menyatakan bahwa ada hukum selain haram. Dalam hal ini tidak ditemukan adanya dalil yang menunjukan bahwa hal itu dilarang dengan maksud selain haram. Maka larangan Nabi dalam hal ini mengarah pada hukum haram.

Hal yang perlu digaris-bawahi dalam permasalah al-Nâqûs/kentongan ini adalah bahwa hukum keharaman membunyikan kentongan ini dilakukan untuk tujuan pemeberitahuan masuknya waktu shalat dan belajar. Sedangkan menabuh kentongan untuk kebutuhan lain semisal sebagai tanda adanya pencurian atau kematian, maka hal itu diperbolehkan.

Pada bagian penutup kitab ini, Hadratus Syaikh juga membahas hukum menabuh bedug sebagai tanda masuknya waktu sholat yang dilakukan oleh muslim wilayah Jawa. Dimulai dengan mendefinisikan bedug sebagai kayu besar panjang yang dilubangi tengahnya kemudian di kedua sisinya dipasang kulit hewan semisal kerbau yang dipasak. Kemudian dibunyikan dengan dipukul menggunakan kayu sehingga mengeluarkan suara dengungan.

Dalam pembahasan hukummnya beliau mengutip pendapat para ulama’ fiqh yang menyatakan bahwa sejenis bedug (Ṭibl) tidak diharamkan kecuali (kendang kecil). Al-Kûbah sendiri adalah sejenis kendang berbentuk panjang di mana sisi tengahnya lebih kecil daripada kedua sisi ujungnya. Hukum memainkan al-Kûbah diharamkan karena adanya sebuah hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Hibban tentang hal itu. Menurut ulama’ alasan pengharaman itu karena adanya unsur menyerupai waria. Akan tetapi menurut pendapat Az-Zarkasyi bahwa keharaman memainkan Ṭibl terkhusus pada Ṭibl yang digunakan alat bersenang-senang tanpa manfaat (al-Lahwu). Merujuk pada pandangan ini maka Hadratus Syaikh berpendapat bahwa memainkan/memukul bedug dengan tujuan sebagai tanda masuknya waktu shalat dan ibadah adalah diperbolehkan. Beliau juga mengutip pendapat As-Syafi’iy bahwa hal tersebut merupakan bid’ah yang terpuji.

Demikianlah review kitab Al-Jasûs fî Bayâni Ḥukmi Al-Nâqûs karya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari. Hal menarik dari pemikiran Hadratus Syaikh dalam kitab ini adalah upaya moderasi dalam pengambilan hukum. Hal ini dapat dilihat saat beliau menyatakan bahwa seseorang yang menyerupai orang kafir tanpa keyakinan ingin menyamai orang kafir tersebut, maka perbuatannya itu dihukumi haram namun  tidak sampai menyebabkan kufur.

Akan tetapi di sisi lain, Al-Jasûs masih bisa dikaji ulang, dikritisi atau ditafsir ulang agar tidak menimpulan pemahaman yang kaku. Pandangan beliau saat menyikapi permasalahan memainkan kentongan sebagai penanda masuknya waktu sholat terlalu sepihak. Beliau dalam hal ini hanya menampilkan dalil-dalil dan pendapat para ulama’ yang mengarah pada pengharaman hal itu saja. Padahal beliau dalam mukaddimah telah menyatakan bahwa dalam meyikapi permasalahan ini telah terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama’. Namun beliau tidak menampilkan dalil atau pendapat yang memperbolehkan memukul kentongan untuk penanda masuknya waktu shalat. []

 

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme