Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Telaah Buku “Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia”

Akhol Firdaus

Direktur Institute for Javanese Islam Research (IJIR)

 

Buku Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia (2017) karya Wasisto Raharjo Jati, peneliti muda LIPI ini, merupakan satu dari sedikit buku yang mengulas tentang pertumbuhan kelas menengah muslim di Indonesia. Hasil riset ini hadir pada masa yang tepat ketika fenomen populisme Islam memang sedang menjadi sorotan para ahli dan akademisi.

Menurut Azyumardi Azra dalam Kata Pengantar, buku ini seharusnya membantu memahami gejala pertumbuhan kelas menengah muslim di Indonesia, dan berbagai dampak yang diciptakannya (hal. xxx). Tanpa bermaksud mengikuti ekspektasi Azra, ulasan singkat ini hanyalah upaya untuk memberikan catatan ringan atas beberapa hal penting yang menjadi konsen utama buku tersebut.

Secara meyakinkan Wasisto Raharjo Jati menyimpulkan bahwa kebangkitan kelas menengah muslim Indonesia memiliki karakter yang khas karena berpijak pada nilai-nilai agama dan kolektivisme (hal. 165). Dengan melacak akar pertumbuhan kelas menengah muslim di Indonesia, Jati menemukan dua faktor utama yang mewarnai pertumbuhan kelas menengah muslim, yakni modal kultural dan praktik kelas. Kedua aspek tersebut diejawantahkan dalam konsep ‘kesalehan sosial’ sebagai kunci utama kekuatan kelas menengah Islam dalam beradaptasi dengan arus modernisme maupun demokratisasi. Alhasil, kebangkitan kelas menengah Islam diandaikan sebagai kebangkitan masyarakat yang memiliki jangkar yang kokoh dalam memegangi ortodoksi agama di tengah arus modernisme. Melalui modal-modal tersebut, kelas menengah Islam di Indonesia tampil sebagai kekuatan yang terus menuntut space sebagai pemain utama dalam negara (hal. 71).

Semangat—untuk tidak menyebutnya ambisi—inilah yang melahirkan ambivalensi. Di satu sisi kelas menengah Islam menuntut rekognisi yang besar dari negara. Tetapi pada saat bersamaan, bertindak pragmatis untuk mendapatkan keistimewaan-keistimewaan dari negara. Intinya, kelas menengah Islam adalah kelas menengah yang paling sibuk bernegosiasi dengan negara untuk mendapatkan peran dan kontrol yang lebih. Dalam situasi seperti ini, bisa berpotensi mendorong kelas menengah sebagai kekuatan egalitarianisme, tetapi juga bisa membuatnya terperosok menjadi puritanisme (hal. 166).

Menariknya, Wasisto Raharjo Jati juga menyimpulkan bahwa kebangkitan kelas menengah di Indonesia juga masih dalam proses pencarian bentuk. Pembengkakan jumlah kelas menengah Islam memang terjadi, akan tetapi di panggung politik tidak pernah terbukti ada solidaritas dalam konsolidasi politik. Jati menyebut faktor diferensiasi ideologi dan struktural sebagai faktor utama yang menjelaskan mengapa tidak lahir solidaritas dalam politik Islam di Indonesia yang kokoh sebagaimana diimajinasikan. Bagaimanapun, kebangkitan kelas menengah lalu lebih banyak diwarnai oleh semangatnya yang luar biasa dalam merayakan cita rasa dan budaya modern yang disediakan oleh kepitalisme pasar. Sebagaimana disindir oleh Azyumardi Azra, kebangkitan kelas menengah di semua negara Islam, telah ditandai oleh perilaku konsumerisme, gaya hidup, dan kesalehan artifisial.

23319255_1768717769818698_3173626400591240157_n

Jati juga menyinggungnya secara khusus gejala ini di bab 3 ‘Kesalehan Sosial sebagai Ritual Kelas Menengah Muslim’, (hal. 101) dan; di bab 6 ‘Jilbab: Konformitas atau Kompromitas Kelas Menengah Muslimah?’ (hal. 149). Kelas menengah Islam juga menjadi sejenis gelombang populisme Islam sejauh populisme Islam kita pahami sebagai semangat membangun ummat demi (imajinasi) kejayaan Islam.

Beberapa catatan pokok yang perlu saya ulas adalah: Pertama, secara keseluruhan buku ini dikerangkai oleh pemikiran sosiologi agama Weberian, terutama merujuk pada karya adiluhung the Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1904). Jati menganggap pendekatan ini lebih menjanjikan dibandingkan dengan pendekatan analisis kelas dan ekonomi semata (hal. 1-3). Pendekatan ini ingin menegaskan bahwa etos adalah faktor utama yang melahirkan kelas menengah, baik dalam pengalaman Protestan Eropa Barat, dan diandaikan oleh Jati, termasuk dalam pengalaman Islam Indonesia. Melalui telaah atas gerakan Lutherianisme dan Calvinisme, Jati menjelaskan bagaimana prinsip calling dan asketisme telah menjadi faktor utama yang menjadikan protestan sebagai agama yang rasional dan harmoni dengan semangat kapitalisme (hal. 11-13).

Melalui pendekatan seperti ini, sejak awal Jati sudah mengandaikan Islam memiliki dasar-dasar yang sama dengan Protestanisme terkait dengan etos dan rasionalitas, sehingga bisa menjadi cikal bakal lahirnya kelas menengah di kemudian hari. Pandangan demikian tentu merupakan penyimpangan atas ajaran Weber sendiri yang melihat agama-agama di Timur yang irrasional—atau setidaknya tidak memiliki derajat rasionalitas yang sama dengan Protestanisme—dan tidak selaras sengan spirit kapitalisme. Jati—menurut saya—telah mengadvokasi secara baik pendekatan Weber sehingga telaah atas etos dan rasionalitas dalam Islam memungkinkan dijadikan sebagai alat pijak untuk membaca kebangkitan dan pertumbuhan kelas menengah muslim di Indonesia.

Meski telah menemukan benih-benih keselarahan Islam dan spirit kapitalisme dan ekonomi pasar, Jati tidak melihat gejala ini sebagai bagian dari konsolidasi kapitalisme dalam menundukan ‘agama’ yang memiliki dasar-dasar normatif yang lebih condong kepada sosialisme tersebut. Di masa lalu, setidaknya dalam pengalaman kolonialisme, Islam juga telah menjadi narasi yang selaras dengan semangat perjuangan kelas proletar dan penolakan terhadap sistem kapitalisme. Upaya menotalkan diri dengan pendekatan Weberian, telah membuat ulasan dalam buku ini lupa menoleh kembali kepada pendekatan kelas dan ekonomi sebagaimana ditawarkan oleh Karl Marx, atau—yang paling masuk akal—pendekatan ideologi, hegemoni, dan konsolidasi ideologi sebagaimana ditawarkan oleh kalangan Neo-Marxisme. Al-hasil, meski beririsan dengan isu-isu krusial di sekitar konsolidasi ideologi, hegemoni, ideologi negara, Jati memilih tidak mengeksplorasi bagian tersebut karena keterfokusan pada cita-cita rasionalitas Islam yang selaras dengan kapitalisme.

Salah satu kesimpulan Jati adalah kelas menengah yang terus bernegosiasi dengan negara dan kekuatan modal. Seharusnya ada pendekatan ekonomi-politik yang cukup untuk melihat secara lebih jernih bagaimana perilaku dan eksistensi kelas menengah muslim Indonesia tidak berbeda dengan kelas menengah lainnya yang bisa tidak begitu serius dalam memegangi ortodoksi agama karena negosiasi memungkinkan individu/kelas ‘menghalalkan’ segala cara untuk mendapatkan ruang kontrol terhadap negara secara lebih besar.

Kedua, secara tidak terhindarkan buku ini dalam telaahnya terhadap genealogi dan identitas kelas menengah Islam juga beririsan dengan pendekatan ekonomi-politik, social movement, populisme, dan pendekatan-pendekatan lain yang lebih kaya dan multi-perspektif. Sayangnya, Jati tidak mengakomodasi pendekatan-pendekatan tersebut sebagai kerangka utama dalam telaah dan penelusurannya terhadap kebangkitan kelas menengah Islam Indonesia. Ini mungkin menjelaskan mengapa buku ini terlalu terfokus pada pembacaan kebangkitan kelas menengah Islam semata-mata sebagai agen perubahan di masa depan, dengan mereduksi semua potensi destruksi dan paradoks-paradoks yang diciptakannya terhadap keutuhan dan masa depan Indonesia sebagai bangsa dan negara.

Ketiga, ulasan ini juga meminjam kritik yang diberikan oleh Roy Abimanyu terhadap karya Vedi R. Hadiz, Islamic Popilism in Indonesia and the Middle East (2015). Menurut Abimanyu, pembahasan tentang populisme di Indonesia sangat terfokus pada aktor-aktor politik yang tampil dipermukaan untuk melihat secara keseluruhan dinamika populisme, akan tetapi tidak cukup telaah atas dinamika dan diferensiasi gerakan politiknya. Apa risikonya? Telaah terhadap populisme di Indonesia telah mengaburkan ragam gerakan Islam semisal konservatisme, ekstremisme, radikalisme, liberalism, moderasi Islam, dan tradisionalisme. Ulasan Hadiz dianggap membuat pilahan-pilahan tersebut tidak mengemuka karena dimasukan dalam suatu ‘keranjang’. Hal sama persis—menurut saya—juga ditemukan dalam karya Wasisto Raharjo Jati ini. Kegagalan dalam melihat dinamika dan diferensiasi di dalam kelas menengah Islam di Indonesia, telah menjadikan semua diferensiasi dan ragam gerakan Islam menjadi kabur dan tidak jelas pergolakan internalnya.

Semoga bermanfaat untuk pemantik diskusi []

 

Tulisan merupakan pengantar bedah buku “Politik Kelas Menengah Muslim Indonesia” Karya Wasisto Raharjo Jati, tanggl 14 November 2017, di Aula Rektorat IAIN Tulungagung.

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme