Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Sarasehan Kebudayaan: Menuju Grebeg Bhinneka Tunggal Ika

Institute for Javanese Islam Research (IJIR) bersama dengan MLKI Tulungagung menggelar Sarasehan Kebudayaan di kantor Perpusatakaan Daerah Kabupaten Tulungagung. Sarasehan yang dilaksanakan pada Selasa, 28 November 2017 tersebut, diikuti oleh perwakilan lintas umat dan tokoh-tokoh masyarakat dan pelaku kebudayaan Tulungagung. Sarasehan digelar dalam rangka mematangkan agenda Grebeg Bhinneka Tunggal Ika.

Acara dibuka dengan sambutan Ir. Sukriston, ketua MLKI Tulungagung, yang menjelaskan tentang agenda Grebeg Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, Tulungagung sudah saatnya memiliki ikon tersendiri layaknya kota-kota lain. Grebeg Bhinneka Tunggal Ika diproyeksikan sebagai ikon dan identitas Tulungagung yang diyakini sebagai lokus utama pematangan ajaran Bhinneka Tunggal Ika di masa lampau. Pandangan ini tentu saja merujuk hasil penelitian IJIR bertajuk “Melacak Jejak Spiritualitas Bhinneka Tunggal Ika dan Visi Penyatuan Nusantara”. Hasil riset tersebut sudah diterbitkan dalam bentuk buku pada 1 Juni 2017 lalu. Hematnya, penelitian IJIR telah memberikan landasan yang kokoh bagi masyarakat tentang Tulungagung sebagai Kota Bhinneka.

IMG-20171128-WA0016

Sesi berikutnya, Direktur IJIR, Akhol Firdaus, menjelaskan konteks kelahiran penelitian itu. Baginya, penelitian diilhami dari deklarasi Tulungagung sebagai Kota Bhinneka di IAIN Tulungagung pada 7 November 2016. Akhol bercerita betapa sulit mengatasi keterbatasan ilmu yang dimilikinya. Ia jujur bahwa bukan jebolan fakultas sejarah dan dipaksa mempelajari ilmu sejarah. Namun penelitian yang digawanginya, secara akademik bisa dipertanggungjawabkan.

Hasil penelitian, sebagaimana dijelaskan Akhol, menyuguhkan kesimpulan bahwa Tulungagung adalah lokus penting dalam pematangan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Narasi Bhinneka Tunggal Ika juga dianggap sebagai ajaran “suci” yang mata-rantainya bisa dilacak sejak zaman Raja Airlangga. Spirit ajaran itu adalah imajinasi tentang keutuhan. Akhol menjelaskan bagaimana perang kerajaan-kerajaan di Jawa tanpa akhir dan memberi inspirasi untuk bersatu. Baru di tangan Ranggah Rajasa dan Kertanegara perang itu bisa redam. Ajaran bhinneka tunggal ika dan penyatuan Nusantara itu sendiri lalu diawetkan oleh tokoh agung, putri Kertanegara, Sri Gayatri Rajapatni. Salah satu candi pendarmaan tokoh tersebut berada di Boyolangu, Tulungagung, dan masih lestari hingga saat ini.

Singkatnya, Akhol ingin menjelaskan bagaimana ajaran “suci” Bhinneka Tunggal Ika sampai di tangan Gayatri Rajapatni. Ajaran tersebut menurut Akhol dirawat dengan baik dalam tradisi ziarah. Tradisi ziarah menyiratkan upaya-upaya untuk selalu terkoneksi dengan masa lalu. Masih menurut Akhol, ajaran Bhinneka Tunggal Ika dirawat dan lestari di Tulungagung. Hal ini berasal dari bukti-bukti arkeologis dan literatur yang menegskan bahwa Tulungagung adalah kawasan Karsian atau tempat para rsi (guru spiritual) sejak zaman Airlangga hingga imperium Majapahit berkuasa.

IMG-20171128-WA0028-a

Akhol di akhir penjelasan memantapkan rencana Grebeg Bhinneka Tunggal Ika di Tulungagung. Baginya Grebeg adalah cara untuk mengarusutamakan Tulungagung sebagai kota Bhinneka. Ia meyakini ajaran-ajaran di dalamnya bisa didistribusikan melalui festival kebudayaan, bernama Grebeg.  Acara semakin meriah, setelah Akhol selesai menjelaskan hasil dan konteks penelitian dilakukan. Lalu beberapa peserta sarasehan memberi pendapat, saran dan juga pertanyaan. Rata-rata peserta banyak mengomentari dan mengkonfirmasi konten ataupun hasil riset tersebut. Menariknya acara tersebut mempertemukan pelbagai elemen masyarakat untuk duduk bersama membicarakan Bhinneka Tunggal Ika dalam satu frame. Kemudian acara dilanjutkan dengan koordinasi rencana Grebeg Bhinneka Tunggal Ika yang menjadikan kampus IAIN Tulungagung sebagai titik jumpa seluruh elemen masyarakat dan kebudayaan di Tulungagung dan kawasan Mataraman. Grebeg Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri akan dihelat pada 23 Desember 2017 []

Khoirul Fata

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme