Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Melacak Polarisasi Abangan-Putihan di Jawa

Oleh Chandra Halim Perdana

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi IAIN Tulungagung)

candra

Sejauh ini, kajian tentang Islam Jawa selalu merujuk pada trikotomi Cliffort Geertz di dalam bukunya “The Religion of Java”. Buku tersebut mendeskripsikan secara detail kelompok-kelompok sosial di Jawa, yakni abangan, santri dan priayi. Geertz sendiri tidak memberi penjelasan memadai kemunculan tiga kelompok sosial tersebut.

Berdasarkan sejarah, trikotomi tersebut tidak sepenuhnya salah tetapi menyembunyikan sesuatu yang luput dari pengamatan Geertz. Karenanya untuk mengungkap hal tersebut sejarawan Ricklefs mencoba melacak asal-usul polarisasi tersebut dalam artikelnya berjudul “The Birth of the Abangan”. Ricklefs menampilkan proses terjadinya polarisasi di masyarakat Jawa. Dia merujuk catatan-catatan misionaris maupun pejabat kolonial serta catatan terkait. Berangkat dari berbagai bukti literatur, ia berhasil melampaui deskripsi Geertz yang hanya menarasikan kelompok-kelompok sosial di Jawa tanpa melihat proses kelahirannya.

M.C Ricklefs mengawali pembahasan dengan mendudukkan kembali istilah santri. Sebelum mendapat pengaruh dari Clifford Geertz istilah ini memiliki makna yang sempit. Digunakan untuk menyebut seseorang yang belajar agama di Pesantren. Faktanya pada abad 19an istilah yang dikenal di masyarakat untuk menyebut kelompok orang soleh adalah putihan. Selain itu bukti menunjukkan bahwa istilah abangan-putihan baru diketahui pada abad 18, sedangkan definisinya masih cair pada masa itu. Hal ini berdasarkan laporan missionaris awal. Ditemukan laporan yang berbeda-beda berkaitan dengan istilah abangan-putihan.

 Para missionaris ini berada di tempat yang berbeda-beda dan melaporkan keadaan masyarakat Jawa tahun 1855-1860. Ditemukan laporan yang berbeda dari para missionaris berkenaan dengan abangan-putihan. Tersebut nama-nama missionaris seperti Hoezoe, Granswijk, Harthoorn. Laporan mengejutkan datang dari Hoezoo ketika di Mojowarno. Dia menemukan istilah putihan digunakan dalam komunitas Kristen Jawa. Mereka menyebut diri mereka putihan sedangkan abangan digunakan untuk menyebut orang muslim.

Selain laporan para missionaris, terdapat pula surat kabar Jawa bernama Jurumartani. Bercerita tentang konflik antara kyai dengan menantunya–konflik tidak berkenaan dengan masalah agama. Menantu tersebut bernama Pun Diman, disebut sebagai abangan. Padahal Pun Diman juga anak seorang kyai. Selain itu terdapat puisi panjang versi Jawa salah satunya “bekas kaum Nur Yakilambaka” bercerita tentang seseorang yang menjadi santri selama 8 tahun dan kembali menjadi abangan setelahnya.

Selain istilah abangan-putihan masih cair, Ricklefs juga menyimpulkan jika istilah tersebut masih berkembang pada kisaran tahun 1850an-1870an. Karena ditemukan bukti literer yang tidak menyinggung pembagian tersebut. Terutama terdapat pada laporan Poensen yang tidak menyebutkan pembagian tersebut. Padahal semua missionaris termasuk Poensen juga terhubung dengan para missionaris lain–mereka terhubung lewat Jurnal Belanda Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap (MNZG). Dokumen yang ditulis oleh Bupati Kudus Condranegara V, menjelaskan berbagai kelas dan kelompok masyarakat Jawa tetapi tidak menyebutkan adanya abangan. Profesor Koninklijke Akademie di Delft yang menulis tentang Islam, juga tidak menyebutkan adanya polarisasi putihan-abangan.

Titik berangkat perubahan masyarakat Jawa dimulai tahun 1880. Terjadinya perubahan ini akibat momentum haji Akbar tahun 1880, 1885 dan 1888. Momentum tersebut berdampak bagi masyarakat Jawa yang makin terarah dengan perkembangan Timur Tenga –terjadi penguatan arus reformasi. Ini menyebabkan bangsa putihan merasa menjadi bagian ummah muslim di seluruh dunia. Ditambah makin tingginya pertumbuhan Pesantren beserta santrinya. Di sisi lain Fenomena ini mendapat reaksi perlawanan dari kelompok masyarakat Jawa yang lain. Hal ini sesuai catatan Poensen di Kediri tahun 1884 dan 1886. Catatannya tentang “masyarakat Jawa sebagai orang Jawa” dan “keluarga Jawa” menjelaskan proses bangsa abangan yang semakin kehilangan kehidupan agamanya, sedangkan di sisi lain bangsa putihan yang makin religius.

Pendidikan menjadi faktor pembelahan kelompok masyarakat Jawa saat itu. Karena tahun 1840 telah berdiri sekolah rendah pribumi. Keberadaan sekolah ini bagi bangsa abangan tidak hanya menghancurkan kehidupan religius mereka. Karena makin hilangnya pencari ngelmu (pengetahuan mistik). Selain karena keberadaan ngelmu sarengat (syariat) tidak dapat menggantikannya. Karena bagi bangsa abangan ngelmu sarengat sangat berat, terlalu rumit, dan menggunakan bahasa asing.

Faktor lainnya dilihat dari keadaan keluarga kedua kelompok abangan-putihan. Para orang tua bangsa putihan menunjukkan kebiasaan sebagai orang saleh, disebut (ngibadah). Kebiasaan mereka setiap hari adalah pergi ngaji (membaca al-Quran) dengan guru. Jika telah mahir mereka diajarkan membaca huruf pegon (bahasa Jawa dengan tulisan Arab). Selain itu bangsa putihan terbiasa dengan segala hal berkaitan dengan Arab di kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan keturunan bangsa abangan yang mendapat pendidikan di sekolah umum yang terbiasa dengan naskah Jawa. Situasi seperti ini menurut M.C. Ricklefs memutus komunikasi antara abangan-putihan. Poensen menggambarkan keadaan bangsa abangan sebagai mayoritas yang besar tapi tidak mendapat pengaruh Islam. Selain karena mereka menolak ritual dan praktik Islam diterapkan di rumah tangga. Berbeda dengan keluarga bangsa putihan, kebiasaan mereka menerima tamu untuk membaca dan berdiskusi tentang teks Muhammad. Selain itu mereka juga mengundang santri dalam perayaan keagamaan.

Kebiasaan tersebut diakibatkan adanya perbedaan ekonomi yang timpang antara abangan-putihan. Bangsa putihan merupakan kelas menengah. Mereka adalah ahli waris dari eksploitasi Belanda dari agrikultur potensial Jawa dan mahir berbisnis. Oleh karenanya secara ekonomi keluarga bangsa putihan memiliki kemakmuran yang luar biasa. Kemakmuran ini tentu saja berdampak terhadap perangai dan gaya hidup bangsa putihan. Alhasil keduanya tidak hanya dipisahkan oleh latarbelakang agama, tetapi juga perbedaan kelas sosial, pendapatan, pekerjaan, pakaian, tata krama, gaya hidup.

Menengok kembali keadaan keagamaan masyarakat Jawa abad 18. Bukti menyebutkan bahwa tahun 1830 kebanyakan masyarakat Jawa saat itu menjalankan rukun Islam bercampur kekuatan spiritual lokal yang dikenal dengan sintesis-mistis Jawa. Barulah abad 19 terjadi perubahan yang signifikan. Kelompok masyarakat  yang mendapat pengaruh dari penguatan reformasi Islam menyatakan bahwa Islam adalah ketaatan kepada rukun Islam dan meninggalkan kepercayaan terhadap kekuatan spiritual lokal. Kelompok ini menyatakan diri sebagai putihan.

Sementara komunitas mayoritas yang tidak menjalankan sholat dan hanya menjalankan ritual Islam atas nama solidaritas, para reformis menyebutnya sebagai abangan. Beberapa dekade berikutnya pengamal ini semakin menurun. Polarisasi yang terjadi tidak cukup hanya dipandang dari latarbelakang agama saja tetapi lebih luas dari itu. Oleh karenanya polarisasi yang terjadi di masyarakat Jawa, bagi Ricklefs seperti dalam fisika tentang hukum Newton ketiga. Hukum ini menyebutkan  gaya aksi dan reaksi dari dua benda memiliki besar yang sama, dengan arah terbalik, dan segaris. Selain itu polarisasi abangan-putihan pada awal abad 18 terbawa dalam ranah politik yang menjadi akar bagi konflik berdarah tahun 1960an. Sebelum mengakhiri artikelnya, M.C. Riklefs menuliskan bahwa polarisasi menurutnya telah dimulai dan terus tumbuh sekaligus dapat menurun atau berhenti []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme