Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Menandai Langkah Pertama, Kerja Intelektual Organik

Oleh Akhol Firdaus

(Direktur Institute for Javanese Islam Research – IAIN Tulungagung)

 

Masih segar dalam ingatan, tanggal ini, 3 Januari tahun lalu, untuk pertama kalinya saya menerima penyerahan kunci kantor Institute for Javanese Islam Research (IJIR). Di tanggal itu juga saya untuk pertama kali membuka bekas ruang kuliah yang didesain sebagai kantor tersebut.

Seraya membaca al-Fatihah, saya memasuki ruangan. Ada berjubal-jubal mimpi dan ekspektasi yang menunggu diwujudkan. Tentu saja semua masih abstrak. Kami—tidak selayaknya organisasi-organisasi modern yang harus menyusun rencana strategis terperinci terlebih dulu, sebelum mewujudkan ragam program, yang terjadi pada kami justru, semua serba mengalir mengikuti irama waktu. Mengikuti kehendak alam.

Jujur saja, kami telah dan selalu hanya digerakan oleh mimpi. Semua serba abstrak pada awalnya, dan dalam beberapa hal, kami membiarkannya tetap abstrak. Tentu pada akhirnya, saya harus membuat semacam logical framework sebagai guidance lembaga ini. Arah kerja lembaga itu pastilah ada, tapi bukan kitab suci.

Singkat kata, IJIR berdiri mengikuti waktu pertama kali saya membuka kantor yang difasilitasi oleh IAIN. Itulah tanggal yang kami tetapkan sebagai hari jadi, 3 Januari.

Lahir dari Situasi Krisis

IJIR berdiri karena desakan keadaan. Kondisi krisis itu kami hadapi di Program Studi (Prodi) Akidah dan Filsafat Islam (AFI), tempat saya mengabdi. Prodi yang paling sepi peminat, dan bagi sementara orang diyakini hanya akan mencetak ‘pengangguran’.

Bayangkan saja, setiap tahun akademik peminat Prodi ini tidak pernah lebih dari sepuluh orang. Pernah suatu tahun agak banyak, itupun karena kebijakan menggratiskan SPP. Stigma mahasiswa buangan pun terus mewarnai situasi mental mahasiswa kami. Tampak sekali, stigma itu terpahat di wajah gundah mereka.

Ketua Jurusan Akidah dan Filsafat Islam, Dr. A. Rizqon Khamami, telah memutar otak untuk mengatasi situasi ini. Banyak cara ditawarkan—untuk sekadar mengangkat moral mahasiswa, sehingga berani menatap masa depan dengan cara pandang lebih baik. Dalam banyak kesempatan sepanjang tahun 2015-2016, saya terus menemani obrolan-obralan tentang situasi krisis tersebut.

Pernah, suatu ketika Pak Rizqon menawarkan program excellencies berupa pendidikan entrepreunership kepada para mahasiswa. Tawaran ini lahir dari pikiran yang sederhana, kami merasa bertanggung jawab untuk membekali soft skill kepada para mahasiswa agar pulih kepercayaan dirinya. Upaya ini pada akhirnya juga tidak banyak membantu. Passion mayoritas mahasiswa kami, rupanya bukan di bidang itu.

Sampai pada akhirnya, di suatu mandi, saya seperti mendapatkan percikan ‘ilham’. Seperti biasa, inspirasi dan ide seringkali memang lahir tiba-tiba di kamar mandi. Saya merasa, mengapa harus mencari-cari program excellencies yang tidak ada hubungannya dengan rumpun keilmuan di Prodi? Prodi ini menurut saya harus tetap ada karena tugasnya adalah mencetak ilmuwan.

Bagi saya, Prodi ini adalah jantung pengembangan keilmuan di IAIN dan UIN. Dari generasi ke generasi, mayoritas ilmuwan-ilmuwan di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, umumnya dicetak oleh jurusan ini. Saya lalu meyakinkan Ka-Prodi bahwa pilihan pengembangan excellencies satu-satunya yang masuk akal untuk AFI adalah, membekali mahasiswa dengan keahlian-keahlian layaknya pribadi ilmuwan.

Mahasiswa AFI harus memiliki skill dasar meneliti, menulis hasil penelitian sehingga layak publikasi, memiliki modal dasar untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi. Demikianlah. IJIR lalu kami rancang sebagai program excellencies bagi Prodi AFI.

Sejak lembaga ini berdiri, kami tidak pernah berhenti untuk meng-insert kesadaran mahasiswa dengan mimpi-mimpi besar sebagai ilmuwan. Dalam bahasa kami sehari-hari, hanya ada dua pilihan masa depan bagi mahasiswa AFI: menjadi ilmuwan atau pengangguran. Upaya sugerti seperti ini hampir setiap saat dilakukan, tidak terkecuali di ruang kuliah.

Ada motto tidak tertulis yang sengaja saya buat dan sengaja kami tanam di kesadaran mahasiswa. Think and act like a researcher. Hampir semua mahasiswa AFI menghafal motto itu, lalu segera menjadi semacam terapi kepercayaan diri. Soal terapi seperti ini, kami juga tidak segan menyebut siapa saja mahasiswa yang berhasil menulis di media blog IJIR dengan sebutan mentereng, peneliti muda.

Tanpa bermaksud membesar-besarkan, itulah ikhtiar yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan dan mengangkat moral mahasiswa kami.

Soal Islam Jawa

Banyak orang bertanya, mengapa program excellencies ini memfokuskan perhatiannya pada isu Islam Jawa? Bagian ini juga menyisakan kisah tersendiri.

Selama proses kami mendesain program excellencies tersebut, diskusi dan konsultasi kepada Rektor IAIN Tulungagung, Dr. Maftukhin, juga berjalan dalam saluran-saluran informal. Diskusi menjadi sangat intens dilakukan. Saya pribadi, merasa memiliki kewajiban moral untuk memberikan apresiasi tertinggi pada beliau. Bukan sekadar soal endorsement yang terus mengalir, tetapi dari beliau kami juga belajar berimajinasi dan membangun mimpi-mimpi besar dalam mengembangkan lembaga.

Melalui proses diskusi yang panjang, kami akhirnya memutuskan untuk mendayung sehingga dua-tiga pulau terlampaui. IJIR pada akhirnya bukan sekadar program excellencies, lembaga ini juga diekspektasikan mampu mewujudkan identitas keilmuan yang khas AFI, bahkan bisa mewarnai identitas dan orientasi pengembangan keilmuan di IAIN.

Suatu mimpi besar, kepercayaan yang besar, dan harus dibayar dengan kerja-kerja besar pula. Saya keder sejak awal mempertimbangkan berbagai keterbatasan, terutama keterbatasan saya pribadi.

Suatu identitas pemikiran dan orientasi pengembangan keilmuan, haruslah berakar pada sejarah dan bumi sendiri. Itulah mengapa kami memutuskan untuk menjadikan Tulungagung sebagai laboratorium besar, lokalitas yang tak akan habis untuk dikaji dan diteliti. Pada awalnya, saya mengusulkan agar lembaga fokus pada kajian agama lokal. Pak Rektor merefleksi dengan serius usulan itu, kemudian menolak karena dianggap tiduk cukup seksi dan tidak khas IAIN.

Seketika beliau menawarkan, Islam Jawa. Itulah isu utama yang harus menjadi konsen kajian dan penelitian lembaga. Saya kehilangan imajinasi. Dalam pikiran, sebagai awam saya merasa betapa sempitnya mengeksplorasi kajian dan penelitian hanya pada isu Islam Jawa.

Rupanya, itu benar-benar hanyalah pikiran awam saya.

Suatu kajian dan penelitian yang berorientasi pada the idea of novelty memang harus berangkat dari domain yang sempit. Apa yang dianggap sempit, dalam tradisi ilmu sesungguhnya akan menyediakan ketakberhinggaan. Kesadaran seperti ini baru saya ketahui belakangan.

Keterpesonaan saya pada tradisi ilmu-ilmu kritis, pada akhirnya kembali membimbing saya untuk sampai pada suatu inspirasi besar dalam kerja-kerja intelektual organik. Saya menemukan quote penting dari ilmuwan raksasa dalam tradisi neo-Marxisme, Antonio Gramsci. Quote ini kembali ditampilkan oleh seorang ilmuwan berdedikasi tinggi, Edward W. Said dalam naskah adiluhungnya, Orientalism. Begini kutipan itu dalam versi Indonesia:

“Titik tolak yang sebenarnya dari kerja kritik adalah kesadaran akan jati diri, sedangkan mengenal diri sendiri merupakan hasil akhir dari proses sejarah, yang mengisyaratkan tentang ketidakterbatasan jejak dalam diri kita, tanpa menyisakan sedikitpun daftar-daftar inventaris. Oleh karena itu, kita wajib untuk sedari awal menghimpun inventaris-inventaris tersebut.”

Said bercerita, kalimat terakhir dalam tulisan Gramsci tersebut, hilang sistematis dalam terjemahan bahasa Inggris. Kalimat tersebut hanya ditemukan dalam versi bahasa Italia. Tentu ada banyak spekulasi tentang hal ini, tetapi bagian terpenting dari seluruh cita-cita intelektual dan keilmuan seharusnya memang diarahkan untuk “menghimpun kembali jejak kesejarahan kita sendiri.

Demikianlah. Melalui lembaga kajian Islam Jawa, kami merasa sedang membangun suatu titik tolak kerja keilmuan yang berakar pada sejarah kami sendiri. Ada tanggung jawab moral-intelektual untuk menginventaris kembali jejak-jejak sejarah sendiri. Dan, inilah yang—kami percaya—akan menghantar kami untuk sampai pada ketakterhinggaan. Kami merasa, inilah kewajiban moral-intelektual yang harus diambil, seumur hidup.

Langkah Pertama Kami

Tidak terasa, saya—berserta para peneliti muda, sudah setahun menghuni kantor ini. Tidak terasa pula, para peneliti muda itu sudah menulis 35 tulisan tentang isu Islam Jawa di blog—media resmi kami. Sebagian besar tulisan merupakan review atas narasi-narasi besar Islam Jawa, sebagiannya lagi hasil kajian empiris atas dinamika Islam Jawa. Tentu semua masih pada taraf belajar, meski begitu, tidak sedikit yang bilang bahwa para peneliti muda itu bahkan lebih produktif dari mayoritas para dosen. Mohon maaf atas penilaian ini.

Selama setahun ini, IJIR hanya mampu menghadirkan dua hasil riset. Pertama, riset sejarah bertajuk “Melacak Jejak Ajaran Bhinneka Tunggal Ika dan Visi Penyatuan Nusantara di Bumi Tulungagung”. Riset ini merupakan program kerja sama dengan Pemkab Tulungagung. Sebagai hasil riset bolehlah diperdebatkan, tetapi perlu dicatat, riset ini dalam perkembangannya lalu dijadikan sebagai acuan bagi Pemda dan seluruh elemen masyarakat Tulungagung untuk melakukan gerakan kebudayaan, dimulai dengan Grebeg Bhinneka Tunggal Ika pada 26 Desember 2017, tempo hari. IJIR menjadi salah satu founder dan menjadi bagian dari gerakan kebudayaan tersebut.

Kedua, riset bertajuk “Transformasi Relasi Santri-Abangan di Tanggunggunung”. Riset ini sedang dalam proses publikasi.

Sebagai lembaga yang baru berdiri, kami tidak menyangka dipercaya oleh banyak lembaga untuk bekerja sama. IJIR bahkan sudah dua kali bekerja sama dengan lembaga internasional seperti the Asia Foundation. Kami juga bekerja sama dengan Kaukus Pancasila DPR RI, Komnas HAM, Pusham Surabaya, FKUB se-wilayah eks-karesidenan Kediri, dalam berbagai bentuk kegiatan diskusi dan seminar. Sebagiannya terkait dengan hasil penelitian IJIR.

Inilah langkah pertama kami. Semua serba terbatas dan banyak kelemahan. Meski begitu, langkah pertama ini selalu merupakan titik tumpu, menuju seribu mungkin sejuta langkah berikutnya.

Selamat ulang tahun yang pertama, IJIR!

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme