Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Menyoal Klaim “Menjadi Orang Jawa Berarti Menjadi Muslim”

Oleh Gedong Maulana Kabir

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research)

GEDONG

Imajinasi sebagian ahli tentang kajian Islam Jawa masih menyisakan masalah. Mereka menganggap bahwa menjadi orang Jawa berarti menjadi muslim. Dengan bahasa yang lain, seakan-akan masyarakat Jawa dianggap sudah auto-muslim. Mungkin, pandangan ini hendak mengatakan bahwa nilai-nilai dalam Islam bersesuaian dengan nilai-nilai yang ada di Jawa. Namun, justru pandangan demikian mengidap penyakit fondasionalisme. Mungkinkah ini benar demikian?

Tokoh pertama yang menyuarakan pandangan seperti ini adalah Mark. R. Woodward. Dalam bukunya Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, secara eksplisit dia menuliskan, “semua orang Jawa sesungguhnya adalah Muslim” (Woodward, 2008: 366). Dengan meyakinkan, Woodward membuktikan bahwa praktik-praktik Islam Jawa bisa ditemukan argumentasi normatifnya dalam Islam. Dia juga memberikan penjelasan bahwa masyarakat Jawa yang memiliki kecenderungan mistik memiliki kesamaan dengan corak Islam sufistik. Ini menunjukkan bahwa Islam Jawa sama absahnya dengan Islam yang berpadu dengan nilai lokalitas di tempat lain, misalnya Islam Iran, Islam Maroko, Islam India, maupun Islam-Islam di tempat lain.

Pandangan Woodward di atas merupakan counter diskursif atas kajian agama di Jawa yang dirintis oleh Cliffort Geertz dalam bukunya The Religion of Java. Menurut Geertz, agama (Islam) di Jawa bersifat sinkretik. Ini artinya, agama Islam di Jawa banyak terintegrasi dengan unsur-unsur agama/budaya sebelumnya. Tentu saja tokoh ini tidak memiliki pandangan bahwa menjadi orang Jawa berarti menjadi muslim. Pengutipan tokoh ini hanyalah untuk menunjukkan bahwa pandangan Woodward hendak mengevaluasi pandangan Geertz tersebut.

Tokoh kedua yang memiliki pandangan bahwa menjadi orang Jawa berarti menjadi muslim adalah M. C. Ricklefs. Dalam bukunya berjudul Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang, dengan cukup percaya diri dia menuliskan “menjadi orang Jawa berarti menjadi Muslim” (Ricklefs, 2012: 36). Bagian ini disampaikan oleh Ricklefs ketika menerangkan tentang term sintesis-mistik. Baginya, ini merupakan sifat mendasar masyarakat Jawa. Dalam salah satu poin pandangan ini dia menjelaskan, orang menjadi Islam sembari menegaskan identitasnya sebagai Jawa. Ini merupakan rekonsiliasi identitas antara orang Jawa yang menjadi Islam atau orang Islam yang di Jawa. Identitas ini semakin melebur dalam penerimaan keyakinan spiritualitas tertinggi di Jawa yang mendapat argumentasi sufisme Islam.

Jika melihat hasil penelitian Ricklefs [hanya untuk aksioma di atas] dan Woodward, ‘agaknya’ ini merupakan pendekatan dengan paradigma Islam-sentris. Najib Burhani pernah menyebut paradigma seperti ini dengan Islam-centered (Burhani, 2010: 39). Cara pandang seperti ini menghasilkan suatu pandangan yang menempatkan Islam secara langsung pada posisi utama. Selanjutnya, seluruh amatan akan menggunakan cara pandang yang disediakan oleh Islam. Karena itu, tak heran jika hasilnya adalah Islam menjadi anasir yang dominan.

Meskipun kajian semua peneliti di atas memotret agama Islam dalam relasinya dengan Jawa, namun jangan lupa bahwa di Jawa masyarakat tidak hanya memeluk agama Islam saja. Islam adalah salah satu agama di Jawa, di antara banyaknya agama yang berkembang. Kalau masyarakat Jawa dianggap telah menjadi Islam secara primordial, lalu di manakah posisi agama/keyakinan yang lain itu?

Barangkali, cara melihat yang lebih tepat adalah tidak dengan menganggap menjadi Jawa sama dengan menjadi Islam, melainkan menempatkannya sebagai anasir-anasir yang saling mengisi dan terus berjalin-kelindan. Pada titik inilah akan terbuka ruang akademik dalam melihat relasi agama-agama/keyakinan-keyakinan dalam relasinya dengan Jawa. Pendek kata, ada nilai-nilai keagamaan/keyakinan yang menyetubuh dalam diri ke-Jawa-an.

Terkait hal ini, menarik untuk mencermati uraian Akhol Firdaus. Dalam tulisannya berjudul Sufisme Jawa sebagaimana mengutip Goerge Cœdes [2010] ia menyampaikan bahwa, “pada abad 13 M, tradisi Buddha Mahāyana dan Śiwaisme telah lebur sedemikian rupa menjadi Jawa itu sendiri.” Ini menunjukkan, sejak masa lalu selalu ada sintesis ragam agama/keyakinan di Jawa. Saya ingin mengatakan, Jawa itu bukan Islam semata. Jika penelusuran kita lanjutkan, kita akan mendapati bahwa tidak ada pertentangan nilai-nilai ke-Jawa-an dengan nilai-nilai ke-agama-an. Baik itu world religion seperti Abrahamic religion, maupun local religion seperti penganut Kepercayaan.

Kesadaran seperti ini akan mampu menjadikan kita sebagai masyarakat yang bisa melihat dan menerima keberagaman agama/keyakinan. Ini artinya, merayakan kehidupan dalam ragam perbedaan. Semoga, ini menjadikan cara beragama kita semakin Pancasilais, bukan rasis. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme