Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Titisan Wisnu

Oleh Akhol Firdaus

(Direktur Institute for Javanese Islam Research – IAIN Tulungagung)

cak akhol

 

Inilah kisah tentang Erlangga. Raja termasyhur dalam jagad kekuasaan di Nusantara. Harum kisahnya abadi. Dialah titisan Wisnu. Hadir ketika dunia sedang dicekam kegelapan. Dialah Arjuna. Sosok yang mengejar kesempurnaan demi menciptakan dunia yang sentosa.

Erlangga bukan raja biasa. Ia tidak mewarisi kekuasaan sebagai putra mahkota. Ia datang justru ketika kerajaan sedang luluh lantak karena kekuatan pralaya. Zaman gelap akibat angkara murka sedang menguasai semesta. Erlangga ditakdirkan hadir pada masa kaliyuga, suatu episode sejarah yang menyerupai ‘lautan purba’.

Alam telah memilih Erlangga. Sosok dan kualitas pribadinya telah memikat hati dewa Indra. Pemegang kekuasaan tertinggi kerajaan kahyangan itu, turun sendiri ke bumi. Membujuk Erlangga-Arjuna agar mau mengemban tugas berat, menghadapi pralaya, bukan hanya demi memulihkan sentosa di dunia, tetapi juga memulihkan keadaan kerajaan kahyangan.

Kerajaan Indra itu sedang diancam kekuatan pemusnah, Niwātakawaca, raja raksasa yang memiliki kekuatan pralaya. Kepongahannya telah membuat kerajaan surga terancam.

Erlangga-Arjuna menerima tugas berat itu. Dengan bantuan para pendeta Śiwa, Buddha, dan Mahabrahmana, ia menahbiskan diri sebagai titisan Wisnu. Sepanjang hidupnya dilalui dengan menempa diri, demi mencapai kesempurnaan. Itulah kualitas pribadi yang akan membawanya pada puncak pencapaian: memulihkan kesejahteraan di dunia; Mengembalikan kebahagiaan di kerajaan kahyangan.

Memahat Keabadian

Semua alegorisme di atas bukan cerita fiksi. Kita mengetahui cerita tentang Erlangga karena warisan-warisannya. Ia adalah raja cerdas yang tahu cara mengabadikan darmanya.

Kita setidaknya mewarisi dua puluh prasasti Mataram kuno dari periode Erlangga. Para ahli umumnya terkesima dengan prasasti-prasasti Erlangga yang bernilai sastra tinggi. Bukan hanya itu, Erlangga juga mewariskan satu karya sastra, kakawin Arjunawiwāha [perkawinan Arjuna]. Kakawin dianggap sebagai tonggak sastra Jawa ketika kerajaan Mataram sudah berpindah ke Jawa wilayah timur. Arjunawiwāha merupakan suatu episode yang digubah dari Mahābhārata.

Mpu Kanwa, bujangga yang sangat dekat dengan Erlangga—telah mengabadikan kisah hidup raja agung itu dalam alogerisme kehidupan Arjuna (C.C. Berg, 1938). Sang bujangga juga diperkirakan terus mengikuti perjalanan hidup Erlangga, terutama pada masa-masa pemulihan kekuasaan Mataram kuno setelah dihancurkan oleh musuhnya pada masa Dharmawangsa Teguh. Zoetmulder (1994) meyakini bahwa kakawin ditulis pada periode antara tahun 1028-1035 M.

Melalui prasasti-prasasti dan kakawin itu, kita mengenal Erlangga. Leluhur agung yang mewariskan ajaran kesempurnaan, ajaran tentang bagaimana memulihkan kekuasaan demi kesejahteraan dan kebahagiaan.

Di antara sekian banyak prasasti, Pucangan dianggap sebagai prasasti yang mengirim kisah paling utuh tentang Erlangga. Prasasti ditulis dalam dua bagian. Bagian pertama berbahasa Sangskerta dikeluarkan pada tahun 959 Saka [1037 M]. Bagian ini memuat silsilah Erlangga, ditarik hingga ke pendiri wangsa Isana [wangsakara], Mpu Sindhok Śrī Isanawikramma Dharmotunggadewa. Bagian kedua prasasti berbahasa Jawa Kuno, ditulis tahun 963 Saka [1041 M].

Melalui prasasti Pucangan kita tahu, mata rantai raja-raja Mataram kuno sesudah Mpu Sindhok adalah, Śrī Isanatunggawijaya—dikenal sebagai satu-ratunya raja perempuan agung dalam trah Mataram kuno, lalu dilanjutkan Śrī Makutawangsawarddhana, dan berakhir pada masa Dharmawangsa Teguh.

Śrī Makutawangsawarddhana, mata rantai ketiga wangsa Isana, memiliki dua orang keturuan, Gunapriya Dharmapātni dan Śrī Dharmawangsa Teguh Anantawikrama. Gunapriya menikah dengan Śrī Dharmodayana Warmmaweda (Udayana), Raja Bali. Perkawinan inilah yang melahirkan Erlangga. Berdasar silsilah ini, Erlangga jelas bukan putra mahkota wangsa Isana. Ia seharusnya tidak punya hak atas Mataram.

Menjelang usia 16 tahun ia datang ke Jawa. Sebagian ahli menafsirkan, ia hendak dinikahkan dengan putri pamannya sendiri, Śrī Dharmawangsa Teguh. Ini dirancang sebagai pernikahan antar dua kekuasaan, Jawa dan Bali. Tapi rupanya, sejarah berkehendak lain. Pada saat pesta perkawinan berlanngsung, raja Wurawari—sekutu Sriwijaya di Jawa, melakukan serangan mendadak dan mematikan. Kerajaan dihancurkan hingga berkeping-keping. Hampir semua orang terbunuh. Peristiwa itu terjadi pada 939 (1017 M). Prasasti Pucangan menggambarkan Jawa saat itu seperti ‘lautan purba’.

Erlangga diselamatkan pengasuhnya, Narottama. Keduanya melarikan diri, masuk ke Wanagiri. Ini bukan nama wilayah. Dalam versi bahasa Sangskerta disebut vanayagāt, yang bermakna hutan di lereng gunung. Tidak ada penetapan lokasi di mana posisi Wanagiri, vanayagāt bisa bemakna lereng hutan mana saja di Jawa Timur wilayah selatan.

Situasi pralaya ini menempa jiwa dan kualitas pribadi Erlangga. Seumur hidupnya lalu digerakan oleh tekad untuk memulihkan kejayaan wangsa Isana. Ia menjalani laku spiritual dalam bimbingan para pendeta Śiwa, Buddha, dan Mahabrahmana sekelagus. Di lokasi pengasingan inilah, ia telah menahbiskan diri sebagai titisan Wisnu.

Bahkan sebelum kekuasaan berhasil dipulihkan, ia telah dinobatkan sebagai raja di hadapan para pendeta dan resi. Menurut prasasti Pucangan dan dan prasasti Silet tahun 940 (1019 M), penobatan itu terjadi pada tahun 941 (1019 M). Nama abhiseka-nya, Rake Halu Śrī Lokeswara Dharmawangsa Erlangga Anantawikramotunggadewa. Gelar yang penting untuk menegaskan diri sebagai titisan Wisnu.

WISNU KECIL

Sejak saat itu, berlangsunglah periode panjang pemulihan kekuasan melalui ekspedisi militer. Masa ini berlangsung sejak 951 (1029 M) hingga 959 (1037 M). Berkat legitimasi spiritual dan dukungan rakyat, Erlangga lalu menundukan semua sekutu raja Wurawari, termasuk raja-raja bawahan yang mulai membangkang sesudah mangkatnya Śrī Dharmawangsa Teguh.

Erlangga menundukan Wisnuprabhawa atau Bhismaprabhawa pada tahun 951 (1029 M). Disusul penundukan atas raja Wengker tahun 952 (1030 M).  Dua tahun beriktunya, tahun 954 (1032 M), giliran raja Wurawari berhasil dilumpuhkan. Erlangga juga melakukan pembebasan di wilayah selatan yang dikuasai oleh penguasa perempuan raksasi. Ekspedisi ini telah selesai pada 1037 bersamaan dengan penundukan atas raja Wijayawarmma.

Ia bukan sekadar memulihkan kerajaan Mataram warisan leluhurnya, Mpu Sindhok. Erlangga dikenang sebagai Raja pertama yang berhasil mewujudkan visi besar penyatuan wilayah-wilayah Jawa. Sejak usia 16 tahun, hampir seluruh hidup Erlangga dicurahkan untuk mewujudkan visi tersebut. Ia memang raja besar yang memenuhi semua kualifikasi sebagai ksatriya—titisan dewa.

Inilah alasan mengapa keturunan-keturunan Erlangga, membuat pengarcaan garudamukha (Wisnu mengendarai garuda) sebagai bentuk penghormatan atas darma-darma Erlangga titisan Wisnu. Arca ini masih kita warisi. Salah satunya ditemukan di Pemandian Belahan (sekarang disimpan di Museum Trowulan). Berdasarkan catatan para ahli, situs Belahan memiliki candrasengkala, merujuk tarikh 971 (1049 M).

Replika Kahyangan

Saya kira, semua sarjana modern, akan menyimak kisah Erlangga seperti dalam suguhan ini, hanya sebagai mitos belaka. Bukan tanpa alasan pikiran modern menghakimi warisan-warisan luhur masyarakat dengan cara seperti itu.

Pikiran tersebut misalnya bisa dilacak pada the Golden Bough (1915), karya salah satu perintis studi agama, James George Frazer (1854-1941). Tokoh ini banyak mendapat inspirasi dari Edward Burnnet Tylor (1832-1917), yang mewariskan karya-karya raksasa dalam studi agama.

Frazer secara gegabah menyimpulkan bahwa, kegemaran menganggap raja sebagai dewa atau setidaknya titisan dewa adalah, salah satu ciri masyarakat primitif yang belum akil baligh. Bagi Frazer, hal ini tidak lebih hanyalah cara masyarakat primitif untuk menegaskan hubungan magis antara raja dan rakyatnya. Sebagai titisan dewa, raja dianggap sebagai pusat dunia. Titahnya menjadi hukum. Pancaran pribadinya dianggap mengayomi penjuru bumi.

Saya memahami, pikiran Frazer hanyalah bagian dari ‘libido’ modernisme yang menyaring semua kebudayaan manusia dengan pikiran tunggal. Pikiran seperti itu berpangkal pada pandangan evolusionisme—yang berkobar-kobar ambisinya dalam menyeragamkan kebudayaan manusia. Sudah sejak awal kelahirannya, pikiran seperti ini bersikap sangat ‘jahat’ terhadap ragam sistem keyakinan dan kebudayaan manusia di luar kapasitas nalar Barat.

Umumnya, apa saja yang tidak sesuai dengan alam pikiran Barat, dan tidak mau tunduk terhadap tata pikir evolusionisme, dengan mudah disebut mitos, primitif, belum akil baligh dan semua label negatif lainnya.

Saya—dan mungkin Anda, pembaca, lahir dan sudah mewarisi ‘mitos-mitos’ itu. Tidak ada yang lebih kaya dalam sejarah, kecuali apa yang oleh pikiran modern ditetapkan sebagai mitos. Tidak ada yang lebih kaya kecuali sejarah kita sendiri.

Bagi saya, merefleksi kembali ‘mitos’ itu adalah sarana terbaik bagi kita untuk menginventarisis (kembali) jejak-jejak kesejarahan sendiri. Tidak ada satupun sejarah kebudayaan manusia yang boleh disederhanakan dengan satu tata pikir yang lebih dangkal.

Dalam spirit seperti itu, Alegorisme Erlangga-Arjuna—tetap saja menyisakan jejak yang tidak habis dalam kesejarahan kita, hingga hari ini. Melalui kekayaan sejarah itu kita menjadi tahu, bagaimana kekuasaan di Jawa diselenggarakan, dan untuk tujuan apa.

Sejak Erlangga, kita mewarisi ajaran luhur, bahwa kerajaan-kerajaan di Jawa terus dibingkai dalam konsep kosmologi yang khas. Kerajaan dianggap sebagai replika semesta. Raja dipandang sebagai titisan dewa-dewa. Pandangan seperti ini merupakan sarana yang khas bagi masyarakat Jawa untuk selalu mengorientasikan keserasian total dengan dunia besar [macro-cosmos]. Inilah telos yang khas bagi masyarakat Jawa.

Setiap kekuasaan digelar, selalu disertai dengan orientasi dan tujuan besar. Keserasian total macro-cosmos itu bisa mewujud dalam narasi ke-sentosa-an, kebahagiaan, dan kesejahteraan.

Itulah alasan mengapa, sesudah mengakhiri ekspedisi militernya, pekerjaan utama Erlangga adalah merestorasi wilayah-wilayah sima swatantra (wilayah spiritual), dan memperbanyaknya. Informasi tersebut kita temukan dalam semua prasasti warisan Erlangga. Program lain yang tak kalah penting adalah mewujudkan kesejahteraan. Dari prasasti Kamalagyan, kita tahu Erlangga membuat program bendungan di Waringin Sapta dan irigasi demi mewujudkan kehidupan yang sentosa.

Di Jawa, keserasian marco-cosmos sama artinya dengan menciptakan tatanan spiritual dan kehidupan sosial yang sejahtera dan sentosa. Inilah alasan mengapa kekuasaan selalu harus bersifat spiritual.

Atas dasar wawasan kosmologi yang sama, raja-raja Jawa memiliki keharusan untuk menegaskan dirinya sebagai bagian dari keharmonisan kosmos. Raja-raja sebagai titisan dewa-dewa, memiliki kewajiban sama dalam mewujudkan sentosa kerajaan surgawi, di bumi.

Yang Spiritual  mengejawantah di panggung politik, dan semua praktik politik selalu bersifat spiritual. Itulah prinsip mandala dalam kekuasaan di Jawa. Dalam tata pikir seperti ini, raja-raja silih berganti, datang dan pergi, akan tetapi mereka semua adalah mata-rantai, penerus kekuasaan yang terus mencita-citakan keharmonisan macro-cosmos.

Harus tetap dicatat, kekuasaan di Jawa hanyalah sarana mencapai kesempurnaan. Itulah alasan mengapa raja-raja besar di Jawa, tidak terkecuali Erlangga, selalu meletakan mahkotanya sebelum mangkat. Mengasingkan diri dari kemewahan duniawi, dan menjalani hidup mandhito. Pandhito-ratu. []

 

 

Tulisan ini didedikasikan untuk Dr. Maftukhin, M.Ag—titisan Wisnu, upss keliru, maksud saya, Rektor Baru IAIN Tulungagung.

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme