Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Simbol Phallus pada Langgar

Oleh Dian Kurnia

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research; Direktur Forum Perempuan Filsafat [FPF])

 EMAK

 

Jawa selalu khas dengan kosmologinya, seperti jagad gedhe maupun jagad cilik dalam memaknai sebuah ruang. Pemaknaan ini mencerminkan ruang sebagai pengalaman luar manusia (Cassier, 1987: 74). Ruang merupakan tanda suatu kesakralan yang merepresentasikan wadah berinteraksi masyarakat, yang dapat diamati melalui suatu bangunan tertentu. Salah satunya langgar (surau)—tempat ibadah masyarakat muslim Jawa.

Langgar merupakan sebuah tanda atau simbol yang menyimpan pemikiran masyarakat. Herbert Mead menegaskan bahwa anatomi dalam interaksi sosial terkecil dapat tercermin melalui bahasa. Bahasa yang di dalamnya memiliki sistem dan tanda (Ritzer, 2014: 629). Layaknya bangunan merupakan sebuah simbol kebudayaan tertentu, langgar menjadi simbol ruang ibadah masyarakat muslim. Simbol ini menjadi sebuah kesadaran suatu masyarakat.

Kesadaran ini terepresentasi ketika terdapat tempat yang mirip masjid tetapi konstruksinya lebih kecil, kemudian disebut surau, langgar, mushola, rumah ibadah, dan lain-lain. Seperti definisi yang diungkapkan oleh Budi, “the term of langgar is always combined with mosques being small in size and sometimes privately used” (Budi, 2008: 3). Kesepakatan ini kemudian mewujud menjadi sebuah kesadaran sosial, bahwa di dalam sebuah bangunan menyimpan paradigma masyarakat yang khas. Bangunan merupakan wadah aktivitas manusia yang mengandung refleksi sejarah, konteks sejarah, dan aspirasi ke depan (Zainuddin, 2004: 3)

Bentuk dalamnya seperti bale yang luas dengan empat saka (penyangga). Biasanya saka (tiyang penyangga) mempunyai volume dan bentuk yang lebih kecil dari pada saka di masjid. Bale juga menggambarkan hamparan keluasan jagad raya ini. Ada salah satu bangunan yang khas Islam. Adanya tonjolan di tengah yang menjorok, imaman. Ruangan kecil berukuran lebar 1 meter – 2 meter, tingginya 2 meter, panjang 2 meteran difungsikan sebagai tempat imam sholat.

Dalam demarkasi ruangan langgar, biasanya ada sebuah sekat yang memisahkan antara jamaah laki-laki dan perempuan. Pemisahan ruang ini dimaksudkan agar jamaah tidak bercampur dan tetap terjaga dari wudlunya. Di dalam pembagian ruang ini batas laki-laki sampai tembok batas imaman. Sedangkan ruang untuk perempuan hanya sisanya saja. Atau kalau lebih modern biasanya perempuan berada di shaf belakang dengan pembagian yang sama kecilnya dengan model pembagian ruang yang pertama. Namun, sama saja ruangan perempuan lebih sempit daripada laki-laki.

Ilusatrasi-Opini

Pembagian ruang dalam ruang ibadahpun dibedakan. Padahal sekarang jamaah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Ini berlaku untuk hari-hari biasa maupun hari besar. Apalagi waktu sholat tarawih jamaah perempuan jarang terbendung bahkan harus memakan tempat laki-laki. Kalau tidak begitu ya berada di serambi masjid.

Fenomena semacam ini pasti banyak ditemui di manapun di Jawa ketika musim Ramadhan. Secara kuantitas perempuan mendominasi. Namun, secara sarana ibadah publik lebih minim. Pembagian ruang di dalam langgar menggambarkan bagaimana mindset patriarkhal begitu kental.

Pen-gender-an ruang di dalam langgar sudah merasuk pada kesadaran masyarakat baik laki-laki maupun perempuan. Ketika akan sholat sudah dengan otomatis meskipun tidak ada tulisannya. Ketika mendapati ruangan yang lebih sempit baik disekat pakai tirai atau papan sudah secara sigap perempuan menempati ruang itu untuk menjalankan ibadahnya. Sedangkan laki-laki juga sudah dengan segera mendapati ruangnya.

Pada faktanya ruang pun mempunyai jenis kelamin. Ruang sedang di-occupy oleh laki-laki (Tong, 2010: 110). Dalam studi feminisme Liberal ruang dibedakan menjadi ruang publik dan domestik. Kacamata sosiologi pun berbicara bahwa ruang publik lebih luas daripada ruang domestik. Penggambaran tempat ibadah pun bisa menjadi representasi bahwa ruang sosialisasi laki-laki dalam jagad peribadatan dan relasinya dengan Tuhan lebih luas dibanding dengan perempuan.

Mungkin ini paradigma fundasionalisme. Namun, dalam tataran arsitektur sebagai simbol kebudayaan masyarakat yang digambarkan oleh Herbert Mead ada benarnya. Bahwa ruang peribadatan perempuan terbedakan bahkan tersubordibasikan.

Hal ini sangat terkait dengan keseluruhan sejarah Islam, dan terutama tafsir-tafsir yang bias gender. Ada tafsir atas ayat yang mengatakan ibadah perempuan lebih baik di rumah. Inilah yang menjadi kesadaran bahwa perempuan secara gerak publik pasti akan minim. Maka secara infrastruktur akan mengikuti pola superioritas laki-laki.

Tidak hanya pada ruang beribadah yang tergenderkan. Pada arsitektur langgar juga mencerminkan paradigma yang sama, phallogosentrisme. Seperti kubah yang digunakan sebagai penanda keluasan Islam. Selain itu menjadi sebuah tanda bahwa bangunan ini dikonstruksi sebagi simbol kekuatan laki-laki, yakni phallus. Dalam bangunan tertentu juga menandakan bahwa phallus adalah simbol kekuasaan gender tertentu. Bagi Jacques Lacan, misalnya, hal ini menunjukan makna dan tatanan simbolik sebagai penanda primer yang menjamin struktur patriarkhal dalam sebuah kebudayaan (Brook, 2009: 115)

Struktur patriarkhal yang tersimpan dalam sebuah kebudayaan bisa saja tidak disadari. Karena manusia tidak pernah keluar dari bahasa sebagai cara berbudaya. Langgar menjadi bukti sejarah bahwa kebudayaan Jawa masih menyimpan kekuaaan yang diletakkan pada sentimen gender tertentu. Namun, tentu saja Jawa sendiri memiliki banyak tradisi yang tak menyimpan sentimen gender. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme