Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Langgar yang Berkelamin Laki-Laki

Oleh Seli Muna Ardiani

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan Forum Perempuan Filsafat [FPF])

SELLY

 

Langgar sebagai tempat ibadah tidak memiliki jenis kelamin atau gender. Meski begitu, langgar selalu beraroma laki-laki atau dalam bahasa feminis disebut malesentris. Hampir-hampir semua urusan langgar ditentukan oleh laki-laki. Perempuan dalam konteks ini tidak mendapat ruang memadai untuk berpartisipasi menjadi bagian penting tempat ibadah tersebut.

Bila kita amati, struktur penting langgar selama ini didominasi oleh laki-laki, misalnya takmir atau pengurus langgar. Sangat jarang—atau bahkan tidak ada, perempuan yang masuk dalam badan penting ini. Akibatnya, arah gerak langgar menjadi sangat malesentris. Ini tampak pada difungsikannya langgar oleh sistem pen-gender-an yang timpang.

Bagi masyarakat pedesaan, langgar biasanya digunakan untuk acara selametan, pembacaan sholawat Nabi, hingga sekadar rutinan musyawarah oleh masyarakat setempat. Perempuan juga turut di dalamnya. Namun seringkali perempuan hanya mengerjakan tugas domestik, misalnya mengolah masakan dan mengantarkannya ke langgar. Adapun pengisi acara seperti penceramah, pemimpin selametan dan musyawarah, semuanya diperankan oleh laki-laki.

Absenya perempuan juga dapat diamati dari fungsi langgar sebagai ruang publik. Sebagaimana dijelaskan oleh Jürgen Habermas, idealnya, ruang publik menjadi ruang interaksi tanpa sekat antargolongan masyarakat sehingga tercipta perubahan sosial berkeadilan.  Begitupun idelanya langgar berfungsi. Nyatanya, ruang publik ini berisi interaksi dari laki-laki kepada laki-laki. Bagi mereka, sudah menjadi rutinitas untuk berbincang-bincang selepas menunaikan sholat jamaah di langgar. Topiknya beragam, mulai dari keagamaan, politik, hingga pekerjaan masing-masing. Sedangkan perempuan harus bergegas menuju ke rumah untuk kembali mengurus anaknya dan melakoni pekerjaan rumah lainnya. Akhirnya, langgar menjadi tidak ramah bagi perempuan.

Dulu, di langgar, ada tradisi turu langgar (tidur langgar). Jangankan mengandaikan anak-anak gadis bisa ikut menjadi bagian, berlama-lama di rumah ibadah itu saja, tidak memungkinkan bagi anak perempuan. Hal ini disebabkan oleh aturan Jawa tradisional bahwa gadis perempuan tidak boleh keluar malam, hingga sekarang tradisi ini masih tersisa.  Tidak hanya di Jawa, beberapa wilayah lain juga menggunakan prinsip yang sama. Misalnya tradisi lain di Madura dan Minangkabau.

Sistem keluarga batih yang ada di Madura dan Minangkabau tidak menyediakan kamar bagi anak laki-laki (Koentjaraningrat, 1980). Situasi ini memungkinkan anak laki-laki untuk keluar rumah dan menginap di langgar pada malam hari. Waktu-waktu malam ini oleh anak laki-laki digunakan untuk memperdalam ilmu agama dan membaca al-Quran. Sementara perempuan yang tidak diperkenankan keluar malam tidak bisa melakukan ini. Mereka harus tinggal di bilik-bilik rumah yang sudah disediakan keluarga.

ILUSTRASI TULISAN SELLY

Penelitian Geertz mengenai santri di Jawa cukup memberikan informasi bahwa aktivitas langgar didominasi oleh laki-laki.  Dalam sebuah desa atau lingkungan santri, orang laki-laki akan berkumpul seusai jamaah sholat maghrib sekitar satu jam. Berbeda di hari Jumat, mereka akan berkumpul lebih lama, sekitar dua hingga tiga jam. Waktu-waktu ini digunakan untuk beribadah dan mengaji ayat-ayat al-Quran yang telah dipelajari di Pondok (Geertz, 2014: 260).

Dominasi aktifitas laki-laki di langgar juga dikuatkan oleh temuan Mark R. Woodward. Di tempat ia meneliti, desa Ngadisuryan-Yogyakarta, Woodward menggambarkan bahwa biasanya laki-laki berkumpul untuk berbuka puasa bersama pada bulan Ramadhan. Sebagai ruang sosial, mereka juga menggelar ceramah keagamaan dan membaca al-Quran. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan di masjid lokal (dibedakan dengan masjid keraton) (Woodward, 1999: 214). Meski bukan bertempat di langgar, rangakian di atas setidaknya menggambarkan dominasi  laki-laki di ruang ibadah.

Tidak hanya dominasi laki-laki, masih dalam penjelasan Geertz, langgar sepenuh-penuhnya adalah tanggung jawab santri laki-laki. Kesimpulan ini didapat dari penelitian Geertz yang menggambarkan pola tangggung jawab langgar berdasarkan kekayaan seorang satri.

Mulanya, pembagian kerja keagamaan di kalangan umat Islam pedesaan dibedakan antara orang kaya dan orang miskin. Antara keduanya memiliki tugas yang berbeda terhadap Tuhan. Adapun yang kaya bertugas memberikan uang untuk memelihara yang miskin, mendidik kaum miskin, membangun pondok dan sebagainya. Sementara orang miskin memiliki tugas yang lebih ringan terhadap Tuhan, mereka cukup bersembahyang, menyumbangkan tenaga untuk merawat langgar. Satu-satunya yang menjadi tanggung jawab adalah istri dan anak-anaknya (Geertz, 2014: 263).

Temuan Geertz ini dikuatkan lagi oleh ulasan masyarakat Islam Minangkabau oleh Azzumardi Azra. Menurutnya, keberadaan langgar sangat bergantung pada pengetahuan, kesalehan, dan kharisma sang guru langgar. Sehingga langgar dapat mengalami kemerosotan setelah meninggalnya guru langgar. Dengan catatan, jika tidak ada laki-laki pengganti atau menantu laki-laki yang mampu menggantikannya (Azra, 2003: 87-88). Lagi-lagi, dapat diartikan bahwa langgar semata-mata menjadi urusan laki-laki, dari waktu ke waktu.

Segenap ketakberimbangan antara laki-laki dan perempuan pada langgar berlandaskan pada sistem pen-gender-an yang bermasalah. Sistem ini disokong oleh budaya patriarkhi. Budaya ini terserap dalam tradisi, tafsir agama, bahkan ilmu pengetahuan. Tradisi telah memberikan ruang sempit bagi perempuan. Sedangkan tafsir agama dan illmu pengetahuan merasionalkan kondisi perempuan tersebut.

Dalam kondisi ini, perempuan disituasikan menjadi pihak pasif dan kelas kedua. Konsekuensinya, langgar baik sebagai ruang ibadah keagamaan maupun ruang publik disetir oleh laki-laki. Konsekuensi pen-gender-an telah membentuk mata rantai peminggiran perempuan dalam ruang langgar. Perempuan dianggap tidak memiliki pengaruh yang kuat. Mereka bukan subyek utama, melainkan pelengkap.

Tradisi lama mulai ditinggalkan, zaman berganti, perempuan mulai mendapatkan akses yang sama dengan laki-laki. Ini bukanlah jaminan purna. Berbagai bentuk pengenderan langgar masih bisa ditemui hingga saat ini. Dengan dominasi yang sama, perempuan masih menjadi sosok yang berjarak dengan langgar. Ruang itu, seolah tampak berkelamin laki-laki. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme