Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Ulama, Atribut Religio-Patriarki

Oleh Fitria Rizka Nabelia

(Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam, Semester II, sedang magang di Institute for Javanese Islam Research)

IJIR-FOTO BELLA 2 SMALL

 

Gelar ulama sebenarnya universal. Gelar ini diberikan kepada orang yang memiliki kapasitas ilmu agama, tanpa membedakan jenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. Tetapi, jarang kita ketahui gelar itu disematkan pada ulama perempuan. Padahal perkembangan muslimah di Indonesia saat ini semakin marak, bahkan mendapat angin segar dalam ranah keagamaan. Konstribusi mereka dalam ranah religius pun tidak diragukan lagi. Sebagai contohnya, banyak perempuan menjadi penyi’ar Islam di berbagai pondok pesantren dan stasiun televisi.

Citra ulama perempuan sebagai tokoh agama bahkan cenderung dinomorduakan, karena banyak anggapan bahwa laki-laki merupakan tokoh sentral penyebar Islam. Mereka selalu terpinggirkan, bahkan gerak mereka jarang terpotret dalam sejarah keberadaan Islam di Jawa. Seiring berkembangnya Islam di Jawa, istilah ulama pun hanya berkonotasi kepada kaum laki-laki.

Membincang ulama, tentunya tidak akan lepas dari sejarah panjang penyebaran Islam yang dilakukan para Wali di Jawa. Wali berperan sebagai penyebar legendaris ajaran Muhammad dan pioneer keberadaan ulama di tanah Jawa. Sebagai generasi setelah Wali, ulama merupakan sosok yang sangat strategis—dianggap sebagai peneguh ortodoksi doktrin Islam dengan penafsiran dan kodifikasi yang disusun rapi (Geertz, 2014: 172). Kharismanya tetap terjaga di seluruh lapisan masyarakat.

IJIR- Ulama' atribut patriarki

Pesantren beserta atribut keagamaan lainnya juga disebut-sebut sebagai panggung kekuasaan ulama. Tempat di mana mereka memiliki kuasa penuh dalam menyi’arkan Islam. Namun wajah kiai (sebutan lokal ulama laki-laki) selalu lebih menonjol, padahal keberadaan Bu Nyai (sebutan lokal ulama perempuan) sama-sama memiliki peranan penting di berbagai ranah keagamaan.  Dalam sejarah awal Islam, sosok isteri Nabi SAW., Aisyah RA. memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan Islam. Dengan demikian, perempuan di awal Islam memiliki kedudukan yang sangat penting dan terus berkurang perannya di masa belakangan (Annisa, 2014: 142).

Sejarah seakan-akan lupa bahwa ada tokoh ulama perempuan hebat yang perlu diketahui. Ulama perempuan seperti Nyai Khoiriyah Hasyim yang lahir tahun 1906, putri dari KH. Hasyim Asyari yang kapasitas ilmunya tidak diragukan lagi karena dia dididik langsung oleh KH. Hasyim Asyari. Nyai Khoiriyah juga membuktikan kiprahnya di pesantren sebagai penguji kemampuan beberapa guru laki-laki apakah mereka layak menjadi imam shalat atau tidak. Beliau pun tokoh yang amat berpengaruh di Muslimat NU dan komunitas pesantren.

Ulama Aboe Bakar bahkan menggambarkan Nyai Khoiriyah dalam uraian Kiai Hasyim Asya’ari bahwa, “ulama perempuan yang tidak alang kepalang dalam ilmu tentang Islam”. Salah seorang muridnya juga mengatakan, “Mbah Khoiriyah adalah seorang perempuan yang cerdas, disiplin dan aktif. Setiap hari Jum’at, dia memiliki beberapa kegiatan sosio-religius dan diundang ke berbagai majlis taklim, bahkan terkadang diundang  di lima majlis taklim yang berbeda pada saat bersamaan (Srimulyani, 2012: 94).

Tokoh lain seperti Nyai Ahmad Dahlan, dalam kiprah hidupnya berjuang melawan kebodohan dan diskriminasi. Bersama suaminya, KH. Ahmad Dahlan, ia mendirikan ‘Aisyiyah, organisasi yang memiliki perhatian khusus dalam agama, pendidikan, layanan kesehatan, dan sosial. Perempuan yang lahir dengan nama asli Siti Walidah ini meresmikan ‘Aisyiyah bersama suaminya pada 19 Mei 1917. Siti Walidah turut mendukung suaminya untuk mendirikan dan mengembangkan Muhammadiyah. Dahlan pun turut peduli terhadap perempuan dan kesetaraan gender, dia mendukung Walidah dalam berkiprah di ‘Aisyiyah. Kesadaran inilah yang memunculkan pemikiran untuk menghimpun para perempuan dalam satu wadah organisasi, sehingga mereka bisa melakukan sesuatu untuk masyarakat (Widiyastuti, 2010: 4).

Nyai Masmudah Masruroh Al-Hafidhoh atau lebih akrab disapa Nyai Dadah juga merupakan tokoh ulama perempuan pengasuh Pondok Pesantren H.Q. Al-Asror dan seorang hafidhoh. Dia adalah putri pertama dari pasangan Kiai Zubaidi dan Mbah Siti Markonah, lahir 48 tahun yang lalu tepatnya tahun 1970 (Chusniyah & Alimi, 2015: 115-116).

Fenomena dilupakannya kiprah ulama perempuan ini, tampaknya telah mengakar dalam struktur masyarakat hari ini. Hal ini saya rasakan ketika mendapati betapa sedikitnya—untuk tidak menyebutnya tidak ada—referensi mengenai ulama-ulama perempuan dalam setiap kajian, karena seorang nyai lebih dikenal sebagai pemegang otoritas kedua di pesantren. konstruksi ini juga diperkuat oleh berbagai lebel negatif tentang perempuan terutama yang bersumber pada tafsir agama. Meskipun sudah ada perubahan dalam pesantren modern, tetap saja pelanggengan terhadap stereotype gender tradisional lebih kuat daripada tendensi ke arah perubahan. Sehingga nilai-nilai Islam yang sangat kuat berkembang dalam dunia pesantren menjadikan diskursus gender tidak mengalami banyak transformasi (‘Aeni, 2017: 67-68).

Saya kira konstruksi gender kedua masih kokoh menjangkiti kebudayaan kita. Contohnya di dalam keluarga dan masyarakat, perempuan bukan pengambil keputusan penting dan jarang pendapatnya diperhitungkan dalam memutuskan kebijakan publik. Tidak heran, jika posisi perempuan hanyalah sebatas 3R, dapur, sumur dan Kasur. Serta dianggap sebagai kanca wingking (teman belakang) (Mulia, 2014: 10).

Apakah fenomena seperti ini sebagai bentuk marginalisasi terhadap kaum perempuan? Fakta telah menunjukkan bagaimana perempuan mampu berada di ranah sentral seperti ulama laki-laki, tetapi sejarah seakan-akan tidak mau menoleh kepada mereka. Dominasi laki-laki dalam masyarakat menurut Allan G.Johnson hanya karena mereka “Jantan”, mereka mempunyai banyak akses untuk memperoleh status. Sementara perempuan ditempatkan pada posisi inferior. Peran mereka terbatas, akibatnya perempuan mendapat status lebih rendah dari laki-laki (Umar, 2010: 66).

Dalam tatanan masyarakat saat ini, ulama memang terdengar kurang pas jika disandang oleh kaum perempuan. Posisi sentral itu seakan-akan hanya pantas disandang oleh kaum laki-laki. Sehingga istilah “ulama” hari ini telah menjadi ‘jubah’ religi kaum patriarki.

Kembali lagi bahwa hal ini hanya kegelisahan saya atas atribut agama yang seakan-akan lebih pantas digunakan oleh laki-laki. Anggapan bahwa fenomena ini termasuk ketidakadilan atau kebetulan itu kembali kepada kesadaran pribadi. Meminjam kalimat Mansour Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial, “perbedaan gender sesungguhnya tidaklah menjadi masalah sepanjang tidak melahirkah ketidakadilan gender” (Fakih, 2008:12). []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme