Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Pamor Redup Bu Nyai

Oleh Masruroh

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan Pengurus Forum Perempuan Filsafat)

ruroh

Pesona Nyai di masyarakat Jawa sebagai seorang tokoh agama yang memiliki banyak pengetahuan agama jarang sekali disorot. Segala urusan, utamanya urusan agama selalu dilimpahkan kepada seorang Kiai semata-mata karena alasan, ia laki-laki. Nyai hanya mendapatkan ruang sempit dalam masyarakat. Pengabdiannya banyak dihabiskan di dapur dan mengurus anak-anaknya. Jika diberikan ruang ekspresi dalam masyarakat, mereka akan lebih diberikan rubrik khusus dan disibukkan dengan aktivitas di dalamnya.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, keberadaan Kiai diposisikan dalam kelompok masyarakat kelas atas. Ia diposisikan sebagai tokoh yang dianggap memiliki kelebihan dalam bidang agama dan kebijaksanaan. Tidak jarang Kiai didatangi oleh masyarakat untuk dimintai pendapat dan juga nasihat. Kiai juga berperan sebagai guru agama Islam dan juga alim ulama yang pendapatnya ditaati dan dijadikan pedoman hidup masyarakat. Meskipun secara teknis seseorang bisa disebut Kiai apabila memiliki pesantren, tidak menutup kemungkinan seseorang juga bisa mendapatkan gelar Kiai di tengah masyarakat dengan berbagai alasan lain semisal pemangku masjid atau mushalla (Dhofier, 1982).

Karakter kuat yang dimiliki oleh seorang Kiai menjadikan ia mendapatkan ruang luas dan posisi sentral dalam masyarakat. Peran sentral Kiai tersebut bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya dipercaya untuk memimpin ritual keagamaan, Kiai juga sering didapuk untuk memimpin sebuah pertemuan tertentu seperti rapat atau musyawarah warga. Kiai berfungsi sebagai mahkamah atau dewan yang akan memutuskan hasil dari pertemuan. Meskipun banyak pendapat yang diutarakan oleh warga yang berkumpul, namun pada akhirnya keputusan final ada di tangan Kiai .

Sosok Kiai merupakan sosok kharismatik yang banyak digandrungi dan ditaati oleh masyarakat. Weber menyebutnya sebagai sosok pemimpin yang kepemimpinannya didasarkan pada kepercayaan bahwa seseorang tersebut memiliki suatu hubungan khusus yang bersifat Illahi, atau mewujudkan nilai-nilai luhur ke-Illahian dalam kehidupan sehari-hari (Johnson, 1986). Dengan kharisma  yang dimilikinya, seorang Kiai mampu menarik simpati masyarakat, dan membuat masyarakat selalu setia serta komitmen terhadap aturan normatif atau moral yang digambarkan.

Sayangnya, Posisi penting yang diperoleh oleh seorang Kiai sebagai tokoh agama yang digandrungi oleh banyak orang, tidak didapatkan perempuan yang memilki status sosial yang setara. Seakan-akan tertelan oleh gundukan tanah, perempuan jebolan pesantren yang seharusnya mampu memiliki andil besar dalam masyarakat, malah tertimbun dan tersekat dalam petak-petak kecil ruang domestik.

Perempuan-perempuan yang telah lama menghabiskan waktunya untuk belajar di pesantren memilih untuk cepat menikah saat ia kembali ke rumah.  Pilihan ini salah satunya didorong oleh tradisi masyarakat Jawa terutama di pedesaan yang menikahkan anaknya di usia yang sangat belia. Mereka menganggap lebih cepat menikahkan anaknya adalah lebih baik.

Alasan lain yang menjadi penyebab nikah muda adalah masalah ekonomi. Yakni, orang tua ingin segera memindahkan tanggung jawab putrinya pada laki-laki yang meminangnya. Orang Jawa akan mengatakan seorang anak telah “mentas” ketika ia telah menikah dan lepas dari tanggung jawab orang tua. Sehingga, orang tua akan sangat lega jika telah mementaskan putrinya. Menghantarkan sang putri menuju keluarga baru.

Alasan untuk segera mementaskan anak-anaknya ini salah satunya adalah karena tekanan masyarakat. Orang tua akan mendapatkan tekanan normatif dari masyarakat apabila ia tidak segera menikahkan anak putrinya. Tekanan normatif ini semata-mata karena anggapan masyarakat patriarkhal yang memandang bahwa tugas utama seorang perempuan adalah mengurus berumah-tangga, menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarganya. Jadi, pernikahan dianggap sebagai ruang penebusan kewajiban normatif, di mana seorang perempuan bisa berperan aktif dalam ruang domestik.

Nikah muda juga disebabkan oleh norma agama. Orang tua tidak ingin putrinya sampai terlibat dalam dosa besar yang dilarang oleh agama. Yakni dosa besar karena melakukan seks di luar nikah. Orang tua lebih mawas jika anak putrinya terjerumus ke dalam dosa besar ini ketimbang anak putranya. Karena, seorang anak perempuan merupakan ujung kehormatan keluarga. Akan sangat memalukan jika anak perempuan terendus ‘kebinalannya’ dan membuat dosa-dosa yang dilarang oleh agama (Sadawi, 2011: 63).

Ketakutan-ketakutan inilah yang membuat perempuan memiliki rentan waktu dan kebebasan yang terbatas untuk berperan aktif dalam masyarakat. Tidak heran jika seorang perempuan dianggap kurang pengalaman untuk dijadikan seorang tokoh yang dipercaya, bahkan menjadi pemimpin dalam masyarakat yang di dalamnya terdapat seorang laki-laki.

Tulisan Ruroh

Perempuan juga dianggap terlalu lemah untuk menjadi tokoh yang disentralkan di dalam masyarakat. Strereotip kurang agresif, tergantung, emosional, sulit menyembunyikan emosi, subyektif, mudah terpengaruh, patuh, lebih mendahulukan perasaan, lemah lembut dan sifat-sifat lain yang diasoiasikan pada sifat feminin, membuat masyarakat ragu untuk memilih perempuan untuk menjadi seorang tokoh di dalam masyarakat (Hadyani-Novianto, 2004).

Gelar Nyai atau Bu Nyai juga tidak mudah disandangkan kepada seorang perempuan jebolan pesantren. Tidak hanya terbukti memiliki pengetahuan lebih tentang agama Islam dan peran penting dalam masyarakat. Seorang bisa mendapatkan gelar Nyai jika memiliki seorang suami yang menyandang gelar Kiai. Sangat jarang perempuan dengan pengetahuan tinggi tentang agama yang dengan sendirinya menyandang gelar Nyai atau Bu Nyai.

Seorang Nyai ada yang mampu melambung namanya dalam masyarakat tanpa nama besar Kiai yang disandang oleh sang suami. Namun, tetap saja pijar pamor yang dimiliki oleh seorang Nyai tidak seterang pijar pamor sang Kiai. Tidak semua orang bisa menerima jika seorang Nyai berada di posisi sentral terlebih jika diposisikan sebagai pemimpin. Hal tersebut karena dalil-dalil al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan relasi gender masih ditafsirkan dengan  tekstual dan bias gender (Mustaqim, 2008). Perempuan kemudian hanya diberikan ruang sempit untuk berekspresi.

Nyai ditempatkan dalam posisi subordinasi dalam masyarakat. Menduduki petak-petak kecil di bawah kekuasaan seorang Kiai, seperti menjadi pengurus pengajian ibu-ibu, menjadi ustadzah bagi santri-santri putri, menjadi pemegang arisan warga dan lain sebagainya. Sepandai apapun Nyai, tetap saja tidak mampu mendapatkan ruang yang sama seperti Kiai.

Ketidakpercayaan masyarakat terhadap kapasitas dan pengalaman perempuan sebagai seorang tokoh pemuka agama juga menjadi faktor mengapa pamor Bu Nyai jauh lebih redup dibanding pamor seorang Kiai yang semakin melejit di tengah masyarakat. Sangat disayangkan jika perempuan jebolan pesantren dengan jumlah yang lumayan cukup banyak, namun hanya segelintir perempuan saja yang mampu memiliki posisi sentral dalam masyarakat. Karena, sebagian besar dari mereka telah disibukan ke dalam kewajiban-kewajiban normatif sebagai seorang istri.[]

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme