Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Drupadi: Sebuah Narasi yang di-Islamkan

Oleh Seli Muna Ardiani

(Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research dan Forum Perempuan Filsafat [FPF]; Penulis sedang melakukan riset tentang dalang perempuan di Mataraman)

SELLY

Perempuan berparas cantik putra Drupada itu bernama Drupadi. Ia terlahir dari api Putrakama Yajnya, sebuah ritual para Brahmana untuk memohon keturunan kepada sang Dewa Api.

Kelahiran itu tak sesuai harapan Drupada, yang ia inginkan adalah putra laki-laki guna membalaskan dendam raja-raja Pancala selatan terhadap Drona–raja kerajaan Pancala Utara. Atas kekecewaan ini, ia menyumpahi Drupadi akan tumbuh beserta dendam para raja. Ia akan hidup dengan penuh liku dan ketidakadilan. Betapapun sumpah-serapah dari ayahandanya, sudah menjadi suratan baginya untuk menjadi pilar keadilan bagi daerah Arya, menumpas keburukan dan menyucikannya.

Tetap saja, putri kerajaan Pancala inilah lambang kecantikan dan kesetiaan perempuan.

Takdir memang membawanya pada garis hidup yang berliku. Melalui ramalan Vyasa, di masa mendatang ia akan menikahi lebih dari satu lelaki. Ia menolak, memohon kepada Vyasa untuk mengubah takdirnya, namun ini sudah menjadi ketetapan dan tidak bisa diubahnya. Karena paras cantik yang ia miliki banyak para pangeran dan raja muda dari berbagai negara melamarnya.

Drupada akhirnya menggelar sayembara memanah menggunakan gendewa atau busur pusaka. Sayembara ini dimenangkan Arjuna, sosok yang diinginkan Drupadi. Namun terjadi kericuhan, patih Gandamana akhirnya tampil di depan khalayak kerajaan Pancala. Sebagai bentuk pengabdian ia menyerahkan diri, barangsiapa yang mampu mengalahkan kesaktiannya maka ia akan mendapatkan Drupadi. Tak disangka Bima sebagai utusan Yudistira maju menantangnya, sayembara dimenangkan oleh Bima. Sebagai bentuk kemenangannya, Arjuna dan Bima kembali ke Indra Prastha (istana para pandawa) dengan membawa Drupadi.

Begitulah kitab Mahabarata mengisahkan awal perkawinan Drupadi dengan Pandawa: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Drupadi lantas tidak semaunya memilih Arjuna, ada pertimbangan panjang ibu Kunti atas ke lima anak laki-lakinya. Bahwa segala yang dimiliki ke lima anaknya harus dimiliki satu sama lain bersama. Begitulah hukum telah ditetapkan. Drupadi menghormati hukum ibu Kunti meski yang ia cintai hanyalah Arjuna. Ketentuannya adalah setiap tahun Drupadi hanya boleh berkumpul dengan satu laki-laki dimulai dari Yudistira dan seterusnya bergantian.

Drupadi menjadi ratu Indraprasta dengan raja Yudistira. Kesohoran kerajaan tersebut membuat iri para Kurawa, di sinilah Kurawa mengajak Pandawa untuk bermain dadu. Ketabahan Drupadi diuji. Atas kelicikan Sengkuni, pihak Kurawa menang. Indraprasta dan Drupadi yang dipertaruhkan Yudistira harus diberikan pada Kurawa. Merasa di atas angin, Dursasana mempermalukan Drupadi dengan melepas sanggulnya. Ia dibuat malu dihadapan tetua Hastinapura. Drupadi bersumpah tidak akan menyanggul rambutnya sebelum ia keramas dengan darah Dursasana–Sabhaparwa (kitab Mahabharata ke-2).

Sebagai bentuk kekalahan, Drupadi dan kelima pandawa harus diasingkan ke hutan selama 12 tahun dan setahun harus hidup dengan cara menyamar–Wanaparwa (kitab Mahabharata ke-3). Tidak gentar, Pandawa dan Drupadi semakin kuat di pengasingan. Perjuangan Drupadi tetap menyertai Pandawa dalam memperebutkan Indraprastha kembali. Puncaknya pada perang Barathayudha – Bhismaparwa (kitab Mahabharata ke-6).

Pertumpahan darah antara Pandawa dan Kurawa harus terjadi, sebab Kurawa membelot untuk mengembalikan Indraprastha.  Kurawa kalah, Drupadi akhirnya bersanggul kembali setelah berkeramas menggunakan darah Dursasana yang dibunuh Bima. Selanjutnya dikisahkan dalam Mahaprasthanikaparwa – kitab Mahabharata ke-17, Pandawa dan Drupadi melakukan perjalanan menuju pegunungan Himalaya untuk moksa. Drupadi akhirnya meninggal dalam perjalanan penyertaannya terhadap Pandawa.

DRUPADIsmall

Versi Wayang Purwa

Begitulah sekilas penggambaran Drupadi dalam epos Mahabarata, perempuan tangguh bersuamikan lima Pandawa. Sangatlah berbeda dengan kisah Drupadi dalam pewayangan di Jawa.  Seperti keterangan salah seorang Dalang di Tulungagung yang saya temui, Dalang Jlitheng Sukono, Drupadi dinarasikan sebagai seorang pendamping setia Yudistira. Narasi yang sama juga dapat ditemukan dalam kisah-kisah pewayangan, ialah istri dari Puntadewa atau Yudistira (Peter Carey, Vincent Houben, 2016: 5; Wintala, 2015: 99; Usman, 2010: 68).

Ia menjalani monogami bukan poliandri. Ini disebabkan poliandri bukanlah konsep yang sesuai dengan masyarakat Jawa. Terlebih adanya infiltrasi ajaran Islam, seorang perempuan dilarang untuk bersuami lebih dari satu (Teguh, 2007: 53).

Kekhawatiran lain, ketika menyuguhkan cerita poliandri Drupadi, masyarakat Jawa akan meniru tradisi yang dianggap bertentangan. Sebab dalam ajaran Islam seorang anak akan rancu nisbatnya ketika seorang perempuan memiliki suami lebih dari satu.

Datangnya Islam ke pulau Jawa memang membawa perubahan-perubahan dalam cerita pewayangan. Berawal dari kerajaan Islam Demak. Kerajaan ini diperintah oleh para sultan yang didukung oleh Wali Songo. Mereka gemar dengan kesenian dan budaya daerah, utamanya wayang. Bentuk dan lakon wayang disempurnakan agar tidak bertentangan dengan ajaran Islam (Purwadi, 2008: 64).

Pada masa Demak (1475-1554 M), teks-teks keagamaan juga termasuk serat dipantau langsung oleh Sultan Demak yang dibantu oleh dewan Wali Songo. Jika melanggar maka akan dihukum seperti kisah Sunan Panggung yang di bakar hidup-hidup sebab dinilai telah menyebarkan ajaran sesat–ajarannya dalam Suluk Malang Sumirang.

Infiltrasi nilai Islam berlanjut hingga kerajaan Mataram Kartasura (1588-1682 M). Karya sastra penting yang dibuat di masa ini adalah Serat Abiya dan Serat Kandha (Poerbatjaraka, 1957: 114). Keduanya menggabungkan antara unsur Jawa, Hindu, dan Islam. Lewat serat ini, silsilah pewayangan dapat dilacak nasabnya hingga Nabi Adam. Melalui anaknya Sis ia kelak melahirkan keturunan para dewa. Di tangan Anwar putra Sis para tokoh pewayangan mendapatkan nisbatnya hingga Adam.

Kisah Drupadi telah dipoles sedemikian rupa. Pujangga terkenal Rangga Warsita melalui Serat Pustaka Raja Purwa menarasikan Drupadi menjadi Istri Yudistira dengan kisah sayembara yang berbeda pula. Dalam pewayangan Jawa ia menjadi simbol kesetiaan istri terhadap suaminya. Kepatuhan Drupadi terhadap Yudistira mengiringi seluruh perjalanan suka maupun duka hingga akhir hayatnya. Kesetiaan Drupadi dinilai patut menjadi prototype setiap perempuan. Betapapun Yudistira telah menjadikannya sebagai barang taruhan dalam judi dadu, ia juga pernah merelakan Drupadi dinikahi lagi oleh Ramawijaya, itu pun tak menggugurkan kesetiaanya terhadap Yudistira.

Patut disayangkan, sebab narasi heroik Drupadi bukan menjadi sorotan utama dalam pewayangan Jawa dengan infiltrasi Islam di dalamnya. Perjuangan melawan Kurawa. Ia merelakan tubuhnya demi keutuhan Indraprsastha. Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan politik, ketabahannya ketika dihadapkan dengan kenyataan harus menikahi kelima Pandawa. Melakoni poliandri yang tidak diinginkannya, namun ia harus mematuhi tradisi dan hukum sang Ibu Kunti kala itu.

Kisah tersebut jarang mendapat perhatian. Semata karena kisah poliandri yang bertentangan dengan ajaran Islam, narasi baru Drupadi begitu sibuk menggambarkannya sebagai istri setia dan patuh terhadap satu suami. Drupadi bukan semata narasi kepatuhan dan kesetiaan perempuan terhadap sang suami. Ia adalah cermin perjuangan dan pengorbanan perempuan demi kesatuan bangsa. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme