Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Ngaji Serat Wedatama [3]: Siapa yang Pantas Tinulad-Tulad Tinurut?

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan  Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Fatkurrohman Al Jawi [] Dosen Bahasa Jawa di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam dan Sosiologi Agama; Peneliti di IJIR []

Sebelum membahas kelanjutan mensyarahi serat Wedatama, yakni kelanjutan dari wedharipun hawa nafsu, ada hal yang wigati namun belum sempat dijelaskan secara mendetail yakni ikhwal triloka. Statement Mangkunegara IV tempat hawa nafsu ada di triloka.

Konsep triloka, secara kebahasaan dari bahasa sansekerta. Maknanya adalah “tri” itu tiga, “loka” itu dunia, tempat, dan digunakan untuk menyebutkan nama surga sebagai dunia lain. Surga dalam bahasa sansekerta disebut svarga (svarga-loka), dinamakan juga trinaka, trivishtapa, nakapristha, dan indraloka.

Pemahaman pengetahuan tentang tiga alam dinamakan loka atau triloka atau tribhuvana (dunia kembar tiga, tiga dunia). Lakosi dan geometrinya kerap disamarkan, begitu pula dengan nama-namanya yang beragam yakni mahaloka, janaloka, taparloka, dan indraloka (Santos, 2005: 583).

Secara epistemologis triloka merupakan pengetahuan tentang konsep tiga tingkatan alam. Maka Mulyani (2005: 27), mendefinisikan dengan pengetahuan tentang tiga alam yakni alam arwah, alam mitsal, dan alam ajsam. Dalam Hinduisme dinamakan trimurti, sedangkan dalam konsep Buddhisme adalah ekuivalen metafisik tiga tingkat alam: bumi, angkasa, dan surga.

Hal ini juga teraplikasi dalam struktur bangunan candi dengan adanya tingkatan mulai kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu. Begitu pun dengan struktur bangun Masjid dengan atap bersap tiga.

Dalam alam pemikiran Kejawaan, manusia terdiri dari tiga komponen yakni jasmani, rohani, dan nurani. Analisa badan manusia terdiri dari badan kasar (badan wadhag), badan halus (badan halus), alam sejati (sang alus). Dengan demikian analisa konteks dalam Serat Wedatama yang dimaksud triloka adalah untuk menyebutkan tiga tingkatan dunia yang meliputi alam meterial, alam mental, dan alam ruh.

Alam material (jasmani, badan wadhag) adalah alam dunia seisinya, merupakan tingkatan terendah dalam gradasi wujud, maka dinamakan alam maya atau mayaloka. Sedangkan tingkatan di atasnya adalah alam nyata yang tidak nampak. Alam mental (rohani, badan halus) yakni alam psikis atau angan-angan atau imajinasi. Di alam ini tempat jiwa tumbuh dan mencapai tingkat kedewasaan. Filosof muslim menyebutnya dengan barzah, yakni alam antara dunia dan akhirat. Sifatnya adalah campuran antara yang maya dan yang Nyata. Alam ruh (nurani, sang alus) yakni alam spirit, alam tertinggi tempat seruan-seruan kebenaran disuarakan dan penghuni alam ini antara lain hati nurani.

Manusia hidup dalam tiga alam tersebut secara paralel. Manusia mempunyai badan wadhag untuk hidup di dunia materi, mempunyai jiwa untuk hidup di alam mental dan mempunyai ruh dari Tuhan untuk hidup di alam spirit. Dalam kehidupannya manusia dengan tiga komponen alam tersebut berhak menentukan corak kehidupannya dan ada konsekuensinya.

Apabila memilih alam materi atau duniawi konsekuensinya adalah akan terjebak dalam kefanaan. Sifatnya rusak, sementara, dan tidak abadi. Dalam perasaannya adalah kurang, kurang, dan kurang. Hal ini menimbulkan penyakit kadonyan, mengarah ke tamak, rakus, kikir, dan gampang iri lan meri. puncak pencapaian manusia adalah ketika mampu hidup di alam spiritual. Tidak ada rasa takut, was-was, karena adanya kesadaran semuanya adalah milik Tuhan.

Maka dengan digunakan istilah triloka oleh Mangkunegara IV wujud apresiasi dengan jalan mengakomodasi dan mengintegrasikan sehingga pengetahuan triloka digunakan untuk memahami hawa nafsu dan untuk menimbulkan efek kesadaran. Orang yang sudah sadar akan konsep hawa nafsu sebagaimana dalam penjelasan wedharipun hawa nafsu akan mendapatkan maqam kasih sayang Ilahi. Orang tersebut oleh Mangkunegara IV layak dijadikan contoh, panutan, dan teladan.

Dalam serat Wedatama, pupuh Pucung bait ke 05 dijelaskan sebagai berikut:

05.     Yeku patut, tinulad-tulad tinurut, sapituduhira, aja kaya jaman mangkin, keh pra muda mundi diri lapal makna.

[dia itu yang patut dicontoh dan diturut segala petunjuknya. Jadi tidak seperti zaman sekarang. Orang masih muda, membanggakan diri karena pandai mengucapkan dan mengartikan doa-doa dan ayat-ayat suci]

Arti perkata, yeku dari kata ya iku artinya itulah, patut artinya pantas, tinulad-tulad dari kata tulad artinya tiru, ditiru, dan contoh semakna dengan tuladha artinya contoh, tinurut dari kata turut artinya sesuai dengan garisnya, sapituduhira dari kata pituduh artinya petunjuk, aja artinya jangan, kaya artinya seperti, jaman artinya zaman, mangkin artinya sekarang, keh dari kata akeh artinya banyak, pra dari kata para artinya para, muda artinya anak muda, mundhi artinya mengangkat di atas kepala dapat dimaknai sombong, membanggakan sesuatu, diri artinya diri (aku, saya), lapal dari bahasa Arab yakni lafal artinya kata-kata yang digunakan untuk berdoa (doa-doa, ayat-ayat Al-Quran), makna dari bahasa Arab artinya keterangan, penjelasan, surasa.

Berdasarkan keterangan di atas dapat dilihat pemikiran Mangkunegara IV tentang siapa yang layak dijadikan panutan, tauladan, dan diturut segala petunjuknya. Orang yang layak tinulad (ditiru) merujuk kepada orang-orang yang mempunyai sifat mulia yang mencapai maqam cinta kasih Ilahi yang sudah mampu mengendalikan hawa nafsunya.

Orang-orang seperti ini adalah sejatinya orang penuh kasih sayang, penuh kedamaian, penuh kesabaran, dan suka memaafkan. Kalau dalam konsepsi Islam inilah ulama yang sejati pancarannya adalah pancaran kasih sayang, penuh kedamaian jauh kebencian, mengayomi umat setulus hati tanpa pamrih, dan penuh cahaya Ilahi.

Orang-orang seperti ini hidupnya ada di alam ruh atau alam spirit tingkatan alam yang tertinggi, kalau dalam konsepsi tasawuf sudah mencapai maqam makrifatullah. Mereka tidak takut, tidak was-was dan sebagainya. Yang ada dalam dirinya adalah cahaya Ilahi.

Mangkunegara IV memberikan pembandingan dengan zaman sekarang aja kaya jaman mangkin. Diperjelas dan dipertegas dengan kalimat keh pra muda mundi diri lapal makna (banyak para pemuda membanggakan diri dengan pengucapan, dengan ayat-ayat suci). Kata lapal atau lafal merujuk pada teks-teks keagamaan Al-Quran dan Hadis, sedangkan makna merujuk pada tafsif atau terjemah teks-teks keagamaan yakni ayat-ayat suci Al-Quran dan Hadis.

Pada masa tersebut bahasa Arab belum banyak yang memahaminya. Dengan demikian teks-teks yang berbahasa Arab yakni ayat-ayat Al Quran dan Hadis digunakan untuk pamer ilmu dan menyombongkan diri.

Apabila dicermati ini memberikan gambaran bahwa zaman sekarang banyak pemuda yang membanggakan diri dengan pengucapannya, dengan ayat-ayat suci. Banyak di antaranya yang mempunyai pemikiran dangkal, tidak tulus dalam beramal salih, ada niatan-niatan tersembunyi untuk kekayaan, kepentingan kelompok, dan kemasyhuran diri pribadi.

Fenomena ini yang sedang menggejala di Indonesia. Pemahan agama hanya dimaknai secara leterlek dan tidak mau melihat konteksnya. Hanya pada Al-Quran dan Hadis saja sehingga terlihat kaku dan saklek.

Agama lalu menjadi sesuatu yang sensitif, ibaratnya seperti minyak tanah mudah terbakar. Dan hal ini rawan dengan politisasi agama, politisasi ayat-ayat Al-Quran untung kepentingan kelompok. Maka tidak heran Mangkunegara IV mewanti-wantinya, karena masalah agama adalah masalah yang wigati untuk kemaslahatan semua umat.

Fenomena-fenomena ini menimbulkan culture shock, menyebabkan depresi dan frustasi. Secara psikologis terjadi gangguan mental yakni mental keagamaan. Sehingga di dalam internal umat Islam saja terus terjadi saling curiga, dan apalagi ketika berhadapan dengan saudara-saudara lain beda agama.

Orang-orang yang membanggakan dirinya merasa sudah pintar dalam berucap dan mengartikan doa-doa dan ayat-ayat suci,  Mangkunegara IV dengan tegas menyebutnya orang yang durung becus, kesusu selak besus. Hal ini dijelaskan dalam pupuh Pucung bait ke 06 berikut.

06.   Durung pecus, kesusu kaselak besus, amaknani lapal, kaya sayid weton Mesir, pendak-pendak angendak gunaning janma.

[sesungguhnya Ilmu agama mereka belum memadai, tetapi tergesa-gesa merasa diri mereka sudah seperti ulama, tergesa-gesa merasa diri mereka seperti ulama, sehingga memaknakan doa-doa dan ayat-ayat suci, seperti sayid lulusan Mesir. Setiap kali menyalahkan kepandaian orang]. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme