Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Petungan dalam Tradisi Penanaman Padi

Anisaul Lathifah [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II, sedang magang di IJIR []

Anisaul Lathifah [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II, sedang magang di IJIR []

Ritual petungan merupakan salah satu ritual penting dari serangkaian tahapan ritual tanam padi. Pada tahap ini, seorang petani mencari hari yang tepat guna memulai kegiatan penanaman padi. Ini merupakan ritual pertama dalam tradisi penanaman padi di Jawa sebelum tingkeban dan metik.

Dari seluruh rangkaian tradisi tersebut, saya akan mengulas tradisi petungan sebagaimana yang ‘pernah hidup’ di lingkungan saya, di Tulungagung.

Orang Jawa memiliki cara tersendiri dalam memilih hari. Seperti halnya yang dulu dilakukan oleh masyarakat di sekitar tempat saya tinggal, mereka melakukan petungan dengan memerhatikan hari kematian ayah. Mereka memiliki kepercayaan untuk tidak menggunakan hari yang sama dengan hari kematian ayah sebagai hari untuk mengawali suatu pekerjaan.

Termasuk pula mempersiapkan lahan untuk menanam padi. Menurut keyakinan masyarakat, mereka akan  merasakan kesulitan dalam bertani jika memilih hari yang tidak tepat untuk memulai kegiatan pertaniannya. Karena alasan inilah ritual petungan dianggap sangat penting.

Ritual petungan, dimulai dengan petani mencari sesepuh untuk melakukan perhitungan dengan ilmu angka (numerologi). Perhitungan tersebut digunakan untuk menentukan hari yang tepat guna membuka tanah untuk memulai kegiatan pertanian. Berbarengan dengan itu, slametan kecil yang disebut sebagai wiwit sawah (mulai bersawah) dilakukan.

Slametan tersebut dilakukan di sawah, petani membawa abu rampe/ubo rampen (makanan untuk persembahan) ke sawah. Setelah sesepuh merapalkan mantra, makanan-makanan tersebut dibagikan kepada siapapun yang turut serta dalam ritual.

Ritual ini dilakukan berdasarkan kepercayaan petani terhadap sosok Trisnawati (Mbok Sri) dengan Jaka Sudana. Kedua sosok tersebut  dianggap sebagai sosok adi-kodrati penjaga padi yang harus mereka ‘hormati.’

Dalam konteks seperti ini, pemilihan hari baik yang mereka lakukan merupakan wujud penghormatan kepada sosok yang telah berjasa besar dalam kehidupan mereka. Karena itu, jika mereka menginginkan usaha pertanian berjalan dengan lancar, mereka harus memberi persembahan yang sempurna.

Melampaui semuanya, saya kira ini merupakan ekspresi kesadaran masyarakat dalam menjaga kesetimbangan kosmologi; manusia (culture), alam (nature), kekuatan adi-kodrati (super nature).

Perlu diketahui bahwa, sejak dulu petani padi memiliki kepercayaan untuk selalu menghormati kekuatan-kekuatan adi-kodrati. Saya yakin ini tidak terjadi di wilayah saya saja, namun di Jawa secara umum. Karena itu, petani tradisional tidak semata memandang hasil pertanian dari usaha dan kekuatannya sendiri, ada kekuatan lain di luar diri mereka (Agus, B, 2006: 262).

Jika ada kegagalan panen, maka akan segera dikaitkan dengan kemarahan dan peringatan dari kekuatan gaib yang berkuasa. Supaya kekuatan gaib itu tidak marah maka mereka melakukan slametan serta berbagai macam ritual, termasuk pula ritual petungan untuk mendapatkan hasil terbaik.

Saya kira ritual persembahan seperti ini diilhami juga oleh kisah persembahan Qabil dan Habil, para petani percaya bahwa semakin baik persembahan (dalam bentuk slametan), maka akan semakin baik pula hasil pertanian yang akan mereka dapatkan. Sebaliknya, persembahan dan sesajen yang kurang baik dapat menyebabkan kegagalan panen.

Alasan kesadaran seperti inilah yang menjadikan persembahan-persembahan yang digunakan dalam ritual petungan adalah persembahan terbaik.

Cukup disayangkan, kearifan tradisi petungan tersebut telah hilang seiring dengan berkembangnya sistem pertanian modern. Sistem ini mencetak petani-petani dengan pemikiran yang rasional. Dibandingkan dengan pemilihan hari tanam (petungan), kebanyakan petani di Jawa lebih menyandarkan keberhasilan pertanian mereka atas kecanggihan tekhnologi yang mereka gunakan.

Hal ini tergambar jelas dengan semakin banyaknya petani yang mulai menggunakan teknologi-teknologi modern seperti mesin bajak sawah, mesin tanam padi, pupuk kimia dsb. untuk menunjang kegiatan pertanian.

Selain itu, semakin berkembangnya pendidikan berbasis agama di Jawa  juga membuat kepercayaan petani terhadap kekuatan adi-kodrati bergeser. Pendidikan agama ini berdampak pada kepercayaan mereka terhadap kekuatan adi-kodrati. Kekuatan yang diidentifikasi berasal dari legenda, tidak lagi dipercayai oleh masyarakat, bahkan petani sekalipun.

Hal ini berimbas pada digantikannya ritual petungan dengan slametan yang lebih bercorak Islami yang dilakukan di rumah pemilik sawah. Ritual petungan yang dulu dilaksanakan petani di Jawa–sebelum mereka mencapai pemikiran yang modern dan rasional, lebih bersifat komprehensif dan menyatu dengan alam. Fakta ini tergambar jelas ketika ritual petungan dilakukan di sawah dan dapat dinikmati oleh semua orang tanpa melihat latar belakang agama.

Namun setelah adanya pemikiran yang modern dan rasional, tradisi petungan tidak lagi dilakukan. Sebagai penggantinya petani di sekitar tempat saya tinggal sering kali melakukan slametan di rumah untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT terhadap usaha pertanian yang akan mereka lakukan.

Slametan ini pun hanya diikuti oleh orang-orang Islam saja, karena dalam pelaksanaanya akan dibacakan do’a-do’a sesuai ajaran Islam. Tak jarang pula petani yang tidak melakukan slametan sama sekali–ini terjadi pada mereka yang telah ‘terseret’ ke dalam arus modernisasi, hanya menyandarkan keberhasilan pertanian kepada teknologi yang mereka gunakan.

Mungkin, inilah akhir episode tradisi kita di tengah menguatnya arus tekhnologi modern. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme