Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Slametan Wetonan dan Simbolnya yang Hilang

Desy Nur Intan [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II, sedang magang di IJIR []

Desy Nur Intan [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II, sedang magang di IJIR []

Wetonan pernah menjadi ritual penting bagi masyarakat Jawa. Ritual ini dilaksanakan untuk memperingati hari kelahiran. Namun dalam mayarakat Jawa zaman now, wetonan mulai ditinggalkan. Hal ini sangat disayangkan, karena ritual tersebut merupakan bagian khazanah lokal masyarakat Jawa yang penuh simbol-simbol kearifan.

Wetonan merupakan peringatan tanggal kelahiran, biasanya menggunakan perhitungan dengan kalender Jawa. Ritual ini tidak serta merta dirayakan untuk merayakan hari kelahirannya saja, tetapi untuk mengingat saudara-saudara yang dilahirkan bersamanya.

Orang Jawa menamainya saudara-saudara itu dengan sedulur papat. Dalam pengertian konkret, peringatan sedulur papat dilakukan oleh orang Jawa dalam ritual weton yang dilaksanakan setiap tanggal kelahiran seseorang (Wisnu, 2014: 157).

Sesungguhnya ritual ini bertujuan untuk ucapan terima kasih kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan berupa keturunan. Rasa syukur ini dituangkan masyarakat Jawa dalam bentuk slametan dan tidak jauh berbeda dengan slametan yang umumnya seperti slametan khitanan, slametan ruwatan, dan slametan tingkeban. Hanya saja yang membedakan adalah tata cara dan peringatannya yang disesuaikan dengan kebutuhan ritualnya.

Di dalam slametan weton, masyarakat Jawa selalu memperhatikan tata caranya dengan begitu rinci. Semua yang menjadi bagiannya harus terpenuhi. Tahap pertama, orang yang paling tua di dalam keluarga biasannya kakek atau nenek akan membacakan niat atau do’a dalam bahasa Jawa atau orang Jawa biasanya menyebutnya ngujupne.

Pembacaan niat ini berisi permintaan perlindungan kepada Yang Maha Kuasa, agar orang yang diperingati weton atau hari lahirnya diberi kesehatan lahir dan batin. Tahap kedua, makan secara bersama dengan anggota keluarga. Sebelum makan bersama orang yang dibuatkan slametan weton harus memakan jenang putih agar diberi kesehatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Weton juga berkaitan dengan kosmologi Jawa. Dalam hal itu, Endraswara menggambarkan weton mempunyai hubungan dengan perhitungan hari (numerology) Jawa berjumlah tujuh, lalu disebut dengan dina pitu, dan pasaran berjumlah lima disebut pasaran lima. Atau sering disebut dengan dina lima dina pitu. Keduannya akan menentukan weton dina (hidupnya hari dan pasaran) (Endraswara, 2016: 103).

Pada perayaan slametan, pasti identik dengan angka tujuh. Kenapa harus tujuh? Karena tujuh dalam arti Jawa pitu, mengandung sinergistas harapan akan mendapat pitulungan (pertolongan) Tuhan. Angka tujuh yang dimaksud dalam ritual ini seperti, bubur 7 rupa yaitu, bubur merah, bubur putih, bubur merah silang putih, bubur putih silang merah, bubur putih tumpang merah, bubur merah tumpang putih, dan baro-baro (bubur putih ditaruh sisiran (irisan) gula merah dan parutan kelapa secukupnya).

Selain itu ada juga sayuran 7 rupa yaitu, kacang panjang, kangkung, kubis, kecambah/toge yang panjang, wortel, daun kenikir, dan bayam. Selanjutnya, menyiapkan Jajan pasar seperti, wajik (wani tumindak becik), gedhang ijo, sukun (supaya rukun), nanas (wong urip aja nggragas), dhondong (aja kegedhen omong), jambu (ojo ngudal barang sing wis mambu), jeruk (jaba jero kudu mathuk).

Selanjutnya, adanya kembang setaman yang tidak hanya satu macam bunga saja namun bermacam-macam kembang seperti, bunga mawar (awar-awar selalu tawar  dari nafsu yang negatif),  bunga melati (melat-melat ning ati selalu  eling lan waspada), bunga kanthil supaya tansah kumanthil hatinya selalu terikat oleh tali rasa dengan para leluhur yang menurunkannya, kepada orang tua dengan harapan agar anaknya selalu berbakti kepadanya, dan bunga kenanga (Wisnu, 2014: 161-164).

Masyarakat Jawa memang tidak bisa dipisahkan dari simbol-simbol yang melingkarinya. Secara umum, terdapat bunga tiga warna atau lima warna, dan simbol-simbol lain yaitu bubur merah, bubur putih, tumpeng, nasi gulung pisang, minyak wangi, kemenyan dan dupa. Simbol tersebut sangat lazim dalam setiap ritual di Jawa (Budiharso, 2014: 171).

Saat ini wetonan tidaklah menjadi suatu budaya yang dilestarikan kembali oleh masyarakat Jawa. Bahkan tradisi yang sudah ada lama ini seakan-akan hilang, dapat dikatakan bahwa tradisi ini sudah mulai mengalami pergeseran bahkan pendangkalan sehingga unsur pendidikan moralitas dalam peristiwa tradisi wetonan tidak lagi diketahui oleh masyarakat masa kini.

Mungkin kerumitan dalam menyiapkan sarana yang dibutuhkan ini penyebabnya. Sehingga masyarakat sekarang khususnya Jawa sendiri lebih memilih perayaan yang secara praktis dan lebih menarik seperti pesta ulang tahun dari pada wetonan. Perhitungan kelahiran Jawa pun tergantikan oleh perhitungan kelahiran berdasarkan Masehi.

Padahal, kalau kita ketahui, simbol-simbol yang ada di dalamnya slametan weton sudah mewujud dalam inti masyarakat Jawa. Ia memantapkan ritual ini untuk mengetahuinya sendiri melalui kelahirannya, sebelum bertemu Tuhan Sang Pencipta. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme