Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Awal Islam di Jawa

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Gedong Maulana Kabir [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research []

Paska penyebaran (sebagian ahli menyebut kedatangan) Islam di daerah Barus Sumatra, kemudian Islam mulai merambah pesisir utara Jawa. Episode ini, tentu saja, juga berawal dari skema perdagangan Internasional. Perdagangan ini menjadikan Selat Malaka sebagai titik yang sentral dan jalur laut utama. Jalur ini ditempuh melalui Selat Malaka dan Semenanjung Malaya sampai akhirnya menghubungkan Cina.

Dari berbagai literatur, kita tahu bahwa diantara saudagar muslim yang menggunakan jalur ini pada kisaran abad 7 M sampai 13 M adalah Arab, India (Gujarat, Benggala), dan Persia (Nugroho Notosusanto & Marwati Djoened Poesponegoro, 1992:183).

Motif ekonomi-perdagangan yang mengantarkan para saudagar muslim sampai ke Jawa, secepat mungkin bertemu dengan agenda dakwah Islam. Ada argumentasi untuk melihat pertemuan dua kepentingan ini. Ketika para pedagang Islam datang sembari mengamalkan ajaran Islam, pada dasarnya mereka juga seorang pendakwah yang umum di negara-negara asing. Tetapi tidak bisa disangkal, bahwa ada juga yang memang murni seorang penyebar agama Islam. Meski begitu, dalam tradisi Islam, siapapun pada dasarnya bisa menjadi penyebar agama (da’i), tidak terkecuali pedagang.

Tradisi ini berbeda dengan sistem kasta dalam agama Hindu. Dalam sistem kasta Hindu, hal-ikhwal kehidupan spiritual dan agama dikerjakan oleh kasta Brahmana. Adapun pedagang masuk dalam kasta Waisya yang dianggap ‘tidak layak’ (baca: bukan wilayahnya) bicara urusan agama. Argumentasi ini bisa kita temukan dalam Indonesian Trade and Society: Essay in Asian Social Economic History (J.C. van Leu, 1955: 114).

Alasan di atas tidak sekadar menjelaskan latar belakang penyebar agama Islam, tetapi upaya menjelaskan salah satu alasan mengapa masyarakat Hindu secara suka rela melakukan konversi agama menjadi Islam. Ajaran Islam yang tidak mengenal sistem kasta, menjadikan seluruh pengikutnya tampak setara dalam kehidupan sosial, siapapun bisa menjadi apapun.

Seorang pendakwah sekali pun, pada saat yang sama bisa menjadi anggota pemerintahan, seorang politisi dalam bahasa saat ini. Pada konteks kasta Hindu, kasta Brahmana dianggap tidak boleh membicarakan urusan harta dan pekeraan dunia seperti Waisya.

Waisya tidak diperkenankan berbincang soal politik, karena itu urusan kasta Ksatria. Seorang Sudra tidak boleh membahas urusannya Brahmana, dan begitu seterusnya. Setidaknya, inilah tafsir umum atas pelbagai kasta dalam agama Hindu. Meski demikian, ada pula tafsir yang mengatakan kasta Hindu itu hanyalah posisi seseorang dalam waktu tertentu. Misalnya, seseorang ketika seorang membincang agama masuk kategori Brahmana, ketika terlibat dalam urusan pemerintahan ia menjadi Ksatria, saat bekerja ia adalah Waisya, dan tatkala bersosialisasi dengan masyarakat secara umum ia menjadi Sudra.

Terlepas dari tafsir ini, harus diakui bahwa para saudagar muslim yang tidak berkasta menjadi kontak awal dengan masyarakat Hindu.

Di samping aspek perdagangan, temuan arkeologis juga cukup membuktikan adanya komunitas muslim di Jawa. Temuan arkeologis yang dimaksud adalah batu nisan Fatimah binti Maimun bin Abdullah di Leran Gresik. Para ahli berselisih tentang tanggal kematian Fatimah binti Maimun.

Moquette menyebut Fatimah meninggal pada 495 H atau 1102 M (J.P. Moquette, 1921: 391), sedangkan Ravaisse berpendapat bahwa Fatimah meninggal pada 475 H atau 1082 M (Paul Ravaisse, 1925: 668).

Informasi lain yang bisa dihimpun tentang tokoh ini adalah dia merupakan putri dari Dinasti Hibatullah di Leran yang berdiri sekitar abad 10 M (N.A. Baloch, 1980: 30). Pandangan ini disampaikan oleh Baloch dengan mempertimbangkan khot kufi di batu nisan Fatimah binti Maimun. Dari potongan-potongan informasi ini, kesimpulan yang diambil oleh ahli adalah, setidaknya sampai abad 11 M telah ada komunitas muslim di pantai utara Jawa.

Bahkan, merujuk pada uraian S.Q Fatimi dalam Islam Comes to Malaysia diketahui bahwa pada abad ke 10 M telah terjadi migrasi yang cukup besar dari keluarga-keluarga Persia ke Nusantara, diantaranya pulau Jawa. Untuk menyebut salah satu di antaranya sebagai contoh adalah keluarga Lor. Keluarga ini datang ke Jawa pada tahun 912 M ketika raja Nasirudin bin Badr memerintah wilayah Lor di Persia. Di antara orang Lor yang kisahnya abadi dalam folklor ialah Syekh Subakir.

Syekh Subakir sangat masyhur di kalangan masyarakt Jawa sebagai orang yang memberikan tumbal di wilayah Jawa. Dia adalah ulama’ sakti mandraguna. Di banyak tempat di pesisir utara Jawa terdapat ‘makam panjang’ yang diidentifikasi dan dipercayai sebagai petilasan Syekh Subakir, di antaranya adalah Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang, dan Jepara (Agus Sunyoto, 2011: 35).

Tidak hanya itu, cerita mengenai Syekh Subakir juga merambah ke pesisir selatan Jawa seperti Tulungagung, di daerah ini terdapat petilasan beliau. Hal ini membuktikan bahwa, sosok ini dikenal dan diyakini di wilayah Jawa secara keseluruhan, Ia tidak identik dengan pesisir utara Jawa saja. Daerah lain seperti Blitar, dekat candi Penataran tepatnya, turut menyisakan bukti arkeologis berupa petilasan yang sama. Sayangnya, posisi asli makam Syekh Subakir sampai sekarang masih simpang siur keberadaannya.

Potongan-potongan informasi ini menggambarkan situasi awal kedatangan, kehidupan dan perkembangan Islam di Jawa. Agama ini masuk ke Jawa memang lewat utara Jawa, tetapi ingat bahwa bagian pesisir selatan juga menyimpan sejarah dan tradisinya sendiri.

Bagaimana bisa kedatangan Islam di pantai utara ini bisa menyebar ke pesisir selatan yang jaraknya lumayan jauh dan terhalang pedalaman Jawa. Meski begitu, bukti kedatangan Islam di Jawa pada mulanya bisa menjadi batu pijakan untuk melihat Islam di pesisir selatan. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme