Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Narasi tentang Rumah Tangga Jawa

Dian Kurnia [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research; Direktur Forum Perempuan Filsafat [FPF] []

Dian Kurnia [] Peneliti muda di Institute for Javanese Islam Research; Direktur Forum Perempuan Filsafat [FPF] []

Jawa masih menyimpan kekayaan khasanahnya dari berbagai kegiatan sosial masyarakatnya. Aktifitas sosial selalu menarik banyak Antropolog untuk menggali lebih dalam tentang relasi kompleks yang ditampilkannya, termasuk kehidupan yang lebih sempit yakni rumah. Melalui upaya para Antropolog itu, kita dapat melihat masyarakat Jawa melalui potret kehidupan rumah tangganya. Hal ini seperti yang ditemukan Newberry dalam penelitian etnografinya tentang rumah tangga masyarakat Jawa (Newberry, 2013: 13).

Penelitian ini dilakukannya selama setahun bergumul dengan masyarakat dan berusaha menjadi bagian masyarakat. Tampaknya usaha yang dilakukan Newberry tidak sia-sia dalam mengeksplorasi rumah tangga Jawa. Fenomena yang terepresentasikan oleh masyarakat Yogyakarta itu memberikan gambaran yang khas bahwa, rumah berkaitan erat dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat, khususnya di Kampung. Kampung Rumah Putri (kampung dekat Keraton) yang menjadi lokus penelitiannya. Karena dekat dengan tradisi Jawa tradisional, ia mengamati pergumulan masyarakat beserta aktifitasnya melalui satu titik yakni rumah.

Rumah merupakan pusat mata rantai dari hubungan dalam kehidupan sosial: “mata rantai hubungan perempuan, rumah keluarga, nenek moyang serta bumi” (Newberry, 2013: 116). Dalam kaca mata Levi Strauss rumah berperan sebagai ajimat. Ajimat merupakan suatu wujud yang perlambangankan hubungan-hubungan sosial yang penting dalam masyarakat.

Rumah menjadi salah satu potret bangunan masyarakat yang kompleks. Rumah atau Kediaman di Jawa dapat kita lihat melalui hierarkinya. Hierarki yang nampak dalam rumah yakni hubungan perempuan dan laki-laki sebagai pemenuh kebutuhan rumah tangga. Newberry menggambarkan dengan jelas bangunan rumah sangat menentukan hajat sosial penghuninya. Bagaimana perempuan mengolah sedemikian rupa sesuatu yang diperoleh suami untuk kebutuhan rumah tangganya. Perempuan berperan sebagai penentu hajat keluarga.

Hierarki kedua digambarkan melalui relasi antar rumah di kampung itu. Sketsa besarnya Ketika rumah yang dikontrak Newberry tidak memiliki pintu belakang, ia dihujani banyak pertanyaan oleh tetangganya. Mereka mempertanyakan bagaimana sirkulasi pertukaran antar tetangga jika tidak ada ruang belakang. Seperti rumah-rumah lain di kampung itu yang hampir semua memiliki pintu belakang.

Pintu belakang sebagai jalan pertukaran perempuan seperti minta gula ketika ada tamu sedangkan gula di rumah habis, mengantarkan makanan pada tetangga dekat agar tidak diketahui tetangga luas, dan lain sebagainya. Kalau jalan ini tidak ada, maka relasi tetangga atau saudara satu dengan yang lain lambat laun pudar. Tentunya perempuan yang mempunyai peran begitu besar dalam relasi back door house ini.

Begitu berharganya sebuah pintu sebagai sirkulasi antar urusan perempuan. “I suggest in that such cases where the domestic cultural symbols are expressed publicly…”(Blankton, Richard E, 1994: 12).  Dalam sebuah tradisi Jawa kental dengan konsep “suguhan” untuk orang yang bertamu ke rumah tetangga maupun sanak saudara. Suguhan menjadi sarana pokok bahwa tamu adalah sosok yang dihormati. Dan pantang untuk tidak memberikan apa-apa. Maka dari itu transaksi membeli sesuatu ataupun meminjam barang untuk suguhan dilakukan melalui pintu belakang. Agar tamu tidak mengetahui bagaimana proses suguhan ini. Karena hal itu dapat membuat si tamu tidak enak hati. Ritus ini disepakati secara moral oleh kebanyakan rumah tangga di Jawa.

Begitu penting pintu belakang di setiap rumah, tidak hanya sebagai ruang sirkulasi melainkan sebagai ruang aktualisasi perempuan. Menurut Newberry perempuan menjiwai perannya sebagai aktor penentu suatu ritual hajatan, khususnya dalam slametan.

Perempuan mengusai benar peta dan pola masyarakat di lingkungannya. Bahkan tetangga atau saudara yang diundang untuk kegiatan rewang pun perempuan sangat selektif dan sebagian mereka datang dari pintu belakang (Newberry, Jan, 2013: 129). Dalam kaca mata antropologi rumah tangga seperti ini sangat khas Jawa. Kita dapat melihat kebiasaan masyarakat melalui kedekatan relasi antar-rumah tangganya.

Kekhasan ini dicirikan oleh perempuan yang gemar bersosialisasi pada rangkaian acara adat, sosial, maupun keagamaan. Seperti acara, slametan (berbagai ragam slametan), mantenan (perkawinan), aqiqahan, pengajian, ruwatan rumah, dll. Mereka berperan dalam panggung domestik yang piawai.

Lakon ini tidak hanya dimainkan oleh perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Lebih dari itu ibu-ibu pejabat desa maupun perempuan karir ikut mengambil peran yang sama dalam rangkaian acara-acara tersebut. Seakan mereka paham tanpa ada isyarat khusus yang diberikan oleh tuan rumah ketika mengundang untuk rewang. “Geertz Argues that there is a strong network between kinswomen in Java that affects househould organization and decision making and often mutual aid and loyality in time of distress” (Wolf, L Diane, 1991: 129).

Identiknya para perempuan kampung itu selalu mempunyai kelompok masing-masing. Baik kelompok formal seperti PKK maupun kelompok menurut pekerjaan dan kelompok arisan. Newberry menyebutkan dalam komunitas perempuan sangat mudah menjadi kepanjangtanganan negara.

Salah satunya adalah PKK, digadang-gadang sebagai pembentuk nasionalisme bangsa dan mendomestikasikan perempuan. PKK melaksanakan semua agenda negara yang di dalamnya mayoritas istri pejabat desa atau ibu-ibu yang memiliki status sosial tinggi. Secara formal cara kerja negara mengontrol masyarakatnya melalui ini. Perempuan harus tunduk di bawah payung kekuasaan laki-laki. Perempuan berkewajiban menjaga harkat martabat keluarga dan suaminya.

Jargon itu seakan merasuk pada kesadaran turun temurun masyarakat bahwa 9 tugas pokok PKK adalah kemutlakan dan diamini. Ketika ada perempuan rumah tangga lain yang menyimpang dari tugas itu, mereka akan mendapatkan hukuman social, seperti dikucilkan atau menjadi bahan rasan-rasan atau gunjingan.

Meski begitu, Newberry tidak secara jelas memaparkan tentang bagaimana ibu-ibu yang tidak tergabung dalam kelompok-kelompok tersebut mendialogkan peranan mereka dalam struktur sosialnya. Peranan ini sesungguhnya sangat cair. Tidak seketat apa yang digambarkan Newberry ketika mendefinisikan kondisi dapur. Perempuan pada akhirnya tidak hanya menguasai perihal dapur saja, mereka sebenarnya penentu suatu keharmonisan keluarga bahkan antar-tetangga. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme