Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Babad Dusun Gogourung

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester IV, peneliti muda IJIR []

Miftahul Rohman [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester IV, peneliti muda IJIR []

Gogourung merupakan salah satu Dusun di Desa Dawuhan, Kademangan, Blitar. Lokasi Dusun ini sangat mudah ditemukan karena berada bersebelahan dengan Desa Sumberjati, tempat Candi Simping berlokasi.

Nama Dusun tersebut bertalian dengan sejarah yang mengawalnya. Sejarah itu dapat kita telusuri dari cerita lisan di masyarakat. Setidaknya, ada dua hal yang sering disampaikan para sesepuh kepada anak-anak muda di Gogourung. Pertama, orang akan menceritakan asal-usul Dusun tersebut. kedua, tokoh pem-babad Dusun tersebut.

Sesuai informasi yang saya dapat, saya menemukan 2 cerita yang berbeda perihal asal-usul Dusun Gogourung. Sebagian orang menuturkan bahwa di masa silam Dusun tersebut merupakan wilayah yang sangat angker. Orang zaman dulu mendefinisikannya dengan istilah ’begebluk’. Hal itu berupa kematian bagi orang-orang yang menanam ‘gogo’ (padi). Orang yang menanam padi tidak pernah menjumpai musim panen karena ia terlebih dulu meninggal dunia.

Sedangkan menurut cerita kedua, ketika orang-orang menanam ‘gogo’ padi, rupanya selalu gagal panen. Hal itu karena, menurut sebagian masyarakat, ada yang memakan atau merusaknya. Entah itu wereng, harimau, atau binatang buas lainnya.

Setelah bertahun-tahun ‘gogo’ yang ditanam warga setempat tidak pernah panen akhirnya datanglah  seseorang yang sakti. Tokoh inilah yang mem-babad wilayah tersebut. Dialah yang kemudian disebut sebagai pembuka dusun Gogourung. Sesudah itu, padi/ ‘gogo’ sudah bisa ditanam dengan baik sehingga masyarakat merasakan musim panen.

Salah satu versi menjelaskan, orang sakti yang ‘mbuka’ dusun Gogourung adalah Mbah Kiai Nur Wahid. Meski begitu versi lainnya mengatakan bahwa orang umumnya telah salah dalam memahami siapa pembuka Dusun tersebut. Orang-orang umumnya mengenal Mbah Nur Wakhid sebagai pembabad, padahal sesungguhnya adalah adalah Mbah Hasan Anom.

Mengenai pendapat bahwa Mbah Hasan Anom sebagai pembuka Dusun didukung oleh beberapa sumber. Sumber tersebut tidak hanya dari cerita-cerita rakyat terdahulu, tetapi juga berasal dari tokoh spititual atau para Kiai yang pernah singgah di Gogourung. Salah satu yang tersohor adalah Mbah Kiai Ali Syamsi Djalil dari Tulungagung. Beliau dikenal sebagai figur Kiai yang berpengetahuan luas. Ia memiliki ketajaman dalam ranah spiritual, waskito. Selain itu, ia juga biasa menyembuhkan dan menumbali tempat-tempat yang dianggap angker.

Mbah Kiai Ali Syamsi melalui penerawangannya menjelaskan bahwa, pemula babad dusun Gogourung adalah Mbah Hasan Anom. Ia juga menunjukkan pelatarannya yang terletak sekitar 100 meter dari rumah saya. Makam tersebut, berada di lereng bukit.  Di atas makam tersebut, tertata rapi batu bata merah untuk menandainya. Meski demikian, kuburan tersebut nampaknya memang tak pernah lagi diziarahi.

Menarik, karena baik Mbah Hasan Anom dan Mbah Nur Wahid namanya selalu disebut dalam ritual slametan di Dusun kami.

Masyarakat selalu menghadiahkan fatihah kepada kedua tokoh tersebut. mereka menyadari bahwa cara tersebut merupakan salah satu ritual untuk menjaga keselamatan Dusun. Mengingat, kedua tokoh di atas dikenal sebagai ‘penumbal’ awal di Dusun Gosourung. Selain menghadiahkan fatihah sebagai doa keselamatan, masyarakat juga menggelar bersih dusun. Ritual itu dilakukan dengan berdoa bersama di masjid Dusun tersebut.

Selain ritual tersebut, para tokoh agama/adat juga berdoa di ‘tapel wates’ Gogourung. Hal itu dilakukan mengingat dusun tersebut dipercayai ada yang ‘mbaureksa’ atau kita menyebutnya Dhanyangan. Konon, wujud Dhayangan itu adalah macan putih.

Hal yang menarik dari Dhayangan tersebut adalah, terdapat kisah tentang ketidakmungkinan membunyikan suara Gong di Dusun Gogourung. Maksudnya, di kawasan tersebut alat musik Gong (diyakini) tidak pernah bisa berbunyi jika dimainkan. Inilah alasan mengapa pagelaran wayang tidak pernah ada di Gogourung.

Ini bukan cerita yang tanpa pembenaran, hingga saat ini pun saya memang sama sekali belum menjumpai pagelaran wayang di Dusun saya lahir tersebut. Terlepas dari itu semua, menurut saya masyarakat di Dusun kami tetap senantiasa menjaga keterkaitan sejarah dengan para pendahulu. Itu terbukti dari, masih lestarinya slametan di Dusun kami yang puncaknya adalah meng-khususkan fatihah kepada para leluhur utamanya para pembabad Dusun. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme