Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Agar Tidak Lupa: Catatan Clifford Geertz tentang Pasa dan Riyaya [5-Habis]

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Akhol Firdaus [] Direktur IJIR

Riyaya—Basis Konflik atau Penyatuan?

Riyaya telah menjadi sarana pembauran dan integrasi, tapi jangan salah, riyaya dalam pandangan Clifford Geertz sekaligus merupakan titik keretakan dan konflik di internal santri.

Di samping soal penyelenggaraan sembahyang riyaya di lapangan atau di masjid, fakta keretakan lainnya adalah, soal penentuan hari raya berdasarkan metode yang berbeda di lingkungan kelompok-kelompok santri. Rupanya problem penetapan hari raya merupakan problem klasik .

Menurut Geertz, kalangan santri modern menggunakan data-data astronomi untuk menetapkan hari raya. Muhammadiyah hingga hari ini menggunakan metode tersebut. Sementara itu, kalangan santri ‘kolot’ masih harus menunggu dan memastikan melihat munculnya rembulan.

Masih menurut informasi Geertz, pada tahun 1954 terjadi perselisihan yang pelik tentang tanggal yang tepat. Kelompok modernis umumnya telah menetapkan tanggal tersebut berdasarkan instruksi pimpinan mereka yang ada di Yogyakarta.

Meski menggunakan metode yang berbeda, akan tetapi tahun 1954 kedua kalangan santri tersebut bersepakat menetapkan riyaya jatuh pada Rabu, 2 Juni. Tentu saja, kesepakatan demikian ini adalah faktor kebetulan. Dalam pengalaman kontemporer umat Islam di Indonesia, perselisihan penetapan hari raya menjadi lebih sering terjadi.

Bagaimana dengan abangan dan priyayi? Bukankah keduanya menjadi bagian aktif dari perayaan riyaya? Mereka ikut santri modern atau ikut santri konservatif? Menariknya kedua kelompok ini tidak ikut kedua. Orang Jawa memiliki perhitungan kalender sendiri. Geertz menjelaskan, kalangan abangan dan priyayi menggunakan sistem hitungan aboge—meski hari ini istilah tersebut merujuk pada sekte keagamaan tertentu di Indonesia.

Singkat kata, mengikuti sistem kalender aboge, kalangan abangan dan priyayi menetapkan riyaya jatuh pada hari Jumat. Meski demikian, kalangan abangan umumnya berpandangan bahwa hari Jumat Wage bukanlah hari baik untuk perayaan riyaya. Karenanya, kelompok abangan merayakannya di hari Kamis. Berbeda halnya dengan priyayi yang tidak lagi tunduk terhadap keyakinan mistis itu, umumnya mereka tetap merayakan riyaya pada hari Jumat.

***

Kita telah menyaksikan, penghampiran atas puasa, tarawéh, darus, dan riyaya yang dilakukan oleh Clifford Geertz, dideskripsikan sebagai basis konflik di internal santri. Kelompok modern dan kelompok konservatif (dalam internal santri) tidak bersepaham dalam hal cara menjalani puasa, dalam hal rakaat tarawéh, cara darus, penetapan hari raya, bahkan tempat penyelenggaran shalat riyaya.

Tentu saja kedua kelompok santri juga memiliki afiliasi politik yang berbeda-beda, dan dengan begitu perbedaan dan konflik menjadi bukan semata-mata urusan agama (yang serba ranting itu), tetapi juga problem kelas sosial, pilihan politik, status ekonomi, dan penerimaan terhadap budaya lokal.

Perbedaan dan konflik itu begitu mewarnai kehidupan internal santri di Mojokuto, dan menjelang tahun 1955—sebagai tahun politik, konflik tersebut pastilah bukan urusan yang sepele dalam pengalaman keagamaan di Mojokuto.

Sangat mengherankan, karena Geertz berhasil melukiskan perbedaan dan konflik internal santri itu begitu rincinya, akan tetapi pada saat bersamaan, gambaran yang rinci dan mandalam itu seperti tidak merembes pada kesimpulan awal dan akhir etnografinya di Mojokuto.

Di bagian kesimpulan, semua gambaran yang berwarna tentang konflik di internal santri itu, direduksi sedemikian rupa dengan simpulan—yang menurut saya, berpijak pada praanggapan yang dibangun sebelum etnografi dimulai. Di bagian kesimpulan The Religion of Java, Geertz menulis:

“Rijaja, simply because it is the most catholic, the most festive, and the most genuinely collective of their ceremonies, reveals even more clearly, though less explicitly, the underlying unity of the Javanese people, and, beyond them, of the Indonesian people as a whole.” (hal. 381).

Saya tidak tahu mengapa, sesudah begitu terperincinya data-data konflik di internal santri, Geertz tetap berpandang bahwa riyaya adalah gambaran tentang kesatuan dan keutuhan orang Jawa, bahkan orang Indonesia.

Kesimpulan ini, menurut saya, telah mereduksi temuan-temuan penting tentang situasi tajamnya konflik di internal santri. Juga mendistorsi temuan-temuan tentang konflik yang menganga di antara tiga varian santri-abangan-priyayi. Semua kerumitan konflik antarsantri dan antarvarian sosial-keagamaan diserap sedemikian rupa hanya oleh simbolisme riyaya—yang mempertemukan semua varian itu dalam perayaan yang artifisial.

Data kaya-raya yang dipaparkan oleh Geertz seperti tidak merembes sama sekali pada kesimpulan yang dirumuskannya. Ada kontradiksi yang sangat mencolok antara data-data yang rumit dengan bangunan akhir teorinya.

Data-data bersenandung tentang konflik, kesimpulan mendendangkan keharmonisan. Bagaimana hal ini mungkin terjadi?

Tanpa mengurangi penghormatan terhadap Begawan yang telah memperkenalkan Jawa pada dunia ini, saya kira, kelemahan mendasar ‘Antropologi Interpretatif’ yang diperkenalkan Geertz salah satunya bisa dibedah dari posisi ini, bagaimana praanggapan-praanggapan telah dibiarkan mengerangkai data-data empiris.

Jawaban atas hal ini, mungkin bisa dilacak pada pembentukan tradisi intelektual Geertz di Harvard University. Di kampus tersebut, Geertz merupakan mahasiswa Department of Social Relation—ini merupakan program interdisipliner yang dirintis oleh Talcott Parson (1902-1979). Geertz bukan hanya muridnya, ia bahkan pernah bekerja kepadanya, dan mendapatkan kawalan yang ketat untuk menjadi seorang Antropolog.

Geertz lalu membuka karir pertamanya dengan melakukan penelitian di Jawa. Penelitian inilah yang akan membuat namanya sebagai Antropolog melambung, dan hampir tidak tertandingi lagi, bukan hanya di Harvard, tetapi juga di seluruh Amerika. Bersama istrinya, Hildred Geertz, ia pergi ke Mojokuto. Penelitian inilah yang akan diterbitkan menjadi the Religion of Java pada 1960. Ia juga menyabet gelar Ph.D-nya (1956) dengan disertasi yang sama, berjudul, Religion in Modjokuto: A Study of Ritual Belief in A Complex Society.

Segeralah tampak, bagaimana karya yang ditempa di Mojokuto ini sangat dipengaruhi oleh model analisis fungsionalisme-struktural yang diperkenalkan oleh mentornya, Talcott Parson. Semua memahami, mazhab Fungsionalisme begitu menekankan pentingnya analisis terhadap bekerjanya fungsi-fungsi sosial dalam rangka integrasi dan harmoni.

Setelah mendalami Geertz, setidaknya pada isu Pasa dan Riyaya, serta konflik di internal santri, kita menjadi tahu bagaimana pengaruh Fungsionalisme Parsonian tersebut telah mendominasi modus dan pola Geertz dalam menafsirkan masyarakat Jawa yang kompleks itu. Semua kerumitan konflik antarsantri dan antarvarian santri-abangan-priyayi, telah direduksi sedemikian rupa hanya oleh simbolisme riyaya.

Pendek kata, Fungsionalisme Parsonian rupanya telah menjadi praanggapan yang mengerangkai hampir seluruh hasil kerja etnografi Geertz. Meski, studi lapangan (empiris) yang ketat—sebagaimana doktrin Antropologi yang diajarkan oleh Brownislaw Malinowski (1884-1942), juga telah membentuk tradisi intelektual Geertz pada saat bersamaan.

Sedalam-dalamnya data lapangan, toh, pada akhirnya masih berhasil ditundukan oleh praanggapan tentang adanya suatu skema integrasi yang bekerja secara misterius di dalam masyarakat Jawa yang kompleks. []

Selamat menyambut riyaya 2018 M

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme