Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Tafsir Kiai Shaleh Darat [7]: Mengenal Hidayah dan Jalan Kebenaran dalam Ihdinā aṣ-Ṣirāṭ al-Mustaqīm

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Heru Setiawan [] Mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Tulungagung; staf di Departemen Manuskrip Islam-Jawa, IJIR []

Hidayah atau petunjuk, merupakan hal mewah bak permata bagi umat beragama, termasuk umat Islam. Karena alasan hidayah, manusia berorientasi pada jalan yang lurus atau kebenaran. Sayangnya, orientasi pada jalan lurus itu malah seringkali membuat manusia lupa, bahwa sebenarnya keduanya (baik hidayah maupun jalan lurus) sesungguhnya merupakan hak prerogatif Tuhan.

Pada taraf kesalehan tertentu, manusia bahkan memiliki kecenderungan menghakimi sesamanya karena merasa memiliki hak atas hidayah. Manusia seperti ini, mudah merasa punya hak atas sesamanya, seakan-akan dialah pemberi hidayah bagi orang lain untuk menuju jalan kebenaran yaitu aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm.

Mempertimbangkan kecenderungan tersebut, kiranya perlu kita pahami apa yang dimaksud dengan hidayah dan jalan kebenaran yakni aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm itu. Dengan tetap merujuk pada tafsir Kiai Shaleh Darat, kita akan mengulas potongan ayat ke-enam yaitu, Ihdinā aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm. Hemat saya, dalam potongan ayat tersebut terdapat dua kata kunci yaitu hidayah dan jalan yang lurus. Kata hidayah diambil dari lafadz Ihdinā, sedangkan yang lurus diambil dari kata aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm.

Dalam menfasirkan kata Ihdinā aṣ-sirāṭ al-mustaqīm, Kiai Shaleh Darat memaparkan dua versi pemaknaan. Versi pertama, kata tersebut merupakan bentuk do’a agar Tuhan memberi atau menambah hidayah seseorang terhadap jalan yang lurus/aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm. Dalam konteks ini, yang dimaksud dengan jalan yang lurus/aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm adalah agama yang haqq/benar.

Versi kedua, lafadz tersebut merupakan do’a agar Allah memberi petunjuk kepada hati seseorang hamba kepada jalan yang lurus, yaitu jalan yang dapat mengantarkan hamba menuju Tuhan. Dalam konteks ini, maka jalan yang lurus tidak bisa dipahami sebagai kata benda. Aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm lebih merupakan keadaan dimana seorang hamba berpaling dari segala hal selain Allah serta hanya mengahadap kepada Allah dengan keseluruhan nafsu, hati, ruh dan sirr. (h. 19)

Penghadapan seorang hamba kepada Allah secara keseluruhan ini berarti yang bersangkutan secara total menyerahkan diri kepada Allah. Hal ini tergambarkan seperti kepasrahan Nabi Ibrahim ketika diperintahkan menyembelih anaknya. Kepasrahan Nabi Isma’il saat tunduk untuk disembelih, serta kepatuhan Nabi Musa saat diperintahkan untuk berguru pada orang yang derajatnya lebih rendah darinya, itulah model terbaik penyerahan diri. Sederhananya, dalam keadaan ini seseorang secara penuh menerima apa yang telah menjadi ketentuan Allah. Ridla serta sabar saat diberi cobaan apapun.

Menurut Kiai Shaleh Darat, Keridlaan serta kesabaran dalam menghadapi segala ujian dan cobaan itulah yang disebut sebagai jalan yang lurus/aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm. Karunia inilah yang seharusnya diminta oleh hamba, bukan sekedar hidayah. Hal ini dikarenakan sesungguhnya seseorang yang sudah melakukan ibadah—semisal shalat, sebenarnya sudah mendapatkan hidayah. Akan tetapi belum tentu dapat bersabar saat mendapatkan cobaan.

Lebih lanjut, Kiai Shaleh Darat mengutip pendapat al-Ghazali terkait macam-macam hidayah. Ragam hidayah adalah, hidayah al-‘Ām (umum), hidayah al-Khāṣṣ (khusus) dan hidayah al-Akhāṣṣ (lebih khusus). Hidayah al-‘Ām (umum) seperti halnya petunjuk Allah terhadap semua hewan (termasuk manusia) sehingga ia dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya serta menjauhi sesuatu yang berbahaya. Hidayah al-Khāṣṣ (khusus) merupakan hidayah Allah kepada orang-orang beriman untuk menuju surga. Hidayah al-Akhāṣṣ (lebih khusus) adalah hidayah yang hakiki, yakni hidayah dari Allah dalam rangka pengakuan terhadap Allah (semata-mata Allahlah) pemberi hidayah bagi segenap mahluk.

Berpangkal dari paparan ini dapat dipahami bahwa, sesungguhnhya pemberi hidayah hakikatnya hanyalah Allah. “Demi Allah, lamun ora kelawan Allah yekti ora oleh pituduh ingsun kelawan iki-iki pituduh kelawan Allah” begitulah ungkapan Nabi yang dikutip dan di-Jawa-kan oleh Kiai Shleh Darat. Hal ini masih ditegaskan dengan kutipan berikutnya, “weruh ingsun ing Pengeran ingsun kelawan Pengeran ingsun. Lamun ora kelawan Fadlal-e Pengeran ingsun, maka yekti ora weruh ingsun ing Pengeran ingsun”. (h. 20) Mengingat semua itu, tidaklah patut bagi seseorang untuk merasa paling benar, terlebih menghakimi kesalahan orang lain.

Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm menurut Kiai Shaleh Darat ada dua macam yaitu, jalan menuju surga dan jalan menuju Allah. Jalan pertama merupakan jalan bagi para ashab al-yamīn, sedangkan yang kedua adalah jalan para sābiqīn al-muqarrabin, yaitu orang-orang yang mendapatkan nikmat ruhani berupa percikan cahaya Allah/Nurullah. Nikmat itu diperoleh manusia saat proses penciptaan, sebagaimana ucapan Nabi yang diterjemah Kiai Shaleh Darat berikut.

“Setuhune Allah Subhanahu Wata’ala wus gawe makhluk kabeh ing dalem peteng, maka nuli nyiprati Allah ingatase makhluk kabeh saking nuruhu (cahaya-Nya). Maka sapa wonge mekenani ing mengkono-mengkono nur, mka temen-temen oleh pituduh marang Ṣirāṭ al-Mustaqīm. Maka sapa wong e ora kacipratan mengkono-mengkono nur, maka temen temen dadi Dlalāl (tersesat).” (h. 20)

Menurut Kiai Shaleh Darat, jalan menuju Tuhan juga ada dua macam yaitu, jalan dari hamba menuju Tuhan dan jalan dari Tuhan menuju hamba. Jalan pertama sangatlah terjal, banyak perampok serta sangat sedikit orang yang sampai kepada tujuan. Hal ini dikarenkan serigkali Iblis merampok seseorang yang menempuh jalan ini. “Yekti angelungguhi ingsun marang nak adam kabeh ing dedalan ingkang datengaken dumateng Tuan (Allah),” begitu tulis Kiai Shaleh Darat dalam mereka ucapan Iblis.

Sedangkan jalan yang dari Tuhan menuju hamba jauh lebih mudah, terang serta aman serta dapat berkumpul dengan para Nabi, syuhada’ serta orang-orang shalih. Maksudnya, aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm dapat ditempuh dengan meneladani para Nabi serta auliya’ dalam hal kesabaran saat mendapat cobaan ataupun hinaan dari makhluk kemudian ia ridha. Itulah arti aṣ-ṣirāṭ al-mustaqīm.

Menjadi gamblang, dalam rangka menapaki jalan yang lurus/kebenaran sangatlah ditekankan untuk sabar serta ridla terhadap segala keburukan dari mahluk. Hal ini dikarenakan hakikat semua itu merupakan ketentuan Allah. Baik-buruk, cobaan, atau hinaan yang menimpa hakikatnya merupakan ketetapan Allah sejak manusia diciptakan.

Dengan menghayati tafsir ini, sangatlah tidak pantas bila ada seorang muslim yang gemar menghakimi tindakan dan perbuatan orang lain. Memberikan label sesat atau pendosa terhadap sesama. Terlebih merasa dirinya sebagai sumber kebaikan dan kebenaran, kemudian ia melakukan intervensi dengan berbagai cara kekerasan atas nama Allah—Sang pemilik hidayah.

Pada hakikatnya segala petunjuk/hidayah berasal dari Allah. Manusia tidak memiliki hak apapun atas hidayah, maka tidaklah patut bagi seseorang berbuat culas terhadap orang lain, terlebih atas nama hidayah, kebenaran bahkan atas nama Allah sekalipun. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme