Institute for Javanese Islam Research

laboratorium pemikiran jurusan Aqidah & Filsafat Islam - IAIN Tulungagung

Psiko-Macapat: Memahami Psikososial Manusia dalam Tembang Macapat

Mochammad Chafidz Baihaqi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Mochammad Chafidz Baihaqi [] Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Semester II; Staf magang di IJIR. []

Jika kita berangkat dari sejarah munculnya macapat, kitab-kitab primbon telah memaparkan tembang macapat sebagai hasil gubahan para Wali dan pejabat tinggi di zamannya. Dapat disimpulkan bahwa tembang macapat telah muncul pada periode Majapahit, kurang lebihnya saat budaya Islam mulai masuk ke Jawa.

Hadirnya tembang macapat lahir saat pengaruh kebudayaan India mulai luntur dan menipis, yaitu saat kakawin atau puisi Jawa kuna dengan mentrum (irama) India makin surut, disusul munculnya bentuk kakawin tanpa metrum India (Sadjana Hadiatmadja, 1968: 6-9).

Macapat atau sering dikenal dengan macapatan, merupakan salah satu jenis cipta sastra dalam karya budaya Jawa dengan mengutamakan alunan suara dan dendangannya tanpa diiringi tabuh-tabuhan. Macapat sendiri merupakan nama jenis tembang yang digunakan dalam gubahan (hiasan) puisi hasil karya sastra Jawa Baru (Poerwadarminta, 1939: 229).

Sebagai salah satu kesenian Jawa, macapat mengandung berbagai nilai di dalamnya. Beberapa di antaranya mencerminkan tentang kehidupan masyarakat Jawa.

Dalam macam-macam tembang macapat, kita akan melihat sebuah alur perkembangan manusia yang dimulai dari buaian rahim ibu hingga buaian tanah lahat. Mulai dari Maskumambang hingga Pucung (Hascarya, 1979).

Beberapa urutannya telah disampaikan dalam pendapat Guritno (1995: 34), yakni: Mmaskumambang (janin bayi biasanya tak berdaya seperti “kemambang” dalam rahim ibunya)); Mijil (awal kelahiran manusia); Khinanthi (anak hanya akan menuruti kehendak ayah dan ibu); Sinom (usia muda mulai berkembang iman dan ilmunya); Asmaradana (mulai tertarik kepada lawan jenis); Durma (kemauan keras untuk bersenggama); Dhandhanggula (mulai menanamkan benih kasih); Gambuh (salawing kaweruh, artinya sudah banyak makan garam (berpengalaman sebagai manusia lebih tua)); Pangkur (mulai menyingkirkan hawa napsu); Mengatruh (perpisahan jiwa dan raga “mati”), dan; Pucung (telah di bungkus kain kafan putih layaknya pocong).

Melalui seluruh alur itu, kita bisa melihat macapat sebagai representasi perkembangan psikososial manusia. Misalnya, perkembangan manusia secara psikis telah dijelaskan melalui ilmu psikoikologi. Salah satunya adalah Psikososial Erikson yang memaparkan perkembangan manusia dalam segi sosialnya.

Psikososial Erikson telah membagi tahap perkembangan manusia menjadi delapan  bagian. Menurut Filosof asal Jerman tersebut, tahap pertama pertama perkembangan manusia diistilahkan ‘kepercayaan’ vs rasa tidak percaya. Kepercayaan bayi usia nol sampai satu tahun memberinya kenyamanan dan harapan tentang dunia yang menyenangkan.

Pada tahap kedua, fase kanak-kanak di usia satu sampai tiga tahun, anak mulai memperoleh kepuasan bukan dari keberhasilan mengontrol otot-otot saja, melainkan juga mengontrol fungsi tubuh yang lain.

Suami dari Dr. Theodore Homburger ini melukiskan tahap ketiga sebagai usia bermain, yakni di umur tiga sampai enam Tahun. Di tahap ini mulai terlihat adanya perkembangan Oedipus Kompleks, gerakan tubuh, keterampilan, rasa ingin tahu, dan imajinasi.

Pencetus delapan tahap perkembangan manusia ini, penetapkan tahap kedelapan sebagai usia sekolah pada masa enam sampai dua belas tahun. Dalam hal ini, dunia sosial individu akan semakin meluas keluar dari dunia keluarga, anak bergaul dengan teman sebaya, guru, dan orang dewasa lainnya.

Erikson merumuskan tahap kelima dengan istilah adoles. Menurutnya usia dua belas sampai dua puluh tahun merupakan masa pencarian identitas. Di fase ini, individu sibuk dengan dirinya sendiri, dilatarbelakangi oleh pubertas genital yang memberinya berbagai peluang konflik.

Adapun tahap keenam adalah masa dewasa awal dari usia dua puluh sampai tiga puluh tahun. Awal masa dewasa ini dimulai dengan pembinaan relasi yang intim dengan orang lain. Seperti Persahabatan, perhatian pada keluarga, masyarakat, serta generasi selanjutnya.

Menginjak tahap ke tujuh, Erikson menjelaskan bahwa, manusia dewasa umur tiga puluh sampai enam puluh lima tahun akan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya untuk memaksakan aturan, moral, dan kemauan pribadi dalam interaksi, tanpa menimbang siapa yang diatur dan apa tujuan dari pemaksaan itu.

Sampai kepada tahap terakhir, Erikson menutupnya dengan istilah usia tua. Di usia enampuluh lima ke atas, seseorang akan banyak menoleh ke belakang dan mengevaluasi kehidupan yang telah mereka jelajahi. Di masa ini, individu bukan berarti menjadi tidak generative, individu justru masih produktif dan kreatif dalam memberi perhatian kepada generasi di bawahnya.

Berpijak pada rincian perkembangan manusia dalam tembang macapat dan psikososial Erikson, terdapat beberapa kesamaan antara perkembangan masa kanak-kanak hingga masa lansia. Perkembangan masa kanak-kanak bisa digambarkan dengan nilai mijil (lahir) dan khinanthi (penjagaan orang tua).

Menginjak ke masa remaja, ditandai dengan simon (mulai berkembang iman dan ilmunya), dan asmaradhana (tertarik dengan lawan jenis). Saat masa remaja menginjak pada dewasa awal, segala lamunan berubah menjadi dorongan untuk hubungan intim. Hal ini, diartikan seperti  durhma dan dhandhanggula. Kemudian disusul masa dewasa pertengahan dengan gambuh atau sering diartikan oleh orang Jawa dengan sebutan gampang nambuh (sikap teguh dalam menghadapi masalah). Menuju dewasa akhir, dapat kita lihat dengan nilai pangkur (penyesalan saat usia tua).

Dalam hal ini antara perkembangan psikososial dan tembang macapat, terdapat kecocokan dalam lingkup perkembangan psikologi manusia. Tapi, tidak menuntut kemungkinan antara keduanya terdapat adanya perbedaan. Bagaimana dengan penjelasan tembang macapat yang memandang manusia lebih kompleks bukan hanya dalam segi psikisnya, tetapi macapat juga membahas dalam segi spiritual.

Terbukti dengan adanya pengakuan masyarakat Jawa tentang adanya perkembangan sebelum manusia lahir dan adanya kehidupan setelah manusia mati. Ini dibuktikan dengan adanya tradisi telonan (usia janin tiga bulan) dan tingkepan (usia janin tujuh bulan), dengan tujuan agar bayi yang ada dalam kandungan diberi keselamatan.

Tradisi lain juga dilakukan untuk keselamatan orang yang sudah meninggal, dalam tradisi masyarakat sering disebut dengan telong ndinanan (tiga hari setelah meninggal), pitong ndinanan (tujuh hari setelah meninggal), mendaksepisan (seratus hari setelah meninggal), dan seterusnya.

Hal-hal yang melampaui fakta empiris psiko-sosial itulah yang tidak terbaca dalam teori Erikson. Hal ini tentu saja disebabkan oleh keterbatasan pemikiran ilmiah yang tidak mungkin diajak untuk menjangkau fakta-fakta non-empiris. Di wilayah itulah, kedalaman wawasan spiritualitas Jawa masih tetap menjadi tantangan tersendiri bagi ilmu. []

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

Frontier Theme